Selasa, Desember 1, 2020

Ada Apa dengan Dian Sastro (Kok “Keminggris”)?

Olimpiade, Media, dan Komersialisasi Olahraga

Media massa dan olahraga adalah dua institusi sosial yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Event olahraga paling bergengsi seperti Olimpiade 2016 yang saat ini tengah...

Mengapa LGBT Begitu Dibenci?

Sidang Mahkamah Konstitusi terkait pasal zina dan homoseks dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang diajukan guru besar Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Euis...

Pilkada 2015 dan Jaminan Hak Pilih Warga

Hari pemungutan suara pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2015 semakin dekat. Jika dihitung mundur, tidak lebih dari 2 hari lagi masyarakat di 269 daerah akan...

Dokter bukan Robot

Kemajuan sains dan teknologi, tak bisa dibantah, telah banyak membantu proses diagnosis dan penyembuhan penyakit. Banyak peralatan kedokteran modern berjasa mendongkrak peningkatan kualitas layanan...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

aadc-full
Pemeran Cinta, Dian Sastrowardyo, didampingi pemeran Rangga, Nicholas Saputra, sutradara film AADC 2 Riri Riza (kiri), dan produser Mira Lesmana (kedua kiri) di Jakarta, Senin (25/4). ANTARA FOTO/Teresia May

Nonton Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) membuat saya asyik pada kepribadian Cinta. Saking asyiknya, saya sampai tak bisa bedakan antara Cinta dan Dian Sastrowardoyo (Dian Sastro) yang memerankannya. Hingga, sepulang nonton AADC 2, saya aktif menonton video-video Dian Sastro di YouTube.

Namun, ada yang mengganggu saya ketika melihat video-video wawancara Dian Sastro, yakni penggunaan bahasanya yang dicampur-campur dengan bahasa Inggris. Sastrawan Remy Silado menyebutnya dengan fenomena “keminggris”.

Ia telah lama menjangkit masyarakat kita, khususnya anak muda. Bahkan, jika Anda perhatikan, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga terjangkit. “Sensitivitas sektor pertanian terhadap program pengentasan kemiskinan seperti halnya target MDGs dan Post-MDGs 2015 untuk melakukan eradicated extreme poverty and hunger, sangatlah besar,” kata SBY dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-50 IPB pada 20 Desember 2013.

Selebihnya, Anda perhatikan sendiri, banyak momen keduanya yang terekam kamera dengan gaya bahasa seperti itu. YouTube aja! Atau, saksikan saja acara-acara talk show atau lainnya di televisi, ia disesaki keminggris.

Parahnya, mereka keminggris bukan sekadar pada istilah-istilah yang mungkin memang lebih tepat dan populer dengan bahasa Inggris. Ada apa ini? Padahal, mereka adalah orang Indonesia, berbicara di Indonesia, dan pendengarnya juga orang Indonesia.

Puncaknya, media saat ini pun kerap melakukan praktik itu. Misalnya, kita dapati nama-nama rubrik media yang cenderung berbahasa Inggris: life & health, entertainment, finance, sport, dan lainnya. Padahal, di era kolonialis Belanda, pada dekade pertama tahun 1900 saja, justru muncul beberapa majalah berbahasa Jawa: Tri Koro Dharmo dan Darmo Kondo.

Apalagi, dalam ikrar Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia telah dinobatkan sebagai salah satu aspek pemersatu kita sebagai bangsa dengan segala keragaman suku, adat, dan bahasa daerah.

Kegandrungan pada bahasa Inggris semacam itu memang bukan hanya ada dalam bahasa Indonesia, tapi juga pernah melanda bahasa Arab dan bahasa Jepang yang telah memiliki peradaban sastra yang tinggi dan kuno. Namun, yang menarik dari bahasa Arab dan Jepang adalah adanya “keberanian” untuk menyerap kata-kata bahasa Inggris dengan dialek yang sesuai dengan sifat alami lidah anak negerinya masing-masing. Karenanya, kita dapatkan misalnya dalam bahasa Arab: kafitirya, buftik, aiskrim, sandawits, baib, bisklit, kik, mutusikl, sukar, bansiun, yang semua itu berasal dari bahasa Inggris: cafetaria, beef steak, ice cream, sabdwich, pipe, bicycle, cake, motor cycle, sugar, pension.

Atau dalam bahasa Jepang: manejasan, furutsu jusu, sandoitchi, aisukurimu, chizu, keki, bisuketto, hotto doggu, konsatu haru, shopingu senta, yang semua itu berasal dari bahasa Inggris: manager, fruit juice, sandwich, ice cream, cheese, cake, biscuit, hot dog, concert hall, shopping centre.

Dulu, kita punya “keberanian” seperti itu dengan melakukan pribumisasi bahasa Inggris yang telah membumi di Indonesia sejak zaman penjajahan Inggris pada tahun-tahun belasan abad ke-19. Misalnya, kata-kata dalam bahasa Indonesia: terup, dokar, cikar, peri, musti, peluit, siul, sama, hore, justru, yang semuanya berasal dari kosakata bahasa Inggris: troop, dog car, cheek car, fairy, must, flute, whistle, same, hurrah, just true.

Tapi, sekarang keberanian itu seolah sirna. Sehingga bahasa Inggris tak lagi diserap, tapi digunakan begitu saja. Berbeda, misalnya, dengan Malaysia yang sampai saat ini masih cenderung memilih menyerap bahasa Inggris dan melafalkannya sesuai lidah Melayu.

Namun, yang menjadi ironi karena tren keminggris disebabkan justru oleh ragam latar belakang rendahan: merasa tampak elite, keren, hingga pemanis saja. Karena itu, fenomena itu adalah simbol keminderan, mentalitas inferior. Dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bahkan menolak namanya ditulis dengan ejaan “eo”, melainkan “u”: “Sukarno”, bukan “Soekarno”. Sebab, ejaan “eo” adalah warisan kolonialis, dan Bung Karno ingin kolonialisme tercerabut dari akar-akarnya di Bumi Pertiwi. Inilah paradigma kemandirian, kepercayaan diri, keberanian.

Achmad Husein, Bupati Banyumas, Jawa Tengah, pernah menyindir masyarakat kita yang merasa rendah diri saat menggunakan dialek kita sendiri, baik daerah seperti dialek Banyumas maupun nasional, yakni dialek Indonesia.

Oleh karena itu, melalui Keputusan Bupati Banyumas Nomor 1867/2013 tentang Pembinaan Bahasa Jawa di Kabupaten Banyumas, ia waktu itu mewajibkan bagi pegawai negerinya untuk menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumas setiap hari Kamis. Setidaknya itu bisa menjadi titik awal untuk membangun apa yang dimaksud dengan “keberanian” itu, berupa kepercayaan diri dan kebanggaan pada bahasa Indonesia dengan segala ciri khasnya. Mbak Dian setuju?

Kolom Terkait:

Lima Hal yang Gak Dapet di AADC 2

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.