Selasa, Januari 19, 2021

Dari Kedung Ombo hingga Narmada

Waduk Jatigede Berpotensi Hancurkan Keragaman Hayati

Penggenangan Waduk Jatigede potensial menimbulkan konflik satwa dengan warga. Bentang alam Jatigede membentuk hamparan perbukitan dan diselimuti hutan, sawah, kebun, ladang beragam pohon dan buah-buahan,...

G 30 S: Untuk Perwira Tak Simpatik

Orang-orang sering bicara kejamnya pasukan Tjakrabirawa yang menculik para jenderal pemimpin Staf Umum Angkatan Darat (SUAD).  Tapi tak pernah bertanya, Mengapa Pasukan Untung Tega...

Mengapa Kelas Menengah Membenci Buruh?

Hari-hari terakhir ruang publik dan ruang sosial media kita dipenuhi oleh diskusi soal hate speech terkait dengan Surat Edaran Kepolisian terkait soal ujaran kebencian....

Ada Apa dengan Polisi dan Buruh Kita

Dalam berbagai kesempatan demonstrasi, kadang saya mendengar beberapa orator buruh berbicara dalam nada yang simpatik terhadap pihak yang sedang dipaksa berhadapan dengan mereka. Biasanya...
Avatar
Hertasning Ichlas
Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia

Warga melintasi Sungai Cimanuk yang telah mengering akibat dibendung untuk penggenangan Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, Senin (31/8). Pembendungan Sungai Cimanuk dikhawatirkan dapat menyebabkan krisis air bagi ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup dari aliran sungai, baik untuk irigasi maupun kebutuhan hidup sehari-hari terutama di musim kemarau. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/kye/15
Pembendungan Sungai Cimanuk dikhawatirkan dapat menyebabkan krisis air bagi ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup dari aliran sungai, baik untuk irigasi maupun kebutuhan hidup sehari-hari terutama di musim kemarau. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

 

Laporan Utama The GeoTimes Magazine, Vol. 1 No. 46 (16-22 Februari 2015)

Waduk raksasa dengan risiko bencana akbar.

Dalam narasi pembangunan, waduk raksasa Kedung Ombo di Jawa Tengah dan Narmada di India bukanlah kisah pembangunan yang jaya. Hingga kini keduanya menyimpan ingatan getir perlawanan rakyat melawan negara bermula di tahun 1980-an.

Tak ada syukur atau restu rakyat terhadap inisiasi pembangunan kedua waduk itu sejak awal. Penduduk di kedua wilayah itu sama-sama tidak memerlukan keberadaan waduk. Mereka merasa hidup sudah cukup diberkahi oleh air Sungai Suter dan Sungai Serang untuk Waduk Kedung Ombo dan Sungai Narmada untuk Waduk Narmada. Pembangunan waduk dianggap proyek mercusuar yang asing dan bukan untuk mereka.

Perlawanan terbesar di Kedung Ombo datang dari alasan paling asasi. Tanah dan leluhur adalah kehidupan. Mereka tak ingin sebuah komunitas turun-temurun hilang begitu saja dari situ.

Pertentangan sengit rakyat Kedung Ombo berhadapan dengan penguasa Order Baru dengan sokongan kapital Bank Dunia. Sokongan yang sama diberikan Bank Dunia pada proyek Kanal Narmada. Meskipun kemudian Bank Dunia mundur dari kedua proyek itu.

Di Kedung Ombo, Presiden Soeharto menenggelamkan 37 desa di tiga kecamatan, Grobogan, Boyolali, dan Sragen. Tanah yang subur dan lingkungan alam musnah dalam sekejap. Sekitar 6.000 keluarga kehilangan tanah dan habitat hidup akibat pembangunan waduk itu.

Lapis demi lapis kekerasan yang disponsori negara melalui aparatnya terjadi di Waduk Kedung Ombo seluas 6.575 hektare. Mereka yang menolak diculik, dianiaya, dan ditahan tanpa pengadilan. Nestapa mereka diperparah oleh korupsi ganti rugi dari janji awalnya Rp 3.000 per meter menjadi Rp 250 per meter. Hingga kini 6.000-an keluarga kehilangan hak ganti rugi.

Pendamping warga Kedung Ombo, Romo Mangun Wijaya, Romo Sandyawan, dan Kiai Hamam Ja’far, pengasuh Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, melukiskan situasi itu sebagai tragedi pembangunan dengan kebangkrutan moral. Mereka yang melawan secara instan dicap komunis sehingga absah untuk dihabisi.

Belakangan, setelah Soeharto jatuh, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menulis laporan bahwa kasus Kedung Ombo adalah salah satu kekerasan hak asasi paling serius di Indonesia dan belum terselesaikan.

Di Narmada, protes sosial serupa terlihat dengan model gerakan sosial yang lebih masif. Reproduksi bentuk-bentuk kekerasan dan pembangunan kesadaran menolak proyek Kanal Narmada tampil mendunia.

Film Drowned Out mengisahkan kelompok suku di Narmada melakukan aksi diam dan memilih tenggelam untuk menentang pembangunan waduk. Film dokumenter A Narmada Diary mengisahkan kisah epik perlawanan rakyat menuntut keadilan lingkungan bagi warga India yang terkena dampak langsung.

Medha Patkar, pemimpin perlawanan rakyat di Narmada bertajuk “Save Narmada Movement”, mengatakan, sebuah bendungan besar dibangun menggusur tanah dan ratusan ribu manusia, merusak ekosistem dan hutan untuk janji-janji pembangunan yang melawan kepentingan rakyat.

Arundhati Roy, penulis dan aktivis sosial India, dan penolak Waduk Narmada yang gigih menulis lirih dalam buku The Greater Common Good. Dia bilang bendungan raksasa, seperti halnya bom nuklir, adalah senjata pemusnah massal. Mengontrol rakyat dan melecehkan kecerdasan alam. Menghapus ekosistem yang menyambungkan telur dengan ayam, susu dengan sapi, pangan dengan hutan, air dengan sungai, udara dengan bumi tempat sebuah komunitas berpijak.

Kedung Ombo dan Narmada contoh gamblang bahwa waduk raksasa justru bukan jalan keluar. Pembangunan yang kontekstual berbasis konservasi yang mengandalkan kekuatan alam dan bertumpu pada apa yang dibutuhkan di daerah tersebut justru merupakan solusi yang lebih berkelanjutan.

Pembangunan bendungan raksasa cenderung membinasakan keragaman hayati. Padahal, ketersediaan keragaman hayati justru merupakan ciri-ciri kemakmuran dan menawarkan lebih banyak jalan kesejahteraan. Desentralisasi pembangunan seperti pangan dan energi seusai konteks dan kekuataan lokal, justru lebih menawarkan jalan sejahtera yang berkelanjutan.

Pembangunan waduk memang selalu punya alasan-alasan bagus dan mulia. Namun, belajar dari Waduk Kedung Ombo dan Narmada, waduk jelas bukan solusi memecahkan masalah manusia. Dampak sosial, ekologi, kerusakan morfologi tanah, dan persoalan hak asasi manusia telah memberikan bencana berkepanjangan.

Avatar
Hertasning Ichlas
Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.