Rabu, Januari 20, 2021

Penyair dan Matinya Seorang Petani

G 30 S: Untuk Perwira Tak Simpatik

Orang-orang sering bicara kejamnya pasukan Tjakrabirawa yang menculik para jenderal pemimpin Staf Umum Angkatan Darat (SUAD).  Tapi tak pernah bertanya, Mengapa Pasukan Untung Tega...

Saat Tiran Bersekongkol

“Kami hidup di zaman tirani telah tumbang, dan ketika kami menulis, tentara (mungkin) tidak menculik kami. Kami hidup digerogoti hedonisme dan perilaku konsumtif. Kami...

Ada Apa dengan Polisi dan Buruh Kita

Dalam berbagai kesempatan demonstrasi, kadang saya mendengar beberapa orator buruh berbicara dalam nada yang simpatik terhadap pihak yang sedang dipaksa berhadapan dengan mereka. Biasanya...

Mengapa Kelas Menengah Membenci Buruh?

Hari-hari terakhir ruang publik dan ruang sosial media kita dipenuhi oleh diskusi soal hate speech terkait dengan Surat Edaran Kepolisian terkait soal ujaran kebencian....
Muhidin M Dahlan
Kerani @warungarsip, pendiri @radiobuku.

Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Senin (28/9). Mereka menuntut kepolisian mengusut tuntas serta menangkap aktor intelektual dibalik kasus pembunuhan tersebut sesuai temuan Kontras dan Walhi. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Senin (28/9). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

depan kantor tuan bupati

tersungkur seorang petani

karena tanah

karena tanah

dia djatuh

rubuh

satu peluru

dalam kepala

 

Larik puisi di atas bukan puisi yang dibuat pekan ini ketika orang banyak geger dan marah oleh kematian seorang petani di Lumajang. Salim “Kancil”, nama si petani yang mati dijagal di Balai Desa karena memperjuangkan tanah dan lingkungannya dari kerusakan yang dibikin korporasi yang bersekutu jahat dengan kapbir, aparat desa, dan tukang pukul.

Penggalan puisi di atas adalah puisi yang ditulis tahun 1961 oleh Agam Wispi dengan judul “Matinja Seorang Petani”, yang kemudian dijadikan judul buku antologi oleh penerbit Bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat. Artinya, puisi di atas sudah berumur setengah abad lebih, tapi suaranya masih seperti di pekan terakhir September ketika desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, berada dalam bara ketegangan.

Buku antologi puisi ini adalah karya sajak terbaik yang menjadi tonggak persekutuan penyair dengan petani-petani malang di mana pun di pojok Nusantara ini. Ia tak hanya mewacanakan, tapi dengan bahasanya yang khas, menjadi nubuat bahwa di mana pun petani adalah rantai paling malang dalam ekosistem masyarakat.

Sehebat-hebatnya Sukarno mewacanakan marhaenisme sebagai ideologi ke mana pembangunannya berpihak dan menyorong petani sebagai sokoguru Revolusi, justru petani yang berada di bawah dengan tanah yang tak seberapa hidup dalam situasi yang was-was dan awas. Dan buku protes ini lahir dari keresahan kolektif di masa ketika Sukarno berdiri tegak di podium Demokrasi Terpimpin.

Artinya, asuransi terhadap nyawa petani begitu rapuh, bahkan ketika Sang Guru Revolusi bertakhta! Apalagi Sukarno meninggalkan dua bom atom yang kemudian memusnahkan petani-petani keras kepala di tahun 1965: UU Pokok Agraria dan UU Pembagian Hasil. Keduanya seperti umpan yang dilempar ke sawah-sawah petani, diambangkan, dan menjadi sengketa yang berakhir pada plot pembantaian massal yang tahun ini berusia 50 tahun separuh abad.

Penembakan dan keresahan petani di Bandar Betsy, Tanjungmorawa, Binjai, Klaten, Boyolali, hingga Wates dijadikan bahan baku oleh penyair-penyair Lekra untuk mengingatkan dan menubuatkan bahwa petani tak boleh berharap pada siapa pun selain keyakinan sendiri untuk memperjuangkan hak-hak atas tanah dan hidupnya.

Penyair Lekra adalah penyair yang dimaksudkan Njoto telah selesai menentukan pilihan: yang membawakan sesuatu yang menguntungkan Rakjat atau yang membawakan sesuatu yang merugikan Rakjat, yang membawakan sesuatu yang menjokong kemerdekaan atau yang membawakan sesuatu yang merintangi kemerdekaan (Harian Rakjat, 1 Maret 1958).

Puisi penyair yang memilih “membawakan sesuatu yang menguntungkan Rakyat” itu adalah “seni kenjataan dan kebenaran, artinja puisi itu harus didasarkan pada realitet dan berisi pikiran2 yang benar, bukan sensasi2 palsu. Realitet dalam puisi adalah lawan dari yang dibuat2 (di edjan2, artifisial), jg palsu” (Harian Rakjat, 11 Mei 1963.

Puisi yang bersandar pada realitet  salah satunya adalah puisi yang memesrai perjuangan petani. Mereka berada dalam barisan panjang perlawanan petani yang membela hak-haknya, sebagaimana tersirat dari puisi Amarsan Ismail Hamid, “Seorang petani kepada anaknja”, (1963: 12):

“inilah tjerita padamu sebelum tidur/ kau jang dilahirkan dan akan mentjintai/ gunung, laut, pantai dan njiur/ dan segala milikmu ini/ itulah tanahair jang melahirkan/ pahlawan, pedjuang2 jang berbaris/ dari pulau kepulau/ mempertahankan kebenaran/ dan kau sendiri akan turut berlawan, pasti/ karena kau dihidupi disini/ diatas tanah.”

Dalam sengketa itu, petani mesti bersiap berhadapan dengan: “besi2 traktor” (penggusuran), “kuntji2 pendjara” (penangkapan), “ruangruang pengadilan” (persidangan), dan bahkan “peluru” (kematian). “… ketahuilah, tulang2 dan otot2 kami masih keras/ djuga hati kami/ lebih keras dari besi2 traktor dan kuntji2 pendjara”, tulis Rumambi dalam “Ini Wates!” (1954).

Puisi “Ini Wates!” seperti memutar sejarah ketika kita menemukan di abad ini petani Tukidjo dan teman-temannya di Kulonprogo meringkuk dalam penjara di sebuah kota di mana puisi ini dibikin separuh abad silam.

Dalam ruang persidangan, petani mesti kuat dan tak tumbang jika mendapatkan diri kalah. Walaupun namanya peng-ADIL-an, lembaga ini tak diciptakan untuk melindungi petani, tapi melengkapi prasyarat formal Trias Politica di suatu negara yang berani menyatakan diri sebagai Republik. Penyair Amarsan Ismail Hamid dalam “Pertjakapan”, (1963: 9) menulis: “… diruangruang pengadilan, nunung/ paman dan bibibibi tani/ dibungkamkan dari tuntutan/ setapak tanah/ … / disini kami bekerdja/ disini kami hidup/ disini kami bertahan!”

Sebagaimana sudah dinubuatkan, jalan akhir dari jalan cangkul dan arit seorang petani adalah kematian. Selain puisi Agam Wispi yang saya kutip di awal, saya kutipkan puisi “Untukmu Pahlawan Tani” (1964) yang ditulis si tukang pidato dan ketua partai bernama D.N. Aidit untuk melihat bahwa ancaman kematian itu nyata di paras takdir si tani: “muka muram durja/ tuan-tanah murka/ mengepung dengan senjata/ peluru menembus disawah/ darah tertumpah merah”.

Siapakah Tuan Tanah yang “mengepung dengan senjata” yang melibas dan membunuh petani di pelbagai tempat hari ini di mana kita masih bisa susun ceritanya ke belakang dari kronik muram petani sejak buku puisi ini dikeluarkan dan sekaligus dilarang tentara beredar tahun 1962?

Penyair hanya bisa berseru: “Ditempat keringat tertumpah/ darah petani menjiram tanah/ Stop! siapa bilang merdeka menembak/ Aku jang mati hati tegak!” (S. Anantaguna, “Jang mempertahankan tanah”, 1962: 37).

Untuk bisa mengusut perkara lebih dalam, penyair tak berkutik. Mereka bukan polisi, jaksa, dan hakim; dan hakim, jaksa, polisi—apalagi tentara—umumnya bukan diciptakan untuk memesrai petani, walaupun aparatus itu kebanyakan lahir dari perkawinan ibu dan pak tani yang miskin. Mereka adalah persekutuan bulduzer pembunuh saat konflik agraria mengemuka dari masa ke masa.

Muhidin M Dahlan
Kerani @warungarsip, pendiri @radiobuku.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.