in

Ada Apa dengan Kristen dalam Al-Qur’an?


quran-bibleMungkin ada yang bilang, saya ikutan latah membuat judul kolom mirip film yang sedang digandrungi anak muda sekarang, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2)? Bisa jadi itu benar adanya. Tapi, sejujurnya, saya sudah lama memikirkan pertanyaan ini, kenapa Al-Qur’an tampak memberikan perhatian khusus pada kaum Kristiani, misalnya, dibandingkan Yahudi yang sama-sama digolongkan ahlul kitab?

Namun, sebelum mengajukan jawaban atas pertanyaan itu, perlu didiskusikan terlebih dahulu apa benar Al-Qur’an memberikan preferensi kepada mereka melebihi umat agama lain. Saya menyadari, tidak mudah bagi umat Muslim mengakui adanya favoritisme Kristen tersebut karena sejarah panjang hubungan kedua agama yang kita warisi penuh dengan konflik dan ketegangan.

Tak dapat dimungkiri, sentimen anti-Yahudi dalam Al-Qur’an jauh lebih keras dan pervasif dibanding terkait Kristen. Walaupun secara teologis, misalnya soal konsep monoteisme, Islam lebih dekat dengan Yahudi, statemen polemik Al-Qur’an lebih banyak diarahkan kepada orang-orang Yahudi.

Sebaliknya, literatur pasca Al-Qur’an, dari tafsir hingga karya-karya bidang teologi spekulatif (kalam), lebih cenderung anti-Kristen. Hal ini mudah dimengerti karena literatur-literatur tersebut diproduksi dalam iklim hubungan Islam-Kristen dengan tensi cukup tinggi. Berbeda dengan Kristen, Yahudi tidak pernah menjadi “ancaman” bagi masyarakat Muslim.

Pada abad ke-9 hingga 12, ketika karya-karya itu diproduksi, jumlah penduduk Kristen cukup signifikan, bahkan di sebagian wilayah Muslim masih mayoritas. Sementara itu, komunitas Yahudi tidak begitu banyak. Ini menjelaskan kenapa polemik anti-Kristen memenuhi lembaran literatur Muslim, pahadal Al-Qur’an memperlihatkan favoritisme terhadap mereka.

Beberapa Contoh Favoritisme Kristen
Benar, kita temukan banyak kritik terhadap doktrin Kristen dalam Al-Qur’an. Saya sudah diskusikan tema ini dalam Scriptural Polemics: the Qur’an and Other Religions (2014). Namun demikian, pada yang saat sama, Al-Qur’an juga memperlihatkan keintiman hubungan dengan umat Kristiani, bahkan favoritisme.

Baca Juga :   Pancasila Yes, Syariat Islam No!

Dalam surat al-Ma’idah yang memuat banyak ayat polemik, Al-Qur’an justru mengkontraskan Yahudi dan Kristen sebagai berikut: “Sesungguhnya kalian akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap kaum beriman ialah orang-orang Yahudi dan musyrik. Dan kalian juga dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan kaum beriman ialah mereka yang berkata, ‘Kami ini orang-orang Nasara’.” (QS. 5:82).

Kata “nasara” ini memang enigmatik karena orang Kristen Arab tidak menyebut diri mereka dengan sebutan itu melainkan “masihiyyun” (pengikut al-Masih). Dan kata “persahabatan” mungkin tidak mewakili teks Arab “mawaddah”, yang berkonotasi persahabatan yang dilandasi rasa cinta-kasih. Al-Qur’an menjelaskan sumber belas kasih di kalangan kaum Kristiani. Yaitu, “karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri.”


Saya bisa memberikan kesaksian soal mereka yang tidak arogan itu. Tahun pertama di Notre Dame, saya langsung diminta menyampaikan “public lecture” soal kritik-kritik Al-Qur’an terhadap Kristen, tema yang saya geluti ketika belajar di Chicago.

Respons para Romo yang hadir sungguh luar biasa. Baik melalui pertanyaan atau perbincangan setelah acara, mereka mengekspresikan betapa mereka perlu lebih berendah hati memahami spirit kritik-kritik Al-Qur’an yang saya sampaikan.

Bahkan, ketika menuduh kitab suci sebelumnya telah mengalami distorsi (tahrif), Al-Qur’an membedakan antara Yahudi dan Kristen. Coba teliti surat al-Ma’idah ayat 13 dan 14. Orang-orang Yahudi dituduh telah mendistorsi kitab suci mereka, “Mereka mengubah firman-Nya dari tempat-tempatnya.” Akibatnya, “Kami melaknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. 5:13).

Baca Juga :   “Dewan Pemburu Saham”

Bandingkan pernyataan keras itu dengan tuduhan Al-Qur’an terhadap umat Kristiani, yang (hanya) dituduh “melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan” (QS. 5:14). Tak ada kata laknat bagi Kristen, kecuali bahwa mereka berselisih dan saling bermusuhan di kalangan mereka sendiri.

Contoh terakhir, supaya tidak berkepanjangan, ialah sikap Al-Qur’an yang memihak Kristen dalam perang Romawi-Persia. Ini dicatat dalam surat ke-30, surat al-Rum. Setelah kalah, kerajaan Romawi diprediksi Al-Qur’an akan menang kembali. Yang menarik, pada hari kemenangan Romawi itu, “kaum beriman akan bersuka-ria” (QS. 30:4).

Kita bisa bertanya, kenapa kaum Muslim bergembira dengan kemenangan Romawi yang Kristen? Apa hubungan kemenangan mereka dengan Islam? Apa pun jawabannya, yang pasti ada keberpihakan Al-Qur’an terhadap Kristen.

Ada Apa dengan Kristen?
Mungkin saya perlu menonton AADC 2 untuk mendapatkan ilham menjawab pertanyaan itu. Mungkin memang tak ada jawaban definitif.

Tapi, kalau pertanyaan tersebut diajukan kepada dua sarjana Jerman Günter Lüling dan Christoph Luxenberg, jawabannya sudah bisa ditebak. Keduanya akan mengatakan, ya jelas pro-Kristen karena Al-Qur’an memang berasal dari teks Kristen. Lüling berargumen, teks awal Al-Qur’an, yang dia sebut “ur-Kuran”, merupakan hymne Kristen di Arabia yang di-Islam-kan pada masa Muhammad dan setelahnya.

Luxenberg melacak asal-usul Al-Qur’an bukan pada teks Kristen di Arabia, melainkan sumber-sumber Kristen di Suriah (Syriac sources). Sarjana yang bergabung dalam kelompok Inarah Institute di Jerman itu mendiskusikan sejumlah kata atau frase dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan watak bi-lingual Al-Qur’an. Maksudnya, bahasa dasar Al-Qur’an ialah Suriah, yang karena tidak menggunakan diakritik sehingga bisa dibaca sebagai aksara Arab seperti yang kita saksikan sekarang.

Baca Juga :   Para Anti Hero

Sebagaimana Lüling, pandangan Luxenberg ini mengundang kontroversi. Bedanya, yang pertama terbatas di lingkungan akademis, yang kedua menyulut pro-kontra di media massa. Salah satunya ialah ketika Luxenberg menyebut hur al-‘ain (bidadari) yang dijanjikan di surga, sebenarnya dalam bahasa Suriah berarti “anggur putih”. Jadi, para mujahidin yang rela meledakkan dirinya untuk mendapatkan bidadari, ternyata hanya akan disuguhi anggur putih!

Argumen Lüling dan Luxenberg sudah dipersoalkan banyak sarjana. Terlepas dari beberapa kesimpulan mereka yang cukup masuk akal, saya kira, memang diperlukan teori konspirasi untuk mengadopsi argumen mereka secara mentah-mentah.

Yang diperlukan ialah penelitian yang lebih mendalam tentang iklim kelahiran Al-Qur’an dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya Mekkah dan Madinah. Atau, kedua kota kelahiran Islam itu perlu dipahami tidak begitu terisolasi dari dunia Kristen sebagaimana umum diasumsikan. Dengan demikian, kita lebih mengenal interaksi Al-Qur’an dengan wacana ke-Kristen-an yang lebih luas sehingga diperoleh gambaran lebih utuh untuk menjelaskan favoritisme Kristen dalam kitab suci kaum Muslim itu.

Jika tulisan ini belum menyuguhkan jawaban memuaskan tentang “Ada Apa dengan Kristen? (AADK)”, mungkin diperlukan kolom sekuel AADK 2. Mohon sabar menunggu!

Kolom Terkait

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Catatan dari Notre Dame: Belajar Menghargai Perbedaan Keyakinan


Written by Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR