Sabtu, Januari 23, 2021

Muslim Komunis, Adakah?

Meskipun HMI Tapi NU: NUHMI

Perkenalan saya dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terjadi setelah menginjak masa kuliah di UIN Jakarta. Dulu namanya IAIN Jakarta atau lebih sering dikenal dengan...

Bahaya Beragama Secara Fatalistik di Era Pagebluk

Hari-hari ini, bangsa kita dan bangsa sedunia sedang mengalami pandemi global yang disebabkan oleh Covid19. Semoga kita bisa melampaui ini semuanya. Secara historis, dunia ini...

MUI Baru: Apakah Akan Ada Fatwa-Fatwa yang Membela Minoritas?

Bulan November tahun ini, MUI memiliki kepengurusan baru masa bakti 2020-2025. Ketika melihat komposisi kepengurusan MUI 2020-2025, banyak orang berharap bahwa kepengurusan baru ini...

Fakta Tak Terbuang, Jasa Non-Muslim atas Kemajuan Peradaban Islam

Pernahkah kita, umat Islam, mendapatkan sumbang sih dari non-Muslim –terutama oleh kaum Yahudi, Kristen, dan Hindu--dalam sejarah perabadan Islam? Pertanyaan ini perlu saya kemukakan...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Di tengah-tengah publik kita yang sedang membicarakan masalah Partai Komunis Indonesia (PKI), saya ingin menyoroti soal “ideologi kiri” (the left ideology) dalam Islam. Jika kita melihat hiruk pikuk umat Islam di Indonesia terutama di setiap akhir bulan September seolah-olah umat Islam sangat membenci ideologi kiri. Sebutan kiri dalam politik tadinya tidak serumit yang kita bayangkan saat ini.

Kiri (the leff) adalah sebutan bagi mereka yang memiliki ideologi sosialisme dan komunisme. Sosialisme dan Komunisme itu sangat identik dengan Karl-Marx. Kita lalu memahami juga secara umum memahami jika semua komunis itu anti Tuhan atau ateisme. Kesan ini memang muncul karena kritik Karl Marx atas agama yang menurutnya bisa membuat pengikutnya seperti penghisap opium (ganja). Katakanlah dalam bahasa sekarang, Marx mengkritik banyaknya orang yang mabok agama.

Di Indonesia banyak orang kiri, namun tidak lantas dia menjadi tidak Islam. Bahkan, di antara banyak mereka yang bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah mereka yang tetap mempertahankan Islam sebagai agama mereka. Fenomena yang aneh ketika kita lihat dari zaman yang hitam putih seperti sekarang. Dalam pandangan mereka ini, PKI hanyalah sebuah partai yang bisa memperjuangkan aspirasi mereka orang Islam zaman itu. Di Kampung-kampung dan di desa-desa, pada saat itu, banyak orang ikut PKI sebagai partai, namun mereka tetap meyakini Islam sebagai agama mereka.

Jauh sebelumnya kita juga mengenal Sarekat Islam Merah dan Sarikat Islam Putih. SI Merah adalah sebutan untuk pengikut SI yang memiki ideologi Merah, sebuah warna yang biasa disematkan untuk sosialisme dan komunisme. Terlepas dari sejarah kelam PKI yang dianggap telah melakukan kudeta dan pembunuhan para tokoh negara dan juga orang-orang Islam, namun fenomena sosialisme dan komunisme Islam adalah hal menarik untuk dilihat.

Secara internasional, fenomena penggabungan Islam dan sosialisme bahkan komunisme juga terjadi. Di Rusia, dalam sejarah Revolusi Rusia, pernah terjadi upaya untuk menggabungkan antara Islam dan komunisme. Mereka terkenal dengan sebutan Communist Muslim. Mungkin bagi kita yang tidak paham konteksnya akan langsung nyinyir: “mana ada komunis kok Muslim.”

Kenyataannya, memang ada dan itu terjadi di Rusia sendiri, di negeri di mana ideologi ini tumbuh subur. Pelopornya pada waktu itu adalah Mirza Sultan Galiev (1892-1940). Hal yang menjadi pemicu masalah ini adalah umat Islam di Rusia berhak untuk menafsirkan ajaran-ajaran Karl Marx untuk konteks umat Islam Rusia. Komunis Muslim Rusia ini menginginkan penafsiran atas ajaran Karl Marx menurut pengalaman mereka sebagai orang Islam yang hidup di Rusia.

Mirza Sultan Galiev adalah seorang Tartar Bolshevik yang mencuat di lingkungan Partai Komunis Rusia pada tahunb 1920an. Idenya tentang Komunis Muslim jelas mengancam pejabat teras partai ini dan dia dipenjarakan selama enam tahun. Sultan Galiev ini memiliki masa kanak-kanak yang sulit. Dia belajar di sekolah ayahnya sendiri, karena ayahnya tidak mampu mengirimkan Galiev ke sekolah swasta yang bagus. Sejak dari kecil dia belajar pelbagai ilmu dan bahasa, termasuk bahasa Arab. Dia juga belajar al-Qur’an dan hukum Islam (syariah).

Selain Sultan Galiev, di dunia Islam, kita juga pernah mendengar Jamal Abdel al-Nasser, presiden Mesir yang berteman dengan Sukarno bersama-sama mendirikan Gerakan Negara-Negara Non-Blok sebagai tokoh sosialisme. Sayyid Qutub juga pernah mengadopsi sosialisme untuk spirit perjuangannya.

Ternyata, tokoh sarjana dan aktivis Muslim yang mengadopsi ideologi kiri juga bisa kita lihat pada diri Ali Shariati. Siapa aktivis Muslim di Indonesia yang tidak mengenal Ali Shariati dengan buku-bukunya yang mengobarkan semangat pembebasan atas kaum mustadlafin. Diilhami oleh ajaran Karl Marx, Shariati mencoba menafsirkan Islam sebagai agama yang progresif, agama yang membela kaum lemah dan agama yang menjunjung tinggi egalitarianisme. Ini adalah konsep perjuangan Ali Shariati yang mempengaruhi keberhasilan terjadinya Revolusi Iran.

Pada dekade 80 dan 90an, Ali Shariati menjadi bahan bacaan kaum aktivis Muslim di Indonesia juga. Bahkan kekhawatiran akan pengaruh Revolusi Iran di Indonesia, Suharto zaman itu mengeluarkan strategi agar ideologi ini tidak banyak diserap oleh generasi muda Indonesia. Karenanya, hal yang tidak aneh jika pada tahun 1980an, MUI sudah mengeluarkan sebuah fatwa peringatan bahasanya ajaran Syiah.

Ali Shariati adalah orang Iran dan pastinya pemeluk Islam Syiah, maka Syiah dibidik dalam hal ini. Nampaknya, Suharto berhasil dan banyak generasi Muslim sekarang yang menjadi produk dari siasat Suharto: yakni takut Syiah. Tidak hanya takut namun berusaha menghilangkan Syiah dari muka Indonesia. Padahal dulu ini merupakan siasat Suharto agar kita tidak revolusioner.

Di Syira, dikenal seorang tokoh Muslim yang berhaluan sosalis, yang bernama Muhammad al-Siba’i. Tokoh ini banyak mengarah kitab-kitab dalam pelbagai disiplin Islam dan karya-karyanya kita baca hingga kini. Muhammad Hassan Hanafi adalah tokoh intelektual Mesir yang memperkenalkan Islam Kiri (al-yasar al-islami). Konsep ini semata-mata untuk mengatakan bahwa Islam adalah agama untuk manusia yang tertindas.

Mereka yang saya sebutkan di atas adalah tokoh-tokoh Islam yang sampai akhir hayatnya adalah para pemikir Islam yang luar biasa. Ulama, aktivis, akademisi yang mendeklarasikan sebagai penganut sosialisme Islam atau bahkan komunisme Islam adalah mengambil sisi semangat sosialisme dan komunisme. Jika ada sebutan Muslim Komunis atau Muslim Sosialis pastinya yang dimaksud adalah orang Islam yang menggunakan spirit sosialis dan komunis.

Sebagai catatan, di dalam dunia Islam, memeluk ideologi kiri untuk memperjuangkan Islam sebenarnya bukan hal yang aneh. Antara Islam dan kiri bisa bergabung sebagaimana antara Islam dan kanan (kapatalisme). Sosialisme dan komunisme ini banyak diambil spiritnya karena ajarannya yang revolusioner.

 

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.