Selasa, Maret 9, 2021

Koran Tumbang, Jurnalisme Bertahan

Ancaman Global ISIS di Indonesia

Terorisme Beirut-Paris adalah bagian pementasan panjang Islamic State (IS) yang diakhiri dua babak kontras: satu dilakukan pada pengungsi Palestina dan Syiah di Beirut (12/11),...

Benarkah Kaum Muda Mengubah Indonesia?

Selain kaya dan rupawan, menjadi muda juga merupakan privilese. Di Indonesia, anak muda kerap dikaitkan dengan inovasi, gagasan, dan perubahan yang tidak henti diperbincangkan....

58 Tahun Denny JA

Sahabat baik saya Denny JA, sejak 38 tahun lalu, berusia 58 tahun. Satu usia yang boleh dibilang tak lagi muda. Tentu saja saya kaget...

Membaca Indeks Kebahagiaan

  ANTARA FOTO/Darwin Fatir/pras/16. Meski harga kebutuhan pokok sehari-hari naik, masyarakat dicekam ketakutan oleh kejahatan para begal, dan panggung politik penuh konflik elite, masyarakat Indonesia...
Avatar
Ignatius Haryanto
Pemerhati media dan Peneliti Senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), Jakarta

Tim Redaksi menyelesaian layout edisi terakhir Harian Sore Sinar Harapan di Redaksi Harian Sore Sinar Harapan, Jakarta, Kamis (31/12). Sinar Harapan yang telah terbit selama 14 tahun itu akan berhenti terbit dalam bentuk cetak ataupun online mulai1 Januari 2016. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pd/15
Tim Redaksi menyelesaikan layout edisi terakhir koran sore Sinar Harapan, Jakarta, Kamis (31/12). Sinar Harapan yang telah terbit 14 tahun berhenti terbit dalam bentuk cetak ataupun online mulai 1 Januari 2016. ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A

Pada tahun 2014, Serikat Perusahaan Pers (dahulu Serikat Penerbit Suratkabar – SPS) menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Umur Koran Masih 100 tahun. Buku kecil ini berisikan wawancara dengan sejumlah tokoh surat kabar nasional dan lokal tentang masa depan media cetak dan hampir semua mengucapkan optimisme yang sama menghadapi situasi pada dekade kedua abad ke-21.

Saya tak tahu bagaimana rasanya penyusun dan mereka yang pernah diwawancarai untuk buku itu jika melihat fenomena persuratkabaran hari ini. Akhir tahun lalu sejumlah media cetak tutup, sejumlah majalah gulung tikar, bahkan beberapa terbitan media online pun tutup. Apakah optimisme tersebut masih sebesar 1-2 tahun lalu?

Peringatan Hari Pers Nasional 2016 kemarin di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mengajak banyak pihak yang terlibat dalam industri media cetak harus berpikir keras bagaimana membuat dirinya tetap bertahan. Pelbagai seminar pernah dibuat sebelumnya membahas topik ini.

Meski begitu, saya tak mau ikut meratapi pelbagai media cetak yang berguguran. Yang lebih penting adalah apakah era media digital seperti saat ini membuat esensi jurnalisme tetap terpelihara? Esensi jurnalisme di sini maksudnya adalah mengangkat hal yang penting untuk diketahui masyarakat, menjadi lembaga kontrol sosial bagi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat itu sendiri.

Koran mungkin bisa berubah rupa, mungkin ada yang tetap mempertahankan format yang lama, mungkin nantinya ada inovasi baru dalam bentuk atau perwajahan surat kabar. Namun apa pun itu, jurnalisme sebagai kata benda dan kata kerja harus tetap ada di dalamnya. Bagaimanapun juga jurnalisme adalah hal penting yang dibutuhkan manusia: untuk mengetahui lingkungan sekitarnya berdasarkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Tanpa situasi ini, ada ketidakseimbangan dalam hidup manusia. Ia ibarat berjalan tanpa pedoman yang jelas.

Kegiatan jurnalisme adalah hal yang esensial dalam hidup manusia. Lihat saja kegiatan ini sudah bertahan lebih dari 400 tahun, dengan segala evolusi yang melekat pada dirinya. Surat kabar awal di Hindia Belanda, Bataviasche Nouvelles, tak lebih dari surat kabar dagang yang isinya iklan-iklan tentang barang yang dibawa oleh kapal-kapal dagang asal Belanda.

Unsur informasi baru muncul dalam dekade berikutnya. Itu pun awalnya hanya untuk mereka yang bisa baca tulis. Jangan lupa sebagian besar penduduk pribumi kala itu tak bisa baca tulis, dan mereka yang masuk sekolah pun masih dalam hitungan jari. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah awal fajar menyingsing surat kabar ketika jumlah mereka yang terpelajar semakin banyak. Politik Etis Belanda membuat lebih banyak orang Hindia bisa menuntut ilmu hingga ke negeri Belanda.

Faktor yang tak diperhitungkan oleh pemerintah kolonial adalah bahwa pendidikan yang mereka berikan kepada kelompok Hindia membuat mereka menjadi cerdas, kritis, dan mampu mengartikulasikan kehendak untuk merdeka. Tak salah jika almarhum Ben Anderson kemudian mengaitkan kemunculan nasionalisme di kalangan pemuda Hindia (atau Indonesia) akibat kapitalisme media cetak yang menyebar ke mana-mana.

Uraian dalam surat kabar kala itu terbang ke pelbagai penjuru Nusantara dan menggemakan suara “Merdeka”, dan muncullah founding fathers Indonesia yang seluruhnya adalah para penulis dan pengelola surat kabar. Di sinilah kita menemukan fenomena “pers perjuangan” ketika pers menjadi sarana menggemakan keinginan menentukan nasib sendiri.

Ketika masa revolusi berlangsung, sejumlah surat kabar Indonesia awal kemerdekaan pun terus menggemakan Indonesia Merdeka, sementara pasukan Sekutu dan Belanda hendak mengambil kembali wilayah jajahan mereka dari tangan kolonial Jepang. Dengan peralatan seadanya, kertas sedapatnya, percetakan sederhana, koran-koran di sejumlah daerah muncul dan melawan pasukan Sekutu.

Para wartawan ini tak melawan dengan bambu runcing atau senapan pampasan perang, tetapi dengan pena yang tajam. Mereka menorehkan keyakinan kepada para penduduk Indonesia bahwa mereka berhak merdeka dan harus mempertahankan kemerdekaan itu. Demikianlah etos sebagai pers politik, pers perjuangan terus merasuk dalam dunia pers hingga ke akhir 1970-an dan pertengahan 1980-an

Ketika industri menjadi kata baru untuk disandingkan bersama dengan “pers”, maka kita melihat fenomena ekspansi sejumlah grup media di Indonesia. Walau secara bisnis berkembang, ketakutan mereka pada pemerintah tetap besar. Ketika televisi swasta mulai muncul, surat kabar juga harus menyesuaikan dirinya. Ia jadi lebih memanjakan visual, menampilkan foto yang lebih atraktif, menampilkan infografis, dan lain-lain.

Inovasi memang kata yang melekat dengan industri pers. Dan ketika media online pun bermunculan, pers mencoba mengikuti perkembangan ini, dan ternyata dunia digital memberikan dampak perubahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Sejumlah media cetak bertumbangan dan media digital belum dapat menggantikan sepenuhnya peran media cetak sebelumnya.

Bagaimanapun setiap zaman akan menunjukkan bagaimana penyesuaian dalam diri pers terjadi. Formatnya bisa berubah-ubah, medium bisa berganti-ganti, namun esensi jurnalisme harus tetap ada di situ. Oleh karena itu, ini tantangan terbuka: sanggupkah media digital yang muncul belakangan ini menghasilkan kualitas jurnalistik yang tak kalah dengan media cetak lainnya? Sanggupkah mereka menghasilkan jurnalisme investigasi yang berdampak besar untuk publik dan perubahan kebijakan?

Jika tantangan ini bisa dijawab oleh media-media baru tadi, mungkin koran-koran bisa mati dengan tenang.

Avatar
Ignatius Haryanto
Pemerhati media dan Peneliti Senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.