Senin, Januari 18, 2021

Sudah Seharusnya “Afirmasi” Ahmadiyah dan Syiah Didukung

Benarkah Umat Islam yang Paling Menderita?

Umat Islam di Indonesia sering berpikir bahwa merekalah yang sering menjadi sasaran pelecehan dan kebencian di dunia ini. Dalam hal ini mereka merujuk rezim...

Para Filosof Muslim dan Bahasa Yunani

Kita mengenal bahwa filsafat dan dunia keilmuan lain seperti kedokteran, astronomi dan banyak lagi ada yang bersumber dari dunia di luar Islam—dunia di luar...

Covid 19 dan Matinya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Pengumuman Presiden Jokowi bahwa Indonesia sudah tidak bebas dari Corona membuat kita sedih namun sekaligus lega. Sedih karena virus berbahaya itu kini sudah benar-benar...

Desember Bulan Gus Dur

Desember itu identik dengan bulan Gus Dur. Sejak kemangkatannya pada 2009, bulan di mana beliau meninggal selalu dijadikan sebagai bulan untuk mengenang, merefleksikan dan...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Jika memang benar Menteri Agama baru, Gus Yaqut, akan melakukan tindakan afirmasi terhadap warga Indonesia yang memiliki keyakinan lain, dalam konteks yang ramai dibicarakan, Ahmadiyah dan Syiah, maka tidak selayaknya bagi kita, warga negara Indonesia untuk menolaknya. Bahkan sebagai warga negara Indonesia, kita harus bersikap sebaliknya: yakni harus mendukungnya. Justru kalau kita menolak afirmasi tersebut, maka tidak wajar bagi kita untuk menolak hak-hak warga negara lain.

Kebijakan afirmasi itu, meskipun dinilai oleh beberapa kalangan sebagai isu sensitif dan kontroversial, namun memiliki pijakan konstitusi yang kuat. Sayang sekali, pihak MUI, yang disuarakan oleh Anwar Abbas, justru dengan lantang cenderung menolaknya. Tidak hanya MUI, pihak NU, yang disuarakan oleh pengurus NU Jawa Timur juga merasa agak keberatan. Namun, pihak PBNU belum ada pernyataan resmi. Afirmasi dilakukan karena selama ini warga Indonesia berkeyakinan Ahmadiyah dan Syiah tertinggal dalam menerima kesetaraan negara.

Saya pikir, persoalan afirmasi bagi warga Indonesia yang Ahmadiyah dan Syiah ini akan menjadi tantangan serius bagi Gus Yaqut dalam menjalankan Kementerian. Dan jika, saya boleh usul, maka seharusnya tidak hanya sebatas pada Ahmadiyah dan Syiah, namun kepada seluruh warga Indonesia yang selama ini mengalami tindakan diskriminasi karena keyakinan yang mereka miliki. Ahmadiyah dan Syiah akan didahulukan, mungkin, karena kedua kelompok warga negara ini, yang mengalami tingkat persekusi serius di dalam sejarah negara kita yang mendaku pluralis dan menganut sistem kewargaan demokratis.

Di Jawa Barat, Jakarta, NTB, dan tempat-tempat lain, warga Indonesia yang berkeyakinan Ahmadiyah banyak kehilangan tidak hanya hak melaksanakan keyakinannya namun juga kekayaan mereka. Demikian juga dengan warga Syiah di Jawa Timur dan khususnya di Madura, warga Syiah diusir dari tanah kelahirannya. Apakah tindakan seperti ini dibenarkan dalam konteks sistem kewarganegaraan Indonesia? Jawabnya, sudah barang tentu tidak, namun itu terjadi nyata di lapangan, di kehidupan kita sehari-hari.

Fatwa MUI tentang ekslusi kelompok Ahmadiyah sebenarnya sudah lama keluar, sekitaran tahun 1981, bahkan MUI masih dipimpin oleh Buya Hamka, yang sangat dikenal sebagai ulama reformsi. Fatwa MUI tentang Syiah juga terjadi pada tahun 1984an. Waktu itu, Syiah tidak diekslusi dari Islam, namun warga Indonesia perlu hati-hati. Syiah belum dikatakan sesat, namun warga negara Indonesia, diminta untuk berhati-hati pada kelompok ini.

Sejak 2005, MUI kembali menegaskan Ahmadiyah sesat berdasarkan fatwa tahun 1981 dan pada tahun yang sama terjadi penyerbuan masjid Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat, oleh kelompok Muslim mayoritas. Dan sampai kini, pandangan MUI atas Ahmadiyah dan Syiah menjadi pandangan yang lumayan terkenal di kalangan umat Islam. Bahkan tidak hanya di kalangan umat Islam, namun juga di kalangan aparat negara (state apparatus).

Sebenarnya, Indonesia sudah sering diingatkan oleh pelbagai kelompok internasional, terutama pemerhati dan pengawas HAM dan demokrasi, bahwa apa yang menimpa warga Indonesia yang Ahmadiyah dan syiah itu tidak selayaknya mereka terima sebagai warga negara Indonesia. Bahkan mereka menilai tindakan diskriminatif atas warga Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia jauh sekali dari klaim Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dalam hal berdemokrasi.

Karenanya, ketika Gus Yaqut menyatakan bahwa sebagai Menag beliau akan melakukan sesuatu yang bermakna bagi warga Ahmadiyah dan Syiah adalah suatu hal yang patut dan layak kita dukung. Kita tahu bahwa Gus Yaqut akan mendapatkan perlawanan dan serangan dari pelbagai kalangan, bahkan dari kalangan “kawan sendiri” namun itu sebenarnya hal yang paling benar yang harus dilakukan oleh pejabat publik seperti Gus Yaqut.

Saya sadar bahwa MUI akan menolak ini, karena mungkin MUI akan merasa “dipermalukan” dengan kebijakan ini, karena berarti melawan fatwa MUI. Tapi, apalagi hal penting lagi yang harus dilakukan oleh MUI kecuali memberikan sikap netral terhadap kelompok minoriitas.

Jika MUI sebagai misal tidak mau menerima kebijakan Gus Yaqut akan persoalan Ahmadiyah dan Syiah, lalu apa gunanya dan maknanya MUI mengatakan sebagai organisasi Islam yang wasatiyyah? Jika NU misalnya merasa keberatan, untuk apa masalah ini diberatkan? Tidakkan NU dalam salah satu keputusan pentingnya menyatakan jika di dalam konteks kewarganegaraan Indonesia, istilah kafir tidak layak untuk digunakan?

Hal ini semua sebenarnya yang menjadi alasan mengapa rencana Gus Yaqut perlu mendapat dukungan. Katakanlah jika MUI merasa disentil dengan kebijakan ini, maka belum terlambat bagi MUI untuk mengeluarkan fatwa yang mendukung tindakan afirmasi atas warga Ahmadiyah dan Syiah. Mungkin MUI perlu menyatakan jika terlepas dari keyakinan warga Ahmadiyah dan Syiah, namun sebagai warga negara Indonesia, mereka semua ini layak diperlakukan sepenuhnya sebagai warga negara. MUI tidak harus merevisi pandangan teologisnya, namun cukup dengan menyatakan bahwa warga Ahmadiyah dan Syiah adalah warga negara Indonesia yang utuh, tidak layak diperlakukan berbeda.

Jika yang keberatan itu FPI, MMI, FUI, Hizbut Tahrir dan lain sebagainya, itu sesuatu hal yang wajar, namun bagi MUI, NU maupun Muhammadiyah, sudah selayaknya membuat posisi baru soal Ahmadiyah dan Syiah. Biarkan FPI, MMI dan organisasi lain tidak mau menerima rencana Gus Yaqut. Biarkan saja mereka bersikap demikian. Selama hal itu masih menjadi pendapat maka itu hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun ketika FPI, MMI, FUI dan elemen-elemen organisasi militan lainnya sudah mengarahkan ketidaksetujuannya melalui tindakan kekerasan, maka hal itu tidak bisa ditolerir lagi. Tindakan mereka harus ditangani dengan hukum yang ada di Indonesia.

Sebagai catatan, selayaknya semua pejabat negara memang menempatkan posisi mewakili negara dalam konteks Ahmadiyah dan Syiah. Sebagai wakil negara, hak-hak keawargaan mereka harus setara dengan hak-hak warga negara kaum Muslim mayoritas. Negara menjamin keyakinan dan melayani kebutuhan keyakinan mereka.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.