Di Balik Pertemuan Politik Jokowi – SBY

604
Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Ketua Umum DPP Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Kamis (9/3). ANTARA FOTO/Setpres/Cahyo Bruri Sasmito

Presiden Joko Widodo akhirnya menerima kunjungan Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, pekan lalu. Dari kehangatan percakapan yang ditampilkan di teras Istana, publik setidaknya bisa menangkap bahwa pertemuan mereka berlangsung cukup akrab. Pertemuan yang ditunggu. Mengingat sebagian kalangan menantinya sejak lama.

Jauh sebelum keduanya bersua, sejumlah tokoh politik sudah mendahului bertemu dengan Jokowi. Sebagaimana pertemuan Jokowi dengan tokoh-tokoh lain, sambutan apresiatif dari publik juga tak sedikit yang mengalir atas pertemuan Jokowi dan SBY.

Apa yang kemudian bisa disignifikansikan dari pertemuan Jokowi dengan SBY dan juga sejumlah elite politik lain?

Sebagai aktor politik utama saat ini, aktivitas seorang presiden akan menarik perhatian khalayak. Kata Marguerite Sullivan, mantan pejabat komunikasi kepresidenan Amerika Serikat, segala tindakan dan pernyataan presiden kepada publik dapat dikategorikan sebagai komunikasi politik (Rendro Dhani, 2004). Dengan arti lain, aktivitas seorang presiden akan kerap ditautkan dengan nuansa politik. Apa yang telah dilakukan dan mengapa presiden memilih melakukan akan membuka duga tanya.

Paling tidak, sejumlah makna bisa disematkan atas perjumpaan Jokowi dan elite politik itu. Pertama, melihatnya dari momentum. Menggelar pertemuan, apalagi dengan intensitas yang cukup, biasanya didorong oleh suatu momentum yang dinilai genting. Ketika situasi harus membuat para elite untuk bertemu dalam rangka membicarakan tema yang bisa menjawab persoalan kegentingan itu sendiri.

Salah satu momentum itu adalah Pilkada Jakarta 2017 dan situasi yang berkembang. Ajang untuk memilih gubernur Jakarta tersebut telah memberi daya dorong bagi munculnya sekian pertemuan Jokowi dan elite politik di Istana.

Sulit dihindari bahwa apa yang diperlihatkan dari pertemuan-pertemuan di Istana adalah sebuah upaya konsolidasi politik, terutama oleh Jokowi untuk mengurai kegentingan di atas. Konsolidasi di sini bisa dengan cara mengupayakan titik temu atas kepentingan, kekuatan, maupun tujuan masing-masing. Karena tak tentu dari mereka yang bertemu akan memiliki pandangan yang berdekatan. Maka, konsolidasi tak cukup hanya bisa dilakukan dalam satu kesempatan. Sementara untuk keberhasilannya diperlukan sebuah keterampilan komunikasi politik yang sejauh ini tampaknya Jokowi cukup bisa menjawabnya.

Kedua, berbagai pertemuan di Istana telah mewartakan pada publik bahwa pintu politik Jokowi relatif terbuka bagi elite politik lain. Dalam artian, Jokowi bisa menerima tokoh dari mereka yang posisinya memiliki riwayat hubungan kompetitif dengannya, maupun yang tidak. Hal ini yang tampaknya membuat para tokoh yang bersedia bertemu dengannya juga seolah mendapat semacam garansi bahwa pertemuannya nanti akan menghasilkan sesuatu yang positif. Untuk itulah mereka tidak canggung menunjukkan kepada publik. Modal ini bisa digunakan Jokowi untuk membangun bobot relasi lebih baik.

Dengan bekal tersebut, ke depan Jokowi bisa memelihara dan meluaskan pengaruh pada berbagai elemen bangsa. Sehingga nanti tidak muncul kesan bahwa aneka pertemuan tersebut lebih disebabkan kepentingan Jokowi untuk semata ingin mengeluarkan kerumitan yang sedang mendera pemerintahannya. Karena bagaimanapun intensitas pertemuan dengan elite politik di Istana juga bisa memunculkan penilaian betapa peliknya Jokowi menangani situasi yang sedang terjadi. Ke depan, kesan inilah yang sekiranya perlu diminimalisasi agar kepercayaan akan kepemimpinan Jokowi juga terawat.

Dari pertemuan di Istana juga bisa memberi makna ketiga, bahwa dinamika politik kita masih sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana relasi antar aktor atau elite politik. Derajat relasi antar aktor akan memunculkan implikasi beragam. Ketika publik menangkap bahwa antar elite politik berjarak, bahkan bersaing dengan tajam, maka rembesannya bisa menetes ke bawah. Sebaliknya, saat antar aktor bisa saling menahan diri, bahkan dengan pengungkapan simbolik melalui saluran-saluran pertemuan, ketegangan politik yang melanda sebelumnya perlahan bisa mencair.

Selain itu, dari saluran tersebut secara tidak langsung para elite politik itu bisa menyisipkan sebuah arti pendidikan politik kepada publik. Bahwa perbedaan yang ada di antara mereka bukan tidak mungkin dipertemukan. Betapapun kompetitifnya mereka, misalnya, masih bisa memberikan ruang untuk saling bernegosiasi, berkomunikasi, masih bisa berjalan di atas rel demokrasi yang telah disepakati, the only game in town. Dengan cara itu, elite politik juga sedang berupaya untuk mengedepankan pentingnya membangun fatsoen politik, untuk tak semata beradu kuat.

Keempat, bagi Jokowi dan elite politik lain, pertemuan di Istana juga bisa digunakan sebagai saling membangun legitimasi politik masing-masing. Meskipun Jokowi posisinya adalah seorang presiden, para elite politik lainnya juga bukan tamu sembarang. Karena itu, yang berlaku pada pertemuan tersebut tampaknya adalah bagaimana menghasilkan sebuah kesepahaman yang masing-masing pihak merasa “dilihat”. Dengan begitu, nantinya di antara elite politik tersebut juga saling tumbuh kepercayaan. Apalagi dalam sebuah tensi politik yang meninggi, kepercayaan diperlukan.

Dengan saling percaya itu, antar elite politik yang bertemu bisa memanfaatkannya untuk saling berbagi informasi, pengalaman mengurai persoalan, bahkan pada derajat tertentu bisa digunakan sebagai media konfirmasi atau klarifikasi. Seperti yang dilakukan oleh SBY, misalnya, pertemuannya dengan Jokowi dijadikan kesempatan untuk memberikan penjelasan kepada Jokowi atas beberapa hal yang menurutnya bisa memunculkan selip komunikasi. Pertemuan secara langsung dengan begitu tampak perbawa baik bagi kedua belah pihak maupun di mata publik. Hal ini akan berbeda jika dilakukan melalui media lain.

Melalui media di luar pertemuan fisik bisa memunculkan potensi mengaburkan substansi pesan yang ingin disampaikan antar pemimpin politik. Lainnya, publik juga bisa menangkap lebih dari itu bahwa di antara pemimpin politik tersebut tertanam persaingan tajam. Untuk itu, kesediaan mereka untuk saling bertemu adalah sekaligus memberikan pesan mendasar bahwa politik sesungguhnya adalah panggung diplomasi. Karena politik, seperti pernah disitir oleh Kuntowijoyo, kadang-kadang membuat para pelakunya bisa terjebak untuk berkacamata kuda alias myopik (Alfan Alfian, 2009).

Untuk itu, pertemuan-pertemuan yang melibatkan para elite politik itu kita iringi dengan kelegaan. Karena dalam upaya mereka bersedia duduk bersama tampaknya juga sedikit banyak terbersit untuk memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar. Bukan kepentingan yang hanya bisa menentramkan sedikit orang.

Komentar anda