OUR NETWORK

Belajar Mawas dari Kiai Berhati Luas (2-Habis)

Kita memang mengenal adanya ulama dan wali yang mashyur, atau populer di masyarakat. Tapi, kita juga mengenal yang mastur, yang tidak dikenal atau bahkan sama sekali tidak terendus oleh siapa pun kecuali oleh kalangan yang sangat terbatas. Siapa mereka?

ABAH Bagiono terbaring di peraduan. Tubuhnya yang sepuh perlu beberapa menit untuk disiapkan bersandar bantal yang lebih tinggi. Sesungguhnya, kami inilab yang tidak tahu tatakrama: sowan pada sesepuh pendekar Pagar Nusa di Banyuwangi itu ketika ia sakit. Namun, nyai tetap mempersilakan kami masuk ke kamar kiai yang bernama lengkap KH Syaifullah Ali Bagiono ini.

Sesudah memuliakan tamu-tamunya—kami ini, yang sungguh tidak mulia—nyai pun mengabarkan bahwa Abah Bagiono telah siap menerima kami, malam itu.

“Gus, saya tidak punya apa-apa. Saya justru minta didoakan, semoga dengan sakit ini dosa saya diampuni Allah,” ungkap Abah Bagiono, menggetarkan hati saya. Walau sedang didera sakit, roman kiai tetap bercahaya. Tak lepas senyum dari bibirnya. Masih dibiarkan rambut peraknya yang semakin tipis itu digelung di atas kepala.

“Kalian,” kata Abah Bagiono pada kawan-kawan yang saya bawa,” belajarlah padanya.” Saya tertunduk sangat malu. Tidak menduga Abah Bagiono yang sangat disegani masyarakat itu akan berkata demikian.

Tentu, saya tidak akan pernah dapat memenuhi kualifikasi yang dituturkan oleh kiai. Sebab, sesungguhnya inilah cara Abah Bagiono merendahkan hati serendah-rendahnya, bahkan pada kami yang sangat rendah budi pekerti ini.

Ini pulalah cara yang ia pilih untuk menolak halus kami untuk belajar padanya. Ya, tahap awal dari belajar memang menyempurnakan adab—dan tak mampu saya penuhi sampai Abah Bagiono wafat. Namun, pelajaran tawadhu yang teramat tinggi dari Abah Bagiono selalu membekas di kalbu.

Banyuwangi memang menyimpan ilmu dan cahayanya yang benderang. Ada seorang kiai yang memang lebih keras gaya bertuturnya, tapi begitulah cara yang ditempuhnya untuk menghapus stigma masyarakat bahwa ia kiai.

“Kang saja. Panggil saya Kang. Saya ini tidak pantas disebut kiai. Ke mana-mana tak pernah pakai surban dan jubah. Ilmu saya juga terlalu rendah, apalagi adab saya. Duh, jauh dari layak!” kata Kang Samugi. Padahal, ia penerus mendiang KH Haris Nooryahya yang siang malam selalu siap menerima siapa pun datang.

“Saya susah tidur. Jadi, bukan karena kuat berzikir sampai larut atau bangun untuk tahajud. Bukan,” jelasnya. Tapi, kenyataannya, bukan hanya khalayak umum yang sowan, banyak pula kiai yang datang untuk berbagai keperluan.

Mengenai suaranya yang keras dan lantang, tidak seperti “seharusnya” ulama yang bertutur bahasa lemah lembut, Kang Samugi mengatakan, ”Saya tidak mau bisik-bisik atau bicara pelan. Sebab, tidak ada ghibah atau fitnah di sini, insya Allah. Dan supaya tak ada yang berprasangka buruk.”

Meski sepintas terlihat berkarakter keras, Kang Samugi selalu menyelipkan doa pada ucapannya. “Semoga diberi keselamatan. Astaghfirullahal adzim,” tuturnya. Sebagaimana Abah Bagiono, Kang Samugi juga selalu memohon untuk didoakan. “Tolong saya didoakan, tolong saya,” pintanya.

Kami, tentu saja, justru semakin rendah tertunduk malu dibegitukan. Para ulama yang kami datangi untuk kami mintai doa dan petuah malah minta doa dan teguran dari kami. “Kalau saya salah tolong diingatkan,” kata Kang Samugi. Duh..

Demikian pula Habib Abu Bakar Smith di Jakarta. Saya benar-benar malu hati ketika beliau menyambut kedatangan saya seraya merangkul dan setengah berteriak pada penjaga kediamannya. “Ini guruku, ini guruku!” Sepanjang jalan menuju ruang tamu, Habib Abu Bakar Smith menggandeng saya dan terus mewirid hamdalah.

Ya Allah, ya Rabb. Ilmu tawadhu apa lagi ini? Saya ingin besar kepala, dan memang suka tinggi hati, namun ketika diangkat tinggi begitu saya malah merasa langsung dibanting hancur berkeping-keping.

Begitu pintu dibuka dan kami masuk, Habib Abu Bakar Smith langsung saja membentangkan tangan dan berkata,” Gus, apa pun yang antum minta, jika ada di sini, sebut. Sebut. Ambil, ambil!” Saya tersenyum lebar tapi kemudian menunduk malu.

Ya Allah, begini ini ternyata tamparanMu padaku melalui lisan seorang ulama. Engkau Maha Tahu betapa aku masih saja condong pada dunia dan hal-hal duniawi. Kini, saya semakin tahu betapa rendahnya derajat saya di hadapan Allah. Hati habib yang kaya membelalakkan saya.

Baru sejenak kami duduk, Habib Abu Bakar Smith berpetuah, ”saya haqqul yaqin pada surga dan neraka. Namun, lebih haqqul yaqin lagi pada Allah yang Maha Mengampuni dan Mengasihi, yang niscaya menghindarkan kita dari api neraka jika kita bersedia memohon ampun dan bertobat.”

Ia tidak suka menghakimi siapa pun, apalagi tega “menjatuhkan” kepastian seseorang telah berdosa dan oleh karena itu layak dijebloskan ke neraka. Habib Abu Bakar Smith lebih suka mendoakan kebaikan dan ampunan bagi siapa pun.

Hingga saat ini, habib lebih memilih merawat masyarakat di pesisiran dan pedesaan dengan membuka majelis kecil di masjid. Ia juga menghindari publisitas, apalagi popularitas. Meski niscaya amat mampu secara ekonomi, Habib Abu Bakar Smith menghendaki kebersahajaan dalam kesehariannya. “Ini bukan milik saya. Itu bukan milik saya. Semua milik Allah. Saya hanya dititipi,” ujarnya seraya membentang tangan ke seluruh penjuru ruangan.

Kita memang mengenal adanya ulama dan wali yang mashyur, atau populer di masyarakat. Tapi, kita juga mengenal yang mastur, yang tidak dikenal atau bahkan sama sekali tidak terendus oleh siapa pun kecuali oleh kalangan yang sangat terbatas. Perlu kesetiaan pada jalan sunyi dan kesabaran silaturahmi untuk berjumpa dengan sosok-sosok luhur dalam pandangan Allah ini.

Yang banyak tahu belum tentu tahu banyak. Yang sedikit tahu belum tentu tahu sedikit. Kita yang benar-benar harus menata hati sebelum bertemu mereka.

Lebih dari itu, kiai yang sebelumnya dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar ditulis “kyai” syahdan berakar pada bahasa Cina: “kya” yang berarti jalan dan “i” yang bermakna lurus. Artinya, kyai adalah simbol jalan lurus, shiratal mustaqim, atau orang yang menempuh jalan yang lurus. Datang pada kiai sama halnya telah secara sadar datang pada jalan yang lurus.

Selebihnya, kita perlu memohon turut diperjalankan di jalan yang lurus. Yaitu, jalan bagi siapa pun yang syukur nikmat, tidak zalim dan tidak berdusta. (Selesai)

Kolom terkait:

Belajar Malu dari Ulama Tawadhu (1)

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Malu Aku Padamu, Duhai Sayyidul Wujud!

Pertanyaan Abadi Manusia: Sampai Kapan Aku Hidup di Dunia? (4-habis)

Menuju Jalan Lurus dengan Menyadari Siklus

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…