Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

3784

SESUNGGUHNYA apa yang terjadi dengan masyarakat kita? Golongan liberal mengolok-olok golongan literal sebagai kelompok yang melulu tekstual namun kehilangan konteks, bahkan tidak berpikir dengan akal sehat. Sebaliknya, golongan literal pun mengumpat-umpat golongan liberal sebagai kelompok yang kelewat batas menabrak teks dengan berlindung di balik konteks, yang oleh karena itulah dinilai tidak lagi mengimani wahyu Allah dan sabda Rasulullah sepenuh hati.

Kaum moderat menunjukkan dalil yang bejibun untuk menegaskan betapa ilmu dan pembelajar menempati kedudukan sangat tinggi di mata Allah. Sebaliknya, kaum fanatik punya setumpuk ayat dan hadits yang menandaskan maqam paling tinggi ditempati oleh ia yang menjalankan kepatuhan dan ketaatan tanpa pandang bulu. Entah mengapa keduanya mudah mempertunjukkan teori akhlak dan adab tapi susah menunjukkan akhlak dan adab sesuai suri teladan dari Muhammad SAW.

Kalangan ilmuwan menggerutu karena merasa diperlakukan secara tidak patut, terutama di dunia maya, namun meladeni olok-olok kalangan yang mereka sebut awam, tidak berilmu cukup, tidak berguru mumpuni, bahkan tidak setara kapasitas, dengan olok-olok yang juga tidak bagus. Yang distempel awam berkelit bahwa ketakwaan seseorang tak ada kaitannya dengan gelar akademis. Namun, ia toh tetap tidak menunjukkan perilaku sesuai dengan tanda-tanda orang bertakwa.

Kubu konservatif merasa menjaga dan melestarikan tradisi adalah perwujudan dari ketangguhan dan keteguhan dalam menghadapi arus zaman. Sedangkan kubu progresif merasa kejumudan harus dipecahkan. Atas nama pembaharuan, pergolakan adalah suatu kewajaran bagi perubahan–bahkan, jika perlu, lawan arus! Pada akhirnya, dua kelompok besar ini akan terjebak pada dikotomi puritan dan sekuler, serta absolutisme klaim kebenaran dan vonis kesalahan.

Padahal, yang ideal belum tentu realistis dan yang realistis pun belum tentu ideal. Yang kuno tak selalu ketinggalan zaman, bahkan siapa tahu telah teruji zaman dan tetap mampu bertahan. Yang kini tidak selalu cocok dengan zaman, bahkan siapa tahu tak bertahan lama.

Pendek kata, tak ada yang benar-benar benar karena kita sama tahu kebenaran di dunia ini relatif. Kemutlakan tak perlu dipaksakan karena ia niscaya mutlak dengan sendirinya. Jika sesuatu dipaksakan, lahirlah intoleransi.

Kaum takfiri menuduh sesama Muslim sebagai kafir. Namun, yang dituduh kafir pun berdalih yang menunjuk seseorang kafir sesungguhnya ia sendiri yang kafir, lalu menunjuk-nunjukkan keimanannya seolah yang paling lurus. Meski tak suka mengkafirkan orang lain, bukankah sama saja jika memojokkan takfiri itu bengkok imannya? Kaum putih menuding kaum abangan tidak mengalami kemajuan, tapi kaum abangan melihat kaum putih terus bertengkar dan mengalami kemunduran.

Kata orang-orang pintar, hal-hal rumit bahkan bisa dipikir dengan logika dasar, tanpa perlu menggunakan cara-cara kekerasan. Padahal, pengertian radikal dalam filsafat– yang diyakini sebagai induk ilmu pengetahuan–ialah proses berpikir secara kompleks sampai ke akar-akarnya. Radikal, yang berakar kata radix, didefinisikan dalam kamus sebagai hal yang mendasar sampai pada prinsipnya. Entah mengapa makna paling mutakhir dari radikalisme adalah kekerasan.

Benturan terus menerus antara dua kutub ini mungkin, jika bukan niscaya, tak akan pernah ada hentinya. Tak ubahnya kaum Qadariyah dan kaum Jabariyah yang tidak menemukan titik tengah. Jika gesekan ini terus menguat, maka kian panaslah suhu kehidupan kita.

Kehadiran kaum tengah, yang bukan kiri dan bukan kanan, yang tidak condong ke kiri dan tidak condong pula ke kanan, diharapkan bisa menjadi penengah. Tapi, tentu, yang di tengah ini jangan lantas justru setengah-setengah.

Perkawinan klaim kebenaran dan vonis kesalahan melahirkan sikap intoleransi di tengah kehidupan kita. Bukan terhadap keberagamaan saja, namun lebih dari itu juga terhadap keberagaman. Merasa diri benar, lebih benar, bahkan paling benar, dengan menganggap yang selain dirinya salah, lebih salah, bahkan paling salah, adalah akar perkara intoleransi. Padahal, kita sama tahu solusi untuk mengatasi sikap intoleran adalah bersikap toleran. Sesederhana itu. Kitalah yang rumit.

Yang membalas olok-olok dengan olok-olok pula; sekali lagi: kita sama tahu; sama buruknya dengan yang mengolok-olok. Mengutuk intoleransi dengan sikap yang intoleran pula? Lalu, mau sampai kapan kita begini?

Meski terdengar klise, petuah yang berumur paling panjang dan selalu disampaikan sejak dari leluhur kita hingga anak cucu kelak adalah, “Mari kita saling menghormati pikiran dan perasaan setiap orang, serta agama dan keyakinan masing-masing,”–dan seterusnya.

Mengambil batas yang jelas antara yang privat dan yang publik juga menjadi amat perlu. Mana yang konsumsi individual dan/atau internal, mana yang konsumsi sosial dan/atau eksternal, harus kentara betul pembedanya.

Jangan sampai kita sendiri yang mengunggah persoalan di wilayah pribadi ke ranah media sosial, lalu kita sendiri yang rempong menanggapi respons bebas akun-akun di linimasa dan masih pula menuntut privasi dihormati. Lalu, kita mengumpat: dasar intoleran!

Baca juga:

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Komentar anda