in

Hijrah dan Pesan Persaudaraan Lintas Agama


Ribuan umat muslim mengikuti salat maghrib berjemaah yang dilanjutkan dengan memanjatkan doa awal tahun baru 1439 Hijriah di Alun-alun Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (20/9). Ini wujud rasa syukur sekaligus pengharapan kehidupan yang lebih baik seiring bergantinya tahun. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Muhammad muda akhirnya memutuskan untuk menyepi, menyendiri dan menyingkir ke tempat yang sunyi (Jawa: sepi, nyepi). Cucu Abdul Mutthalib ini memilih goa Hira menjadi tempat untuk menjernihkan hati dan fikiran. Suasana di tengah lingkungan masyarakat kala itu terlalu bising. Hampir mustahil untuk bisa menemukan seseorang yang bisa diajak berdiksusi, berfikir maju untuk keluar dari keterpurukan.

Inilah sisi manusiawi seorang Muhammad muda, sebelum akhirnya Tuhan menyiarkan ke jagat raya bahwa manusia pilihannya telah diturunkan ke dunia. Muhammad pada usianya juga potret seorang anak muda dengan segudang idealisme, sangat bergairah untuk memajukan masyarakat di sekitarnya.

Di lingkungan masyarakat Mekkah, Muhammad melihat telah terjadi ketimpangan. Mekkah, yang merupakan daerah dengan perputaran uang (modal) sangat tinggi dan identik sebagai pusat aktivitas peribadatan, ternyata menyimpan ketimpangan sosial. Jarak antara si miskin dan si kaya terpaut amat jauh.

Orang kaya bermewah-mewah dengan menginjak para pekerja (budak). Sementara itu, budak tidak punya harapan dengan perubahan status sosialnya. Budak selamanya adalah budak. Pendeknya, status makmur hanya milik beberapa gelintir orang, para elite suku.

Karena inilah, kelak kita akan mendapati, Islam menghapus sistem yang tidak manusiawi ini (perbudakan). Pelan namun pasti, Islam memotong mata rantai relasi ”tuan-budak”. Ajaran Islam menjanjikan pahala tinggi bagi mereka yang mau membebaskan para budak yang beriman.
Sampai akhirnya Muhammad diangkat menjadi seorang utusan Tuhan di muka bumi.

Meskipun berstatus sebagai seorang nabi, dan dengan demikian semua langkah berada di bawah kendali dan perlindungan kekuatan Tuhan yang maha dahsyat, langkah dan pilihan Muhammad bisa dikaji secara historis-sosiologis. Saya akan melihat dari sisi ini.

Baca Juga :   "Jenazah" Pro-Ahok dan Keluhuran Nabi

Dengan demikian, saya tidak menafikan fakta bahwa Muhammad adalah seorang utusan Tuhan, yang bahkan peristiwa hijrah pun atas perkenan-Nya.

Pada masa awal menjalankan tugas menyampaikan risalah Tuhan, kehidupan Nabi Muhammad tidak langsung berjalan mulus. Mengubah kondisi tidak semudah membalikkan tangan. Kondisi penuh gangguan juga dihadapi Kanjeng Nabi Muhammad.

Pernah penyampaian risalah yang beliau lakukan direspons oleh masyarakat Mekkah dengan cacian, fitnah, siksaan fisik, teror mental, dan bahkan rencana pembunuhan atas diri Rasul dan pengikutnya. Mereka juga mengajak negosiasi, dengan menawarkan harta dan kedudukan, asalkan Nabi menghentikan penyebaran ajaran Islam.


Sebuah sikap yang kontras dengan perlakuan masyarakat Arab kepada Muhammad sebelum menyiarkan diri telah menjadi Rasul. Dulu, ketika masih menjadi anggota masyarakat Mekkah, mereka juga sudah pernah memuji dan menyanjung Muhammad.

Ingatlah, misalnya, atas jasa Muhammad muda yang menemukan solusi atas pertengkaran para pemimpin kabilah terkait dengan peletakan Hajar Aswad. Kala itu setiap tindakan Muhammad tidak ada yang merugikan, bahkan menguntungkan mereka. Namun setelah Muhammad mendeklarasikan diri menjadi rasul, mereka memusuhinya.

Mereka, terutama kaum elit kabilah, menilai Nabi telah merusak dan menentang adat-istiadat yang sudah berabad-abad mereka jalankan. Dengan demikian, yang menjadi landasan sikap mereka terhadap Nabi dalam dua kondisi dan status sosial yang berbeda, bukan prinsip kebenaran melainkan atas dasar ”kepentingan”.

Kita juga bisa mencermati lebih lanjut mengenai hal ini dalam Sirah Ibnu Ishaq. Demi mempertahankan kepentingan dan status sosial, para elite di Mekkah waktu itu menentang apa pun. Maka, di antara yang menjadikan orang Arab Mekkah keberatan (sulit) menerima Islam, selain Islam membawa ajaran monoteisme, juga karena sangat menekankan keadilan sosial.
Namun Nabi tidak pernah patah semangat. Hari-hari tersulit dijanani dengan penuh sabar dan tulus.

Baca Juga :   Bahkan untuk MenyembahNya, Hamba Perlu Pertolongan Tuhan

Elite suku Quraisy juga menawarkan pengganti berupa seorang pemuda gagah, tampan, dan cerdas kepada Abu Thalib, paman Nabi. Dengan syarat, dia mau menyerahkan keponakannya. Tetapi dia menolak. Menanggung beban dimusuhi orang Quraisy, Abu Thalib tetap menenangkan hati sang keponakan, bahwa dalam kondisi apa pun dan sampai kapan pun tidak akan pernah meninggalkan perjuangan Nabi Muhammad.

Hingga memasuki tahun 620 M pengikut Nabi Muhammad masih sedikit. Mereka menjadi kelompok minoritas yang tertindas dan terhina. Kekejaman dan intimidasi kaum elite Quraisy tidak kuasa mereka hindari. Nabi sendiri belum sepenuhnya bisa memberi jaminan keamanan kepada mereka.

Sebelumnya, tahun 615 M Nabi memerintahkan umat Islam yang berjumlah 83 orang laki-laki dan 13 orang perempuan untuk menyelamatkan diri (hijrah) ke negeri Abissinia atau Habasyah (Ethiopia) yang rakyatnya memeluk agama Kristen. Nabi Muhammad memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Ethiopia dengan tiga pertimbangan.

Pertama, Nabi telah mengetahui, penguasa (raja) di kawasan itu tidak akan membiarkan ketidak-adilan menimpa umat Islam. Kedua, sebelumnya Nabi telah menjalin komunikasi dengan raja dan masyarakat di wilayah itu. Ketiga, Nabi tetap akan mencermati perkembangan, dan ketika kondisi membaik akan ada langkah baru (ketika pertolongan Allah datang).

Mengetahui hal ini, para petinggi Quraisy mengirim delegasi kepada Raja Negus, yang memberi perlindungan kepada para imigran Mekkah, untuk mengembalikan mereka ke tangan orang Quraisy. Abi Thalib—yang mendengar rencana Quraisy ini—segera menulis surat kepada Negus. Sekali lagi Ali memantapkan, agar sang raja melindungi dan memperlakukan umat Islam dengan baik.

Baca Juga :   Istri Gus Dur dan Gerakan Multikultural di Bulan Ramadhan

Negus memilih mendengar surat Ali. Raja itu menolak permintaan Quraisy. Bahkan Negus menghormati dan membiarkan mereka beribadah sesuai dengan agamanya. Rupanya Negus menangkap pancaran semangat perjuangan Nabi dan umat Islam.

Di luar itu, Nabi juga pernah ke Thaif, sebuah kota yang terletak sekitar 65 kilometer di sebelah tenggara Kota Mekkah. Sendirian. Kedatangan Nabi ke tempat ini adalah untuk meminta bantuan para pemimpin di daerah tersebut. Mereka masih ada hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad, dan karena itu kemudian diajak untuk masuk Islam. Mereka menolak dengan kasar.

Merenungi sepenggal kisah perjalanan Nabi di atas mengingatkan kita bahwa untuk melahirkan keadilan di muka bumi ini kita tidak bisa sendirian. Bahkan Nabi Muhammad pun sampai harus mengorganisir kaumnya, menjalin kerjasama dengan kelompok luas, termasuk mereka yang ”berbeda”.

Ada satu kata kunci di sini. Siapa pun mereka, yang terpenting bernurani, memiliki kemauan untuk menciptakan perdamaian dan menegakkan keadilan di muka bumi, maka itulah sekutu.

Selamat Tahun Baru 1439 Hijriah.

Kolom terkait:

Hijrah dalam Perspektif Revisionis

Mengkaji Apa itu Islam

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam

Memaknai Kekalahan Politik dalam Lintasan Sejarah Islam


Written by Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang
studi doktoral di Heilongjiang University, China.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR