OUR NETWORK

Pendidikan Tinggi dan Masa Depan Mahasiswa Indonesia

Saat ini di Indonesia mahasiswa untuk pendidikan S1 rata-rata berusia diantara 19-23 tahun dengan tingkat populasi 80 hingga 107 juta.
Menanam adalah usaha mempersiapkan kehidupan. Melalui menanam kita menumbuhkan dan membesarkan peradaban. Manusia mengembangkan peradaban menanam untuk usaha bertahan hidup. Melalui proses menanam, manusia bisa memiliki sumber pangan, sumber penghasilan, dan pada akhirnya menciptakan kebudayaan baru.
Menanam mengajarkan manusia untuk berkembang, mengamati, memeriksa, serta mencari tahu bagaimana kehidupan ini dimulai. Praktik menanam ini yang kemudian diadopsi dalam pendidikan. Pendidikan tinggi mengajarkan mahasiswanya untuk meneliti, menilik, dan menyigi pengetahuan.
 
Metode pendidikan ini dipandang efektif untuk memberi dampak pada manusia. Berbagai pendekatan pendidikan dilakukan, namun modus yang paling baik adalah dengan cultivate the self lewat ruang ilmu, pendidikan dan pengabdian. Perguruan tinggi sebagai penyedia dan pengalir jasa pendidikan ditantang untuk menciptakan eco-system pengetahuan agar proses tanam dan tuai pada alur ilmu, pengetahuan serta praktik dapat terjalin dengan baik.
 
Metode ini yang kemudian diadopsi, dikembangkan, dan diterapkan oleh Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS) pada para peserta didiknya. UNKRIS mempersiapkan mahasiswanya untuk bersiap secara mandiri dengan kesadaran “looking future from the future”, meyakini masa depan dengan segala kebaikannya, akan dicapai melalui pendidikan bermutu.
 
UNKRIS bersiap untuk menjadi universitas yang mengembangkan kualitas pendidikan masyarakat di Indonesia. Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) mengatakan total jumlah mahasiswa di Indonesia mencapai 7,5 juta orang. Jumlah ini terbilang masih kecil dibandingkan dengan populasi usia pendidikan di Tanah Air. Keberadaan universitas dianggap penting untuk menambah jumlah mahasiswa yang ada.
 
Saat ini di Indonesia mahasiswa untuk pendidikan S1 rata-rata berusia diantara 19-23 tahun dengan tingkat populasi 80 hingga 107 juta. Sementara yang mendapatkan layanan pendidikan tinggi hanya sebanyak 7,5 juta yang artinya masih jauh atau baru mencapai sekitar 32,9 persen. Padahal presiden Joko Widodo telah mencanangkan investasi sumber daya manusia (SDM) pada 2019, sebagai keberangkatan Indonesia maju.
 
Saat ini kita harus bersiap untuk menghadapi masa depan. Katja Grace dan tim Future of Humanity Institute dari Universitas Oxford, menghubungi 1.634 akademisi dan perwakilan industri dalam bidang kecerdasan buatan untuk memperkirakan masa depan manusia. Hasilnya sangat seram, di masa depan, kata Grace manusia akan digantikan oleh mesin dan kecerdasan buatan.
 
Grace menyebut bahwa perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan telah membuat hidup manusia jadi lebih baik. Robot yang bisa membersihkan puing sisa nuklir, menyelamatkan manusia saat terjadi bencana, dan tugas-tugas berbahaya lainnya. Dari 352 ahli kecerdasan buatan yang merespon undangan Tim riset di Oxford ada beberapa hal yang bisa kita pahami, yang terancam oleh teknologi dan robot bukan hanya pekerjaan-pekerjaan manufaktur yang dilakukan oleh buruh. Tetapi juga pekerjaan orang-orang kerah putih.
 
Tim Riset Oxford memperkirakan bahwa pada 2024, robot dan kecerdasan buatan akan mampu menerjemahkan bahasa secara sempurna, pada 2026 menulis tugas sekolah tingkat SMA, pada 2027 mengendarakan truk. Sementara pada 2031 akan mengambil pekerjaan manusia dalam retail, menulis buku pada 2049, dan menjadi ahli bedah pada 2053. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah para anak muda akan tergantikan oleh mesin?
 
Pendidikan tinggi adalah salah satu pintu untuk menuju perbaikan hidup. Jika anda memiliki pendidikan yang baik, maka anda akan memiliki kesempatan lebih tinggi untuk hidup makmur. Meski demikian pendidikan bukan melulu mempersiapkan orang untuk jadi pekerja. Pendidikan tinggi mengajarkan kita untuk jadi manusia yang memiliki empati.
Ini mengapa UNKRIS menjadi penting.
 
Kita tidak bisa mengajarkan robot tentang empati, kepedulian, atau inisiatif. Ini faktor penting dalam usaha mendidik manusia dan menjadikan mereka berbeda dengan mesin. Dengan kesadaran bahwa masa depan yang baik hanya bisa dicapai melalui pendidikan bermutu, maka mahasiswa yang dididik tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tapi juga kepedulian.
 
UNKRIS mempersiapkan mahasiswanya untuk siap memenuhi tantangan zaman. Di sini mahasiswa bisa mengadopsi metode ajar yang disesuaikan kebutuhan. Anda bisa masuk kelas tapi juga bisa mengembangkan diri melalui kelas digital. Hasilnya tentu sangat menarik, tidak hanya mahasiswa dituntut untuk menjadi digital native, tapi juga terus beradaptasi dengan teknologi yang ada.
 
Keberadaan mahasiswa yang peduli, kompeten, dan memiliki semangat berkemajuan menjadikan UNKRIS istimewa. Semangat pendidikan UNKRIS ini akan menghasilkan peserta didik yang unggul, cerdas, dan banyak akal dalam usaha beradaptasi dengan perubahan.
Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…