Banner Uhamka
Kamis, September 24, 2020
Banner Uhamka

Agama dan Budaya Sisa Kotaknya

Demokrasi Membutuhkan Toleransi

Dalam masyarakat pluralistik seperti di Indonesia, salah satu tantangan terberat dalam menegakkan demokrasi adalah kecenderungan minusnya toleransi. Perbedaan etnis dan agama (kepercayaan) merupakan dua...

Jokowi, Kemiskinan, dan Imbauan

Memasuki awal tahun ini, Senin (4/1/2016), Badan Pusat Statistik kembali melansir persentase penduduk miskin. Pada September 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita...

Media dan Eksploitasi di Balik Referensi Gizi

Baru-baru ini lembaga perlindungan konsumen Australia menghukum denda Unilever Australia karena dianggap telah melakukan kecurangan publik. Es krim Paddle Pop buatan mereka diklaim sebagai...

Apakah Semua Umat Hindu Musyrikun dalam Pandangan Muslim? [Bag. 2-Habis]

Majma' al-Bahrain menekankan kesamaan ajaran keesaan Tuhan (tauhid) dalam ajaran Sufi Islam dan Vedanta Hindu seperti ditafsirkan dari kitab Upanisyad. Seperti dibahas Profesor Yohannan Friedman...
Avatar
Dedi Mahardi
Penulis, Inspirator dan motivator

Rasulullah bersabda “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR. Al-Baihaqi).

Tidak ada satupun ayat atau hadist yang menyatakan bahwa sesungguhnya rasulullah diutus untuk membuat tempat ibadah sebanyak-banyaknya atau sebesar-besarnya diseluruh dunia. Begitu juga dengan masjid atau tempat ibadah lainya, yang ada adalah anjuran atau perintah agar supaya memakmurkan masjid atau mengutamakan fungsi kegunaannya. Artinya apa dari kedua pedoman ini?

Adalah bahwa yang utama atau yang pokok dari ajaran agama adalah isinya, bukan kotaknya atau bungkusnya. Begitu juga kelak yang akan dikumpulkan di Padang Mahsyar adalah ruh yang sekarang adalah isi dari jasad atau tubuh manusia. Hal ini tentu saja bukan karena Tuhan tidak mampu atau tidak mau membuat kembali jasad manusia lalu mengumpulkannya di Padang Mahsyar.

Dari sisi budaya dan kehidupan berbangsa, budaya adalah sesuatu yang sangat berharga dan modal utama dari sebuah bangsa. Makanya ketika Amerika mampu menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima tetapi tidak menghancurkan budayanya, dalam waktu beberapa tahun saja Jepang sudah membalikan keadaan dengan mampu menguasai industry dan ekonomi dunia.

Begitu juga majunya bangsa Korea dan China sekarang, bukan karena besar negaranya atau banyak penduduknya, tetapi ilmu pengetahuan dan keterampilannya yang menjadikan mereka mampu memenangkan kompetisi dunia. Sebaliknya hancurnya negara Uni Soviet yang besar digdaya serta termasuk negara adi kuasa bersama Amerika, yang hancur atau terpisah-pisah bukan fisik atau pulau-pulaunya. Yang hancur atau lenyap adalah aturan dan semangat yang mempersatukan rakyat dengan para pemimpinya dan sekaligus mempersatukan tanah atau pulau di Negara Uni Soviet tersebut.

Begitu juga dengan modal utama para pejuang dan pendiri bangsa ini dulunya, adalah semangat juang patriotisme, kerelaan berkorban, ingin bebas dan merdeka, ingin mengambil hak yang dirampas penjajah dan sebagainya atau bukan fisik yang utama. Hanya dengan modal bambu runcing, para pejuang yang bahu membahu dengan rakyat bisa mengalahkan senjata penjajah yang cukup canggih pada era tersebut.

Begitu juga dengan syair lagu kebangsaan Indonesia Raya, bangunlah jiwanya baru setelah itu bangun badannya, yang tentunya ada maksud kenapa bangunlah jiwanya didahulukan. Dari uraian diatas, terilhat jelas betapa maha pentingnya isi atau software atau jiwa yang diwakili oleh agama dan budaya serta ilmu pengetahuan dalam raga anak bangsa ini.

Lalu, bagaimana yang terjadi dengan agama sekarang? Itu mungkin yang seharusnya menjadi pertanyaan penting bagi mayoritas anak bangsa atau bagi para pemimpin negeri ini.

Bangsa Indoneisa yang berideologi Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, serta sila ke lima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung konsekwensi bahwa semua warga Negara Indonesia harus atau wajib beragama atau mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Lalu dengan mempercayai adanya Tuhan, tentunya juga percaya bahwa Tuhanlah penguasa Alam Semesta, Tuhanlah Yang Maha Pencipta, Tuhanlah Yang Maha Kuasa dan berikut segala sifat Tuhan lainnya.

Dengan ketentuan wajib beragama bagi semua warga Negara Indonesia, seharusnya semua anak bangsa ini bisa mengatur dirinya sendiri tentang hak dan kewajiban terhadap bangsa dan terhadap sesame anak bangsa.

Karena agama berasal dari sansekerta a artinya tidak dan gama artinya tidak teratur atau agama artinya tidak tidak teratur atau teratur. Tujuan agama berarti sejalan dengan hadist tentang tujuan Allah mengutus Rasulullah ke muka bumi ini, yaitu menyempurnakan akhlak manusia.

Karena dengan akhlak, manusia bukan saja bisa menjadi teratur tetapi bisa jadi saling mengasihi, saling memberi, saling menolong dan sebagainya. Tetapi belakangan ini agama oleh sebagian orang malah dijadikan alat untuk mengadu domba, untuk mencari kedudukan dan harta serta menjadi alat menghina dan memfitnah orang lain atau agama lain.

Padahal bukan itu isi dan tujuan dari agama, sehingga agama sekarang mungkin bisa dikatakan kehilangan isinya, agama menjadi turun nilai kemuliannya. Agama sekarang sepertinya menjadi besar kotaknya tetapi kecil isinya. Apa buktinya?

Salah satu tandanya adalah semakin ramai dan riuhnya ibadahnya tetapi semakin mengecil hikmah dan akhlak umatnya serta semakin tidak teratur bahkan semakin sulit diatur. Yang lebih parah lagi oleh sekelompok warga bangsa ini, agama dijadikan alat untuk menghina dan memfitnah orang yang tidak disukai atau kelompok lain yang tidak seperahu dengan mereka.

Bayangkan ada sekelompok manusia yang mengatas namakan agama, lalu melarang jenazah dari yang bukan satu kelompok dengan mereka untuk disholatkan di masjid, padahal dalam ketentuan agama menyelenggarakan jenazah adalah kewajiban semua umat yang masih hidup. Apalagi tandanya agama tinggal kotaknya?

Banyak orang menjual agama dengan harga murah untuk mencari rezeki, dengan embel syariah atau menegakan syariah tetapi isinya mereka inginkan sesuatu.

Bagaimana budaya sekarang? Hampir sama, budaya yang seharusnya menjada software atau pengendali keserasian kehidupan berbangsa dengan kekayaan kearifan lokal yang saling mengisi antara satu suku atau etnis dengan etnis lainnya, serta sesama dalam etnis tersebut sekarang seperti sudah kehilangan fungsinya.

Rumusnya, semakin tinggi budaya sebuah bangsa semakin tidak diperlukan aturan atau ketentuan yang mengatur dan mengikat kehidupan sebuah bangsa lalu menghukum pelanggarnya.

Seperinya tingginya budaya bangsa Jepang, bila mereka salah maka mereka akan malu dan menghukum diri mereka sendiri, sebelum hukum Negara bertindak atau diperlukan meluruskan penyimpangannya.

Berbanding terbalik yang terjadi pada sebagian anak bangsa di negeri kita ini, jangankan menggunakan menggunakan budaya untuk keharmonisan kehidupan berbangsa, untuk menegkan hukum saja kadang sulit.

Demikian, pemikiran dan kegalauan kami sebagai anak bangsa mengamati perkembangan negeri ini akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

 

Avatar
Dedi Mahardi
Penulis, Inspirator dan motivator
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

Menilik Komunikasi Publik Tokoh Politik

Komunikasi merupakan sarana yang memiliki signifikansi tinggi dalam mengkonstruksikan sebuah interaksi sosial. Hal ini dikarenakan melalui jalinan komunikasi, seseorang akan mengaktualisasikan suatu konsepsi diri...

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon...

Hubungan Hukum Agama dan Hukum Adat di Masa Kolonial

Dalam rangka memahami sistem sosial dan nilai-nilai yang berada di masyarakat, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengangkat seseorang penasihat untuk membantu mereka dalam mengetahui...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.