Dokter bukan Robot

168

ilustrasi.[Shutterstock]
Kemajuan sains dan teknologi, tak bisa dibantah, telah banyak membantu proses diagnosis dan penyembuhan penyakit. Banyak peralatan kedokteran modern berjasa mendongkrak peningkatan kualitas layanan kesehatan, kecepatan maupun akurasi diagnosis, dan menyelamatkan banyak nyawa dalam prosesnya.

Program aplikasi kedokteran berbasis komputer, termasuk dalam bidang artificial intelligence, telah berjasa memperkecil kesalahan dalam pemberian obat dan meningkatkan akurasi diagnosis penyakit.

Namun, di sisi lain, ketergantungan besar dokter kepada alat-alat dikeluhkan telah membuat hubungan dokter dan pasien menjadi mekanistik, kering dan kurang manusiawi. Dalam kadar tertentu, hubungan buruk seperti itu justru bisa mempersulit diagnosis dan menghambat penyembuhan.

Kekhawatiran seperti itu antara lain datang dari Abraham Verghese, gurubesar kedokteran pada Stanford School of Medicine, Amerika Serikat. Meski berguna, menurut Verghese, makin luasnya penggunaan alat kedokteran modern cenderung memperburuk dan membuat jurang komunikasi antara dokter dengan pasiennya. Dokter makin terasa berjarak dari pasien mereka.

Profesor Verghese menulis esai bagus berjudul “The Important of Being” yang pada intinya mengajak para dokter agar hadir dalam makna sebenarnya di hadapan pasien. Hadir dalam sentuhan dan suara nyata. “Saya ingin mengajari para dokter the art of being present di depan pasien,” tulisnya.

Kehadiran peralatan kedokteran modern dimaksudkan sebagai alat bantu dan alat tambahan untuk memperkuat keahlian para dokter serta meningkatkan layanan kesehatan melalui kerjasama manusia dan teknologi. Namun, ketika teknologi terlalu banyak digunakan dan dianggap terlalu penting, terjadilah kemunduran dalam ketrampilan paling sederhana para pelayan kesehatan yang seharusnya dipertahankan: yakni sentuhan manusiawi.

Tangan para dokter memang tidak bisa menggantikan peran CT Scan ketika memeriksa isi perut. “Namun, hanya tangan kita yang bisa menunjukkan tempat sakit,” tulis Profesor Verghese. Banyak hal bisa diketahui dari rabaan tangan, dan para dokter telah menggunakannya ratusan tahun. Ketrampilan sederhana itu tidak semestinya hilang dengan kehadiran MRI Scan.

Profesor Verghese tidak serta merta anti-teknologi. Dia menganjurkan dokter tetap memakai stetoskop dan alat ultrasonografi genggam yang memungkinkan dokter bisa secara fisik menyentuh dan berbicara langsung dengan pasien untuk menjaga hubungan manusiawi dokter-pasien.

Hubungan baik dan manusiawi antara dokter dengan pasien tidak hanya dibutuhkan oleh pasien tapi juga oleh para dokter sendiri.

Perkembangan komputer dan kecerdasan buatan kini telah memungkinkan orang membuat banyak robot, termasuk robot yang secara akurat mampu mendeteksi dan dan mendiagnosis penyakit. Sebuah studi pada 2012 menunjukkan bahwa teknologi akan segera bisa menggantikan 80% dari hal-hal yang bisa dilakukan para dokter, terutama dalam proses diagnosis. Dengan perkembangannya yang maju pesat, robot dokter potensial mengancam eksistensi serta kebutuhan dokter dalam wujud manusia.

Bahkan sebelum dokter robot benar-benar ada, kini sudah makin banyak orang bertumpu pada advis kesehatan dan kedokteran dari Dr. Google. Mesin pencari internet yang populer itu, bersama ratusan website lain, menyediakan banyak informasi tentang penyakit dan beragam aspek kesehatan. Ratusan orang di seluruh dunia memanfaatkan program dan aplikasi internet untuk mendiagnosis diri sendiri hanya dengan masukkan serangkaian gejala penyakit ke mesin pencari.

Advis dan keahlian dokter kurang dibutuhkan lagi, apalagi jika dokter bersangkutan tidak bisa menjaga hubungan baik dengan pasien.

Profesi dokter tidak akan hilang, setidaknya dalam waktu dekat. Secanggih-canggihnya Dr. Google, dia masih kalah dari dokter betulan. Sebuah studi oleh peneliti Harvard Medical School memperlihatkan para dokter tetap lebih unggul, memberikan diagnosis dua kali lebih akurat ketimbang puluhan aplikasi diagnosis berbasis internet. Namun, perlu dicatat bahwa para pembuat aplikasi kedokteran juga terus menyempurnakan diri.

Perkembangan sains dan teknologi mengingatkan kita para dokter tidak hanya tentang kemungkinan persaingan eksistensial dengan robot/teknologi, namun juga tentang makna hakiki dari profesi ini.

Makna hakiki profesi dokter adalah melayani. Apa yang paling dibutuhkan para pasien dari dokter, menurut Profesor Verghese, adalah hadir mendengar, peduli dan terhubung dengan mereka. Tanpa keterhubungan dengan pasien, sebagian besar makna profesi kedokteran telah hilang.

Dengan kemajuan teknolo yang pesat, robot tak pernah bisa menggantiakn peran dokter. Tapi, tanpa hubungan manusiawi dengan pasien, bukankah kita sebenarnya sudah menjadi robot? ***

Komentar anda