OUR NETWORK

Para Filosof Muslim dan Bahasa Yunani

Adanya penerimaan sumber-sumber berbahasa non-Arab menunjukkan bahwa pluralisme adalah hal yang sebenarnya inheren di dalam tradisi keilmuan dunia Islam.
Ilustrasi: republika.id

Kita mengenal bahwa filsafat dan dunia keilmuan lain seperti kedokteran, astronomi dan banyak lagi ada yang bersumber dari dunia di luar Islam—dunia di luar bahasa Arab. Ilmu-ilmu datang ke dunia Islam dibawa penguasa –Dinasti Abbasiyah—dan juga para filosof Islam yang bersentuhan dengan dunia luar terutama Yunani, Siryani, Persia bahkan India. Memang ada teori yang mengatakan jika filsafat sebenarnya bersumber dari dalam Islam sendiri karena adanya istilah hikmah yang berarti kebijakan (wisdom) yang bermakna sama dengan filsafat. Ya, teori ini bisa benar dan bisa juga tidak benar. Namun antara filsafat dan hikmah memang keduanya berbicara soal hikmah (wisdom).

Tulisan ini sederhana ini saya buat karena keingintahuan saya tentang siapa saja para filosof Muslim zaman pertengahan yang mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya dari bahasa aslinya. Pertanyaan utama dalam hal ini “bagaimana mereka membaca dan mengakses karya-karya Yunani, siapa di antara para filosof Muslim yang mengakses dan bisa berbahasa Yunani dan siapa yang membaca filsafat dari buku-buku yang sudah diterjemahkan oleh para penerjemah Yahudi dan Kristen ke dalam bahasa Arab? Lalu, siapa saja yang bekerja untuk menterjemahkan karya-karya berbahasa Yunani atau lainnya ke dalam bahasa Arab?

Filosof Pembaca Sumber Yunani Langsung

Dari sejumlah fiosof Muslim yang secara jelas membaca dan mempelajari filsafat langsung pada sumber-sumber filsafat berbahasa Yunani adalah al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Kindi ini bisa dikatakan sebagai filosof pertama di dalam dunia Islam yang hidup pada awal abad 9 M, bersamaan dengan mulai mekarnya kekuasaan Abbasiyah.

Al-Kindi ini lahir di Bashrah kemudian pindah ke Baghdad. Al-Kindi ini memiliki pengetahuan yang luas sekali dari sumber-sumber asal Yunani, Persia sampai India. Filsafat, kedokteran, matematika dan mantiq adalah ilmu-ilmu yang dikuasainya. Dua bahasa yang dia kuasai yaitu bahasa Yunani dan Siryani. Karenanya, al-Kindi belajar filsafat langsung dari sumber bahasa Yunani.

Filosof Muslim kedua adalah al-Farabi. Al-Farabi ini mengikuti jejak al-Kindi dan bahkan untuk beberapa hal menyempurnakannya. Al-Farabi berguru kepada seorang Kristiani bernama Yuhana bin Hailan. Al-Farabi membaca filsafat dari sumber-sumber Yunani secara langsung. Karena kedalamannya membaca Aristoteles, maka al-Farabi dianggap sebagai al-mu’allim al-tsani dan Aristoteles dianggap sebagai al-mu’allim al-awwal di dunia filsafat Islam. Tentang kemampuan bahasa Yunani yang dimiliki oleh al-Farabi sangat jelas, bahwa dia sangat paham dan mendalami bahasa Yunani.

Hassan Hanafi dalam bukunya yang berjudul Min al-naql ila al-ibda’ mengatakan “al-Farabi itu mengkaji peradaban yang terus berubah, peradaban Yunani dengan menggunakan bahasa Yunani, secara bahasa, huruf dan wazan (perubahan kata).” (Baca Hassan Hanafi, Min al-naqli ila al-ibda, h. 97).

Ibnu Sina yang digelari al-Syaikh al-Rais adalah dokter termasyhur dunia Arab sepanjang sejarah dunia Islam dan asli orang Persia. Ibnu Sina lahir pada 980 M. Sejak kecil Ibn Sina belajar al-Qur’an (menghafal al-Qur’an), ilmu-ilmu dasar syariah dan ilmu tata bahasa Arab sejak umur 10 tahun. Sebenarnya saya tidak begitu yakin bahwa Ibn Sina membaca filsafat dan juga ilmu kedokteran Yunani langusng dari sumber berbahasa Yunani.

Beberapa kitab filsafat dan sirah yang saya baca, interaksi Ibn Sina lebih banyak dengan guru-gurunya yang memakai sumber filsafat Yunani berbahasa yang Arab dan Persia sudah barang tentu. Menurut beberapa sumber bahkan dikatakan Ibn Sina membaca karya-karya Yunani yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Baca buku Lenn Evan Goodman, Avicenna, Routledge: London, 1992).

Namun dalam sebuah sirah Ibn Sina yang ditulis oleh Abbas Mahmud al-‘Aqqad menyakin saya bahwa “anna ibn Sina ittala’a ‘ala maraji’ al-falsafati wa al-hikmati fi al-lughat fi shabbahu min ba’dl al-du’at,… sesungguhnya Ibn Sina menelaah referensi-referensi filsafat dan ilmu hikmah dalam bahasa Yunani, dia belajar bahasa ini sejak masa kecilnya dari para misionaris,….(Baca Abbas Mahmud al-‘Aqqad, al-Syaikh al-Ra’is Ibn Sina, cet. 3, Dar al-Ma’arif, h. 14.

Ibn Sina, sesungguhnya, adalah seorang pengikut Aristoteles. Ibn Sina menghasilkan karya-karya filsafat dan kedokteran terpenting di dalam sejarah keilmuan dan peradaban di Islam seperti al-Qanun fi al-tibb yang menjadi kurikulum fakultas kedokteran di Eropa sampai abad modern –18 M.

Filosof Pembaca Filsafat Yunani Tidak Langsung

Banyak filosof Muslim hebat yang mempelajari, menulis dan menafsirkan filsafat Yunani dan dunia lain melalui karya-karya yang sudah diterjemahkan dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Arab. Beberapa contoh misalnya adalah Ibn Sina, al-Ghazali dan Ibn Rusyd.

Adapun al-Ghazali lahir di kota Tus, Khurasan pada 1058 M, adalah seorang filosof Muslim yang pemikirannya sangat komplek. Al-Ghazali belajar di kota kelahirannya, lalu ke Nishapur. Dia seorang ahli ilmu kalam dan juga beberapa cabang filsafat. Dua karya filsafatnya yang penting adalah Maqasid al-falsafah dan Tahafut al-falasifah. Kitab Maqasid al-falsafah ini merupakan kitab filsafat ringkas yang membahas tentang logika yang sebenarnya tidak terlalu jaug dari apa yang sudah dijelaskan oleh Aristoteles.

Dalam beberapa literatur, al-Ghazali membaca filsafat Yunani melalui sumber-sumber sekunder, yakni melalui ulasan-ulasan filsafat para pendahulu seperti al-Kindi dan al-Farabi serta Ibn Sina. Kitab Tahafut al-falasifah adalah kitab yang al-Ghazali yang mengkritik pemikiran-pemikiran filsafat yang sempat diulas dalam kitab. Atas ini pula, sebagaian filosof Muslim menganggap bahwa al-Ghazali ini bukan orang ikhlas atas pencapat-pendapatnya tentang hubungan dia dengan filsafat.

Al-Ghazali memang seorang ulama yang memiliki karakteristik yang sangat berbeda pada zaman itu dengan para murid filsafat Yunani, dia menggabungkan tiga hal, filsafat Islam, kalam dan tasawuf. Dia tidak menyerahkan secara total ukuran filsafat pada akal namun juga tidak sebaliknya yakni menjadi agama sebagai pengendali akal. Dia berada di tengah-tengah. Caranya dia meletakkan tasawuf di dalam dirinya.

Ibnu Rusyd yang datang setelah al-Ghazali sebenarnya adalah ulama Andalusia yang unik karena menggabungkan teologi Asy’ariyah –yang juga ada aspek prederteminasi melalui konsep kasab–sebagai madzhab teologisnya dan fiqih Imam Malik sebagai madzhab fiqihnya serta ditambahkan dengan kecenderungan filsafatnya. Konon madzhab teologi Asy’ariyah adalah warisan dari bapaknya yang juga seorang ulama besar pada zamannya. Ibnu Rusyd, selain seorang filosof, adalah seorang ahli fiqih.

Dipastikan bahwa ketiga filosof besar di atas tidak mengakses filsafat dari tangan pertama, dari bahasa Yunani. Baik Ibn Sina, al-Ghazali maupun Ibn Rusyd nampaknya tidak berbahasa Yunani sebagaimana al-Kindi dan al-Farabi.

Tentang Ibn Rusyd yang tidak menguasai bahasa Yunani, Muhammad Lutfi Jum’ah membuat sebuah anak judul dalam kitabnya yang berjudul, Jahluhu bi al-yunaniyyah. Ibnu Rusyd bukan seorang yang berbahasa banyak sebagaimana kemampuan penguasaan bahasa al-Kindi, al-Farabi dan Ibn Sina. Karena Ibn Rusyd hanya mampu berbahasa Arab maka dia membaca filsafat dari sumber-sumber yang sudah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

Tidak seperti al-Ghazali yang bisa berbahasa Persia, Ibn Rusyd tidak menguasai bahasa ini, bahkan bahasa Siryani dan juga bahasa Spanyol—zaman—juga tidak bisa. Ibn Rusyd murni menggunakan bahasa Arab bahkan untuk mempelajari filsafat gurunya, Aristoteles. Meskipun Ibn Rusyd tidak berbahasa Yunani, dia tidak kehilangan kesempatan untuk membaca filsafat Yunani dalam bahasa Arab dengan cara melakukan perbandingan antar banyak karya yang sudah diterjemahkan tersebut.

Melihat kenyataan di atas, di sinilah sebenarnya al-Ghazali dan Ibn Rusyd serta filosof Muslim lainnya yang pada saat itu tidak bisa berbahasa Yunani berhutang jasa pada para filosof dan ilmuan non-Muslim.

Marilah kita mulai dengan peran Dinasti Abbasiyah dulu. Dinasti Abbbasiyah memang menjadi tonggak utama dalam proses transfer filsafat, ilmu pengetahuan luar Islam (al-ulum al-ajnabiyyah) ke dalam Islam. Ada tiga bahasa sumber pengetahuan yang diterjemahkan yaitu Yunani, Siryani (Syriac) dan India. Al-Mansyur banyak menyokong penerjemahan dalam bidang ilmu astronomi dan kedokteran, Harun al-Rasyid dalam bidang kesehatan (al-riyadiyat) dan al-Ma’mun dalam bidang filsafat, logika dan ilmu pengetahuan umum. Pada masa dinasti ini ratusan sumber Yahudi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, rata-rata pengetahuan dari Yunani.

Mereka orang-orang Kristen, Yahudi, Hindu dan sebagian Muslim Syiah yang banyak terlibat menterjemahkan buku-buku berbahasa Yunani, Siryani, Persia dan India ke dalam bahasa Arab antara lain adalah keluarga Bakhtishu terutama anak-anak dari Georges Bakhtishu, penganut Kristen Nestorian. Georges Bakhtishu ini adalah salah seorang dokter penting dari khalifah al-Mansur.

Kemudian keluarga Hunain, terutama Hunain bin Ishaq, juga seorang Kristen. Karya terjemahan Hunain tentang filsafat Yunani ini banyak dibaca oleh Ibn Rusyd. Lalu ada juga Khis al-A’sam al-Dimasyqi, konon anak laki-lakinya saudara perempuan Hunain, Qista bin Luqa, seorang Nasrani Syam, Masargeh al-Yahudi al-Siryani, Tsabit al-Harrani, Abu Basyar Mata bin Yunus, Yahya bin Adi, Istafan bin Basili dan Musa bin Khalid. Mereka bersepuluh ini yang menterjemahkan sumber-sumber asing yang berasal dari bahasa Yunani dan Siryani ke dalam bahasa Arab zaman Abbasiyah.

Adapun mereka yang menterjemahkan bahasa Persia ke Arab antara lain adalah Ibn al-Muqaffa’ dan ulama-ulama Syiah seperti al-Nawbakhti, Musa dan Yusuf, Ali bin Zayyad al-Tamimi, al-Hasan bin Sahal, al-Baladhuri Ahmad bin Yahya dan Ishaq bin Yazid. Dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab dikerjakan oleh dua orang Hindu India, Mankah al-Hindi dan Ibn Dahen al-Hindi.

Menurut catatan Muhammad Lutfi Jum’ah dalam kitabnya Tarikh falasifat al-islam fi al-maghrib wa al-masyriq, hasil terjemahan mereka adalah 8 jumlah buku yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab yang berkaitan dengan filsafat Plato, 19 buku yang berkaitan dengan logika Aristoteles, 10 buku kedokteran Hippocrates (Abqirat, bahasa Arabnya), 48 buku Galen (Jalinus), 20 buku tentang kesehatan dan kedokteran dari Euclid, Archimedes, dan Bartholomeus, 20 buku tentang peradaban dari bahasa Persia, 30 dari bahasa Sansekerta tentang kesehatan, kedokteran, astronomi dan adab, 20 dari bahasa Siryani tentang pertanian dan cocok tanam, dan 20 dalam bidang seni dan lainnya dari bahasa Latin dan Ibrani.

Catatan

Sumber-sumber filsafat dan ilmu pengetahuan Islam banyak diterjemahkan dan disadur dari sumber-sumber filsafat dan ilmu pengetahuan berbahasa non-Arab. Ulama-ulama terdahulu tidak merasa tertanggu dengan sumber-sumber yang demikian. Sudah barang tentu ada sebagian ulama yang tidak bisa menerima filsafat sebagian seperti al-Ghazali dan secara keseluruhan seperti Ibn Shalah dan Ibn Taimiyyah. Adanya penerimaan sumber-sumber berbahasa non-Arab menunjukkan bahwa pluralisme adalah hal yang sebenarnya inheren di dalam tradisi keilmuan dunia Islam.

Meskipun sebagian ulama membaca filsafat dari sumber-sumber terjemahan, namun karya yang mereka hasilkan sungguh luar biasa. Menurut catatan para ahli sejarah mengapa karya-karya mereka tetap luar biasa karena mutu terjemahan filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya begitu bagus dan mereka juga membanding-bandingkan hasil satu terjemahan dengan terjemahan lainnya dan belajar dari guru-guru yang membaca filsafat langsung dari bahasa aslinya.

Jelas, fenomena di atas juga menunjukkan kosmopolatisme dunia keilmuan Islam yang sebenarnya sudah marak dari awal.

Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…