Sabtu, Oktober 24, 2020

Hijrah dan Pesan Persaudaraan Lintas Agama

Sesalah-salahnya Google, Sebenar-benarnya Ulama

Saya sedih melihat perbedaan pandangan di antara mereka yang, konon, belajar agama dengan baik dipertontonkan seperti terjadi di acara Indonesia Lawyers Club - TVOne...

Alkitab, Kristen, dan Soal Agama Damai

Dalam tulisan terdahulu "Kekerasan Kitab Suci dalam Perspektif Yahudi" (Geotimes, 27 Januari 2017), saya menulis bahwa "tidak ada satu kriteria yang bisa digunakan untuk...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...
Avatar
Ali Romdhoni
Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok.

Ribuan umat muslim mengikuti salat maghrib berjemaah yang dilanjutkan dengan memanjatkan doa awal tahun baru 1439 Hijriah di Alun-alun Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (20/9). Ini wujud rasa syukur sekaligus pengharapan kehidupan yang lebih baik seiring bergantinya tahun. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Muhammad muda akhirnya memutuskan untuk menyepi, menyendiri dan menyingkir ke tempat yang sunyi (Jawa: sepi, nyepi). Cucu Abdul Mutthalib ini memilih goa Hira menjadi tempat untuk menjernihkan hati dan fikiran. Suasana di tengah lingkungan masyarakat kala itu terlalu bising. Hampir mustahil untuk bisa menemukan seseorang yang bisa diajak berdiksusi, berfikir maju untuk keluar dari keterpurukan.

Inilah sisi manusiawi seorang Muhammad muda, sebelum akhirnya Tuhan menyiarkan ke jagat raya bahwa manusia pilihannya telah diturunkan ke dunia. Muhammad pada usianya juga potret seorang anak muda dengan segudang idealisme, sangat bergairah untuk memajukan masyarakat di sekitarnya.

Di lingkungan masyarakat Mekkah, Muhammad melihat telah terjadi ketimpangan. Mekkah, yang merupakan daerah dengan perputaran uang (modal) sangat tinggi dan identik sebagai pusat aktivitas peribadatan, ternyata menyimpan ketimpangan sosial. Jarak antara si miskin dan si kaya terpaut amat jauh.

Orang kaya bermewah-mewah dengan menginjak para pekerja (budak). Sementara itu, budak tidak punya harapan dengan perubahan status sosialnya. Budak selamanya adalah budak. Pendeknya, status makmur hanya milik beberapa gelintir orang, para elite suku.

Karena inilah, kelak kita akan mendapati, Islam menghapus sistem yang tidak manusiawi ini (perbudakan). Pelan namun pasti, Islam memotong mata rantai relasi ”tuan-budak”. Ajaran Islam menjanjikan pahala tinggi bagi mereka yang mau membebaskan para budak yang beriman.
Sampai akhirnya Muhammad diangkat menjadi seorang utusan Tuhan di muka bumi.

Meskipun berstatus sebagai seorang nabi, dan dengan demikian semua langkah berada di bawah kendali dan perlindungan kekuatan Tuhan yang maha dahsyat, langkah dan pilihan Muhammad bisa dikaji secara historis-sosiologis. Saya akan melihat dari sisi ini.

Dengan demikian, saya tidak menafikan fakta bahwa Muhammad adalah seorang utusan Tuhan, yang bahkan peristiwa hijrah pun atas perkenan-Nya.

Pada masa awal menjalankan tugas menyampaikan risalah Tuhan, kehidupan Nabi Muhammad tidak langsung berjalan mulus. Mengubah kondisi tidak semudah membalikkan tangan. Kondisi penuh gangguan juga dihadapi Kanjeng Nabi Muhammad.

Pernah penyampaian risalah yang beliau lakukan direspons oleh masyarakat Mekkah dengan cacian, fitnah, siksaan fisik, teror mental, dan bahkan rencana pembunuhan atas diri Rasul dan pengikutnya. Mereka juga mengajak negosiasi, dengan menawarkan harta dan kedudukan, asalkan Nabi menghentikan penyebaran ajaran Islam.

Sebuah sikap yang kontras dengan perlakuan masyarakat Arab kepada Muhammad sebelum menyiarkan diri telah menjadi Rasul. Dulu, ketika masih menjadi anggota masyarakat Mekkah, mereka juga sudah pernah memuji dan menyanjung Muhammad.

Ingatlah, misalnya, atas jasa Muhammad muda yang menemukan solusi atas pertengkaran para pemimpin kabilah terkait dengan peletakan Hajar Aswad. Kala itu setiap tindakan Muhammad tidak ada yang merugikan, bahkan menguntungkan mereka. Namun setelah Muhammad mendeklarasikan diri menjadi rasul, mereka memusuhinya.

Mereka, terutama kaum elit kabilah, menilai Nabi telah merusak dan menentang adat-istiadat yang sudah berabad-abad mereka jalankan. Dengan demikian, yang menjadi landasan sikap mereka terhadap Nabi dalam dua kondisi dan status sosial yang berbeda, bukan prinsip kebenaran melainkan atas dasar ”kepentingan”.

Kita juga bisa mencermati lebih lanjut mengenai hal ini dalam Sirah Ibnu Ishaq. Demi mempertahankan kepentingan dan status sosial, para elite di Mekkah waktu itu menentang apa pun. Maka, di antara yang menjadikan orang Arab Mekkah keberatan (sulit) menerima Islam, selain Islam membawa ajaran monoteisme, juga karena sangat menekankan keadilan sosial.
Namun Nabi tidak pernah patah semangat. Hari-hari tersulit dijanani dengan penuh sabar dan tulus.

Elite suku Quraisy juga menawarkan pengganti berupa seorang pemuda gagah, tampan, dan cerdas kepada Abu Thalib, paman Nabi. Dengan syarat, dia mau menyerahkan keponakannya. Tetapi dia menolak. Menanggung beban dimusuhi orang Quraisy, Abu Thalib tetap menenangkan hati sang keponakan, bahwa dalam kondisi apa pun dan sampai kapan pun tidak akan pernah meninggalkan perjuangan Nabi Muhammad.

Hingga memasuki tahun 620 M pengikut Nabi Muhammad masih sedikit. Mereka menjadi kelompok minoritas yang tertindas dan terhina. Kekejaman dan intimidasi kaum elite Quraisy tidak kuasa mereka hindari. Nabi sendiri belum sepenuhnya bisa memberi jaminan keamanan kepada mereka.

Sebelumnya, tahun 615 M Nabi memerintahkan umat Islam yang berjumlah 83 orang laki-laki dan 13 orang perempuan untuk menyelamatkan diri (hijrah) ke negeri Abissinia atau Habasyah (Ethiopia) yang rakyatnya memeluk agama Kristen. Nabi Muhammad memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Ethiopia dengan tiga pertimbangan.

Pertama, Nabi telah mengetahui, penguasa (raja) di kawasan itu tidak akan membiarkan ketidak-adilan menimpa umat Islam. Kedua, sebelumnya Nabi telah menjalin komunikasi dengan raja dan masyarakat di wilayah itu. Ketiga, Nabi tetap akan mencermati perkembangan, dan ketika kondisi membaik akan ada langkah baru (ketika pertolongan Allah datang).

Mengetahui hal ini, para petinggi Quraisy mengirim delegasi kepada Raja Negus, yang memberi perlindungan kepada para imigran Mekkah, untuk mengembalikan mereka ke tangan orang Quraisy. Abi Thalib—yang mendengar rencana Quraisy ini—segera menulis surat kepada Negus. Sekali lagi Ali memantapkan, agar sang raja melindungi dan memperlakukan umat Islam dengan baik.

Negus memilih mendengar surat Ali. Raja itu menolak permintaan Quraisy. Bahkan Negus menghormati dan membiarkan mereka beribadah sesuai dengan agamanya. Rupanya Negus menangkap pancaran semangat perjuangan Nabi dan umat Islam.

Di luar itu, Nabi juga pernah ke Thaif, sebuah kota yang terletak sekitar 65 kilometer di sebelah tenggara Kota Mekkah. Sendirian. Kedatangan Nabi ke tempat ini adalah untuk meminta bantuan para pemimpin di daerah tersebut. Mereka masih ada hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad, dan karena itu kemudian diajak untuk masuk Islam. Mereka menolak dengan kasar.

Merenungi sepenggal kisah perjalanan Nabi di atas mengingatkan kita bahwa untuk melahirkan keadilan di muka bumi ini kita tidak bisa sendirian. Bahkan Nabi Muhammad pun sampai harus mengorganisir kaumnya, menjalin kerjasama dengan kelompok luas, termasuk mereka yang ”berbeda”.

Ada satu kata kunci di sini. Siapa pun mereka, yang terpenting bernurani, memiliki kemauan untuk menciptakan perdamaian dan menegakkan keadilan di muka bumi, maka itulah sekutu.

Selamat Tahun Baru 1439 Hijriah.

Kolom terkait:

Hijrah dalam Perspektif Revisionis

Mengkaji Apa itu Islam

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam

Memaknai Kekalahan Politik dalam Lintasan Sejarah Islam

 

Avatar
Ali Romdhoni
Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.