Minggu, Maret 7, 2021

Satu Dekade YouTube: Dari Urusan Ekspresi sampai Demokrasi

Libido Menggusur

Penggusuran di kawasan-kawasan yang diklaim "ilegal" tak bisa dilihat sebagai kasus-kasus tunggal. Apalagi dengan membawa alasan-alasan yang terdengar masuk akal: normalisasi kali, melindungi warga...

Ekstremisme dalam Penafsiran Kitab Suci dan Penawarnya (Bagian 1)

Ekstremisme keagamaan berpijak pada pemaknaan, pemahaman, atau penafsiran tertentu atas kitab suci. Penarasian ajaran teks kitab suci yang menjadi pijakan ekstremisme memang kerap kali...

Konvensi PSI, Bukan Kaleng-Kaleng

Sejak mengumumkan bahwa saya mantap maju dalam proses pemilihan calon walikota Tangerang Selatan (Tangsel), publik selalu bertanya, “Lewat partai apa?” Terus terang, saya belum...

Bhinneka Tunggal Drama

Ben Anderson, pengkaji Indonesia yang paling masyhur mungkin, pernah menandaskan, bangsa ada berkat kapitalisme cetak. Media massa—koran, buku—memungkinkan insan-insan yang tak saling mengenal merasa...
Avatar
Damar Juniarto
Pegiat Forum Demokrasi Digital, Regional Coordinator SAFENET

282784-youtube-youtube-on-tablet-kindle
ilustrasi.

Saat video pertama YouTube berjudul “Me at The Zoo” diunggah 23 April 2005 oleh co-founder YouTube Jawed Karim, tak ada seorang pun menyangka YouTube akan menjadi website berbagi video terbesar di dunia. Satu dekade lalu sebelum YouTube ada, rasanya sulit melihat penyanyi muda berbakat mempromosikan suara kerennya untuk pertama kali dan langsung mendapat dukungan dari banyak orang di dunia, sekalipun dia muncul di stasiun TV yang terkenal.

Tapi lihatlah sekarang; media-media mainstream memberi julukan “artis YouTube”, sebutan untuk mereka yang punya banyak fans di YouTube. Lebih jauh lagi, mereka ini tak hanya datang dari Amerika Serikat, di mana teknologi ini pertama kali dikembangkan, dari Indonesia, sebuah negara yang berjarak 14.960 kilometer jauhnya dari garasi kecil di Silicon Valley. Dan julukan ini bukan hanya untuk penyanyi, tapi juga melahirkan bakat-bakat baru para standup-komedian, pelukis, chef, animator, aktor, dan lainnya.

Satu dekade lalu, tidak ada seorang pun juga yang menyangka YouTube akan memiliki dampak hebat pada industri musik, hiburan, pendidikan, kesehatan di seluruh dunia, bahkan di negara di mana kebebasan bicara bukan hal yang umum.

Satu dekade lalu, sulit untuk menemukan orang Singapura yang berani mengkritik PM Singapura Lee Kuan Yew. Tapi belakangan ini, ada remaja usia 16 tahun bernaam Amos Yee yang menggunakan YouTube untuk membagikan video tentang kehidupan sehari-hari di Singapura dan terkadang ia menggunakan untuk mengkritik pemerintah agar memberi kemerdekaan bagi warga dan juga pekerjaan yang lebih baik. Orang banyak suka kejujuran dan bagaimana suaranya yang lugu mencoba menjelaskan dengan caranya sendiri yang digabung dengan humor, parodi, dan satir.

Amos Yee tidak sendiri. Banyak orang percaya bahwa mereka bisa mengekspresikan opini, kritik, dan bahkan memulai gerakan digital seperti Amos Yee. Mereka mulai membagi gagasan ke sebanyak mungkin orang, mendistribusikan opini bagaimana ekonomi bisa bekerja bagi banyak orang, mentransfer pengetahuan ke penduduk desa bagaimana menggunakan panel surya untuk mengoperasikan raspberry pi dan lain sebagainya.

Sebulan lalu, seorang mahasiswa Adlun Fiqri mengunggah sebuah video dengan smartphonenya. Video itu menunjukkan seorang polisi yang diduga meminta uang terlalu banyak karena kesalahan sepele. Video itu kemudian menyebar luas dan mendapat banyak perhatian dari netizen Indonesia. Dalam waktu kurang dari 24 jam, polisi mencokoknya dan memenjarakan karena alasan pencemaran nama baik karena menyebarkan video itu ke YouTube. Tapi kemudian netizen membalas dengan membuat petisi online menuntut pembebasan Fiqri.

Bahkan yang menarik, gerakan digital ini melahirkan aksi YouTubers lain seperti Elanto Wijoyono yang terinspirasi aksi Fiqri dan kemudian mengajak orang untuk menangkap basah polisi yang meminta uang rakyat secara ilegal dengan merekam, dan menyebarkannya di YouTube.

Tentu ada banyak hal yang bisa ditunjukkan.  Tapi paling tidak contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana transformasi video YouTube, yang awalnya jalan untuk mengekspresikan kebolehan bakat, lalu menjadi cara untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Satu dekade setelah YouTube ada, tiba saatnya saat seseorang mengunggah video dan menyebarkannya secara viral, telah menjadi suatu alat politik yang mampu mendorong perubahan regulasi, atau mengimbangi suara hegemoni parlemen, atau bahkan mampu mendorong perubahan untuk meyakinkan orang mendukung kandidat presiden berikutnya.

Namun harus diakui, keberadaan YouTuber politis seperti ini memiliki tantangan hukum di negerinya. Amos Yee telah dituntut oleh PM Singapura sekaligus anak dari Lee Kuan Yew, sementara Fiqri dan Wijoyono berada dalam bayang-bayang ancaman UU ITE oleh kepolisian Indonesia. Tidak seperti di Amerika Serikat yang melindungi kebebasan berbicara, di banyak negara Asia Tenggara kemerdekaan ekspresi ini masih jarang dan justru pemerintah lebih banyak mengeluarkan peraturan melarang netizen untuk mengunggah video untuk mengontrol kebenaran.

Yakinlah seiring dengan waktu, tantangan hukum ini semakin lama semakin lenyap karena lama-lama masyarakat akan mengerti: kebenaran tak bisa dibungkam. Sensor seperti apa pun tidak akan menutupi kebenaran. Negara yang membuka dirinya pada informasi justru akan mendapat lebih banyak kepercayaan dari rakyat dan malah bisa semakin cepat mencapai tujuannya dibanding mereka yang menutup informasi.

Lupakan sekarang satu dekade sebelum YouTube. Ini saatnya untuk berpikir dan bertindak, apa yang akan dilakukan satu dekade setelah YouTube. Yang jelas, YouTube telah mendorong orang untuk berbicara bebas, tinggal bagaimana menyikapi situasi ini.

Avatar
Damar Juniarto
Pegiat Forum Demokrasi Digital, Regional Coordinator SAFENET
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.