Rabu, Maret 3, 2021

Pelarangan Ibadah Haji Bagi Jama’ah Indonesia Bukan Hoaks

Tuduhan Bid’ah dan Klaim Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah

Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita mendengar jargon kembalilah kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jargon yang dalam bahasa Arabnya diungkapkan dengan istilah al-ruju’ ila...

Dakwah Para Mualaf yang Mencoreng Wajah Islam

Sebagai seorang Muslim, mendengar kabar seseorang telah menyatakan diri masuk Islam itu hal yang menggembirakan. Orang yang baru masuk Islam di dalam Al Quran...

Mungkinkah Titik Temu Sunni dan Syiah dalam Syair Tolak Balak?

Dalam masa wabah seperti ini, banyak “ijazah” doa tolak balak yang kembali dibacakan di lingkungan kita. Salah satunya adalah syi’ir “li khamsatu utfi biha,...” Syi’ir...

Abu Bakar al-Razi dan Risalah Etika Kedokteran

Pada saat pandemi Covid-19, peran dokter tidak bisa disangkal, adalah paling menentukan. Sebagai orang awam, saya sangat percaya pada peran dokter, karena mereka selain...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Catatan kali ini saya akan menjelaskan secara khusus tentang pengumuman pemerintah Saudi atas pembukaan pelaksanaan ibadah (iqamat al-hajj) haji tahun ini. Saya menganggap penting penjelasan ini karena pengumuman tetap dilaksanakannya ibadah haji oleh Pemerintah Saudi Arabia saat ini masih ada pihak-pihak yang menggunakannya sebagai untuk menyerang pembatalan Pemerintah RI yang telah memutuskan untuk menunda berangkatan ibadah haji untuk tahun ini. Menteri Agama memang sudah mengumumkan lebih dahulu bahwa kita tidak akan mengirimkan jamaah haji tahun ini.

Pada saat Menag mengumumkan hal ini sudah banyak reaksi dari publik misalnya gimana dengan nasib uang jamaah, kok memutuskan perkara penting tidak menunggu dulu pemerintah Saudi dan lain sebagainya, ditambah dengan cerita-cerita hoaks yang dikembangkan.

Kini ketika Pemerintah Saudi mengeluarkan pengumuman bahwa mereka membuka haji juga langsung direaksi dengan komentar-komentar yang tidak utuh di kalangan masyatakat penyuka kabar hoaks. Misalnya, “bagaimana dengan uang jamaah haji tahun ini yang sudah “terlanjur” dipakai pemerintah”, “wah, ibadah haji ternyata dibuka, pemerintah bisa tekor ini karena harus mengembalikan yang haji yang telah dipakainya,” dan masih banyak komentar-komentar yang berbau penyesatan.

Kenapa masyakarat kita, yang mayoritas Muslim masih suka dengan berita-berita yang tidak utuh dan konspiratif. Anehnya, yang menjadi bahan tersebut adalah agama. Kenapa kita tidak memiliki keinginan untuk menunggu dan membaca informasi yang lengkap. Hal ini tidak hanya kaitan dengan haji namun dengan hal-hal lainnya. Intinya, apa saja yang bisa dihoakkan, maka dihoakkanlah. Mereka tidak takut bahwa mempalsukan berita agama adalah hal yang tidak diizinkan secara keras oleh agama itu sendiri.

Kembali lagi soal pelaksanaan haji. Pemerintah Saudi membuka haji hanya untuk kalangan yang sangat terbatas, tidak untuk warga negara asing yang datang dari negara mereka. Pun, jamaah dari Indonesia juga tidak bisa diterima jika mereka datang ke Mekkah dan Madinah untuk haji.

Agar tidak termakan berita hoaks bahwa kita juga bisa mengirimkan ibadah haji, berikut saya sertakan kutipan beberapa hal penting dari press release yang dikeluarkan oleh pemerintah Saudi pada tanggal 1 Dzul Qa’dah bertepatan dengan tanggal 22 Juni 2020.

Pertama, COVID-19 yang masih melanda seluruh penduduk dunia –melanda 180 negara–yang jumlah penderitanya mencapai 7 juta orang.

Kedua, berdasarkan penjelasan dari Kementerian Kesehatan Saudi Arabia tentang resiko pandemik yang terus berlangsung, belum ditemukannya vaksin, kurangnya perawatan bagi mereka yang terkena infeksi COVID-19 di seluruh dunia dan ikut menjaga kesehatan dunia, tingginya infeksi di beberapa negara sebagaimana dilaporkan oleh WHO, seriusnya infeksi dan musibah di pemukiman-pemukiman yang menyebabkan sulitnya memisahkan di antara anggota mereka.

Ketiga, berdasarkan hal di atas, Kerajaan Saudi Arabia didorong oleh kepedulian yang selalu dijaga untuk  terus menerus memungkinkan para tamu Rumah Tuhan dan juga penziarah Masjid Mustafa SAW untuk melakukan ritual Haji dan Umrah dalam keamanan, kesehatan dan keselamatan, semenjak merebahkanya virus COVID-19 dan penularan virus ini ke beberapa negara.

Untuk mengambil tindakan kehatian-kehatian demi melindungi para tamu Allah dengan menangguhkan kedatangan para peziarah dan tetap memberikan kesempatan bagi jama’ah haji yang memang sudah ada di Tanah Suci. Keputusan ini diharapkan memenuhi  kebaikan bagi Islam dan bagi dunia internasional atas kontribusinya yang dalam menghadapi pandemi global, dan dalam mendukung upaya negara dan organisasi kesehatan internasional untuk membatasi penyebaran virus.

Ketiga, karena wabah terus berlanjut dan juga kekhuwatiran akan penularan di tengah-tengah perkumpulan yang besar, serta perpindahan orang dari satu negara ke negara lain, serta pertambahan angka yang terkena virus ini, maka pelaksanaan ibadah haji untuk tahun 1441 dibatasi jumlahnya bagi mereka yang akan melaksanakan jamaah dari pelbagai negara yang sudah tinggal di Saudi.

Hal itu dilaksanakan agar ibadah haji bisa dilaksanakan dengan aman dan selamat untuk memenuhi persyaratan pencegahan dan social distancing (al-taba’ud al-ijtima’i) yang merupakan keharusan untuk menjamin keselamatan dan penjagaan manusia dari ancaman pandemik ini dan untuk menegakkan Syariah Islam dalam menjaga kehidupan manusia karena Allah.

Tiga butir di atas saya terjemahkan dari ketetapan (qarar) Pemerintah Saudi tentang pelaksanaan ibadah haji. Jadi sekali lagi, haji tetap dilaksanakan, namun tidak seperti biasanya. Kali ini pelaksananaan ibadah haji dibatasi hanya bagi mereka yang sudah tinggal di Saudi Arabia. Mereka ini bisa berasal dari mana saja, namun sudah menetap di negeri ini. Selain itu, jumlahnya pun akan dibatasi dan pelaksanaannya akan diatur secara ketat dengan menerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Sebagai catatan, meskipun segala hal tentang pelaksanaan haji yang dikeluarkan oleh Kementerian Haji dan Umrah Pemeritah Saudi sudah jelas adanya, namun kita kerapkali berusaha untuk mengolah informasi tersebut sebagai bahan untuk mengolah kebencian. Hal ini tidak hanya terkait dengan haji saja, namun juga terkait dengan soal-soal keagamaan yang lainnya. Nampaknya, meningkatnya gairah keagamaan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku yang baik.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.