Kebengisan Khalifah Yazid Menghadapi Oposisi

28922

[Ilustrasi]
Tanpa adanya mekanisme kontrol rakyat terhadap khalifah, kekuasaan seorang khalifah menjadi mutlak. Sejarah menceritakan kepada kita mereka yang menolak berba’iat dan mengkritik kekuasaan khilafah di masa lampau akan dihadapai dengan tindakan kekerasan. Kita akan menyimak bagaimana dua ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu Imam al-Thabari dan Imam Suyuthi, bertutur mengenai Khalifah ketujuh, Yazid bin Mu’awiyah.

 

Yazid meraih kekuasaan lewat penujukan ayahnya, Khalifah Mu’awiyah. Tindakan ini  melanggar kesepakatan antara Mu’awiyah dan Sayyidina Hasan, di mana seharusnya dibentuk semacam dewan syura seperti yang sebelumnya dilakukan Khalifah Umar bin Khattab untuk memilih khalifah. Mu’awiyah mengabaikannya dan malah menunjuk Yazid, putranya sendiri.

Ketika tersebar berita wafatnya Mu’awiyah, Yazid yang dibai’at oleh penduduk Syam sebagai Khalifah, mengirim surat kepada Gubernur Madinah, al-Walid bin Utbah bin Abu Sufyan (sepupu Yazid), untuk meminta ketiga tokoh menyatakan pemba’iatan kepada Yazid. Ketiga tokoh itu adalah Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah), Abdullah bin Zubair bin Awwam (cucu Khalifah pertama Abu Bakar dari jalur Asma’) dan Abdullah bin Umar (putra Khalifah kedua Umar bin Khattab).

Ketiga tokoh ini dipastikan akan masuk dalam dewan syura seandainya Mu’awiyah membentuknya dan, menurut Imam al-Thabari, kecil kemungkinan ketiganya akan memilih Yazid sebagai khalifah. Itulah sebabnya pernyataan bai’at mereka dikejar oleh Yazid.

Abdullah bin Umar dilaporkan menjawab diplomatis: “Kalau semua penduduk Madinah sudah menyatakan bai’atnya kepada Yazid, baru aku akan berbai’at.” Sayyidina Husein menemui Gubernur al-Walid, yang duduk didampingi Marwan bin Hakam, dan keduanya meminta Sayyidina Husein berbai’at.

Sayyidina Husein dilaporkan mengatakan: “Kenapa aku harus menyatakan bai’at secara rahasia di depan kalian? Biarkan aku menyatakannya di depan umum bersama-sama penduduk Madinah.” Kedua tokoh di atas mencoba menawar dan mengulur waktu. Tokoh ketiga, Abdullah bin Zubair, menolak mendatangi Gubernur al-Walid dan memilih bersembunyi di kediamannya.

Abdullah bin Zubair kemudian pergi diam-diam ke Mekkah. Sayyidina Husein juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua menghindari tekanan dan ancaman Gubernur al-Walid. Abdullah bin Umar tetap menetap di Madinah dan dianggap tidak akan memobilisasi massa menentang Yazid, dan karenanya dibiarkan saja. Kita akan fokus pada dua tokoh oposisi utama kekhalifahan Yazid, yaitu Sayyidina Husein dan Abdullah bin Zubair. Apa yang dilakukan Khalifah Yazid kepada keduanya?

Sayyidina Husein menerima surat dukungan dari penduduk Kufah yang meminta beliau datang ke Kufah dan akan didukung menjadi khalifah. Sahabat Nabi Ibn Abbas mencegahnya, sementara Abdullah bin Zubair mendukung rencana Sayyidina Husein beranjak dari Mekkah ke Kufah. Pergerakan ini tercium oleh Yazid yang kemudian memerintahkan pasukannya menghadapi Sayyidina Husein dan keluarganya di Karbala.

Imam al-Thabari dalam kitab Tarikh-nya menceritakan dengan detail berpuluh-puluh halaman apa yang terjadi di Karbala, dan mencatat siapa saja keluarga Sayyidina Husein yang terbunuh lengkap dengan menyebutkan siapa pembunuh maisng-masing, pada 10 Muharram di Karbala.

Sejarah mencatat dengan pilu kalau sebelumnya, demi politik kekuasaan, terjadi perang saudara antara Siti Aisyah dan Ali bin Abi Thalib (Perang Jamal), dan antara Khalifah Ali dengan Mu’awiyah (Perang Shiffin), maka sejarah juga mencatat dengan air mata dan darah bagaimana cucu Rasulullah dibunuh secara tragis. Kepala Sayyidina Husen dipenggal, dan hanya kepalanya yang dibawa ke istana Yazid. Tubuhnya dibiarkan tanpa kepala.

Imam Suyuthi menulis: “Yazid mengirim surat kepada Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuh Husein. Maka dikirimlah 4 ribu pasukan di bawah pimpinan Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash.”  Imam Suyuthi melanjutkan:

فقتل وجيء برأسه في طست حتى وضع بين يدي ابن زياد، لعن الله قاتله وابن زياد معه ويزيد أيضًا

وكان قتله بكربلاء، وفي قتله قصة فيها طول لا يحتمل القلب ذكرها، فإنا لله وإنا إليه راجعون، وقتل معه ستة عشر رجلًا من أهل بيته.

“Husein dibunuh dan kepalanya diletakkan di bejana dan dibawa ke hadapan Ibn Ziyad. Semoga Allah melaknat mereka yang membunuhnya, begitu juga dengan Ibnu Ziyad dan Yazid. Husein telah dibunuh di Karbala. Dalam peristiwa pembunuhan ini terdapat kisah yang begitu memilukan hati yang tidak sanggup kita menanggungnya. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Terbunuh bersama Husein 16 orang lainnya dari anggota keluarganya.”

Inilah tindakan opresif dan kebengisan Khalifah Yazid kepada cucu Rasulullah semata demi politik kekuasaan. Siapa bilang sejarah khilafah itu mulus dan tidak pernah ada gejolak?

Sekitar dua tahun setelah pembantaian di Karbala, tepatnya pada tahun 63 H, sebagian penduduk Madinah diundang ke istana Yazid di Negeri Syam. Di sana mereka melihat sendiri perangai dan kelakuan Yazid yang tidak menjalankan syariat Islam. Maka, penduduk Madinah banyak yang hendak mencabut ba’iat yang telah mereka berikan kepada Khalifah Yazid.

Pada titik ini, sekali lagi, belum ada mekanisme pemakzulan khalifah yang sikapnya menyimpang dari ajaran Islam. Tindakan penduduk Madinah di bawah pimpinan Abdullah bin Hanzhalah membuat Khalifah Yazid meradang.

Khalifah Yazid mengirimkan 10 ribu pasukan di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah al-Murri. Terjadilah peristiwa al-Harrah. Sekali lagi, kita merujuk kepada Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa:

وما أدراك ما وقعة الحرة؟ ذكرها الحسن مرة فقال: والله ما كاد ينجو منهم أحد، قتل فيها خلق من الصحابة -رضي الله عنهم- ومن غيرهم، ونهبت المدينة، وافتض فيها ألف عذراء، فإنا لله وإنا إليه راجعون

“Apakah yang disebut peristiwa Harrah itu? Hasan al-Bashri menyebutkan: Demi Allah, hampir saja tidak ada satu pun yang selamat dari peristiwa itu. Sejumlah sahabat Rasulullah–Radhiyallaah ‘anhum–dibunuh, kota Madinah dihancurkan, seribu perawan dirusak kegadisannya, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un.”

Panglima Perang Muslim bin Uqbah sampai dijuluki sebagai Musrif alias orang yang melampaui batas, mengingat kekejaman yang dia lakukan. Ibn Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah juga mengonfirmasi kisah-kisah kekejian yang dilakukan Muslim bin Uqbah dalam peristiwa al-Harrah ini.

Setelah sukses membantai Sayyidina Husein di Karbala, dan lanjut dengan pembantaian di al-Harrah, Khalifah Yazid tinggal punya satu oposisi tersisa, yaitu Abdullah bin Zubair di Mekkah. Pasukan Muslim bin Uqbah bergerak menuju Mekkah. Setelah kota suci Madinah luluh lantak, kini mereka hendak mengepung kota suci Mekkah. Namun dalam perjalanan Allah mencabut nyawa Muslim bin Uqbah yang jatuh sakit. Khalifah Yazid di Damaskus pun wafat di saat pasukannya tengah mengepung kota Mekkah. Kabarnya Yazid wafat mendadak setelah jatuh dari kudanya.

Sejarah telah memberi pelajaran berharga bahwa kekuasaan mutlak tanpa batas seorang khalifah memicu Yazid bin Mu’awiyah bertindak di luar batas menghadapi para penentangnya. Khalifah Yazid hanya berkuasa sekitar 3 tahun, dan wafat di usia masih muda, sekitar 36 tahun.

Setelah Yazid wafat, anaknya (Mu’awiyah bin Yazid bin Mu’awiyah) dibai’at menjadi khalifah. Akan tetapi Abdullah bin Zubair juga mendeklarasikan diri sebagai khalifah di Mekkah.

Bagaimana bisa terjadi saling klaim khalifah ini? Simak kelanjutan kisah sejarah politik Islam ini pada kolom Jum’at pekan depan, bi idznillaah!

Baca juga:

Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

Komentar anda