OUR NETWORK

Istighfar, Berlinang Kesalahan dan Basah oleh Dosa [1]

Kita yang tak tahu diri ini sebaiknya istighfar lebih banyak lagi. Sebanyak-banyaknya! Beristighfarlah, mohonlah ampun untuk setiap ruas badanmu. Satu per satu. Mata, telinga, mulut, dan seterusnya.

IQBAL selalu datang setiap Kamis malam. Sudah dua bulan ini. Padahal, Syekh Burhanuddin tidak selalu ada di kediaman. Jika pun ada, belum tentu pula ia berkenan keluar kamar. Tapi, Kamis malam tadi Iqbal beruntung. Tak hanya ditemui, murid baru ini bahkan diizinkan bertanya.

“Syekh, sejak dua pekan lalu, selama sepuluh hari berturut-turut, saya menerima kabar kematian, baik dari keluarga, kerabat, kolega, maupun teman. Pertanda apakah ini?” Syekh Burhanuddin menjawab ringkas, ”Itu pertanda kau akan mati.”

Iqbal tersentak. Ia tak menduga syekh akan menjawab sedemikian cepat dan bahkan sejujur itu. Ya, siapa pun akan mati. Ini keniscayaan yang tak dapat ditolak. Persoalannya adalah kita tak pernah tahu kapan akan ajal tiba. Jika pun tahu, kita justru cenderung akan mencari pendapat kedua, ketiga, atau keempat, bahkan sebanyak-banyaknya pendapat ahli untuk menghadang maut datang.

“Kapan kau berencana mati?” tanya syekh. Iqbal pucat. “Ti-tidak tahu, Syekh.” “Bila pun tidak tahu, ingatkah kau akan kematian?” sahut syekh.

Iqbal adalah satu di antara orang-orang yang datang ke padepokan dan merasa beruntung karena diterima belajar oleh Syekh Burhanuddin. Banyak yang lain yang, walaupun disambut semulia raja, diterima hanya sebagai tamu. Namun, tidak setiap saat syekh mengajar. Ada beberapa murid yang dibiarkan datang dan pergi, sedangkan sebagian lainnya diperintahkan menetap di padepokan. Yang tinggal pun sering kali menjalani hari demi hari dengan membersihkan padepokan tanpa kepastian menerima pengajaran harian dari syekh.

Melihat Syekh Burhanuddin mengajar Iqbal, murid-murid lain segera merapat dan turut menyimak. “Sekali mengingat kematian lebih baik dari ibadah selama 70 tahun. Aku tidak sedang membahas apakah dialog antara Ibnu Abbas dan Rasulullah SAW ini hadits dhaif atau bahkan palsu. Aku bicara kematian,” kata syekh. Siapa mengingat kematian, ia mengingat Hari Pembalasan. Niscaya dengan begitu ia pun mengingat Allah. “Ia ingat Allah dalam keadaan takut. Ini awal mula ketakwaan,” ungkap syekh. Al-khauf, rasa takut, ini maqamat luhur.

Karena takut akan mengalami kematian buruk, su’ul khatimah, dan memperoleh ganjaran yang setimpal atas keburukan, yaitu menerima azab pedih di neraka, manusia bertakwa akan memperbaiki diri sebelum ajal tiba. Tapi, menyadari tak akan pernah dapat mengandalkan amal kebaikannya sendiri, dan hanya bisa berharap Rahmat Allah, muncullah rasa berharap yang manunggal dengan rasa takut. Khauf menyatu dengan raja’ dalam keimanan manusia bertakwa ini.

“Imam Ghazali mengibaratkan khauf dan raja’ sebagai sepasang sayap yang menerbangkan kaum muqarrabiin menuju kedudukan yang terpuji,” ucap syekh. Rasa takut mendorong rasa berharap pada Allah; pengampunan dan pertolongan-Nya. Harapan yang terus membesar ini membuncahkan dzauq atau rasa yang mendalam dan mendorong pada syurb atau meneguk kenikmatan yang lebih demi anugerah rohani: terlepas dari dahaga jiwa.

“Ibarat api, apakah rasa itu, dzauq itu, akan membakar kita, Syekh?” Menahan tawa, Syekh Burhanuddin menimpali, ”Aku bicara air pelepas dahaga, malah mau bicara api pembakar dada.” Iqbal tidak tahu harus apa selain menunggu syekh melanjutkan penjelasannya.

“Ya, boleh juga diibaratkan api. Takut akan terbakar, padahal harus memasuki api, Ibrahim AS berharap pertolongan Allah. Penyatuan khauf dan raja’ inilah yang menguatkan doa kita,” jelasnya.

Doa terbaik, menurut Rasulullah SAW, adalah pujian kepada Allah, Pengatur alam semesta. Setiapkali memuji-Nya, yang memuji merendahkan hati dan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah dan memuliakan-Nya dengan semulia-mulia pujian. “Seperti menyulut api cinta, hubb, yang menyalakan rindu, syauq, maka istighfar adalah pematik terbaik,” lanjut syekh, ”Sadarilah diri ini berlinang kesalahan dan basah oleh dosa.” Semua yang hadir tertunduk.

Lalu, seorang murid, Jiwanggi nama anak muda itu, mengacungkan telunjuk. “Berapa kali dalam sehari kita harus beristighfar, Syekh?” Matanya yang masih jalang, kali ini pupus seperti telah ditaklukkan. Pemuda berambut ombak ini pernah dipetuahi Syekh Burhanuddin bahwa ada yang mulia dari perbuatan bersalah, yaitu perasaan bersalah. Jika perasaan itu muncul, maka seseorang akan dibimbing oleh kesadarannya sendiri untuk bertobat dan insyaf.

“Rasulullah SAW, yang mengenal dirinya sendiri, bahkan tahu persis jumlah helai rambutnya, beristighfar paling sedikit 70 kali dalam sehari. Kamu, tahu apa kamu tentang dirimu?” tukas syekh.

Tak mengira akan ditanya balik, Jiwanggi gelagapan. “Kita yang tak tahu diri ini sebaiknya istighfar lebih banyak lagi. Sebanyak-banyaknya! Beristighfarlah, mohonlah ampun untuk setiap ruas badanmu. Satu per satu. Mata, telinga, mulut, dan seterusnya,” tegas syekh.

Semakin menunduk dalam permohonan ampun kepada Allah, semakin dalam kita menjelajahi diri sendiri. Tangan, jari-jemari, telapak, pergelangan, siku, terus ke dada, perut, punggung, dan ke sekujur tubuh lainnya, seluruhnya kita mohonkan ampunan. Syekh menyebut semakin rinci bagian-bagian badan dan para murid semakin hanyut dalam getar yang tak terperi lagi. “Betapa kita ini penuh dosa. Tak layak memohon apa-apa, selain ampunan,” ucap syekh.

Iqbal, yang mengawali perbincangan dengan pertanyaan, memang dipenuhi jawaban. Namun, ia memberanikan diri untuk sekali lagi bertanya. “Syekh, apa maqam bagi salik yang melanggengkan istighfar dalam dirinya?”

Dengan lugas, Syekh Burhanuddin menjawab,” Faqir dan dhaif. Lemah tak berdaya.” “Tapi, bukankah tasawuf adalah perjalanan menemukan eksistensi diri, Syekh?” “Ya, eksistensi diri makhluk di hadapan Khalik adalah tiada,” pungkasnya. (bersambung)

Kolom terkait:

Malu Aku Padamu, Duhai Sayyidul Wujud!

Pertanyaan Abadi Manusia: Siapakah Aku? (1)

Pertanyaan Abadi Manusia: Untuk Apa Aku Hidup di Dunia? (2)

Pertanyaan Abadi Manusia: Bagaimana Seharusnya Aku Hidup di Dunia? (3)

Pertanyaan Abadi Manusia: Sampai Kapan Aku Hidup di Dunia? (4-habis)

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…