Rabu, Januari 27, 2021

Surat Edaran Kapolri: Antara Ujaran Kebencian dan Kritik

Sertifikasi Kayu Legal demi Hutan yang Lestari

Siang dua pekan lalu itu matahari terasa sangat menyengat. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, namun para pengrajin kayu itu masih giat bekerja. Mereka dengan...

Facebook, Zuckerberg, dan Filantropi Kapitalis

Kapitalisme welah-asih atau welfare state? Awal Desember lalu, Mark Zuckerberg, bos Facebook, memberitahu dunia tentang Maxima, anak perempuannya yang baru lahir melalui sepucuk surat elektronik...

Belajar dari Tragedi Paris

Ayaan Hirsi Ali, seorang pseudo intelektual muslim, beberapa waktu lalu menulis artikel provokatif yang berjudul Islam Is a Religion of Violence. Tulisan yang dimuat...

Seribu Satu Masalah Waduk (I)

  Laporan Utama The GeoTimes Magazine, vol. 1 No. 46 (16-22 Februari 2015) Pembangunan fisik Waduk Jatigede selesai. Sejumlah desa bakal ditenggelamkan. Padahal, warga menolak direlokasi,...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memberikan keterangan kepada media terkait kasus pembakaran gereja Aceh Singkil di Rumah Dinas Kapolri, Jakarta, Selasa (13/10). Kapolri mengatakan pihaknya akan mengusut tuntas kejadian tersebut serta mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama/15
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memberikan keterangan kepada media terkait kasus pembakaran gereja Aceh Singkil di Rumah Dinas Kapolri, Jakarta, Selasa (13/10). Kapolri pada 8 Oktober lalu mengeluarkan surat edaran mencegah meluasnya ujaran kebencian. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay.

Bertahun lalu, setelah Satanic Verses diluncurkan, Salman Rusdhie mendapatkan fatwa mati. Penulis keturunan India itu dipaksa bersembunyi karena karyanya dianggap menghina ajaran umat Islam. Hari ini Rusdhie masih hidup dan ia masih konsisten dengan ide-ide kebebasan berpendapat. Ketika Salman Rusdhie dianggap melakukan penistaan agama, Ayatullah Khomeini lantas mengeluarkan fatwa mati untuknya. Rusdhie dianggap sosok yang merepresentasikan kebebasan berekspresi. Tapi benarkah demikian?

Rusdhie juga salah satu sosok yang membela keberadaan Charlie Hebdo, majalah satir yang terang-terangan menghina banyak agama dan keyakinan. Rusdhie sebenarnya tengah menikmati iklim kebebasan berpendapat seraya melakukan serangan kebencian kepada Islam. Ia, bagi saya, seperti benalu, menyamarkan kritik dengan kebencian dan menikmati kebebasan berpendapat sebagai kebebasan memaki. Belakangan kita dihadapkan pada pilihan, apakah kebebasan berpendapat memiliki batasan?

Di Indonesia, tema hate speech atau ujaran kebencian menjdi perbincangan menarik. Kepolisian Republik Indonesia mengeluarkan surat edaran terkait ujaran kebencian. Hal ini seperti lampu kuning bagi masyarakat, terutama mereka yang menggunakan internet untuk lebih berhati-hati dalam berpendapat di ruang publik, khususnya di jejaring media sosial.

Dalam Surat Edaran Nomor SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech) yang ditandatangani Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti pada 8 Oktober 2015 itu, jejaring media sosial menjadi salah satu sarana yang dipantau terkait penyebaran ujaran kebencian ini. Tapi apakah sebenarnya ujaran kebencian itu? Dan bagaimana kita mengidentifikasinya?

Damar Juniarto, pegiat Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet), menyebut bahwa ujaran kebencian merupakan ancaman untuk kebebasan berekspresi. Ia menyaru dalam bentuk kritik, namun pada dasarnya hendak menjatuhkan dan menyebarkan ancaman.

Menurut Damar, tingkatan ujaran kebencian bisa mulai dari pelecehan terhadap identitas rasial, menghasut untuk melakukan tindakan kriminal, sampai mengajak orang untuk menyakiti /membunuh orang lain. Pada tataran yang paling ringan, ujaran kebencian bisa merupakan perkataan, seruan yang didasari oleh rasa tidak suka dengan tendensi merendahkan dan ajakan untuk melakukan tindakan kekerasan.

Beberapa bulan terakhir banyak sekali postingan di media sosial yang menunjukan gejala ini. Beberapa netizen mengekspresikan kebenciannya dengan ujaran melakukan kekerasan karena sentimen ras. Kekerasan itu diutarakan dalam bentuk memperkosa dan menyembelih orang yang ia benci karena rasnya. Fenomena ini, menurut Damar, bukanlah bentuk kebebasan berekspresi melainkan upaya melegitimasi tindakan kekerasan melalui ujaran kebencian.

Dalam beberapa hal, ujaran kebencian berusaha dibenarkan dengan banyak hal. Misalnya kondisi politik yang tidak menentu, alasan ekonomi yang timpang atau tingkat pendidikan yang rendah. Beberapa ujaran kebencian kerap dilakukan oleh orang yang berpendidikan. Bukan tidak mungkin seorang profesor merendahkan seseorang berdasarkan identitas rasnya, lantas menyerukan ajakan untuk melakukan makar kepada pemerintah yang sah.

Untuk itu, penting adanya edukasi tentang literasi media digital. Lawrence Lessig dalam Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas menyebut literasi media sebagai kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Dengan kemampuan ini masyarakat sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Literasi media digital juga perlu diperkenalkan kepada generasi muda agar dapat memahami aturan-aturan yang semestinya dilakukan ketika menggunakan jejaring media sosial dalam menyampaikan pendapat atau ketidaksukaan pada suatu hal. Publik juga perlu diedukasi untuk dapat membedakan antara kritik dan ujaran kebencian. Mempertanyakan kinerja pemerintah terhadap suatu masalah bukanlah ujaran kebencian. Tapi menyerukan untuk menyakiti dan membunuh pejabat pemerintah karena sentimen suku, agama, ras, etnis, dan golongan adalah bentuk ujaran kebencian.

Selain yang disebutkan tadi, kebencian dan tendensi merendahkan berdasarkan warna kulit, gender, kaum difabel, hingga orientasi seksual juga menjadi perhatian dalam surat edaran yang berkaitan dengan ujaran kebencian ini. Langkah pemerintah bisa jadi tepat untuk menangani persoalan ujaran kebencian ini yang makin hari makin meresahkan. Namun pemerintah juga perlu berhati-hati agar tidak membungkam kebebasan berpendapat warganya.

Pers dalam hal ini juga rentan menjadi kelompok yang akan terbungkam jika pemahaman tentang ujaran kebencian dimaknai secara gegabah. Namun Surat Edaran Kapolri ini juga bisa menjadi sangat efektif untuk mencegah atau setidaknya menghentikan sepak terjang media abal-abal yang kerap menyerukan kebencian. Bukan rahasia lagi beberapa media yang berlabel agama kerap melakukan seruan kebencian dan konstruksi negatif terhadap kelompok-kelompok minoritas di Indonesia.

Media ini kerap menggunakan isu agama untuk menyebarkan kebencian dan berita yang tidak benar.  Beberapa media tadi kerap menyebarkan berita tanpa verifikasi atau berdasarkan sumber yang tidak kredibel. Penyebaran media semacam ini seperti bensin dan api. Beberapa pembaca menerima kebenaran berita-berita kebencian sebagai sesuatu yang terberi. Padahal, dalams suatu berita, kerja-kerja verifikasi independen merupakan hal mutlak untuk menjamin bahwa informasi yang disajikan media bersifat kredibel. Dan verifikasi itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlatih dan paham etika jurnalisme, yaitu wartawan profesional.

Beberapa orang di media sosial berpendapat, dengan adanya surat edaran ini akan ada pembatasan ruang berekspresi. ­­ Frank La Rue dari Special Rapporteur on the promotion and protection of the right to freedom of opinion and expression, menyebutkan bahwa hukum semestinya melawan seruan kebencian dengan sangat hati-hati. Menurut La Rue, hukum memang diperlukan dalam memerangi seruan kebencian, namun juga harus memahami kebijakan kebebasan berpendapat dan dapat membedakan mana yang kritik dan mana yang ancaman.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.