OUR NETWORK

Ada Habib Rizieq di Balik Pertemuan Jokowi-Prabowo

Pagi ini rakyat Indonesia dikejutkan dengan pertemuan Jokowi dan Prabowo di atas MRT. Pertemuan ini menandakan upaya rekonsiliasi yang terjadi setelah pemilu. Banyak pihak yang merespon positif dan tak sedikit pula yang berkomentar negatif. Salah satu hal yang banyak saya temui di media sosial adalah komentar tentang politik identitas. Beberapa pihak merasa bahwa pertemuan ini menyakiti umat, beberapa menyebut nama Rizieq Shihab, tapi apa sebenarnya kaitan Rizieq dan Prabowo?

Aneh memang Indonesia kita ini. Dulu, seorang calon presiden pernah membuat jualan kampanye yang unik. Jika bahan kampanye biasanya bertema mulai dari turunkan bahan bakar minyak (BBM), turunkan tarif dasar listrik (TDL), turunkan sembako, naikkan gaji guru, bla-bla-bla, seorang capres ini malah membuat kampanye yang “visioner”: memulangkan Habib Rizieq.

Saya benar-benar terpukau untuk tidak menyatakan menggelikan dengan kampanye “visioner” ini. Terpukau karena seakan-akan Habib Rizieq adalah pahlawan besar negara ini, sehingga, konon, jarang seorang capres yang berjanji akan mengembalikan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan sebagainya.

Tokoh-tokoh itu lebih sering sebagai latar belakang spanduk daripada latar belakang kampanye. Malah ada beberapa tokoh yang kemudian justru dikerdilkan. Sebut, misalnya, Tan Malaka. Ia adalah sosok yang tak diragukan kiprahnya. Namun, kini, beliau justru dicecar, bahkan hingga liang kubur. Tak ada kampanye terbuka untuk merestorasi pemikirannya.

Padahal, siapa pun tahu, tak ada yang bisa meragukan ketulusan perjuangannya. Dalam pidatonya pada rapat pertama Persatuan Perjuangan, misalnya, ia berteriak lantang: orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya. Tan Malaka tak ada duanya. Dia sangat antikompromi dengan para maling. Nyawanya boleh ditebas, tetapi semangatnya bagaikan nyala-nyala lidah api yang tak pernah padam. Dia berjuang. Dan, itu segalanya dia lakukan murni untuk berjuang: tanpa imbalan dan kompromi, terutama kepada maling, entah itu di rumah orang lain, terutama lagi di rumahnya sendiri.

Maka, tak berlebihan jika Asep Salahuddin mengatakan bahwa kalau ada manusia pergerakan yang menghabiskan seluruh usia untuk Indonesia yang diimpikannya, dia adalah Tan Malaka. Bahkan Mohammad Yamin menyebutnya sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Tetapi, sayang sungguh saying, Tan Malaka acap diperlakukan sebagai pembangkang. Padahal, kita tahu, seseorang jahat sekalipun, setelah kematiannya, selalu dikenang sebagai sosok baik.

Lalu, apakah Tan Malaka adalah sosok yang teramat jahat sehingga setelah kematiannya, ia tetap dibenci, seakan dosanya tak terampuni oleh manusia, apalagi oleh Tuhan? Di mana letak kejahatan yang tak terampuni itu? Pernahkah Tan Malaka pergi meninggalkan negara ini ketika sedang kritis lalu minta diongkosi dan tenang-tenang di negara pelarian? Pernahkah Tan Malaka minta dijemput dari luar negeri, apalagi dari kas negara? Masih benyatk pertanyaan yang bisa disuguhkan untuk mengoreksi seberapa jatat sebenarnya seorang Tan Malaka.

Tetapi, sudahlah, Tan Malaka adalah Tan Malaka. Tak ada nama lain yang bisa mendefinisikan secara paripurna siapa Tan Malaka, meski nama itu mengandung sebuah kegetiran. Betapa tidak, sepanjang hidupnya, ia diburu, sepanjang kematiannya juga diburu hingga ke liang kubur. Sungguh tragis. Paling tidak, kontradiksi antara Tan Malak dan Habib Rizieq ini sudah menjadi alasan yang sah mengapa saya sebut negara ini negara aneh. Mari berterus terang: saya menuliskan ini bukan karena sedang ada perselisihan personal saya dengan Prabowo Subianto, apalagi dengan Habib Rizieq.

Lebih-lebih, saya tak sedang mengklaim diri sebagai orang yang lebih berjasa dari Rizieq Shihab. Siapa saya dibandingkan Rizieq? Saya sadar diri. Sadar sesadar-sadarnya. Yang saya sesalkan sehingga saya sebut negara ini aneh cukup sederhana: apakah puncak cita-cita kita adalah sebatas memulangkan Habib Rizieq? Atau, supaya lebih ramah, apakah puncak negara ini menurut salah satu pihak adalah sebatas memulangkan Habib Rizieq?

Saya sebut puncak karena jika dilihat dari seluruh janji kampanye Prabowo-Sandi, agaknya pemulangan Habib Rizieq menjadi terma yang paling utama.

Mereka memang berbicara soal kestabilan harga, soal keadilan dan kemakmuran, serta soal-soal lainnya. Namun, kini semakin jelas bahwa itu semua hanya bumbu penyedap saja. Tak percaya? Lihat, kini yang lebih gencar dibahas di balik ide rekonsiliasi bukankah balik-balik ke pemulangan Habib Rizieq. Bahkan, syarat utama rekonsiliasi itu, konon, juga soal itu: Rizieq harus dipulangkan?

Entahlah, saya tak habis pikir mengapa harus terma itu yang paling utama. Apakah selama ini kita mengusir Rizieq sehingga harus menjemputnya pula?

Kalau tidak, mengapa pula kita harus membayar biaya denda overstay-nya di sana? Saya benar-benar tak habis pikir. Di tengah banyaknya TKI yang malang dan tak bisa pulang, kita harus memulangkan seorang Rizieq. Entahlah! Barangkali hanya saya yang memandang ini sebagai penghinaan luar biasa kepada para TKI yang kita sebut sebagai pahlawan devisa itu. Soalnya sederhana! TKI pergi karena kekurangan dana dan penghidupan dari negerinya. Maka, ia pun pergi. Di luar negeri, mereka, para TKI itu hanya bermodal nekat.

Mereka menyerahkan nasibnya: kadang disiksa, diperkosa, bahkan dibunuh. Itu semua narasi yang hampir pasti mereka terima. Tetapi, segala risiko itu mereka abaikan. Mereka hanya peduli satu hal: dari luar negeri, bisa mengirimkan uang ke anak dan keluarganya. Nah, Habib Rizieq?

Apa ia berangkat sebagai TKI yang dikepung kemiskinan? Apa ia pahlawan devisa? Siapa pun tahu, Habib Rizieq bukan orang miskin untuk tidak menyebut orang kaya. Namun, baiklah, kita berpikiran baik saja. Tinggal di luar negeri itu sangat mahal. Harta bisa lenyap seketika, apalagi kalau hidup berfoya-foya.

Hanya saja, mengingat karisma Habib Rizieq di mata pengagumnya, semestinya biaya pemulangan Habib Rizieq bukan hal sulit. Konon, ada 7 juta penggemar fanatik Habib Rizieq: dari orang melata hingga orang mewah. Memberdayakan mereka ini pun bukan hal sulit. Turun ke jalan saja mereka sangat ikhlas. Ada yang memberi sumbangan, membawa makanan, membayar ongkos sendiri, hingga cuti dari pekerjaan. Semua karena kharisma Sang Habib Rizieq. Belum lagi konon masih ada penggemar di luar angka 7 juta.

Sekali lagi, memberdayakan mereka ini bukan perkara sulit. Selekas demostrasi berjilid pada Pilkada Jakarta saja, mereka bisa melahirkan bisnis ritel 212 Mart. Konon, kini, sedang digagas pula Bank Syariah Adil Makmur. Beberapa orang sudah mengiming-imingi akan menarik uangnya dan menyimpannya ke rancangan Bank Syariah Adil dan Makmur.

Saya mengetengahkan beberapa fakta ini sebagai penguatan bahwa Rizieq itu bukan orang biasa. Kata-katanya selalu bertuah. Kata-katanya bahkan sudah ibarat sabda yang melebihi segalanya.

Aritnya, andai dia mau memohon pendukungnya untuk bersedekah, seratus rupiah saja per orang, biaya denda overstay akan cepat lunas. Ia bahkan masih punya banyak sisa setelah kembali ke Indonesia. Hanya, memang, barangkali Rizieq tak mau membebani pendukungnya yang walau kita heran, mengapa ia harus membebani negara? Mengapa ia harus menjadi kunci utama sebagai rekonsiliasi? Tetapi, mari berpikir baik saja. Sang Habib mungkin tak mau membebani pendukungnya.

Karena itu, saya menggugah teman-teman, sudahlah, mari bantu kepulangan Habib Rizieq dengan memberi sedekah. Apalagi kini Jokowi sudah bertemu dengan Prabowo di MRT Lebak Bulus, ngobrol-ngobrol, dan makan siang di mal Jalan Sudirman. Masyarakat sekitar dan kita semua sepertinya hepi.

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…