Kamis, Januari 28, 2021

58 Tahun Denny JA

Apakah Kita Masih Memerlukan Survei Politik?

Setelah pilkada serentak ini di beberapa grup WA yang saya ikut, banyak teman-teman membahas hasil survei dan quick count (QC). Bila sekedar membandingkan angka...

Ada Habib Rizieq di Balik Pertemuan Jokowi-Prabowo

Pagi ini rakyat Indonesia dikejutkan dengan pertemuan Jokowi dan Prabowo di atas MRT. Pertemuan ini menandakan upaya rekonsiliasi yang terjadi setelah pemilu. Banyak pihak...

Solidaritas Menghadapi Wabah Virus Corona

Di tengah mendunianya virus corona, pemerintah akhirnya mengumumkan 2 orang positif di Tanah Air. Sebelumnya sejumlah warga negara Indonesia yang berada di luar negeri...

Menuding Para Penyendiri dalam Teror Nice

Saya tersinggung mendengar laporan khusus surat kabar Inggris, Guardian, ihwal serangan Nice, Prancis. Benar-benar tersinggung. ISIS sudah mengklaim mereka bertanggung jawab atas truk yang merangsek...
Elza Peldi Taher
Elza Peldi Taher
Penulis buku Puisi esai Manusia Gerobak dan Pengelola Futsalcamp, Ciputat.

Sahabat baik saya Denny JA, sejak 38 tahun lalu, berusia 58 tahun. Satu usia yang boleh dibilang tak lagi muda. Tentu saja saya kaget kalau Denny hari ini (4 Januari 2020) berusia 58 tahun. Betul kata orang, waktu berjalan bagaikan kilat.

Bermula dari Proklamasi

Saya tak ingat persis kapan pertama kali ketemu Denny JA. Tapi tahunnya saya ingat betul, tahun 1983. Waktu itu kami masih mahasiswa. Denny mahasiwa Kuliah di Fakultas hukum UI dan saya di FISIP UI. Kami bertemu pertama kali di Proklamasi 51, rumah pak Djohan Effendi, seorang pembaharu Islam yang cukup terkenal. Pak Djohan menyediakan rumahnya tempat diskusi anak-anak muda. Karena alamat rumahnya di jalan Proklamasi, maka kemudian dikenal sebagai Kelompok Studi Proklamasi.

Waktu itu, sedang hangat-hangatnya buku Pergolakan Pemikiran Islam yang disunting oleh Djohan Effendi dan Ismed Natsir. Buku itu berisi catatan harian Ahmad Wahib, seorang sahabat Djohan Effendi yang meninggal dalam kecelakaan tahun 1974, dalam usia sangat muda. Bertahun-tahun setelah meninggal Djohan Effendi dan Ismed Nadsir menyunting catatan harian itu jadi buku.

Buku itu kemudian menjadi sasaran sebagian kelompok Islam yang berangapan buku itu berbahaya bagi umat Islam. Muncul berbagai aksi dan demonstrasi. Pak Djohan kemudian mengambil mengundang anak anak mudah dan mendiskusikan buku kontrovesi itu di rumahnya. Diskusi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kelompok Studi Proklamasi. Tujuan utama kami adalah memperdalam agama Islam yang terbuka dan modern.

Sejak itu hampir tiap hari minggu selama bertahun-tahun kami berkumpul di rumah Pak Djohan yang mewakafkan waktu dan tenaganya menemani kami. Selain kami berdua juga berkumpul Budhy Munawar Rachman, Jon Minofri, Jojo Rahardjo, Ali Samudra Allah, Halimah, Muhammad Asrun dan kemudian menyusul Munawir, Rina Nazrina. Pada mulanya yang datang amat banyak tapi kemudian mengkristal menjadi nama nama di atas saja.
Makin lama Kelompok Studi Proklamasi makin mengkristal dan berubah gerakannya. Diskusinya tak hanya soal Islam tapi soal pembangunan dan Kebangsaan. Dari hanya sekedar diskusi internal di antara kami, kelompok ini kemudian aktif mengadakan diskusi di berbagai kampus. Hasi diskusi sering diliput media masa. Denny kemudian dipilih menjadi ketua pertama dari Kelompok Studi Proklamasi. Ia kemudian terpilih kembali menjadi ketua dua tahun berikutnya.

Sayangnya, kelompok ini kemudin bubar karena perbedaan pendapat di antara kami. Saat pemilihan ketiga saya saya dan Budhy ingin Denny lengser tapi Denny dan kawan yang lain ingin bertahan. Kami kemudian memilih bubar dan membangun kelompok masing masing. Setelah Proklamasi bubar, saya bersama Halimah, Rina dan Budhy Munawar mendirikan lembaga baru bernama Lembaga Kajian masyarakat Indonesia sedang Denny bersama Jon Minofri dan Jojo mendirikan lembaga yang lain.

Kembali ke pertemuan awal dengan Denny. Kali pertama bertemu saya sudah punya rasa kagum pada Denny. Ia bicara runtut, kalimat teratur, mudah dicerna, suara kencang tapi yang paling penting; bacaannya luas. Ia mengutip berbagai buku dengan canggih untuk mempertahankan argumentasinya. Padahal waktu sebagian kami masih mahasiswa tingkat dua atau tiga.

Sejak pertamuan pertama itu kami kemudian akrab. Tiap minggu bertemu seharian di rumah pak Djohan, dan setelah pertemuan biasanya kami pergi ke tempat lain menghabiskan waktu.

Diramal jadi orang penting usia 40

Salah satu keisengan kami seusai diskusi minggu di rumah Pak Djohan adalah mendatangi tempat tukang ramal atau yang kini dikenal sebagai paranormal. Kami sering pergi ke beberapa tempat untuk menanyakan nasib dan masa depan kami. Sebagian kami kesana cuma iseng saja, tak serius. Kami juga tak percaya ada apa yang dikatakan peramal. Salah satu Paranormal yang rutin kami kunjungi waktu itu adaah Mama Lauren.

Yang menarik salah seorang peramal, seingat saya Mama Laurel, meramal, bahwa salah satu dari kami, yaitu Denny akan menjadi orang penting ketika usianya memasuki kepala empat. Mendengar ramalannya itu kami cuma mesem-mesem, tapi Denny agaknya amat senang. Berulang kali ia menyebut ramalan itu dengan senang di kemudian hari. Ramalan itu agaknya menjadi semangat Denny untuk mencapai cita-citanya.

Puluhan tahun kemudian apa yang dikatakan seorang peramal itu bahwa Denny akan menjadi orang penting ternyata benar. Tahun 2004, Denny membuat ikhtiar baru mendirikan lembaga Survei bersama kawan-kawannya yaitu Lembaga Survei Indonesia. Lembaga survey pertama di Indonesia. Lembaga ini kemudian menjulang namanya. Dari seorang penulis dan presenter menjadi seorang konsultan politik. Karena konflik internal Denny kemudian mendirikan Lingkaran Survei Indonesia, yang kemudian merajai survey survey dan konsultan politik di tanah air hingga kini.

Berkat Lingkaran Survei Indonesia yang kini dikenal dengan LSI Denny JA, Denny berubah menjadi jutawan dalam waktu tak lama. Ia mendapat banyak kontrak dari cliennya baik untuk menjadi bupati, gubernur maupun presiden. Cliennya makin antri ketika terbukti ia sukses menjadikan mereka sebagai kepala daerah. Denny kemudian menjadi ikon lembaga survey dan Konsultan politik. Ia ikut terlibat dalam empat kali pemenangan presiden sejak 2004. Sebuah rekor yang luar biasa.

Dengan uang yang dimiliknya Denny kemudian mendirikan berbagai usaha bisnis tambang, batu bara, resto bunga rampai, Cafe Pisa, beberapa apartemen dan salah satunya adalah futsalcamp, Ciputat dimana saya diberikan amanah oleh Denny untuk mengelolanya sampai kini. Kini Denny membangun beberapa hotel yang murah di berbagai kota.

Financial Freedom

Dalam berbagai percakapan Denny sering mengatakan bahwa cita-cita menjadi kaya adalah cita-cita yang terpendam sejak lama. Denny beranggapan untuk berguna dan berbuat kebaikan tak ada pilihan lain kita harus menjadi kaya. Jika kaya berbuat baik dampaknya akan teras dibanding tidak kaya.

Hal ini agak mengherankan karena Denny beguru pada seorang tokoh yang amat dikenal sederhana Djohan Effendi. Ia juga mengagumi tokoh Gus Dur, Gandhi, Rumi, Cak Nur, tokoh sejarah yang menerapkan asketisme intelektual dan hidup sederhana dengan materi apa adanya. Denny sendiri meski menggagumi tokoh tokoh tersebut mengatakan ia tak punya keberanian dan kenekatan seperti Djohan, Mahatma Gandhi atau Rumi. Melalui perenungan bertahun-tahun, demikian pengakuannya, akhirnya ia memilih memutuskan untuk menempuh jalan yang sebaliknya; menjadi kaya.

Melalui berbagai bacaaan yang memberinya inspirasi Denny justru mulai terpesona dengan konsep Financial Freedom, bebas secara finansial. Hidup akan jauh lebih bebas jika pertama tama kita sudah bebas secara finansial, serba cukup bahkan berlebih secara materi. Kita tak perlu lagi bekerja mencari nafkah, karena kita sudah memiliki mesin uang untuk membiayai kehidupan kita sehari- hari. Waktu yang ada dapat dialokasikan mengerjakan hal yang sangat kita sukai dan berguna bagi orang banyak.

Dalam berbagai kesempatan Denny mengatakan ingin menjadi seperti “sufi modern,” yaitu tokoh yang mendapatkan pencerahan spiritual tapi juga kaya raya, sehingga ia juga dapat memberikan charity untuk menolong orang lain. Dalam pandangan Denny, intelektual dan pencari kebenaran tak lagi harus hidup sederhana. Bahkan jika bisa, intelektual justru harus kaya raya sejauh kekayaannya dibangun dengan cara yang benar. Jika intelektual kaya raya, ia dapat membuat perpustakaan, membangun universitas, memberikan beasiswa kepada banyak orang, memberangkatkan rombongan untuk naik haji, membangun rumah ibadah, menyumbangkan dana untuk riset, dan membuat keluarganya berkecukupan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Filantropis

Setelah menjadi kaya, sukses dengan LSI Denny J, Denny konsisten meneruskan cita cita hidupnya, berderma untuk orang lain. Sikapnya pada kawan-kawan tak berubah. Ia tetap hangat dan jauh dari sombong. Dengan kekayaannya ia kemudian menjelma menjadi seorang filantropis. Ia amat dermawan, terutama jika itu menyangkut kawan-kawan lama. Amat banyak kawan yang dibantunya. Ia juga mudah memberikan dana sejauh itu untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Ia akan mudah mengalirkan dana untuk membantu seorang penulis mencetak bukunya, jika ia beranggapan buku itu bagus. Saya menjadi saksi bertapa mudahnya dan betapa banyak Denny mewakafkan sebagian kekayaannya untuk membantu kawan atau mendukung kegiatan keilmuan.

Satu hal yang tidak saya lupakan ialah percakapan sekitar februari 2019 usai kami lari pagi di Ancol. Waktu itu selama beberapa bulan saya, Agus Edi santoso, Isti Nugroho, Jonminofri, Iwan, Jojo Rahardjo, mengadakan kegiatan rutin: jalan pagi dan senam pagi di Ancol. Senam itu diinsiasi oleh Denny demi sahabat kami Agus Edi Satoso yang sedang mengalami sakit jantung. Oleh Dokter Agus disarankan jalan pagi di pinggir laut.

Pagi itu Agus tak kelihatan. Baru pertama kali ia absen. Denny bertanya mengapa Agus tak datang dan bagaimana perkembangan operasi jantungnya. Saya kemudian menyampaikan kepada Denny bahwa Agus sudah periksa kesehatannya dan ia karena pakai BPJS baru akan operasi jantung sekitar 8 bulan lalu. Itu sudah keputusan rumah sakit berdasarkan saran dokternya. Sementara kondisi Agus makin memburuk. Wajahnya pucat dan dada sering sesak. Denny agak kaget. Dia bertanya jika operasi tanpa BPJS berapa biayanya? Saya sebut jumlah yang cukup lumayan. Dengan entengnya Denny berkata “ Elza, katakan pada Agus secepatnya, jika perlu besok ia operasi. Tak usah menunggu BPJS. Semua dana operasi dari dari saya, sesuai yang Elza sebutkan tadi.” Saya dan kawan kawan tercengang karena ia mengucapkan itu begitu mudahnya padahal dananya amat besar. Saya kemudian menyampaikan pesan Denny tu pada Agus yang menyambutnya dengan gembira.

Paginya jam 05.00 Agus sudah memberi tahu saya ia dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk memberi tahu dokter bahwa ia siap di operasi dengan biaya sendiri. Tapi tak lama kemudian Agus kembali menelpon tanpa semangat. Ia bicara dengan nada sedih bahwa operasi tak bisa dilakukan dalam keadaan kesehatan Agus sekarang. Jantungnya tak memenuhi syarat untuk operasi. Tak lama kemudian, meski tak terbuka Agus agaknya sudah diberitahu dokter bahwa jantungnya sudah terlambat untuk operasi. Ia diminta legowo menerima kondisi terburuk, hidup rileks saja. Januari 2020 Agus Edi Santoso berpulang.

Seorang demokrat

Sebagai teman Denny amat bersahabat dan hangat. Jika bicara ia bisa diajak becanda tapi juga bisa serius. Tapi kapan pun kita bertemu selain percakapan rileks dan ringan, ia pasti menyelipkan sesuatu yang serius yang sedang menjadi obsesinya. Jika ia sedang terobsesi pada sebuah buku atau gagasan ia akan amat bersemengat menceritakan itu pada semua orang. Cara bicaranya yang menarik, pilihan katanya yang runtut membuat dialog dengan Denny selalu cerdas dan berisi.

Banyak yang mengatakan Denny itu cuma seorang pebisnis yang mencari uang. Ia tak punya idelogi sebagai alat perjuangan. Apapun akan dikerjakannya jika itu menghasilkan uang. Saya kira itu penilaian yang keliru.

Hal itu muncul karena orang melihat kiprah Denny sebagai konsultan politik yang sering mendukung calon yang dianggap tak patut didukung oleh seorang Denny yang berlatar belakang aktivis. Sebagai konsultan politik Denny akan mendukung seorang calon, siapan dia, jika sang calon punya kans untuk menang dan mereka bersepakat. Tak mungkin mendukung calon yang baik tapi tak punya kans untuk menang. Apa lagi dalam politik, pilihannya bukanlah memilih calon yang baik di antara yang baik tapi “memilih calon yang buruk di antara yang terburuk”.

Untuk menilai seorang Denny lihatlah dari tulisan tulisannya yang telah puluhan buku. Apa lagi kini amat produktif menulis. Tiap hari ia menulis. Baca semua tulisannya. Tak banyak penulis yang seproduktif Denny. Dai tulisannya itu kita kemudian bisa menilai siapa Denny JA, apa ideologinya.

Bagi saya Denny itu seorang inteletektual sekaligus seorang demokrat. Ia mendukung tinggi demokrasi sebagai jalan bagi sebuah bangsa untuk maju dan berkembang. Semua tulisannya memperlihatkan sikapnya membela demokrasi. Ia terbuka untuk dikiritik, sekalipun kritik itu menghina dia. Dihina dengan bahasa apapun, ia tak tak terpancing untuk membalasnya. Ia juga tak terpancing untuk marah. Ia jalan sendiri dengan keyakinannya, dengan pendapatnya dan siap menempuh resiko apapun dengan orang yang berbeda.

Ia adalah orang yang dalam istilah Minang menjalan prinsip hidup “dangakan kecek uang, iyokan kecek awak”. Dengarkan kata orang, tapi lakukan apa yang ingin kita lakukan sesuai keyakinan kita. Ia bagaikan batu karang jika sudah berpendapat terhadap sesuatu, sekalipun digempur dari segala penjuru

Sebagai temannya, saya beberapa kali berhadapan dengan Denny dalam masalah seperti ini. Yang amat terasa ialah sikapnya waktu Pilkada Jakarta. Denny memilih tak mendukung Ahok, tapi sebaliknya. Sementara kawan-kawan mayoritas memilih Ahok. Masalahnya di banyak WAG group Denny tanpa kompromi terus mengempur dengan tulisan-tulisan yang isinya tak mendukung Ahok tapi malah mendiskreditkan Ahok

Salah satu yang paling tragis adalah WAG Ciputat School, sebuah WAG yang didirikan oleh sebagian besar angkatan 80-an dan menjadi rumah diskusi yang hangat. Mayoritas memilih Ahok tapi Denny terus share tulisan yang tak mendukung Ahok. Kepada Denny berkali kali saya ingatkan agar stop, tak usah kirim tulisannya WAG tersebut demi keutuhan bersama. Tapi Denny jalan terus, tak peduli. Berulang kali saya ingatkan, ia kukuh dengan sikapnya. Ia berkata “biar saja Elza, ini pembelajaran demokrasi yang sesungguhnya. Nanti juga habis pilkada kita bersatu lagi”.

Akhirnya apa yang saya katakan menjadi kenyataan. Ciputat School ditinggalkan teman yang tak sefaham. Hubungan kami dengan teman-teman itu yang berjalan baik puluhan tahun memburuk, bahkan sampai kini. Kepada Denny saya sering bergurau sampai akhir zaman hubungan kita dengan teman-teman itu tak akan membaik. Denny cuma tersenyum, tanpa ekspresi.

Tapi itulah Denny JA. Ia bagaikan batu karang dengan argumennya, didukung bacaannya yang amat luas, siap dibully dan dihina dengan kata kata kasar sekalipun, tapi tetap hangat pada semua orang, termasuk kepada pembencinya sekalipun.

Saya amat senang Denny kini kembali ke habitatnya sebagai seorang penulis yang produktif. Profesi yang telah menghantarkan namanya menjadi pesohor di negeri ini. Itulah rumah yang sesungguhnya seorang Denny JA. Rumah idamannya sejak saat masih jadi mahasiswa.

Sekali lagi, med milad ya Denny.

Pondok Cabe 4 Januari 2021

Elza Peldi Taher
Elza Peldi Taher
Penulis buku Puisi esai Manusia Gerobak dan Pengelola Futsalcamp, Ciputat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.