Rabu, Januari 20, 2021

Islam Erotis

Nyepi 2018: Bali Berani Berhenti?

Apakah setiap yang dilakukan manusia lalu yang disalahkan adalah internet? Yang disalahkan adalah lingkungan atau zaman? Atau yang disalahkan bahkan pemimpinnya? Kapan manusia bisa menyadari...

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menemani Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb (kanan) saat berkunjung ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo,...

Kebangkitan Yesus demi Pengampunan dan Pelayanan

Sebelum umat Kristiani sampai pada perayaan pesta Paskah, mengenang di mana Yesus Kristus dibunuh dengan keji di salib bangkit pada hari ketiga dan itu...

Idul Adha dan Kepanitiaan Lintas Iman

Hari Raya Idul Adha/Idul Qurban kerapkali menyisakan pertanyaan mendasar perihal siapa yang menjadi sosok yang paling absah dikurbankan. Apakah Nabi Ismail sebagaimana yang diakui...
Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

ilustrasi-seks
Ilustrasi [Serat Centhini]
Di tengah keriuhan dan tensi yang mulai meninggi menjelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta, rasanya kita perlu rileks sejenak menikmati anekdot lucu, segar, dan menyegarkan tentang cinta dan erotika yang disuguhkan oleh Isbahani. Membaca karya monumental ulama abad ke-10 itu, Kitab al-Aghani (Buku Musik), kita dibawa menelusuri dunia paradoksal, minimal dalam imajinasi kita yang hidup di abad ke-21.

 

Berbicara tentang ulama-ulama Abad Pertengahan di Timur Tengah, segera terbayang seorang bersorban dengan jenggot lebat memutih dan tasbih mengalir di jarinya. Mengobral janji surga dan ancaman neraka, mengharamkan ini dan itu. Mungkin kita perlu merombak pikiran primitif itu manakala kita baca Kitab al-Aghani. Isbahani telah menunjukkan kepada kita, Islam lebih terbuka terhadap seks dan hal-hal yang terkait dengan seksualitas ketimbang kaum Muslim.

Kitab al-Aghani bukan hanya merekam, mengilustrasikan, dan memandu lirik-lirik lagu syahdu nan romantis, tapi juga menceritakan kisah-kisah asmara dan adegan bercumbu yang aduhai. Betapa terbukanya Isbahani mempublikkan beragam kisah yang sekarang cukup dinikmati di ruang privat sehingga gambar orang pakai baju renang pun perlu diblur.

Ibnu Khaldun memberikan kesaksian penting tentang Kitab al-Aghani yang sebagian kisah erotisnya akan dikutip di sini. “Sepanjang yang saya tahu,” ujar sejarawan Muslim kesohor itu, “tak ada karya yang bisa diletakkan selevel dengan buku ini.”

Cinta dan Erotika

Berbeda dengan kesan umum bahwa perempuan pada Abad Pertengahan di dunia Arab Timur Tengah terseklusi, Isbahani memberikan potret berbeda. Salah seorang perempuan bertalenta yang sering disebut dalam buku itu ialah Arib (w. 890), seorang penyanyi terkenal yang keluar-masuk Istana Khilafah Abbasiyah menghibur para petinggi negara. Arib juga dikenal sebagai pencipta lagu yang prolifik hingga mencapai 1.625 judul.

Dia juga berparas cantik dan punya hubungan asmara dengan banyak laki-laki. Arib sendiri mengaku pernah tidur dengan delapan pajabat negara.

Suatu saat Abu al-Ubais menjenguknya. “Jangan buru-buru pergi,” kata Arib, “kita nikmati masakan yang akan kuhidangkan, dan setelah itu aku akan bernyanyi buatmu.”

“Oke, dengan satu syarat, ya!” kata Ubais.

“Apa itu?”

Ubais menjawab, “Ada-lah. Tapi saya selalu merasa malu menanyakannya padamu.”

“Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu,” Arib menimpali. “Kamu ingin tanya tentang ciri laki-laki yang paling aku suka bercinta, kan?”

“Wow, kamu memang cerdas!”

“Demi Allah, aku akan jujur padamu,” kata Arib. “Begini. Ciri laki-laki yang aku suka ialah punya penis keras (dzakar min al-hadid) dan bau badannya yang sedap. Seandainya dia juga tampan dan perhatian, itu namanya nilai plus. Tapi, yang penting, dua syarat pertama itu harus.”

Di antara para Khalifah Umayyah, Walid bin Yazid (w. 744) adalah yang paling banyak muncul dalam Kitab al-Aghani. Hal itu mudah dimengerti karena kehidupan Walid memang dikenal penuh hiburan dan foya-foya. Sering mabuk. Dia kurang peduli pada politik. Dan akhirnya, kebiasaannya itu merenggut nyawanya.

Konon, yang paling disukainya ialah kombinasi tiga hal berikut: minuman anggur putih, wanita cantik, dan rintik hujan di pagi hari.

Isbahani mengisahkan begitu detail posisi seks yang menjadi kesukaan para khalifah, penyair, dan artis, dari missionary, doggy style hingga teknik-teknik memerawani gadis. Jika Kitab al-Aghani ditulis di Indonesia saat ini, saya yakin Majelis Ulama Indonesia akan melarang peredarannya dengan fatwa.

Bacalah kisah Asya Hadaman (w. 702), seorang mujahid pada masa pemerintahan Umayyah. Ketika melakukan ekspedisi militer di bawah komando Hajjaj bin Yusuf (w. 714), dia ditangkap pihak lawan. Selama menjadi tawanan perang, Asya berhasil merayu putri orang yang menawannya. Disebutkan, Asya dan pujaan hatinya tiap malam bercinta delapan hingga sepuluh kali.

Suatu pagi, dia ditanya oleh sang putri: “Apakah kalian orang-orang Arab bercinta seperti itu dengan istri-istri kalian?” Asya mengangguk.

“Oh, itu sebabnya kenapa kalian selalu menjadi penakluk dalam peperangan.” Sang putri pun membantu membebaskannya.

Seks dan Syari’ah

Di mana aturan-aturan syari’ah dalam banyak kisah cinta dan erotika yang dituturkan Isbahani? Bagaimana situasi di negara-negara Arab saat ini dibandingkan Abad Pertengahan ketika Islam belum dianggap terkontaminasi oleh kolonialisme dan ide-ide Barat soal kebebasan?

Tentu saja kita tak perlu membayangkan peradaban Islam Abad Pertengahan bersifat permisif. Sudah pasti apa yang dilakukan Arib, Walid bin Yazid, dan Asya Hamadan tidak dibenarkan oleh para ulama. Tapi, barangkali, para ulama zaman itu membatasi apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan.

Yang cukup menakjubkan dari tradisi diskursif para ulama zaman pertengahan ialah keterbukaan mereka untuk mengungkap ke ruang publik dan mendiskusikan hal-hal terkait seks yang di zaman modern pun dianggap tabu. Hal itu juga mengajarkan bahwa wilayah “privat” dan “publik” tidaklah sebegitu jelas (clear-cut) sebagaimana yang umum dipahami saat ini.

Ironinya, dunia Muslim sekarang tampak lebih tertutup dari zaman pertengahan. Segalanya harus berlabel syari’ah dan halal. Tahun lalu, Abdelaziz Aouragh membuat berita heboh karena idenya untuk membuka toko “Seks Halal” di Mekkah.

Pengusaha keturunan Maroko yang membuka toko seks halal bernama “El Asira” di Belanda sejak 2010 itu berencana membuka cabang di jantung kota suci kaum Muslim. Walaupun Abdelaziz sudah meyakinkan para ulama Saudi bahwa produk-produk yang dijualnya sesuai dengan syari’ah, akhirnya rencana tersebut tak terwujud.

Seperti dapat dilihat di situs http://www.elasira.com, El Asira tidak menjual sex toys atau vibrators, tapi “produk-produk kami diperbolehkan oleh hukum Islam… memegang teguh integritas, kesucian manusia, dan etika yang sejalan dengan syari’ah.”

El Asira bukan satu-satunya bisnis “Islam erotis” yang muncul dalam beberapa tahun terakhir. Pengusaha Palestina Asyraf al-Kiswani meluncurkan toko seks online, Karaz.

Memang, sangat ambigu apa yang mereka maksud “toko seks halal”. Tapi kita paham, secara bisnis, mereka menyasar sekitar satu setengah miliar Muslim. Persoalannya, syari’atisasi seks merupakan invensi modern yang menyeret Islam sebagai “agama polisi” yang mengatur bahkan hubungan intim di atas ranjang. Yang lebih menyedihkan, syari’ah yang mereka pahami bukan hanya tidak menyerap semangat zaman modern, bahkan jauh dari visi zaman pertengahan.

Dalam Sexual Ethics and Islam (2006), Kecia Ali mengatakan bahwa ulama-ulama zaman pertengahan bukan hanya ahli syari’ah tapi juga guru seks. Isbahani dalam Kitab al-Aghani memperlihatkan betapa perbincangan seks selain menghibur juga mendidik. Untuk tujuan “menghibur” dan “mendidik” itu, konon, dia menghimpun anekdot demi anekdot, yang serius dan lucu, bahkan kadang sangat erotis, selama 50 tahun!

Maka, mari kita bicara seks untuk mengurangi ketegangan.

Baca

Ulama-Ulama Homoseksual

Mengapa LGBT Begitu Dibenci?

Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.