Haruskah HMI Bubar? [Renungan 70 Tahun HMI]

2683

YAKUSA-hmiHari ini, 5 Februari 2017, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menginjak usia ke-70 tahun. Maka, menjadi sah bila berdirinya salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini laik dijadikan momen sejarah bangsa. Pada awal kemerdekaan, HMI merupakan wadah para mahasiswa yang berada di garis terdepan demi mempertahankan kemerdekaan.

Pada saat itulah perhatian seluruh lapisan masyarakat mulai terfokus pada organisasi gagah yang bernama HMI. Praktis, pada saat Orde Baru berkuasa, HMI menjadi sangat berjaya. HMI menjadi organisasi hidup dengan kader-kader militan, meski tanpa dukungan dana melimpah dari para seniornya.

Pendiri HMI, Lafran Pane, mungkin juga tidak akan menduga bahwa HMI suatu saat di masa Orde Baru akan melahirkan pemikir besar yang berhasil membuka pintu pembaharuan di Indonesia. Sosok yang bernama Nurcholish Madjid atau lazim dikenal sebagai Cak Nur. Pada tataran lingkungan akademis, siapa yang tidak mengenal Cak Nur sebagai tokoh pembuka pintu ijtihad di Indonesia? Cak Nur adalah satu-satunya kader HMI yang daya hidup dan daya matinya semakin tahun semakin memancar di Indonesia.

Tatkala Cak Nur beserta kader-kader HMI lainnya pada 1969 merumuskan dokumen organisasi yang disebut dengan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), hal itu merupakan bukti betapa gagasan sangat dijunjung tinggi di tubuh HMI pada masa ini. Sesuatu yang disebut NDP inilah yang kemudian hari berhasil menyulut dialektika kader HMI dalam berpikir dan bertingkah laku.

Ketika itu Cak Nur menyampaikan ide pembaharuannya pada 1970 dengan topik “Keharusan Pembaharuan Pemikiran dalam Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa kaderisasi pada masa Orde Baru meletakkan intelektualitas sebagai ruh perjuangan. Sebagai konsekuensinya, muncul pergolakan pemikiran dalam tubuh HMI seperti perbedaan pendapat dan penafsiran mengenai kondisi umat Islam Indonesia ketika itu.

Bahkan, pergolakan pemikiran juga menyebar di luar HMI. Cak Nur bersama HMI berhasil membuat “kegaduhan dan perang intelektual” dalam banyak lingkaran akademis negeri ini. HMI secara tidak langsung pantas disebut sebagai organisasi mahasiswa pertama yang menghidupkan tradisi intelektual akademis di Indonesia.

Budaya Diskusi vs Lobi Melobi
Pengujung malam mulai usai. Matahari bersiap kembali menepati janjinya menyinari bumi. Pada saat itulah saya merasa harus menghentikan diskusi yang telah dimulai sedari pukul 10 malam, untuk sementara. Diskusi akan kami lanjutkan kembali pada hari pagi.

Cak Nur pernah bercerita bahwa semasa di HMI ia sering pergi-pulang dari Ciputat ke Yogyakarta hanya untuk berdiskusi. Setidaknya semangat ini masih bertahan meski hanya dalam momen pelatihan formal HMI. Pada perhelatan latihan, warga HMI bahkan sanggup menghabiskan belasan jam berdiskusi hanya demi mengupas satu materi. Satu-satunya hal yang bisa menghentikan diskusi HMI hanya ketika sudah mendengar dua suara panggilan: panggilan perut dan panggilan senior.

Sambil menghabiskan makanan di luar forum, saya mendengar percakapan antara seorang senior yang sedang mengunjungi adik-adiknya yang tengah menunaikan Latihan Kader.

“Kenapa dana dari senior calon gubernur enggak cair?” tanya sang senior memulai percakapan.

“Maaf, Bang, komisariat kita dinilai lebih pro sama lawan politiknya,” jawab sang kader yang merupakan ketua komisariat.

“Abang, calon gubernur itu calon kuat saat ini dan kemungkinan besar akan menang. Kalau dia menang, ke depannya akan dapat banyak proyek, dan senior-senior yang lain juga dapat posisi strategis. Harusnya kalian bisa baca peta begini dong,” ujar sang senior.

“Lobi melobi seperti itu seharusnya mudah, kalian beri saja panggung di pelatihan, kemudian minta dia menyampaikan materi. Kalau masih tidak mau, tinggal kalian ancam demo dengan ratusan massa. Selesai itu…” pungkasnya.

Pascareformasi, para senior HMI berhasil tampil gemilang di dunia politik. Mulai dari wakil presiden, pemimpin lembaga negara, deretan menteri, merupakan jabatan yang pernah “dikuasai” HMI. Bahkan salah satu kader HMI, Anas Urbaningrum, jika tidak tiba-tiba terkena skandal Hambalang, dipastikan menjadi kandidat kuat Presiden RI.

Beriringan dengan meningkatnya prestasi-prestasi alumni HMI dalam bidang politik ini, muncul semacam budaya baru di kalangan kadernya. Budaya diskusi yang dulu digaungkan seketika tersingkirkan dengan kebiasaan baru yang akhirnya disebut dengan lobi-melobi ini. Diskusi sudah hilang, kecuali hanya dalam forum pelatihan formal. Sisanya, kaderisasi dalam hal teknik lobi. Semakin tinggi tingkat jabatan kader di HMI, semakin tinggi pula kualitas dan pengetahuanya dalam teknik melobi.

Kalau kebetulan sedang menganggur, bukan baca buku yang harus dilakukan, tapi telepon saja Kakanda, “Apa perintah Kakandaku.” Kalau tidak ada perintah tinggal telepon saja kakanda yang lain, “Kakanda, adinda siap menggerakkan seratus massa, apa perintah?”

Boro-boro Intelektualitas

cak nurCak Nur bahkan pernah melihat langsung betapa nafsu akan jabatan politik kian kentara dalam tubuh HMI. Cak Nur bercerita betapa ia kecewa dan sedih ketika suatu saat berkunjung ke Ambon, jauh sebelum peristiwa kekerasan terjadi di sana. Katanya, seorang alumni HMI yang ada dalam jajaran birokrasi daerah menceritakan dengan bangga, bahwa hampir 90 persen kalangan birokrasi Ambon telah diambil alih oleh “kita”.

Cak Nur sedih dan kecewa karena, menurutnya, pendekatan itu sangat tidak arif. Sebab, hanya akan menyulut kecemburuan sosial. Seperti sebuah nubuat, ramalan Cak Nur itu kemudian menjadi kenyataan.

Virus semacam ini mengakar pada seluruh lapisan HMI. Termasuk di HMI Ciputat, pusat budaya diskusi HMI pernah digaungkan. Saat ini diskusi memang sering terlihat, tapi hanya dilakukan atas dasar perintah senior. Gelaran diskusi memang sering terpampang di lembaran iklan kampus, tapi itu dilakukan hanya demi menyediakan panggung pada para senior.

Undangan diskusi memang disebarkan secara luas, tapi hanya dilakukan demi mengambil hati para mahasiswa baru agar masuk bergabung dan ikut berorganisasi.

Meneladani senior yang dinilai sukses tentu tidak salah. Hal itu sangat baik apabila tanpa didasari dengan harapan mendapat dana atau jabatan. Harapan-harapan semacam inilah yang membuat HMI terikat, tidak merdeka atau terbelenggu. Pola demikian menjadikan hubungan kader dengan senior tidak jauh berbeda dengan hubungan manusia dengan tuhan: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Akibatnya, alih-alih menjadikan intelektualitas sebagai ruh perjuangan, HMI hari ini malah kehilangan daya kritis dan pemikirannya. Hal yang tersisa hanyalah nafsu politik semata.
Aduh Cak Nur, betapa tanpamu, HMI semakin gila jabatan. Kalau begini sepertinya perkataan Anda ada benarnya, “Mungkinkah HMI harus bubar?”

HMI dan Tugas Mahasiswa
Sebagai kader HMI, saya merasa bangga melihat ketahanan HMI hingga usianya mencapai 70 tahun. Meskipun dalam beberapa hal organisasi ini juga patut dikritisi sedemikian rupa. Kritik adalah sebuah keharusan. Kritik mencerminkan suatu gerak dialektis.

Bagi sebuah organisasi seperti HMI, kritik menjadi cermin agar selalu berkaca diri demi melihat bagian-bagian yang harus diperbaiki dan dipertahankan. Dengan begitu, semangat HMI selalu sejalur dengan semangat kemodernan tanpa harus meninggalkan nilai-nilai Keislaman dan Keindonesiaan sebagai haluan dasarnya.

Rentetan kisah perjalanan HMI, di sisi lain, juga menyiratkan bahwa menjadi mahasiswa tidak semudah yang dibayangkan khalayak umum: kuliah, tugas kuliah, nilai bagus, kemudian lulus sebagai pemburu pekerjaan.

Sistem pendidikan kita memang sedikit banyak telah menyerap spirit yang praktis ini. Dari bangku sekolah hingga bangku kuliah, capaian anak didik atau mahasiswa selalu diukur dengan angka. Parahnya, ukuran itu sering dianggap sebagai tolok ukur satu-satunya dan paling absah.

Banyak mahasiswa yang kemudian menggadaikan kemanusiaannya demi memperoleh angka mewah. Ujian tidak jujur, tugas kuliah plagiat, dan atau belajar semalaman hanya demi lolos ujian. Padahal, apa yang istimewa dari angka?

Nilai yang ada dalam satuan angka-angka jelas tidak memadai untuk mengukur sisi terdalam mahasiswa. Angka hanya mengukur apa yang tampak, yang kasat mata. Sementara mahasiswa punya arus subjektivitas yang luar biasa dalam dan besar. Sisi religiusitas, spiritualitas, dan sensibilitas kemanusiaan, misalnya, sulit terjangkau oleh angka-angka ini.
Apakah HMI kini mampu memberikan sisi-sisi yang tidak terjangkau oleh angka ini?

Berproseslah dan ber-HMI-lah secara utuh. Bermahasiswa dalam kacamata HMI adalah proses mengenal diri menjadi sebenar-benarnya insan. Sebagaimana tujuan HMI: Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala.

Komentar anda