Sabtu, Oktober 24, 2020

Ancaman Terhadap Bhinneka Tunggal Ika di Media Sosial

Memetik Makna Dari Fenomena Pesawat R-80

Dunia perteknologian Indonesia sedang ramai dengan rencana pengembangan prototype pesawat R-80. Terlebih lagi, pengembangan pesawat jarak menengah ini sudah masuk dalam deretan usulan Proyek...

Syi’ir-Syi’ir #2019GantiPresiden yang Memabukkan

Awal mula kemunculan Gerakan #2019GantiPresiden tidak luput dari peran dari para petinggi elit oposisi, yang diinisiasi oleh Mardani Ali Sera yang merupakan ketua DPP...

Cerita Generasi Milenial Bersama Buya Syafii

Salah seorang teman satu almamater di kampus Universitas Andalas ternyata mengetahui bahwa aku salah satu peserta dari Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif...

Suara Milenial Menjadi Penentu Kemenangan

Tinggal menghitung hari lagi kita akan merayakan kontestasi pesta politik terbesar di negara ini yaitu Pemilihan Umum (Pemilu). Kontestasi 5 tahunan ini menjadi ajang...
Redaksi
Redaksi

Sebenarnya, media sosial adalah anugerah besar bagi manusia, dalam mendidik dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara global. Bayangkan, sekarang ada tempat di mana manusia dari berbagai belahan dunia bebas untuk saling mengenal, bertukar pikiran, dan berdiskusi tanpa terhalang oleh tingkat kekayaan, bahasa, budaya, atau pun politik. Keberadaan media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Twitter bagaikan mimpi bila kita kembali menengok ke zaman dulu.

Oleh karena media sosial adalah tempat berbaur berbagai macam pikiran, seharusnya Indonesia bisa memanfaatkannya untuk meraih salah satu nilai tertinggi di Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika dan hak merdeka untuk berpendapat. Namun sayang, pengguna media sosial Indonesia cenderung hanya mengedepankan hak untuk berpendapat tanpa mempedulikan nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Media sosial dapat mengancam Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia dari Pancasila yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu,” bermakna bahwa walaupun beranekaragam, Indonesia tetaplah satu. Sayang, media sosial tidak jarang digunakan untuk memaki, mengejek, bahkan mengancam karena mempunyai perbedaan. Padahal, perbedaan suku, ras, agama, budaya, atau pun pandangan politik adalah hal yang akan terjadi di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia.

Tidak harus melihat berita politik atau isu kontroversial. Saat Atlit Asian Games Jonathan Christie mengunggah foto dan kutipan ayat agama melalui akun Instagram @jonathanchristieoffical (29/08/2018), terjadi perdebatan dan kebencian antaragama di kolom kometar yang berisikan 47.000 komentar lebih. Unggahan rasa syukur kemenangan Asian Games saja dapat memancing perdebatan agama.

Detik.com memberitakan ada 5.061 kasus cyber crime atau kejahatan siber yang ditangani Polri di tahun 2017 lalu, 3.325 kasus di antarannya adalah ujaran kebencian. Ujaran kebencian adalah pernyataan yang menyerang seseorang atau kelompok dengan karasteristik dasar, seperti SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).

Lantas, bagaimana mungkin banyak sekali konten yang mengujar kebencian berbasis SARA di media sosial?

Politik, sarang kebencian di media sosial

Menyambut Pilpres 2019, tidak heran bila keadaan politik akan semakin memanas. Media sosial cenderung bukan digunakan sebagai tempat bertukar pikiran, tetapi tempat politik dengan kampanye hitam yang identik dengan menjatuhkan lawan melalui ujaran kebencian. Sebagai referensi mengukur potensi panasnya Pilpres 2019, bisa memakai contoh Pilkada DKI Jakarta 2017.

Setelah Pilkada DKI Jakarta 2017, TheGuardian, media surat kabar Inggris, melaporkan berita mengenai unsur kesengajaan penyebaran informasi palsu dan ujaran kebencian di media sosial dalam pilkada DKI Jakarta 2017. Oknum penyebar konten negatif tersebut ada di dalam kedua kubu politik pemilihan tersebut, yaitu pihak pemerintah dan pihak oposisi.

Melalui artikel ‘I felt disgusted’: inside Indonesia’s fake Twitter account factories (23/07/2018), TheGuardian menyebutkan adanya keberadaan oknum “Tim Buzzer” untuk membantu menyebarkan informasi palsu seputar Basuki Tjahaja Purnama atau ‘Ahok’. “Tim Buzzer” merupakan kelompok yang bertugas memperkuat pesan dan menimbulkan “buzz” di media sosial melalui akun palsu.

Tim berjumlah 20 orang mempunyai lima akun Facebook, lima akun Twitter, dan satu akun Instagram, bahkan membuat 2.400 unggahan di Twitter setiap hari. Unggahan tersebut berisikan citra Ahok, sekaligus ujaran kebencian kepada pihak oposisi. Tim Buzzer ini digaji Rp4.000.000,00 per bulan.

Tidak hanya membahas Tim Buzzer Ahok, TheGuardian juga membahas Muslim Cyber Army (MCA) yang cenderung berpihak ke oposisi.  Artikel Muslim Cyber Army: a ‘fake news’ operation designed to derail Indonesia’s leader (13/03/2018) memberitakan MCA menjadi tersangka menyebarkan informasi palsu dan ujaran kebencian di media sosial dengan isu agama dan etnis untuk membantu melengserkan Ahok pada pilkada yang sama.

MCA juga menjadi tersangka sebagai pelaku pemburuan karena melakukan persekusi kepada pendukung Ahok dengan doxxing, yaitu mencari nama dan alamat asli dengan Facebook, kemudian memperkusi pendukung Ahok secara beramai-ramai di dunia nyata.

Kasus pilkada DKI Jakarta 2017 adalah bukti bahwa informasi palsu dan ujaran kebencian sangat terorganisir di media sosial. Hal ini sangat berbahaya karena mempengaruhi masyarakat untuk membenci, bahkan membenarkan persekusi kekerasan dengan mentalitas “Us vs Them”. Inilah contoh ‘kekuatan’ media sosial dalam menyebarkan kebencian, terutama berlatarbelakang politik. Padahal, perbedaan pandangan politik adalah hal yang sangat wajar di lingkungan demokrasi.

Hal ini menimbulkan tantangan untuk menekan ujaran kebencian di media sosial. Namun, akan menjadi tantangan untuk membatasi informasi tanpa menyakiti hak ekspresi kebebasan publik untuk berbicara dan berpendapat.

Lantas, bagaimanakah cara menepis konten negatif?

Sesungguhnya, informasi di media sosial dapat dianalogikan dengan pasar, yaitu di mana ada demand (permintaan), supply (konten) akan selalu ada. Maka dari itu, jika konten informasi berkualitas dan positif menjadi lebih besar daripada konten informasi palsu dan provokasi di media sosial maka ujaran kebencian itu sendiri akan tertimbun dan dianggap aneh oleh masyarakat itu sendiri.

Menurut Edelman Trust Barometer Global Report 2018, tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap media sosial turun dari 75% menjadi 71%, turun 4% karena tingkat keakurasian tidak menjadi prioritas. Sedangkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama meningkat 1%, dari 67% menjadi 68%. Akan tetapi, apakah kita yakin ingin memotong potensi media sosial untuk menyatukan karena sebagian ujaran kebencian? Tentunya tidak.

Salah satu solusi memanfaatkan media sosial adalah menyebarkan media daring yang berkualitas dan bersifat mengedukasi masyarakat. Media cyber, seperti Tirto.id dapat menjadi contoh yang baik. Melalui akun instagram @tirtoid, mereka selalu mengunggah konten-konten infografis mengenai seputar isu terkini dengan data yang kredibel. Bahkan, mereka tidak ragu untuk mengunggah ulang konten jika dikritik warganet mengenai kesalahan data dalam konten.

Masyarakat publik juga mempunyai tanggung jawab tanpa bergantung pada pemerintah atau media di media sosial. Pertama, saat melihat informasi yang asing dengan persepsi Anda, berpikirlah bahwa sudut pandang orang berbeda-beda. Anda boleh tidak setuju, tapi jangan menghujat mereka yang berbeda dengan Anda. Kedua, sebarkanlah konten informasi yang berkualitas, pastikan informasi yang Anda dapat benar adanya sebelum share ke orang lain. Ingat, warganet juga manusia, sayangnya banyak yang lupa hal sesederhana ini.

Perjuangkan persatuan Indonesia melalui media sosial.

Kita Bhinneka, Kita Indonesia.

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Nelangsa Mahasiswa Handphone Kentang dan Laptopnya Potato

"Kuliah hari ini saya berikan beberapa pertanyaan tentang mata kuliah kita, kalian jawab dan dikumpulkan 1 jam dari sekarang” “Ting tong” sebuah notifikasi muncul di...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.