Sabtu, Februari 27, 2021

Imaji Batu Hitam

Betapa Kejamnya Memanggil Seseorang Kafir

Politik kita memang paling menyebalkan. Ia bisa membuat kita membenci dengan mudahnya. Dalam sebuah khutbah Jum’at, saya pernah mendengar ulasan yang membicarakan tentang kaum...

Ulama Sejati dan Ulama Penebar Kebencian

Apa yang membedakan antara ulama su' (ulama buruk) dan ulama haq? Demikian salah satu pertanyaan pembaca media hari-hari ini ketika M. Amien Rais menyampaikan...

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

  Paus Fransiskus mencium kaki sejumlah pengungsi, termasuk tiga pria Muslim, saat ritual pencucian-kaki di pusat pengungsi Castelnuovo di Porto dekat Roma, Italia, Kamis (24/3)....

Kiai Ishom, Ustaz Somad, dan Kesantunan Berbangsa

Pekan lalu ada video viral dari Ustaz Abdul Somad (UAS). Dalam video itu, UAS menilai buruk KH Ahmad Ishomuddin (Kiai Ishom), salah satu Rais...
Avatar
Piet Hizbullah Khaidir
Sekretaris STIQSI Sendangagung, Pegiat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)

“Bagaimana lelaki tampan nan gagah, dengan hati dan otak yang dipenuhi visi tentang Jazirah Arab bersatu adil makmur, telah menjauhkan negeri yang dibangun buyutnya, Ibrahim AS, dari bau amis darah pertikaian antar kabilah, dari rasa dendam yang muncul akibat ashobiyah, serta dari bau busuk nanah rasa keangkuhan sebagai paling bermartabat dan berkuasa”.

Ini adalah nukilan yang dijabarkan secara jelas dalam kitab-kitab klasik Sirah Nabawiyah (lihat Ibnu Ishaq, 2009: 153-155; Ibnu Hisyam, 2014: 77-80; Ibnu Katsir, 2011: 56-57).

Lelaki itulah yang hadir terlebih dahulu di Baitullah. Sebagaimana kesepakatan para kabilah Hijaz, siapa yang datang lebih dulu memasuki Baitullah bertawaf, maka orang itulah yang akan menjadi pengadil di antara mereka.

“Wahai Al-Amiin, Wahai Yang Tepercaya, jadilah pengadil di antara kami. Siapa menurutmu yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ini di posisinya di Ka’bah?”

Lelaki agung yang pada waktu itu berusia 35 tahun ini berpikir sejenak, lalu ia bentangkan surbannya. Kemudian, lelaki yang telah diramal oleh seorang Rahib Kristen memiliki tanda kenabian dan kerasulan, meminta suku-suku yang bertikai perihal Hajar Aswad ini memegang ujung di empat sudut surbannya.

Hajar Aswad telah berpindah ke surban itu. “Ayo kita angkat bersama Hajar Aswad ini dengan surbanku, lalu mohon izinkan aku meletakkannya di tempatnya”. Semua kabilah setuju dan merasa inilah keadilan paling nyata yang mereka alami.

Tentu setiap bangsa memiliki imajinasi masing-masing tentang kemajuan dan kemakmuran bangsanya. Imajinasi itu seperti imagined community-nya Ben Anderson, adalah suatu gambaran tentang cita-cita terbentuknya masyarakat ideal yang ada dalam memori panjang sejarah nyata sebuah bangsa. Yakni, komunitas yang diimajinasikan sebagai komunitas yang bersatu, adil, dan makmur sebagaimana dicita-citakan oleh para pendirinya.

Salah satu imajinasi kebangsaan yang mungkin relevan dengan kita saat ini adalah visi kebangsaan yang diamalkan dengan apik oleh Rasulullah Muhammad SAW di atas. Secara sederhana, saya menyebutnya sebagai imaji Batu Hitam.

Mengambil eksemplar contoh visi kebangsaan Muhammad bukan berarti dimaksudkan sebagai keinginan mendirikan Negara Islam. Apalagi mendukung sistem khilafah. Bagi saya, Negara Islam ataupun Khilafah adalah sistem utopis untuk dipraktikkan di negara kita. Karena NKRI dan Pancasila, UUD 1945  adalah sistem final yang telah disepakati para pendiri republik ini.

Tetapi, proposal imaji Batu Hitam ini adalah untuk penggalian nilai-nilai dan isyarat-isyarat visioner yang dijadikan landasan praktik kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, yang dalam sejarah umat manusia dinilai berhasil. Paling tidak, di antara 100 tokoh paling berpengaruh, Rasulullah Muhammad disebut sebagai tokoh nomor wahid (Michael H. Hart, 1992: 3-10).

Perkembangan situasi sosial, ekonomi dan politik belakangan ini, terutama mendekati Pemilu 2019, terlihat semakin memanas. Hampir semua kekuatan ekonomi, politik dan sosial unjuk gigi. Energi mereka banyak difokuskan untuk menyiapkan diri menghadapi momentum pemilu tersebut. Benturan kepentingan di antara mereka untuk memenangkan pertarungan terlalu keras dan panas, sehingga terkadang melupakan tujuan berkeindonesiaan sebagaimana termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945.

Contohnya adalah sikap masing-masing kekuatan terhadap perbedaan pendapat yang muncul di antara mereka terkadang melupakan akal sehat. Sehingga abai terhadap pemberian jawaban akan pertanyaan apakah sikap-sikap ini nyambung dengan kepentingan bangsa Indonesia secara keseluruhan?

Bila dibiarkan, kondisi ini dikuatirkan akan menggerus kita sebagai bangsa; kita hancur berantakan, lalu kita hanya jadi bumbu tidak sedap masakan peradaban dunia. Apalagi dua poros kekuatan politik telah menyatakan kesiapannya bertarung pada Pemilu 2019. Entah apakah masih akan muncul kekuatan lain.

Di tengah hiruk-pikuk itu terlihat mengemuka upaya mengadu-domba–meminjam istilah KH Hasyim Muzadi—sepasang sandal bangsa Indonesia: NU & Muhammadiyah. Merasakan situasi ini, saya kira Indonesia kini dan di masa mendatang perlu mempelajari dan memraktikkan nilai-nilai dan isyarat-isyarat visioner imaji Batu Hitam yang akan diurai berikut ini.

Imaji Batu Hitam menandaskan nilai-nilai praksis dari empat isyarat yang melekat padanya. Empat isyarat itu adalah Kepemimpinan Visioner (persatuan, memihak kepentingan bangsa, serta tidak bekerja untuk kepentingan dan kesenangan asing-aseng); Surban Putih (empat penjuru kepentingan kebangsaan, kesucian niat dan tujuan); Pemimpin Qabilah (kerja tim, toleransi/tepo seliro dalam bekerja sebagai tim kepemimpinan/tidak ashobiyah) dan Batu Hitam (tujuan bersama harus dikerjakan dan diletakkan secara bersama).

Muhammad dalam kisah peletakan Hajar Aswad telah meletakkan fundamental nilai kepemimpinan. Pemimpin haruslah visioner dan berpikir ke depan. Ketika dihadapkan kepadanya fakta persoalan bangsa, pemimpin sudah seharusnya menghadirkan solusi strategis, tepat sasaran serta menjadikan kepentingan bangsa di atas kepentingan apa pun.

Pemimpin juga harus pandai membawa rakyat dan bangsanya secara keseluruhan kepada imajinasi kebajikan tentang persatuan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan (empat penjuru kepentingan bangsa). Tentu imajinasi seperti itu membutuhkan praksis gerakan yang didasari oleh niat kuat serta tujuan suci.

Oleh karena itu, pemimpin harus menyadari bahwa dirinya tidak bisa bekerja sendirian: hanya mengandalkan kelompoknya serta menjalankan roda kebangsaan dengan melibatkan lingkaran sahabatnya saja. Sebaliknya, justru ia perlu mengajak serta berbagi kerja dan jerih-payah dengan seluruh komponen kekuatan bangsa.

Ikatannya adalah tujuan bersama yang diletakkan di atas pundak bersama serta dikerjakan secara bersama. Yakni, seperti tujuan bersama sebagaimana diamalkan Al-Amiin dalam Imaji Batu Hitam. Wallaahu a’lam.

Baca juga:

Muhammad, Seorang Politikus Jenius

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Avatar
Piet Hizbullah Khaidir
Sekretaris STIQSI Sendangagung, Pegiat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.