Minggu, Oktober 25, 2020

Ada Apa dengan Dian Sastro (Kok “Keminggris”)?

Kartini Masa Kini dan Perempuan Koperasi

Dalam bukunya yang populer berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini telah menuangkan ide dan gagasan guna membangkitkan semangat bagi kalangan perempuan. Semangat yang terus didoktrinasi...

18 Tahun Tragedi Mei

Maria Catarina Sumarsih dan foto putranya, Bernadinus Realino Norma Irmawan. Dok. pizna.com Keluarga korban Tragedi Mei 1998 gigih menuntut keadilan. Juga Aksi Kamisan ke-442 di...

Benarkah Islam dan Ulama Terzalimi?

Sudah sejak 2014 sampai sekarang ada sebagian Muslim yang meyakini bahwa pemerintah yang sekarang tidak bersahabat dengan Islam. Bahkan dikatakan memusuhi Islam. Puncaknya terjadi...

Mengkudeta Presiden Jokowi?

Salah satu dampak kudeta yang gagal di Turki, banyak kalangan—terutama para "pembenci" Presiden Joko Widodo (Jokowi haters)—yang menjadikannya momentum untuk melakukan testing the water...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

aadc-full
Pemeran Cinta, Dian Sastrowardyo, didampingi pemeran Rangga, Nicholas Saputra, sutradara film AADC 2 Riri Riza (kiri), dan produser Mira Lesmana (kedua kiri) di Jakarta, Senin (25/4). ANTARA FOTO/Teresia May

Nonton Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) membuat saya asyik pada kepribadian Cinta. Saking asyiknya, saya sampai tak bisa bedakan antara Cinta dan Dian Sastrowardoyo (Dian Sastro) yang memerankannya. Hingga, sepulang nonton AADC 2, saya aktif menonton video-video Dian Sastro di YouTube.

Namun, ada yang mengganggu saya ketika melihat video-video wawancara Dian Sastro, yakni penggunaan bahasanya yang dicampur-campur dengan bahasa Inggris. Sastrawan Remy Silado menyebutnya dengan fenomena “keminggris”.

Ia telah lama menjangkit masyarakat kita, khususnya anak muda. Bahkan, jika Anda perhatikan, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga terjangkit. “Sensitivitas sektor pertanian terhadap program pengentasan kemiskinan seperti halnya target MDGs dan Post-MDGs 2015 untuk melakukan eradicated extreme poverty and hunger, sangatlah besar,” kata SBY dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-50 IPB pada 20 Desember 2013.

Selebihnya, Anda perhatikan sendiri, banyak momen keduanya yang terekam kamera dengan gaya bahasa seperti itu. YouTube aja! Atau, saksikan saja acara-acara talk show atau lainnya di televisi, ia disesaki keminggris.

Parahnya, mereka keminggris bukan sekadar pada istilah-istilah yang mungkin memang lebih tepat dan populer dengan bahasa Inggris. Ada apa ini? Padahal, mereka adalah orang Indonesia, berbicara di Indonesia, dan pendengarnya juga orang Indonesia.

Puncaknya, media saat ini pun kerap melakukan praktik itu. Misalnya, kita dapati nama-nama rubrik media yang cenderung berbahasa Inggris: life & health, entertainment, finance, sport, dan lainnya. Padahal, di era kolonialis Belanda, pada dekade pertama tahun 1900 saja, justru muncul beberapa majalah berbahasa Jawa: Tri Koro Dharmo dan Darmo Kondo.

Apalagi, dalam ikrar Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia telah dinobatkan sebagai salah satu aspek pemersatu kita sebagai bangsa dengan segala keragaman suku, adat, dan bahasa daerah.

Kegandrungan pada bahasa Inggris semacam itu memang bukan hanya ada dalam bahasa Indonesia, tapi juga pernah melanda bahasa Arab dan bahasa Jepang yang telah memiliki peradaban sastra yang tinggi dan kuno. Namun, yang menarik dari bahasa Arab dan Jepang adalah adanya “keberanian” untuk menyerap kata-kata bahasa Inggris dengan dialek yang sesuai dengan sifat alami lidah anak negerinya masing-masing. Karenanya, kita dapatkan misalnya dalam bahasa Arab: kafitirya, buftik, aiskrim, sandawits, baib, bisklit, kik, mutusikl, sukar, bansiun, yang semua itu berasal dari bahasa Inggris: cafetaria, beef steak, ice cream, sabdwich, pipe, bicycle, cake, motor cycle, sugar, pension.

Atau dalam bahasa Jepang: manejasan, furutsu jusu, sandoitchi, aisukurimu, chizu, keki, bisuketto, hotto doggu, konsatu haru, shopingu senta, yang semua itu berasal dari bahasa Inggris: manager, fruit juice, sandwich, ice cream, cheese, cake, biscuit, hot dog, concert hall, shopping centre.

Dulu, kita punya “keberanian” seperti itu dengan melakukan pribumisasi bahasa Inggris yang telah membumi di Indonesia sejak zaman penjajahan Inggris pada tahun-tahun belasan abad ke-19. Misalnya, kata-kata dalam bahasa Indonesia: terup, dokar, cikar, peri, musti, peluit, siul, sama, hore, justru, yang semuanya berasal dari kosakata bahasa Inggris: troop, dog car, cheek car, fairy, must, flute, whistle, same, hurrah, just true.

Tapi, sekarang keberanian itu seolah sirna. Sehingga bahasa Inggris tak lagi diserap, tapi digunakan begitu saja. Berbeda, misalnya, dengan Malaysia yang sampai saat ini masih cenderung memilih menyerap bahasa Inggris dan melafalkannya sesuai lidah Melayu.

Namun, yang menjadi ironi karena tren keminggris disebabkan justru oleh ragam latar belakang rendahan: merasa tampak elite, keren, hingga pemanis saja. Karena itu, fenomena itu adalah simbol keminderan, mentalitas inferior. Dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bahkan menolak namanya ditulis dengan ejaan “eo”, melainkan “u”: “Sukarno”, bukan “Soekarno”. Sebab, ejaan “eo” adalah warisan kolonialis, dan Bung Karno ingin kolonialisme tercerabut dari akar-akarnya di Bumi Pertiwi. Inilah paradigma kemandirian, kepercayaan diri, keberanian.

Achmad Husein, Bupati Banyumas, Jawa Tengah, pernah menyindir masyarakat kita yang merasa rendah diri saat menggunakan dialek kita sendiri, baik daerah seperti dialek Banyumas maupun nasional, yakni dialek Indonesia.

Oleh karena itu, melalui Keputusan Bupati Banyumas Nomor 1867/2013 tentang Pembinaan Bahasa Jawa di Kabupaten Banyumas, ia waktu itu mewajibkan bagi pegawai negerinya untuk menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumas setiap hari Kamis. Setidaknya itu bisa menjadi titik awal untuk membangun apa yang dimaksud dengan “keberanian” itu, berupa kepercayaan diri dan kebanggaan pada bahasa Indonesia dengan segala ciri khasnya. Mbak Dian setuju?

Kolom Terkait:

Lima Hal yang Gak Dapet di AADC 2

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.