Jendela Dunia dan Akhirat di Luar Sana

2694

Sudah banyak ucapan “Selamat Hari Buku” dituturkan. Saya akan mengajak Anda bercengkrama tentang buku. Ya, tentang buku adalah jendela dunia. Apa maksudnya?

Sederhana saja. Jika buku adalah jendela dunia, kita seharusnya melihat akhirat ketika membukanya. Sebab, jika memang dunia adalah rumah kita yang sekarang, maka akhirat adalah keluasan lingkungan luar rumah. Wajar saja jika buku-buku terus diterbitkan untuk menyingkap ilmu dan pengetahuan mengenai hal-hal yang kita tidak tahu, belum tahu, atau perlu lebih tahu; segala sesuatu misteri di luar sana, di luar batas pengetahuan kita.

Sederhana saja. Jika buku adalah jendela dunia, mengapa kita tidak mulai bertanya: lalu, apa pintunya? Bagaimana ruang-ruang di dalam dunia itu diatur? Apa yang menjadi pondasi dunia? Apa pula tiang pancang, dinding, dan atapnya? Lebih dari itu, sesungguhnya siapakah penghuni dunia yang berjendela buku? Sepintas, pertanyaan-pertanyaan ini terkesan filosofis. Padahal, tidak. Untuk apa kita membuka jendela jika tanpa kesadaran?

Sederhana saja. Jika buku adalah jendela dunia, maka adagium ini sesungguhnya sedang berbicara tentang waktu. Waktu? Ya, waktu. Sebab, kita perlu tahu apa beda antara bumi dan dunia. Dalam ayat suci disebutkan, manusia adalah khalifah fil ardl, pemimpin bumi, bukan pemimpin dunia. Tapi, dalam doa, mengapa kita memohon kebahagiaan di dunia? Bukan di bumi? Lebih tepatnya, kita memohon kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebab, bumi adalah ruang dan dunia adalah waktu. Dan, kebahagiaan itu, sebagaimana penderitaan, ada di dalam waktu. Dalam al-Qur’an dituliskan betapa Allah bersumpah, “Demi masa,” atau demi waktu. Orang-orang berbahasa Inggris juga sepakat bahwa time is money. Time, bukan knowledge, experience, network, atau lainnya. Sayyidina Ali juga bersabda, “Waktu adalah pedang.” Nah, jika sedang bicara jendela dunia, kita bicara waktu.

Atau, mulai sekarang, kita akan sepakat mengganti pepatah menjadi buku adalah jendela bumi? Supaya yang kita lihat dari dalam rumah, ketika membuka jendela, adalah teras kita sendiri, pekarangan, kebun, pagar dan gerbangnya, rumah-rumah tetangga, orang-orang lalu-lalang, kendaraan hilir mudik, angkasa, matahari di siang hari, bintang dan bulan di malam hari, dan hal-hal lain yang bisa juga kita lihat dari layar gawai dan televisi?

Sederhana saja. Jika buku adalah jendela dunia, maka itu berarti kita mengizinkan hal-hal dari luar masuk ketika membuka jendela itu. Hal-hal itu bisa hal-hal yang terduga, bisa pula hal-hal yang tidak kita perkirakan, atau bahkan tidak kita ingin, sebelumnya. Misal, lalat dan nyamuk masuk rumah gara-gara jendela dibuka. Nah, apa kira-kira hal-hal tak tertebak yang mungkin masuk jika benar akhirat terlihat ketika jendela dunia dibuka?

Candra Malik saat bedah “Layla”, novel karyanya, di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, bersama antara lain Prof Dr KH Nadirsyah Hosen (pojok kanan), dan Prof Purwo Santosa beberapa waktu lalu.

Apakah yang mungkin masuk ke dalam “rumah” kita adalah ingatan tentang dosa dan kesalahan? Tentang hari akhir dan pembalasan? Tentang pahala dan janji surga? Kesadaran tentang asal-muasal kejadian dan hukum kekekalan waktu? Kebahagiaan yang selama-lamanya? Atau tentang rindu-dendam perjumpaan sang makhluk dengan Sang Khalik? Jika jendela dunia kau buka, apa kira-kira yang ingin kau lihat di luar sana?

Sederhana saja. Dengan segala ketidakterbatasan yang sampai detik ini masih dicari garis batasnya, dunia itu terbatas. Fana. Lebih tepatnya: fana fil baqa, meniada dalam keabadian, mustahil di dalam keniscayaan, terbatas di dalam ketidakterbatasan, maya dalam nyata. Ah, nanti dulu. Rasa-rasanya, ini sudah jadi tidak sederhana lagi. Tapi, saya tidak sedang mengarang ketika menulis ini. Saya sedang mengajak Anda menulis.

Mengajak menulis? Ya. Jadilah penulis. Jadilah penulis buku. Jadilah pembuat jendela dunia. Mengabadilah. Jadilah juru kunci keabadian. Jangan hanya membaca Pramoedya Ananta Toer yang menulis, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Ayo mulai menulis, mulai bekerja untuk keabadian. Jika kita berhenti membaca Q.S al-Alaq pada ayat 1, yaitu “Iqra,” maka kita tidak akan menemukan kalimat Dia mengajar dengan “qalam” di ayat 4.

Sederhana saja. Dengan memahami bahwa dunia adalah waktu, dan waktu sungguh tidak terbatas–yang terbatas adalah usia, kita akan kembali melihat keterbatasan kita sendiri ketika membuka jendela dunia. Kita akan mawas diri. Kita akan mengenal diri. Dengan cara itu pulalah, kita kemudian akan mengenal Dia Yang Maha Tidak Terbatas, Dia Yang Maha Memiliki Waktu, Dia Yang Mencipta Dunia dan Akhirat serta kebahagiaan.

Sederhana saja. Dengan memahami keterbatasan diri, kita kemudian menjadi paham bahwa sesungguhnya tidak ada yang lebih tahu di antara kita. Yang ada adalah yang lebih dulu tahu. Semakin tahu seseorang tentang sesuatu hal, semakin ia tidak tahu tentang sesuatu hal itu, dan oleh karenanya ia semakin menunduk. Semakin menunduk seseorang, semakin ia mendekati sujud, dan karenanya ia semakin tawadhu.

Komentar anda