Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Sertifikasi Kayu Legal demi Hutan yang Lestari

Menikam Papua dengan Beras

Mei lalu, seusai panen padi di ladang milik MEDCO-Arifin Ponogoro, Presiden Joko Widodo berjanji akan mencetak sawah baru di Kabupaten Merauke. Di lokasi ini,...

Gonjang-Ganjing Setrum 35 Ribu MW (2 – Habis)

Keberadaan regulasi yang tumpang tindih membuat kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pembangkit panas bumi, hidro atau angin--yang diharapkan dapat menyumbang terhadap 25% atau 8,7 ribu...

Untuk Jokowi tentang Bela Negara

Pak Presiden Jokowi, saya sejujurnya suka dan oke saja dengan program baru yang diusung oleh pemerintahan Anda: Program Bela Negara. Cuma, ada beberapa kegelisahan...

Gubernur Ahok dan Metromini

Desember 2015, PT Metromini—perusahaan bus ukuran menengah di Jakarta—membuat berita. 6 Desember bus Metromini B 80 (Grogol-Kalideres) nyelonong melewati pintu perlintasan kereta yang sedang...
Avatar
Adisty Primatya
Jurnalis GeoTimes dan peminat isu-isu keberlanjutan

Sejumlah pekerja menaikan kayu jati di Benculuk, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (17/11). Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menyebutkan, Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) oleh kementrian Lingkangan hidup dan Kehutanan terkendala kurangnya sosialisasi pemerintah daerah. ANTARA FOTO
Sejumlah pekerja menaikkan kayu jati di Benculuk, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (17/11). Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menyebutkan, penerapan SVLK oleh Kementrian Lingkangan Hidup dan Kehutanan terkendala kurangnya sosialisasi pemerintah daerah. ANTARA FOTO

Siang dua pekan lalu itu matahari terasa sangat menyengat. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, namun para pengrajin kayu itu masih giat bekerja. Mereka dengan tekun mengukir batang kayu dan membentuknya menjadi pipih agar dapat direkatkan pada sebuah kain. Para pengrajin yang terampil itu bekerja di sebuah industri kecil menengah (IKM) yang memproduksi karya seni berbahan dasar kayu di kawasan Bantul, Yogyakarta.

Bisnis industri kayu saat ini memang kian menjanjikan. Pada 2014, Kementerian Kehutanan mencatat nilai ekspor produk kehutanan Indonesia mencapai hingga US$ 3,2 miliar pada semester pertama. Maka tak heran jika bisnis kayu tumbuh dengan pesat. Pasar ekspor sektor ini juga semakin meluas. Jika sebelumnya pasar ekspor didominasi oleh Asia, kini produk kehutanan Indonesia telah berkembang hingga Uni Eropa. Bahkan pada 2014, pasar Uni Eropa menjadi pasar ekspor kedua setelah Asia.

Dalam perluasan itu, sistem penjaminan legalitas usaha dan legalitas kayu menjadi salah satu penopangnya. Beberapa negara yang tergabung di Uni Eropa telah berkomitmen hanya akan menerima produk ekspor kayu yang telah mengantungi sertifikasi legal. Alhasil, para penggiat industri kehutanan akhirnya berlomba-lomba untuk mengantongi sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).

SVLK yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kehutanan itu disambut positif oleh banyak pihak. Sistem sertifikasi legal itu dinilai menjadi langkah berani dan komitmen yang tegas dari Indonesia untuk menjamin industri kehutanan yang lestari. Berbagai keuntungan yang didapatkan dari penerapan SVLK menjadi alasan utamanya. Salah satunya adalah pengurangan risiko penebangan kayu ilegal.

Selama ini kekayaan hutan Indonesia kerap dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan menebang kayu secara ilegal. Data Badan Pemeriksa Keuangan pada 2012 menyebutkan negara mengalami kerugian hingga Rp 31 triliun setiap tahun akibat praktik illegal logging.

Rumekso Setiadi, salah satu pengelola industri kayu di daerah Bantul, Yogyakarta, mengamini keuntungan dari SVLK. Walau belum merasakan dampak peningkatan omzet dari SVLK, manajemen IKM miliknya yang sejak April 2015 telah mengantungi SVLK kini lebih tertata dan sistematis. “Dampaknya cukup positif pada manajemen kami. Produk kami kini juga lebih mudah mengikuti pameran produk di luar negeri,” ungkap Rumekso.

Namun dalam pelaksanaannya Rumekso tidak seorang diri. Biaya tinggi yang mencapai Rp 40 juta dan alur yang rumit merupakan alasannya. Tak hanya itu, mereka yang berminat melakukan sertifikasi juga harus siap berhadapan dengan sederet dokumen yang harus diurus. Alhasil, industri kecil menengah miliknya dibantu oleh salah satu lembaga pengembang sistem sertifikasi sukarela. Ia didampingi Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dengan mitra daerahnya, ARuPa Yogyakarta, untuk mengantongi sertifikasi kayu legal.

Hayu Wibawa, Koordinator Proyek LEI, mengatakan bahwa bantuan yang disalurkan kepada IKM dilakukan untuk penerapan konsep hutan yang lebih lestari. “Berbagai upaya turut dilakukan untuk mendorong pengelolaan hutan rakyat yang baik, agar selanjutnya dapat ikut mempromosikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologisnya,” kata Hayu.

Namun, dengan segala manfaatnya, SVLK justru diabaikan oleh pemerintah. Padahal Peraturan Menteri Perdagangan tentang Ketentuan Ekspor Produk Kehutanan yang telah ditandatangani pada 19 Oktober 2015 menyatakan bahwa industri kecil dan menengah dapat mengekspor produknya hanya dengan menggunakan deklarasi ekspor. Walhasil, ketentuan tersebut menunda kedisiplinan penerapan SVLK oleh pelaku bisnis karena mereka kini diperbolehkan untuk mengekspor produknya hanya dengan dokumen deklarasi ekspor tanpa batas waktu.

Peraturan itu juga mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Koalisi Pemantau Independen Kehutanan. Koalisi ini menilai Kementerian Perdagangan tidak pro terhadap pelestarian hutan di Indonesia karena tidak konsisten mendukung pelaksanaan SVLK. Pemerintah juga dinilai hanya memandang SVLK sebagai instrumen ekspor saja, bukan untuk mendukung konsep hutan yang lestari.

Lantas, jika benar SVLK dapat membuka peluang agar konsep hutan lestari tercipta, mengapa pemerintahan Jokowi terkesan mengabaikannya?

Avatar
Adisty Primatya
Jurnalis GeoTimes dan peminat isu-isu keberlanjutan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.