Intoleransi dan Kecemasan Reza Rahadian

965

Pengalaman adalah guru terbaik. Adagium ini selalu tepat dalam menggambarkan bagaimana belajar dari pengalaman itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Lebih khusus pengalaman ini hadir tidak hanya saat orang itu tumbuh melalui interaksi melainkan pergulatan internal yang dialami terus-menerus dan adanya momentum yang hadir dalam peristiwa yang dialami.

Pergumulan internal mengenai praktik beragama inilah yang dialami oleh Reza Rahadian, aktor kondang yang memainkan sejumlah film laris di Indonesia. Tumbuh dan besar dalam pola pengasuhan orangtua berbeda agama, Reza Rahadian memilih untuk memeluk Islam seperti ayahnya sejak kecil, yaitu Islam. Sementara itu, sang ibu tetap beragama Nasrani.

Kondisi ini yang membuatnya mengerti lebih jauh apa itu toleransi dan bagaimana proses menghargai agama lain itu wajib untuk dipraktikkan. Meskipun itu awalnya harus dilalui tidak mudah. Misalnya, saat Ramadhan tiba, ia harus sahur sendiri dan berpuasa sendiri di tengah keluarga ibunya yang berbeda. Namun, nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh ibunya ini membuatnya mengerti mengenai wajah Islam seperti apa yang mesti dipraktikkan dan bayangkan di tengah kehidupan keluarganya sebagai laboratorium mengenal toleransi sesungguhnya.

Dengan kata lain, toleransi dan mengasihi sesama menjadi bagian dari praktik kebudayaan dari sosok Reza dan banyak Reza lainnya. Ya, karena keluarga yang menikah beda agama ini sudah ada sejak lama di Indonesia dan sejak tahun 1970-1990-an hal semacam ini, khususnya di wilayah pedesaan Jawa, merupakan suatu hal yang biasa.

Dalam satu keluarga, kita bisa melihat ada yang beragama Muslim, Katolik, dan Protestan ataupun agama lainnya. Selain lebih mementingkan ikatan tali persaudaraan, faktor budaya Jawa sinkretik sebagai falsafah hidup jauh lebih kuat ketimbang agama dalam mempengaruhi kehidupan seseorang.

Karena itu, temuan Clifford Geertz di Mojokuto mengenai praktik keagamaan orang Jawa tidak melihat kategori keislaman seseorang, apakah ia Muhammadiyah, NU, Persis, Salafi, atau Wahabi, melainkan lebih pada politik aliran dan kepercayaan dalam kosmologi Jawa dengan membaginya menjadi tiga kategori: santri-abangan-priyayi.

Memang, ada banyak kritik mengenai temuan Geertz tersebut. Namun peta kebudayaan dan kategorisasi ini membantu para peneliti selanjutnya dalam memahami hubungan Islam dan kebudayaan Jawa hingga praktik kekuasaan dalam bernegara di Indonesia, khususnya di bawah rezim Orde Baru.

Adanya mobilisasi massa dengan menggunakan sentimen agama dan etnik untuk mempengaruhi pilihan publik Jakarta dalam Pilkada DKI Jakarta tempo hari telah merusak toleransi yang tumbuh dan mendarah daging di Indonesia. Di sini, para predator politik memanfaatkan hal tersebut untuk menghancurkan lawan politiknya dengan cara brutal, merusak “tenun kebangsaan”.

Akibatnya, ungkapan kata kafir dan makian kepada orang yang beragama lain menjadi begitu mudah dikeluarkan. Makian kasar dan ungkapan kata kafir itu seolah-olah menguatkan keimanan dan kebenaran yang dipegang di tengah kerapuhan cara beragama yang seharusnya memberikan kedamaian.

Tindakan intoleransi ini, bagi Reza, sangat mencemaskan tidak hanya untuk dirinya melainkan untuk publik Indonesia. Apalagi, kata Reza, intoleransi ini “berbahaya bagi kehidupan beragama dan berbangsa”. Karena itu, baginya, pembahasan mengenai Pancasila menjadi diskursus kebangsaan di tengah persoalan tersebut memiliki alasan yang penting.

Ucapan ini Reza tegaskan saat menjadi pembicara dalam acara “Diaspora Indonesia” pada 1 Juli 2017 bersama Anies Baswedan dan Shamsi Ali, yang diselenggarakan di Jakarta. Selain merupakan keberanian, ucapan di publik tersebut merupakan kejujuran dari kegelisahannya mengenai imajinasi Indonesia ke depan.

Reza Rahadian (kiri) dan Anies Baswedang (tengah) pada Kongres Diasporan Indonesia, 1 Juli, di Jakarta. [Antara]
Sebaliknya, sikap jujur mengenai tindakan intoleransi yang terjadi saat kampanye Pilkada DKI Jakarta justru tidak diungkapkan dan diakui oleh Anies Baswedan, Gubernur terpilih DKI Jakarta, yang mempopulerkan tenun kebangsaan, dan lulusan doktor bidang politik dari Amerika Serikat saat satu forum dengan Reza tersebut.

 

Ia bahkan menganggap bahwa tindakan intoleransi itu merupakan fenomena yang terjadi di dunia, bukan hanya di Indonesia. Lebih khusus, tindakan intoleransi itu semata-mata hanya terjadi di dunia maya. Sementara dalam realitasnya itu tidak terjadi apa-apa.

Bahkan, dalam kesempatan berbeda, saat bertemu dengan Obama, Anies menganggap tindakan intoleransi itu semata-mata bukan tidak terjadinya penghargaan dan penghormatan antara satu sama lain, melainkan juga terjadinya ketimpangan. Dengan kata lain, menguatkan toleransi, bagi Anies, harus juga menguatkan kesetaraan (Kompas.com, 2 Juli 2017).

Namun, di sini, ada satu hal yang luput dari ucapan Anies tersebut. Di atas kertas ucapan itu sangat menarik dan manis untuk didengarkan. Secara praktik di lapangan, apa yang diucapkan justru bagian dari seleksi tindakan dan ingatan.

Sebagaimana diketahui, selain melakukan kampanye menyuarakan kebencian di masjid-masjid Jakarta untuk mempengaruhi publik tindak memilih Ahok dengan menggunakan sentimen agama, Anies dan tim pemenangannya mendekatkan diri kepada kelompok-kelompok yang justru kerap melakukan tindakan intoleransi. Mobilisasi massa untuk melakukan ujaran kebencian dengan memanfaatkan ruang publik yang memperburuk wajah intoleransi di tengah konservatisme agama yang semakin menguat.

Dengan demikian, dari kedua sosok tersebut, ada satu hal yang saya dapatkan pelajaran mengenai intoleransi. Meskipun seorang aktor dan memainkan pelbagai peran pura-pura, baik antagonis dan protagonis, Reza menunjukkan kejujuran dan kegelisahan sebagai individu bagian dari warga Indonesia mengenai tindakan intoleransi yang terjadi akhir-akhir ini. Dampak intoleransi tersebut tidak hanya berbahaya untuk keluarganya, melainkan juga bangsa Indonesia secara luas.

Di pojok lain, meski lulusan doktor ilmu politik Amerika Serikat, mantan Rektor Paramadina (institusi pendidikan tinggi warisan pengetahuan Islam moderat, dikembangkan Nurcholish Majid), dan sosok yang mempopulerkan tenun kebangsaan, Anies Baswedan menunjukkan kapasitas dan kemampuannya sebagai seorang aktor yang bisa berpura-pura menunjukkan kepada publik bahwa semua baik-baik saja.

Di tengah itu, ia mengajarkan secara retoris bagaimana mempraktikkan toleransi yang benar di Indonesia.

Komentar anda