OUR NETWORK

Livi Zheng Menjawab (Bagian 4)

1) Materi Berita yang berbunyi “Ada ‘Tokoh’ Kemayoran Di Belakang Livi Zheng” (https://geotimes.co.id/komentar/tokoh-kemayoran-di-belakang-livi-zheng/) untuk menghakimi dan menjatuhkan reputasi Livi Zheng. Padahal dalam tulisan ini tidak sepotong kalimatpun dikonfirmasikan kepada Livi Zheng dan keluarganya. Di sini terlihat jelas Geotimes menyajikan berita tidak akurat, tidak uji informasi, tidak berimbang, menghakimi dan menyebarkan kebohongan dengan tujuan menjatuhkan nama baik Livi Zheng.

2) Kutipan Berita : ”Tokoh kita rajin mengabarkan prestasi internasionalnya ke media-media massa. Media membagikan kepada publik apa saja yang mereka terima dari tokoh kita, tanpa sikap kritis dan tanpa reserve, seolah-olah mereka hanya meneruskan sabda yang diturunkan dari langit, seolah-olah tokoh kita adalah makhluk suci yang tidak mungkin mengabarkan dusta.”

Klarifikasi

Geotimes mencurigai tokoh-tokoh kita yang tampil mengabarkan prestasi internasional mereka kepada publik melalui media-media masa sebagai kabar yang seakan-akan tidak bisa dipercaya. Padahal masyarakat kita sudah kritis, tidak menerima kabar begitu saja. Dan, tentu saja tidak semua tokoh bisa disamaratakan tentang sikap kejujurannya dalam menyampaikan informasi kepada publik. Livi Zheng tidak punya karakter untuk membodohi masyarakat. Apa yang disampaikan Livi benar sesuai fakta dan juga apa yang dikerjakannya di dalam dunia perfilman di Amerika.

3) Kutipan Berita : ”Ia juga mendatangi para pejabat negara sambil membawa juru kamera dan meminta endorsement. Para pejabat publik senang hati memuji karyanya di depan kamera. Mereka mengajak kita menonton karya anak bangsa. Tokoh kita terus melambung. Ia menjadi pujaan orang banyak. Ia ditunjuk pula sebagai teladan cinta tanah air, anak muda yang mengguncang dunia, dan ikon Pancasila.

Klarifikasi

Sudah sewajarnya pejabat pemerintah memberikan dukungan pada anak muda yang punya karya dan berdampak pada citra baik bangsa Indonesia. Apalagi film yang dibuat Livi menceritakan tentang kebudayaan Indonesia yang dapat mengangkat citra baik Indonesia di mata dunia dan mendorong wisatawan mancanegara untuk masuk Indonesia. Livi tidak tiba-tiba datang ke instansi pemerintah dan kampus-kampus, serta sekolah-sekolah di Indonesia, akan tetapi lebih banyak karena undangan.

4) Kutipan berita : ”Seorang wartawan film yang condong kepada tokoh kita menyebut tulisan anda sebagai surat kaleng. Tokoh kita menyebut tulisan anda sebagai hoax. Beberapa wartawan lain mengamini ucapan tokoh kita dan ikut mengabarkan kepada publik bahwa tulisan anda adalah hoax. Padahal mereka adalah orang-orang yang akrab dengan “sumber berita yang ogah disebutkan namanya” dan sekali waktu mungkin pernah berhubungan dengan sumber semacam itu. Padahal mereka tahu bahwa nama samaran adalah hal yang lumrah dalam penulisan.

Klarifikasi

Nama penulis Limawati Sudono bukan menggunakan nama samaran, tetapi jelas-jelas menggunakan nama dan foto palsu atau bohong karena mengambil foto Woodlawn Jane Doe (https://foxbaltimore.com/news/local/4-decades-later-identity-of-woodlawn-jane-doe-remains-a-mystery), orang yang telah meninggal dunia. Pemakaian nama samaran berbeda dengan pemakaian nama palsu atau bohong yang diambil dari identitas orang yang telah meninggal dunia. Pemakaian nama palsu atau bohong dari orang yang telah meninggal dunia seakan-seakan orang yang telah meninggal dunia tersebut masih hidup dan mampu membuat tulisan jelas bukan merupakan masalah yang lumrah. Lebih jauh hal ini menunjukkan bahwa si penulis aslinya sejak awal sudah memiliki itikad buruk yakni berbohong, memakai foto dan nama orang yang telah meninggal dunia dan jelas merupakan tindakan yang melanggar pasal 1 dan pasal 2 Kode Etik Jurnalistik yang melarang wartawan Indonesia memiliki itikad buruk serta wartawan Indonesia harus menunjukkan identitas diri kepada nara sumber.

5) Kutipan Berita: “Anda sekarang mulai menemukan titik terang mengenai hal yang sebelumnya membuat anda penasaran, yaitu tentang keterlibatan Livi dalam serial Laksamana Cheng Ho.

Klarifikasi

Tulisan mengenai Laksamana Cheng Ho yang dimuat dalam artikel Geotimes  Meneliti Livi Zheng Bagian 1, Bagian 2, dan Bagian 2.5 sama sekali tidak akurat. Hal ini bisa dilihat di tulisan bagian 1 pada https://geotimes.co.id/komentar/meneliti-livi-zheng-bagian-1/, pada bagian 2 https://geotimes.co.id/komentar/livi-zheng-bagian-2/, pada bagian 2.5 https://geotimes.co.id/ komentar/livi-zheng-bagian-2-5/.

Livi lahir pada tahun 1989. Livi disebut Geotimes terlibat dalam pembuatan film Laksamana Cheng Ho ketika berusia 15 tahun, padahal Livi sebenarnya ikut berperan jadi salah satu pemain dalam film tersebut di usia 18 tahun. Ini salah satu contoh ketidakakuratan Geotimes dalam menyampaikan informasi tentang keterlibatan Livi dalam Laksamana Cheng Ho.

Selebihnya dalam berita/artikel ini, Geotimes banyak mengulas tentang keluarga Livi yang tidak ada kaitannya dengan karier dan reputasi Livi, bahkan tidak pernah dilakukan konfirmasi kepada Livi maupun keluarganya, sehingga informasi yang disampaikan jelas tidak teruji kebenarannya, merupakan fitnah dan kebohongan, dengan tujuan mendiskreditkan Livi dan keluarganya. Dengan demikian jelas bahwa Geotimes mempunyai niat buruk. Kami tidak tahu agenda di balik penulisan Geotimes yang menyerang Livi dan keluarga tanpa mengindahkan hukum pers dan kode etik Jurnalistik.

 

Hulman Jufri Oktario Simatupang
Kuasa Hukum Livi Zheng.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…