Selasa, Maret 9, 2021

Cak Nur dan Pikiran-pikiran yang Melampaui Zamannya

Mudiklah, Wahai Jiwa yang Tenteram

Mudiklah, wahai jiwa yang tenteram. Mudiklah ke kampung halamanmu yang telah lama kautinggalkan. Hari-hari ini kampung halamanmu atau kampong memanggil-manggilmu, membangunkan jiwa dan rohmu untuk...

Revolusi Pemikiran dan Gerakan IMM

Selamat Milad yang ke 54 untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)! Jayalah Islam, jayalah Indonesia! Ada tugas berat yang menanti kita semua sebagai aktivis IMM,...

Imagined Indonesia: Belajar dari Bantul dan Pesantren Ngalah

Yogyakarta terasa tak henti-hentinya terkurung duka intoleransi. Setelah diterpa aksi penurunan baliho jilbab milik Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) pertengahan Desember lalu, provinsi yang...

Benang Merah A’a Gatot, David Koresh, dan Shoko Asahara

"Menurut klien kami, ketika korban diajak berhubungan badan itu, selalu dikatakan bahwa di dalam diri Aa Gatot itu ada jin yang harus mendapatkan oksigen,...
Avatar
Nafi Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis buku "Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus" (2015)

 

Telah menjadi pengetahuan umum bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim. Dari 237 juta jiwa total penduduknya (BPS: 2010), mereka yang memeluk Islam mencapai 87%, sementara Katolik sebanyak 2,9%, Kristen Protestan 6,9%, Buddha 0,05%, Hindu 1,69%, dan Konghucu 0,13%. Dari gambaran ini menjadi jelas bahwa penduduk Indonesia adalah masyarakat yang beragama.

Keberagamaan yang menjadi ciri bangsa ini semestinya menjadi modal penting bagi terciptanya berbagai kemajuan. Sebab, setiap agama mengajarkan nilai-nilai kesalehan kepada seluruh hambanya. Dalam Islam, misalnya, teks yang menyebutkan supaya umat muslim berlaku adil (al-Maidah: 8-10), peduli terhadap sesama (al-Maun: 1-7), larangan saling bermusuhan (al-Hujurat: 12), serta merajut kebersamaan (al-Hujurat: 10), sangat ditekankan.

Sayangnya, dewasa ini, umat beragama (baca: Islam) seolah gagap menghadapi tantangan modernitas. Berbagai opini perlawanan terhadap modernitas dan globalisasi menyeruak. Dampaknya, dengan mudah kita jumpai mimbar pengajian berubah menjadi panggung yang menyuarakan ujaran kebencian, kekerasan, dan politisasi agama.

Di kemudian hari, narasi kebencian tersebut bereproduksi menjadi tindakan anarkis. Orang mencuri sandal dipukuli dan dibakar hingga meninggal dunia; seorang pemuda menulis status di Facebook lalu dipersekusi oleh kelompok yang mengatasnamakan agama; serta wanita baik-baik, dokter, berjilbab, pintar, update status menanggapi kasus yang menjerat pemimpin Ormas Islam tertentu diancam melalui pesan pendek dan komentar di media sosial secara bertubi-tubi hingga mau dibunuh.

Beberapa kejadian belakangan ini memperlihatkan betapa nilai keadaban yang kita miliki sebagai bagian dari bangsa—khususnya umat Islam—meluruh signifikan. Semangat moderatisme yang sebelumnya melekat pada wajah umat Islam di negeri ini juga makin menipis.

Menggali Pikiran Cak Nur

Karena itu, di tengah kondisi kebangsaan dan keumatan yang menggelisahkan, menjadi sangat relevan bila bangsa ini kembali menghidupkan ide dan pemikiran cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid. Hal ini sekaligus kita jadikan refleksi atas peringatan 12 tahun meninggalnya Cak Nur pada 29 Agustus 2017.

Ada banyak karya Cak Nur—panggilan akrab untuk Nurcholish Madjid—yang mengajak umat Islam untuk berlaku toleran, menjunjung perdamaian, menghargai keberagaman, serta mengedepankan kepentingan hak asasi manusia. Cak Nur dalam bukunya, Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1987), menyindir dengan keras bahwa problem sosial-keagamaan di negeri ini menjadi akut karena umat Islam lebih mengutamakan jumlah, bukan mutu dalam merespons persoalan.

Arogansi sebagai agama paling besar menyebabkan umat Islam tidak pernah bersatu. Psikologi mayoritas itulah, kata Cak Nur, yang mengakibatkan umat Islam menutupi cacat-cacat dalam tubuhnya dan tidak mau terbuka pada ide-ide baru. Meski nilai-nilai Islam diajarkan di sekolah dan madrasah-madrasah, namun itu belum menyentuh relung problem sosial secara maksimal.

Tak pelak, ungkap Cak Nur, umat Islam dewasa ini hanya mewarisi “abu” dan “arang” dari kemajuan peradaban Islam di masa lampau. Gerak umat Islam menjadi statis, stagnan, bahkan mati karena terjebak pada pemikiran yang kolot, saling menyalahkan, mau menang sendiri, serta berambisi sebagai mayoritas yang ingin berkuasa.

Sebab itu, “menggali api Islam,”  kata Cak Nur yang mengutip ungkapan Bung Karno, perlu kembali dilakukan. Maksudnya, umat Islam hendaknya melakukan pendalaman pemikiran atas teks-teks Islam, menafsirkannya secara progresif dan kontekstual, sehingga modernitas yang sekarang dihadapi umat Muslim secara global tidak melulu dianggap sebagai ancaman. Cara pandang yang lebih beradab seharusnya melihat modernisasi sebagai alat dobrak kejumudan berfikir bagi umat Islam.

Menariknya, Cak Nur mengajak umat Islam untuk mencapai “kesadaran islami yang modern” melalui bidang pendidikan. Pendidikan—tidak harus diukur dengan tingginya bersekolah formal—merupakan tahapan bagi masyarakat Muslim untuk menghasilkan pendekatan baru dalam memahami doktrin Islam berkemajuan, serta mengupayakan kemerdekaan yang sesungguhnya: Merdeka dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan kesewenang-wenangan.

Ide Cak Nur yang juga perlu disuarakan kembali pada konteks keberagamaan di Indonesia dewasa ini adalah tentang “iman dan kesalehan sosial”. Jika kita membaca buku-buku Cak Nur, konsep pemikirannya hampir tak pernah lepas dari sejarah Islam dan konteks kekinian. Lalu, apakah sungguh memiliki keterkaitan antara keimanan seseorang dengan problem sosial?

Dari fakta-fakta Islam klasik, karya almarhum berjudul Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, mengajarkan agar umat Islam mau meneladani perilaku Nabi Muhammad dan para Salaf al-Saleh yang berwatak partisipatif dan egaliter. Keimanan terhadap Nabi menjadi dasar bagi umat Islam sekarang ini untuk memiliki gambaran tentang tatanan berbangsa yang adil, terbuka, dan demokratis.

Gagasan menghidupkan kembali pemikiran Cak Nur perlu direnungkan kembali. Apalagi, akhir-akhir ini, ada sebagian pihak yang menggugat Pancasila sebagai dasar negara, serta menolak demokrasi karena dianggap sebagai sistem yang tak islami. Dalam hal ini, ide-ide Cak Nur bisa menjawab semua kegelisahan tersebut.

Budhy Munawar-Rachman dalam sebuah kesempatan mengungkapkan, Cak Nur merupakan pelopor dari banyak isu pembaruan politik di Indonesia, seperti halnya Pancasila, demokrasi, civil society, HAM, oposisi loyal, dan pluralisme. Sebab itu, kegelisahan bangsa Indonesia, terutama umat Muslim sebagai penduduk mayoritas, dalam menghadapi masalah-masalah sosial kebangsaan belakangan ini telah dijawab Cak Nur dalam berbagai pemikirannya sejak jauh-jauh hari.

Maka, bertepatan dengan masih gegap gempitanya kita merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-72, Indonesia harus bergerak lebih maju dengan mencapai makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Bangsa Indonesia harus bisa keluar dari jeratan kebodohan, konflik sosial, dan perilaku kekerasan. Bagi umat Islam hendaknya bisa mengatur emosi agar tidak mudah mengeluarkan narasi kebencian, apalagi yang dapat berujung pada tindakan persekusi.

Baca juga:

Merindukan Cak Nur

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam

Para Imam Mazhab di Tengah Perbedaan Pendapat

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Avatar
Nafi Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis buku "Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus" (2015)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.