in

LGBT Tidak Pernah Memilih


dom-1455857401Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Bandung Raya melakukan unjuk rasa tolak LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di depan Mal Bandung Indah Plaza, Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/2). ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Adalah sebuah kesia-siaan menghabiskan waktu dengan perdebatan para homophobic—orang-orang yang menaruh prasangka, kebencian terhadap homoseksual—dengan asumsi laki-laki-adalah-laki-laki-dan-perempuan-adalah-perempuan atau “mamawawa” mereka. Kesia-siaan itu hanya pada perdebatan “persoalan legal” di mata hukum ataupun agama saja.

Rentang waktu pemberitaan mengenai isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, transeksual) tidak terlalu jauh dan selalu diganti dengan isu LGBT yang baru; mulai dari pro-kontra pengakuan hukum pernikahan sesama jenis, SGRC UI (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Universitas Indonesia) yang disebut-sebut sebagai komunitas LGBT, dan lainnya.

Isu LGBT akan terus ada dan perdebatan-perdebatan yang dangkal akan selalu ada dan tidak pernah menyelesaikan itu.

Salah satu kejadian yang belum lama terjadi adalah SGRC UI sebagai organisasi tidak resmi. Hal itu telah dikonfirmasi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UI Bambang Wibawarta yang mengatakan bahwa SGRC UI tidak pernah tercatat sebagai unit kegiatan mahasiswa (UKM) UI. Tentu permasalahannya bukan pada ketentuan penggunaan nama dan logo UI, tetapi bagaimana mahasiswa-mahasiswanya dan masyarakat bersikap atas kejadian tersebut yang berfokus kepada penolakan SGRC UI.

Saya adalah salah satu yang mengikuti komunitas SGRC UI di situs jejaring sosial ASKfm dan melalui akun ASKfm SGRC UI ada banyak pengetahuan yang diberikan terkait gender dan seksualitas. Tentu ini membingungkan saya yang melihat SGRC UI sebagai komunitas berbagi pengetahuan mengenai persoalan-persoalan yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan.

Baca Juga :   Tidak Ada Larangan Kepemimpinan Non-Muslim dalam Al-Qur'an

Waktu berlalu dan kita melihat bagaimana orang-orang dengan mudahnya membawa isu LGBT tersebut ke permukaan dengan mengaitkannya dengan agama. Dengan agama yang selama ini kita ketahui bahwa persoalan agama adalah sesuatu yang personal. Bagaimana begitu melelahkannya organisme manusia yang hanya dikategorikan dengan asumsi “mamawawa” saja.

Manusia dan Seks
Organisme hidup manusia adalah organisme kompleks dan kemampuan berpikir dan “berbahasa”-nya mampu “memanusiakan” manusia itu sendiri. Bagaimana disiplin-disiplin ilmu seperti biologi, psikologi, dan lainnya melihat manusia sebagai organisme hidup yang superior dibanding organisme-organisme hidup nonmanusia.


Kemampuan berbahasa kita mampu menjadi tolok ukur bahwa kita mampu menentukan persoalan nilai dan moral. Bahwa cukup menyedihkan mengingat peradaban membawa menuju kedangkalan, kebalikan dari sebagaimana mestinya. Tentu saja sebagaimana manusia, kita mampu menjelaskan pengalaman subyektif kita dengan bahasa.

Ulrich mengatakan, “Peneliti tidak boleh menghindari logika bahwa bila binatang yang kita observasi adalah model yang masuk akal untuk tindakan kita sendiri yang begitu ruwet itu.” Seperti Ulrich katakan bahwa kita kerap merasa manusia lebih superior daripada nonmanusia karena perhatian kita yang hanya fokus pada spesies kita sendiri (baca: manusia).

Tidak hanya gender yang kerap orang-orang artikan dengan asumsi “mamawawanya”, tetapi seks juga. Seks diartikan oleh kita sebagai jenis kelamin atau bahkan dalam hal paling sederhana dan cukup banal diartikan hanya sebagai persetubuhan. Bahwa seks hanya merujuk kepada organ reproduksi; testis dan ovarium.

Baca Juga :   Homofobia di Universitas Andalas

Kita melupakan juga contoh dari seks adalah seperti kromosom dan hormon. Sesungguhnya tidak ada perbedaan antara seks dan gender—bahwa betul gender pun merupakan hasil konstruksi sosial.

Secara biologis seks dan gender selalu terkait. Seks menciptakan gender itu sendiri, karena gender ditentukan juga berdasarkan kromosom dan hormon. Fungsi primer organ reproduksi gonad—testis dan ovarium adalah memproduksi sel-sel sperma dan ova (bentuk jamak dari “ovum”) untuk membuahi zigot. Zigot inilah yang menjadi bakal terciptanya manusia.

Manusia memiliki 23 pasang kromosom. 46 kromosom, tepatnya 23 kromosom homolog. Dan tiap kromosom mengontrol aspek-aspek pengembangan yang berbeda, dan seks secara biologis ditentukan oleh itu. Perempuan memiliki dua kromosom X (XX), sementara laki-laki memiliki satu kromosom seks X dan satu kromosom seks Y. Testis dan ovarium tidak hanya sekadar memproduksi sel-sel sperma dan sel telur, tetapi juga untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon.

Hormon adalah zat kimia yang disekresikan oleh kelenjar melalui tubuh dan dibawa aliran darah. Yang membuat orang-orang berpikiran pada asumsi “mamawawa” adalah bahwa testosteron yang diartikan sebagai hormon laki-laki adalah testosteron dan hormon perempuan adalah estrogen. Laki-laki dan perempuan memiliki dua hormon yang sama, tetapi yang membedakan adalah hormon-hormon tersebut tidak pada kadar yang sama dan fungsinya pun berbeda.

Testosteron dikaitkan dengan agresi dan estrogen adalah sensitivitas. Hal ini yang menyebabkan terjadinya “sifat maskulin” dan “sifat feminin”. Kita juga melihat bagaimana perbedaan kadar hormon gonadal dan gonad dan gonadotropin melalui siklus yang berulang kurang lebih 28 hari dan mengontrol siklus menstruasi pada perempuan. Dan hormon dalam masa perkembangan, pubertas, tubuh perempuan dan laki-laki tidak berlawanan dalam hal yang sama.

Baca Juga :   Nasib Orang Asli Usai Perjuangan dan Pesta Pora Jokowi

“Mamawawa” tidak relevan juga mengingat kortek adrenal yang melepaskan steroid androgenik dan menyebabkan pertumbuhan rambut kelamin dan ketiak—baik pada perempuan ataupun laki-laki.

Penjelasan teori evolusi mengenai lingkungan adaptif evolusioner menjelaskan bagaimana laki-laki-adalah-laki-laki-dan-perempuan-adalah-perempuan dengan gen mereka yang adaptif. Bagaimana pada masa hunter-gatherer laki-laki menghabiskan waktu untuk berburu. Sementara para perempuan sedang mengalami proses kehamilan untuk bereproduksi sehingga para perempuan tinggal di rumah untuk menjaga kehamilan dan mengurus persoalan dapur.

Hal inilah yang membuat evolusi tubuh laki-laki menjadi agresif, kuat dan perempuan menjadi lemah-lembut, berlawanan dari sifat laki-laki itu sendiri.

Kita mengenal identitas gender, bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya. Apakah ia percaya bahwa ia memiliki peranan sosial dalam gender perempuan atau laki-laki. Ekspresi gender menunjukkan “gender” yang ia percaya dengan tindakan. Dengan pakaian dan tingkah laku seperti gender yang ia inginkan. Anda tidak dapat mengubah seks biologis Anda, tetapi gender Anda mampu berubah. Jumlah atau kadar hormon saat pertumbuhan anak akan membentuk orientasi seksual Anda nantinya.

Jika Anda menganggap gender Anda sebagai sesuatu yang fundamental dan kekal, dengan asumsi “mamawawa” Anda, maka Anda perlu membaca hal di atas berulangkali dan memahami kembali. LGBT tidak pernah “memilih” preferensi seksual, orientasi seksual mereka. Preferensi seksual mereka tidak dijual di pusat perbelanjaan. Mereka “menemukan”nya dalam diri mereka sendiri.

 


Written by Anzi Matta

Anzi Matta

Hobi menulis dan menggambar

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR