Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Bima Arya dan Prestasi-prestasinya

Potret Buram di Sudut Tenabang

Di pinggir rel kereta api Tanah Abang, Jakarta Pusat, berjejer rumah-rumah semi permanen. Rumah-rumah itu hanya berdinding kardus, triplek bekas, dan beratapkan seng berkarat....

Saat Tiran Bersekongkol

“Kami hidup di zaman tirani telah tumbang, dan ketika kami menulis, tentara (mungkin) tidak menculik kami. Kami hidup digerogoti hedonisme dan perilaku konsumtif. Kami...

17 Tahun Tragedi Semanggi

Aku masih ingat betul ketika pertama kali menjejakkan kaki di sebuah kampus yang berdiri kokoh di bilangan Sudirman. Saat itu yang ada di pikiranku...

13 Tahun Bom Bali

Bagaimana seharusnya kita menghadapi tragedi? Apakah dengan menyimpan dendam? Menyimpan kemarahan? Atau bahkan menunjukan kebencian? Pada Bali saya belajar untuk menghadapi tragedi. 12 Oktober...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Bima Arya. Antara/Jafkhairi
Bima Arya. Antara/Jafkhairi

Pramoedya Ananta Toer, dalam satu fragmen karyanya pernah menulis, seorang terpelajar semestinya bisa adil sejak dalam pikiran. Barangkali adil adalah kata yang terlalu berat bagi mereka yang terbiasa menghakimi. Dalam banyak hal, adil berarti menyerahkan segala kenyamanan yang kita miliki, untuk kemudian ditukarkan dengan hal lain yang lebih menyusahkan.

Pengantar ini memang kepanjangan dan tidak jelas apa maksudnya, tapi sebelum saya membahas Bima Arya yang menjadi judul artikel ini, saya ingin Anda bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita bersikap adil sebelum menghakimi?

Bima Arya beberapa hari terakhir banyak disorot secara negatif karena membubarkan peringatan Asyura yang diselenggarakan oleh kelompok muslim Syiah. Sebagai Wali Kota Bogor, ia dikritik karena dianggap inkonstitusional. Peringatan Asyura, yang merupakan peristiwa penting bagi kelompok Syiah dalam merenungi kesyahidan Imam Hussain, dianggap salah satu ekspresi ibadah yang semestinya dijaga dan dijamin keamanannya. Bima, selaku Wali Kota, malah membubarkan peringatan yang dianggap suci oleh kelompok Islam Syiah itu.

Sebelum memaki kita sebaiknya menahan diri dulu. Siapa tahu sebenarnya niat Bung Bima itu baik. Seperti dikabarkan imbauan larangan peringatan Asyura merupakan keputusan rapat Musyawarah Pimpinan Daerah dan Majelis Ulama Indonesia Kota Bogor. Perkara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama ikut serta atau tidak itu urusan lain, karena bukankah MUI itu lembaga tanpa cela.

MUI Bogor, misalnya, mana pernah ada anggotanya yang ketahuan melakukan hubungan badan threesome, apalagi sampe direkam. Dengan pertimbangan moral yang terjaga patutlah kita berbaik sangka kepada Bung Bima Arya yang telah tepat meminta pendapat dari MUI Bogor.

Bung Bima juga berkata bahwa penerbitan surat imbauan yang melarang masyarakat Kota Bogor memperingati Asyura ini sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah Kota Bogor dan Muspida atas situasi keamanan dan ketertiban di Kota Bogor. Ini bukan sikap pertama Bung Bima melarang satu kelompok keyakinan melakukan ibadah. Sebelumnya ia dengan tegas menutup GKI Yasmin. Ketika pemimpin pemimpin daerah lain menyerukan toleransi, rekonsiliasi, dan perdamian. Bima Arya ngotot menyegel gereja itu.

Padahal, seperti kita tahu, Mahkamah Agung sudah mengeluarkan keputusan membatalkan pembekuan izin terhadap pembangunan GKI Yasmin di Bogor, Jawa Barat. Hasilnya? Tentu saja dengan tegas dan tanpa kompromi Bima Arya menolak. Dia bilang bahwa GKI Yasmin itu tidak ada. Seperti yang dikutip Tempo, peribadatan jemaat GKI Yasmin “… mengganggu ketertiban umum dengan beribadah di jalan.” Hebat, bukan?

Janganlah Bima ini dibandingkan dengan orang-orang di Tolikara, Papua, yang rela tanahnya dibangun untuk kepentingan umat Islam. Jangan paksa Bung Bima belajar dari Fiktor Kogoya, putra Tolikara penerus salah satu suku terbesar daerahnya dari marga Yikwa dan Kogoya. Fiktor pernah berkisah bahwa  kala ia kecil para tetua adat kerap bercerita soal umat Islam yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri di daerah itu. Fiktor menegaskan bahwa kerabatnya memberikan sebidang tanah guna dibangun musala sebagai tempat ibadah muslim Tolikara.

Pemberian tanah guna pembangunan umat muslim Tolikara itu menjadi istimewa pada saat itu. Sebab, gereja-gereja Advent dan Baptis belum bisa berdiri di Tolikara. Padahal, Kristen merupakan keyakinan utama warga Papua. Itu kan di Papua, ini Bogor, Bung. Tanah di mana, mengutip Bima, “Pemerintah Kota Bogor terus berjuang dan bergerak untuk melawan kemaksiatan dan kebatilan. Di sini peran alim ulama dan umaro untuk bergerak bersama-sama. Kita harus kompak dan solid untuk bersama-sama memeranginya.”

Nah, GKI Yasmin dan kelompok Syiah itu mengganggu seluruh warga masyarakat Kota Bogor. Masyarakat yang mana saya tak tahu, pokoknya GKI Yasmin dan Syiah itu sesat dan mengganggu. Untuk itu marilah kita kembali menjadi pribadi yang adil. Jangan menyalahkan Bung Bima karena ia ingin menegakan syariat atau menjaga umat. Bung Bima ini kan pemimpin yang dipilih secara demokratis untuk melayani seluruh warga Kota Bogor, bukan sebagian Kota Bogor. Saya yakin, seyakin-yakinnya, kebijakan yang ia buat merupakan keinginan warga Kota Bogor.

Saya kira, selain jadi Wali Kota, Bung Bima ini cocok menjadi ustad. Misalnya ketika terjadi kekeringan hebat yang melanda kotanya, ia pernah berkata, “Tapi di atas itu semua, bagi kita ini adalah momentum introspeksi diri. Jangan-jangan ini peringatan, jangan-jangan ini ujian bagi kita kalau selama ini kita banyak melakukan dosa. Kita tidak sayang kepada alam, sehingga Allah memberikan peringatan dengan dikeringkan wilayah kita. Mungkin juga kita tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan selama ini.”

Hebat, kan, Bung Bima ini? Kekeringan terjadi karena kita banyak melakukan dosa. Pernyataan itu dikeluarkan oleh Bung Bima pada 25 Juli lalu. Sampai hari ini, jika kita masih mengalami kekeringan, jangan-jangan kita masih banyak maksiat. Menurut Bung Bima, dosa-dosa yang harus dibersihkan adalah penyakit masyarakat berupa kemaksiatan. “Saya mengajak ke semua kalangan, tokoh agama dan umat, untuk merapatkan barisan memerangi kemaksiatan. Di bulan puasa lalu, kita tegas menindak semua yang menyimpang, kita tutup tempat hiburan dan sebagainya,” ungkap Bima.

Yang menarik, Majelis Ulama Indonesia menyatakan tidak pernah melarang ajaran Syiah di Indonesia kecuali mengimbau umat Islam agar meningkatkan kewaspadaan tentang kemungkinan beredarnya kelompok Syiah yang ekstrim. Melalui Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi, disebutkan bahwa sesungguhnya MUI tidak punya posisi untuk mengatakan bahwa Syiah itu sesat. Lantas, jika MUI Pusat saja mengatakan Syiah tidak sesat, mengapa Bung Bima ngotot melarang peringatan Asyura?

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini...

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.