in

Ihwal Allah Tritunggal: Catatan untuk Eggi Sudjana!


Eggi Sudjana.

Yang mendorong tulisan ini dibuat sebenarnya bukan untuk panjang lebar berdebat (lagi) soal pengertian “Trinitas”, “Allah Tritunggal”, “Satu Allah, Tiga Pribadi”, dan seterusnya. Gereja Katolik sendiri sudah menyadari bahwa membahas ini tidak akan pernah lengkap, selalu ada celah, sebab dalam keterbatasannya, bagaimanapun, manusia tidak bisa mengerti Allah secara sempurna.

Jadi, sekalipun mengejutkan, sebenarnya pernyataan Eggi Sudjana punya alasan untuk tidak penting ditanggapi: dia memang tidak paham, sekurang-kurangnya mencoba paham, tetapi gagal!, mengenai apa yang oleh orang Katolik disebut dogma Allah Tritunggal, yang juga landasan iman Katolik.

Yang membuat gerah pelaporkan balik semua yang melaporkannya karena merasa (pokok keyakinan) agama mereka dengan entengnya dianggap bertentangan dengan Pancasila (saya merasa miris, apalagi seorang Romo Magnis ikut dilaporkan!). Dalam video itu, dikatakan agama lain di Indonesia ini, selain Islam, bertentangan dengan Pancasila. Bagaimana mungkin? Sebuah tontonan (atas pendapat) yang tidak lagi masuk akal.

Tritunggal

Sesuatu yang jelas adalah bahwa orang Katolik mengimani Allah yang satu, esa (monoteisme) dan bukan tiga Allah (Triteisme). Maksud “Tritunggal”, “Trinitas” atau “Tiga Pribadi” tidak sesempit mengatakan adanya “tiga orang berbeda”, atau misalnya “tiga meja berbeda” yang kalau kita tarik satu, kemudian jadi terpisah dari dua yang lain. Dikatakan juga sebaliknya, tiga itu sendiri tetap berarti satu.

Santo Paulus mengatakan bahwa, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus” (2 Kor 5:19). Oleh para anggota gereja pertama, para rasul menyakini hubungan erat, tak terpisahkan, antara Yesus dengan Allah (yang sering disebut oleh Yesus sebagai Abba, Dia, Bapa). Lewat karya, kata dan pernyataan hidup, mereka tahu bahwa Allah bekerja dan menggapai manusia melalui Yesus.

Saat Yesus menjumpai orang sakit dan lewat tangan-Nya orang itu menjadi sembuh, Allah mencapai manusia. Orang meninggal yang kemudian bangkit lagi, hanyalah mungkin karena Allah yang menyatu ada dalam diri Yesus yang menyentuh orang meninggal itu. Allah adalah kesatuan tak terpisahakan dari Putra-Nya, Yesus Kristus. Yesus menampilkan pantulan sempurna dari Bapa yang mempercayakan kepada diri-Nya segala sesuatu (Christian W. Troll, 2011: 68).

Baca Juga :   Semangat Kosmolitan Ibadah Haji

Kehadiran Allah (Bapa) juga hadir dan terlaksana lewat Roh Kudus. Dalam Roma 5:5 selanjutnya dikatakan, “Kasih Allah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita”. Hal ini berarti Allah hadir ke dalam manusia, melalui Roh-Nya sendiri. Gereja Katolik meyakini bahwa Roh Kudus terbedakan dari Kristus (Yoh 16:7-15 dan Mat 28:19), meski sama-sama menghadirkan Allah bagi keselamatan manusia.

Baik Yesus Kristus dan Roh Kudus, semata melalui-Nya Allah ingin menyapa manusia, menghapus dosa mereka, menyembuhkan mereka dan menyelamatkan mereka. Itulah inti (dan ini maksud dari pengandaian di atas) “Allah Tritunggal”: bahwa Allah (Bapa) mencapai manusia, juga menyelematkan mereka melalui Kristus (Putra) oleh kuasa Roh Kudus.


Pertanyaan mungkin muncul soal mengapa Allah (Bapa) yang Maha Segalanya, Maha Kuasa itu harus melalui Yesus dan oleh Roh Kudus untuk mencapai manusia, makhluk ciptaan-Nya? Tidakkah Allah seharusnya langsung hadir saja atas hidup manusia? Pertanyaan ini tidak akan pernah ditemukan jawaban sempurna. Sekali lagi, seperti awal tulisan ini menegaskan, justru karena ke-mahakuasa-an-Nya itu, manusia sulit, dan tidak akan pernah bisa, mengerti (maksud) Allah.

Yang tidak dipertentangkan bahwa Allah memang mau menggapai manusia itu dan karenanya perlu adanya hubungan langsung, karena kalau tidak manusia tidak sungguh “kena” (KWI, 1996: 324). Oleh karena itu, melalui Yesus, Allah mencapai, memegang, termasuk menegur manusia secara langsung dalam kehidupannya. Melalui Yesus, Putra-Nya itu, Allah ingin hadir dalam nyata bagi manusia.

Bahwa setelah Yesus wafat, Allah tidak mau berhenti mencapai manusia. Karenanya, dalam ajaran Tritunggal, Allah tetap hadir dalam hati dan hidup manusia melalui Roh. Di sinilah Allah, melalui Roh-Nya sendiri, Roh Kudus, datang kepada manusia. Melalui Roh Kudus, Allah menyentuh lubuk hati manusia sesungguhnya.

Baca Juga :   Siapakah Orang Kafir Itu? Telaah Kronologi dan Semantik Al-Qur'an

Jadi, apakah ada tiga Allah yang disembah? Tidak. Keliru mengatakan bahwa iman Katolik menyembah tiga Allah. Yang ada, Allah, bagi orang Katolik, adalah satu, yang membuka hatinya bagi kita dalam Putra-Nya (Yesus Kristus) dan mengubah (juga hadir untuk) kita dalam Roh-Nya (Roh Kudus itu sendiri) (Franz Magnis-Suseno, 2017: 114).

Melawan Sila Satu?

Bahwa jika pun makna “Ketuhanan yang Maha Esa” dianggap pada maksud monoteisme, di situ ajaran Tritunggal dalam iman Katolik sama sekali tidak bertentangan. Konsili Lateran IV tahun 1215 menegaskan bahwa kodrat ilahi Allah hanya satu, di saat yang sama terdiri dari tiga pribadi (sebagaimana sudah diurai di atas).

Troll menulis bahwa ketiganya adalah Bapa sendiri sebagai Asal, Putra dari Bapa sendiri dan Roh yang ada di dalam kedua-Nya di mana ketiganya memiliki substansi yang sama. Ini berarti Allah yang sama adalah Bapa, Allah yang sama adalah Putra, dan Allah yang sama adalah Roh Kudus. (Troll, 77). Tidak tiga tetapi satu.

Troll juga mencatat (hlm. 75), sejarah iman Kristiani sendiri memang berpatokan pada monoteisme (setidaknya) zaman Yesus sendiri. Sebagai bagian dari umat Israel yang terpilih, Yesus sangat menyatu dengan roh monoteisme (Mrk 12:28-34). Kitab Suci sendiri berbicara Allah yang Esa tidak mengingini adanya allah-allah palsu. Dan selama hidup pun, Yesus tidak mengatakan diri-Nya sebagai Allah, melainkan Anak Allah (Yoh 10: 36) atau Putra (Mat 11:27).

Sekali lagi, sejauh sila satu dimaknai terbatas pada maksud monoteisme, meski saya tidak berdiri pada posisi ini sebab sejarah kepercayaan di Nusantara sangat luas, iman Katolik lewat ajaran “Allah Tritunggal” adalah tidak bertentangan dengan sila satu. Yang mengatakan sebaliknya adalah mereka yang gagal paham, sama sekali!

Baca Juga :   Toleransi dalam Perspektif Kristen [Menyambut Mun'im Sirry]

Namun, perlu juga dibahas secara kritis, apakah maksud “Ketuhanan yang Maha Esa” sudah ditafsirkan secara benar, bahwa memang hanya agama yang percaya pada “Satu Tuhan” saja yang boleh dilindungi di negara ini?

Sedikit hal itu ditulis di sini. Sejarah perumusan sila satu adalah keinginan para founding fathers, meski juga sempat diwarnai perdebatan antara golongan Islam dan golongan kebangsaan, agar dapat ditampung semua keyakinan dan kepercayaan yang memang sudah hidup di Nusantara sejak lama. Termasuk, dan sudah seharusnya ditafsirkan demikian, apa pun bentuk kepercayaan di hati masyarakat Indonesia.

Para founding fathers sadar bahwa Indonesia ini bukan negara satu agama, satu kepercayaan. Masyarakat Nusantara telah melewati ribuan tahun pengaruh agama lokal, (sekitar) 14 abad pengaruh Hinduisme dan Budhisme, (sekitar) 7 abad pengaruh Islam dan (sekitar) 4 abad pengaruh Kristen (Yudi Latif, 2012: 57). Semua karenanya harus diakomodir dalam konsensus bersama hingga dirumuskan sila satu.

Masalah yang terkait agama selalu akan muncul dan tidak akan selesai selama kita dengan sombong merasa paham dan tahu soal inti (ajaran) agama (bahkan kita seolah-olah paham ke-Esa-an Tuhan itu?) dan kepercayaan orang lain lebih dari mereka sendiri. Provokasi berbasis sentimen agama muncul lagi, dan bangsa jadi ribut melulu.

Eggi Sudjana, banyak membaca dan bertanya mungkin bisa membantu Anda. Tapi, semoga catatan singkat ini ikut membantu. Dan bukankah malas membaca dan bertanya, kita mudah menjadi sesat?

Kolom terkait:

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Kebangkitan Yesus: Hidup atau Mati?

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Tanggapan untuk Mun’im Sirry]


Written by Richard Sianturi

Lulusan Seminari Wacana Bhakti, Jakarta, dan Fakultas Hukum Unika Parahyangan, Bandung.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR