OUR NETWORK

Agama: Sumber Berkah atau Bencana?

Menjelaskan tafsir agama dari sudut pandang ilmu sosial-politik mutakhir.

Agama itu berkah atau bencana sangat tergantung pada penafsir agama dan pengalaman kaum beragama. Karena baik Alquran maupun Injil tidak bisa berbicara sendiri, dalam konteks relasi agama dan Ilmu sosial, yang bisa bicara atas nama kitab suci adalah manusia itu sendiri. Mereka yang menghayati dan mengamalkan hidup dengan segenap kekayaan interaksi sosialnya dengan yang lain.

Semua masalah sosial tidak bisa dikembalikan semata-semata pada agama. Maksud saya, menjadikan agama sebagai muara segenap persoalan itu sama saja dengan menegasikan kompleksitas relasi sosial dan perjalanan historis tiap-tiap orang. Dalam konteks yang lebih luas, masalah merupakan produk atau fenomena sosial yang selama ini menjadi perhatian dari studi-studi ilmu sosial sampai zaman kiwari.


Saya akan ilustrasikan dengan contoh tokoh dari tiga kalangan Kristen, dan Katolik, dan Islam, untuk menjelaskan bukan hanya teks agama yang membuat cara pandang seseorang atau suatu komunitas itu jumud.

Pertama, Martin Luther King Jr, Pat Robertson, Pope Francis. Ketiga-tiganya beriman Kristiani dan ketiganya mempercayai Injil tapi mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana memaknai iman dalam kehidupan sosial mereka. Ketiganya berdakwah dan membawa agama ke dalam ruang publik.

Pemahaman atas teks mereka berbeda, iya berbeda! Bagaimana bisa berbeda? Pemahaman atas relasi sosial, konteks sosial, dan sejarah bisa membantu kita.

Martin Luther King Jr sebagai pendeta, aktivis civil rights, memiliki cara pandang yang liberal dan akhir hidupnya cenderung pada sosialisme. Dia besar dan menjadi aktivis di era Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II, ketika AS berhasil membangun tatanan kapitalisme yang bersendikan pada topangan kekuatan working class.

Martin Luther King Jr mampu mempengaruhi ruang politik. Ia menjadi sosok yang diperhitungkan masyarakat sipil yang dinamis dan aktif dalam proses transisi untuk melawan produk feodalisme seperti rasisme, patriarki, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Dalam konteks tatanan sosial di mana kekuatan politik maupun tatanan sosial hidup dan dinamis, maka gereja, pendeta, dan teks-teks agama suci yang ditampilkan adalah teks yang bergerak sejalan dengan zaman yang bergerak progresif. Kala itu, artikulasi politik Kristen tidak identik dengan konservatisme dan kejumudan, tapi dekat dengan tradisi liberasi (pembebasan). Sementara gereja-gereja yang dekat dengan kawasan kaum marjinal tempat kulit hitam di AS menjadi rumah bagi kaum pemberani penggerak civil rights movement.

Hal ini berbeda dari kaum pendakwah Kristen Evangelis di AS setelah Martin Luther King Jr seperti Pat Robertson dan Jerry Falwell. Mereka menjadi pendakwah ketika terjadi pergeseran dari embedded liberal capitalism menuju neoliberal capitalism. Hal ini ditandai oleh penghancuran pengaruh politik dan sosial serikat buruh, dan orientasi civil society yang gamang terhadap ide-ide kemajuan, ketika formasi kapitalisme pasca-Perang Dunia II menghadapi krisis.

Sementara kekuatan politik kaum republik dari Nixon sampai Reagan melihat bahwa solusi terhadap krisis sosial adalah pemangkasan peran negara dan tampilnya kekuatan bisnis. Namun kemudian ada persoalan, bagaimana merangkul massa bawah untuk menjadi konstituen ketika mereka tidak memiliki program welfare untuk rakyat miskin?

Di situlah peran dari kaum Christian Evangelist dalam kekuatan Republik untuk memberi opium bagi jiwa-jiwa yang resah. Isu Amerika adalah negeri kaum Kristen, penolakan atas teori evolusi, simbolisasi kristen dalam ruang publik menggantikan tafsir pemihakan kepada kaum marjinal dalam panggung dakwah Kristen di AS. Dari sini kemudian tampil kaum konservatif agamis seperti Jerry Falwell dengan injil yang sama dengan yang dibaca oleh Martin Luther King Jr.


Lalu bagaimana dengan Paus Fransiskus yang membawa pengabaran pencerahan, liberasi, dan keadilan bagi umat Katolik? Bagaimana kita bisa menyaksikan teks Injil beda satu sama lain, bahkan mungkin bila dibandingkan dengan yang paling progresif dari para paus abad XX?

Paus Fransiskus lahir dan besar di Amerika Latin. Hidupnya digembleng oleh tradisi partisipasi dan perlawanan rakyat. Beliau dekat dengan Oscar Romero dan kalangan gerilyawan kiri yang bisa bertemu dalam bahasa perlawanan atas penindasan, baik dari sumber Manifesto Komunis maupun dari sumber Bible dan Teologi Pembebasan.

Pergumulan atas teks, dan konteks perlawanan terhadap rezim militer-kapitalistik di bawah panji-panji perjuangan sosialisme dan religiusitas, menggembleng cara berpikir dan cara memahami teks biblikal Paus Fransiskus, dengan kabar liberasi yang ia bawa ketika selanjutnya menggembala umat Katolik sedunia.

Riwayat kisah-kisah kaum Kristen dan Katolik di atas memperlihatkan bahwa hidup lebih kaya daripada oposisi biner antara agama dan sains. Bahkan variasi pengalaman kaum beragama sendiri sangat kaya, bukan hanya bergantung pada bagaimana ia membaca teks tapi juga bagaimana pengalaman hidup dan situasi sosial mereka membawa dan mengajarkan mereka untuk memahami realitas sosial

Konteks Dunia Islam dan Indonesia

Hal yang sejajar juga berlangsung di dunia Islam. Kita bisa lihat dalam kehidupan Ali Syari’ati, Gus Dur, dan Habib Rizieq Shihab.

Ali Syari’ati, dalam pandangan saya, adalah agitator aktivis dan intelektual utama yang menyulutkan jiwa perlawanan dalam Revolusi Iran. Jiwa revolusioner kirinya berkembang sejak dia hidup dalam asuhan keluarganya. Ayahnya adalah salah seorang Mullah pendukung rezim nasionalis-kerakyatan Mohammad Mosaddegh di Iran, yang dilengserkan oleh Amerika Serikat karena Mosaddegh mengangkat isu yang tabu bagi penguasa imperialis yaitu menyerukan kedaulatan Iran atas pengelolaan sumber daya migas dan ekonominya sendiri.

Sehingga tidak heran tafsir revolusioner atas hidup Muhammad, Ali bin Abi Thalib, dan sejarah keluarga suci Muhammad, beserta komitmen terhadap nasib kaum miskin dalam kerangka pembebasan nasional, terinternalisasi dalam hidup keseharian Ali Syari’ati dalam pendidikan keluarganya. Pada masa mudanya, ia sudah bergabung dengan Gerakan Kaum Sosialis Penyembah Tuhan lalu selanjutnya belajar di Perancis. Di Perancis, pada saat ia belajar, ia dihadapkan pada momen krusial yakni perlawanan antikolonialisme terhadap Perancis oleh rakyat Aljazair.

Dari situ Ali Syari’ati yang keranjingan melahap dan berdiskusi tentang gagasan sosialistik bertemu dan adu argumentasi dengan Franz Fanon hingga Jean-Paul Sartre. Ada dialog menarik antara Fanon dan Syari’ati, ketika ia mengkoreksi skeptisisme Fanon atas agama. Menurut Syari’ati, agama juga menjadi elan vital bagi perlawanan rakyat dan pondasi sosialisme (pandangan Syari’ati ini sebenarnya mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Friedrich Engels ketika Engels menilai kaum Kristen generasi awal).

Bahkan Jean-Paul Sartre pernah berujar, “Saya tidak beragama, tapi jika saya harus memilih satu, saya akan meilih agama Syari’ati.” Gejolak di Perancis dengan ide-ide revolusioner ini terus berlangsung sampai Mei 68 dan Syari’ati terus mengikuti.

Pengalaman hidup Syari’ati yang kaya ini membekas dalam tafsir-tafsirnya atas agama. Bagi Syariati, kisah agama adalah metafora. Metafora perang antara kaum penindas dan kaum tertindas. Dalam setiap kisah agama, menurutnya, setiap Nabi selalu melawan kekuatan oligarkhi antara Balaam, Firaun, dan Qarun.

Alquran yang dibaca Ali Syari’ati sama dengan Alquran yang dibaca oleh ISIS, tapi tafsir Ali Syari’ati sangat berbeda.

Beda Ali Syari’ati beda pula perjalanan hidup Habib Rizieq Shihab. Beliau hidup dan sekolah di Arab Saudi, yang pada tahun 80 hingga 90-an memberi beasiswa kepada para santri untuk belajar Islam petrodolar.

Rizieq bukan Wahabi, dia adalah penganut mazhab tradisional Islam yang sebetulnya secara ritual keagamaan bersumber dari tradisi NU. Yang menarik adalah lingkungan sosial di mana Rizieq berkiprah di Betawi. Ia membangun komunitas yang kemudian bernama Front Pembela Islam (FPI). FPI adalah bagian dari komunitas percampuran antara kaum santri, warga masyarakat, dan preman yang hidup di daerah-daerah slum yang secara ritual adalah kaum nahdliyin. Konteks sosial di mana Habieb Rizieq berkiprah adalah jejaring kaum santri yang termarjinalkan dalam pusaran sosial Nahdliyin, serta menjadi bagian yang termarjinalkan dalam skema politik Orde Baru. Mereka hidup dalam konteks struktur pembangunan kapitalistik sejak era Orba yang keras dan timpang. Dalam perkembangan infrastruktur yang mewadahi praktik kekerasan.

Di tengah kondisi absennya demokratisasi ilmu-ilmu sosial, dan berkat Orde Baru yang mengharamkan tradisi berpikir analisis kelas dalam praktik pendidikannya, kaum marjinal dan artikulatornya Rizieq ini memaknai ketimpangan sosial dengan kosakata yang “rasis” : pribumi dan Islam versus Cina.

Apalagi hal ini berlangsung dalam penghancuran dan marjinalisasi kaum borjuasi Islam sejak era Soeharto. Pada akhirnya, kemarahan-kemarahan yang tidak terorganisir inilah yang ditangkap oleh elite militer dan jadilah FPI. Massa FPI mengaitkan relasi dengan predatory power itu sebagai cara mereka menyambung hidup, dengan menjaga night club, jaga parkir mal, dan seterusnya. Sementara Rizieq tampil ke mimbar seturut kepentingan dan pertarungan politik yang berlangsung sampai dengan momen 212 kemarin.

Kembali faktor sejarah, relasi kuasa, dan hubungan sosial dalam pengalaman hidup agensi menentukan cara masing-masing aktor agama dalam menafsirkan agamanya, dan selanjutnya mempengaruhi bagaimana tindakan mereka dalam ruang sosial.

Lain Ali Syari’ati dan Rizieq, lain lagi Gus Dur.

Gus Dur lahir dari keluarga Kiai negarawan yang para leluhurnya membidani Republik Indonesia. Kakeknya adalah penyeru Resolusi Jihad dan tokoh pergerakan, sementara bapaknya adalah salah satu pendiri republik ini. Di keluarganya ia belajar bahasa Inggris dari seorang pendeta. Lingkungan keluarga sudah menggemblengnya dengan tradisi berpikir republikan, keterbukaan, dan Islam yang terbuka. Beliau adalah tokoh yang lahir dari komunitas elite santri yang dimuliakan oleh massa akar rumput di wilayah rural, sekaligus memiliki pergaulan kosmopolit dan luas di kalangan elite perkotaan dan elite tingkat atas.

Gus Dur juga bersahabat dengan tokoh intelektual dari berbagai macam ideologi seperti Rahman Tolleng dan tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) lainnya. Gus Dur menimba ilmu ke Mesir sampai dengan Iraq. Ia keranjingan literasi mulai dari wacana ilmu sosial modern Barat, sampai lagu-lagu klasik dan film bisu Eropa di era  30-an ia nikmati. Di Al-Azhar Mesir ia belajar Islam Sunni, ketika di Iraq ia mengaji pada mullah Syiah. Sehingga lahirlah statemen Gus Dur yang terkenal bahwa: NU itu Syiah tanpa imamah, sementara Syiah adalah NU plus imamah.

Gus Dur belajar ke negeri orang pada momen turbulensi di Indonesia yang menegangkan dan keras, yaitu ketika berlangsung tragedi 65. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak kaum Nahdliyin yang menolak sikapnya untuk meminta maaf pada korban 65, Gus Dur dianggap berjarak dengan peristiwa itu sehingga tak paham kondisi saat itu.

Sementara bagi mereka yang mendukung permohonan maaf, sikap ini menunjukkan warisan sikap negarawan dari keluarganya dan keluasannya memahami hidup yang kosmopolit. Gus Dur punya visi: Masa depan republik ini kembali berjalan sesuai dengan nilai-nilai kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pendahulunya, termasuk kakek dan ayahnya.

Keluasan tradisi berpikirnya membuat ia mendorong ide-ide demokrasi dan literasi Islam progresif, untuk menafsirkan teks Islam dengan paradigma yang maju. Salah satu intelektual favoritnya adalah Hasan Hanafi. Mungkin karena Hasan Hanafi sendiri mencerminkan bagian dari cara berpikirnya gabungan antara tradisi Islam, kemajuan, humanisme, dan pemahaman Islam yang membumi.

Hassan Hanafi adalah tokoh yang menginisiasi tesis dari teks ke revolusi. Melalui penghampiran fenomenologi Edmund Husserl, ia menyatakan bahwa kebangkitan pemikiran dimulai dengan pemuliaan manusia dalam hidup di bumi manusia bukan hanya pemuliaan Allah saja. Bukankah ini yang juga diucapkan oleh Gus Dur, bahwa Tuhan tidak perlu dibela? Kita memuliakan Tuhan dengan membela manusia yang terpinggirkan.

Sementara diskusi tentang wacana Islamnya semakin kaya seiring dengan pertemuannya dengan intelektual berbasis Masyumi dan PSI di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Dari situ, pertemuan antara wacana Islam yang terbuka dengan gagasan ilmu sosial transformatif semakin memantapkan pikiran Gus Dur.

Gus Dur menjalankan dakwah kultural dengan memperjuangkan orientasi politik yang progresif, melalui penyebaran gagasan-gagasan di pesantren. Sayangnya, satu hal yang belum selesai ia kerjakan di ranah kultural adalah topangan basis sosial-ekonomi bagi kerja-kerja intelektual yang mencerahkan.

Momen politik penting berlangsung ketika dia menjadi Presiden RI. Dalam satu tahun menjabat, Gus Dur melakukan banyak perbaikan yang sangat penting bagi demokrasi. Penghormatan kembali terhadap civil rights, kaum minoritas, penghapusan Bakorstanas dan dwifungsi ABRI, permintaan maaf terhadap korban 65.

Bagi banyak ahli strategi politik, langkah politik Gus Dur itu naif, tapi satu hal yang mereka lupa: Meskipun dianggap naif, Gus Dur telah melakukan inisiatif-inisiatif politik yang hampir tidak bisa atau sulit ditarik lagi ke belakang.

Gus Dur, dalam satu wawancara pernah berkata, “Semua pikiran dan apa yang saya lakukan itu semua diajarkan oleh agama, dan tertera dalam kitab suci Alquran.” Pada Gus Dur, kita melihat betapa agama bukan menjadi dogma dan alat untuk menakuti inisiatif kemajuan.

Agama menjadi inspirasi pencerahan bagi jiwa-jiwa yang merdeka!

Airlangga Pribadi Kusman
Meraih PhD dari the Asian Studies Centre, Murdoch University. Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Surabaya. Direktur Centre of Statecraft and Citizenship Studies, Universitas Airlangga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…