Rabu, Maret 3, 2021

Menjadi Bagian Mayoritas yang Membela Minoritas

Dinar-Dirham Itu Bukan Mata Uang Asli Islam

Beberapa waktu lalu, publik diramaikan dengan transaksi di Pasar Mu’amalah Depok yang menggunakan dinar dan dirham sebagai satuan alat tukar mereka. Di balik transaksi...

Mubalig-Mubalig Tak Konsisten

Beberapa waktu yang lalu, Ustad Abdus Shomad, populer dengan sebutan UAS mengadakan sayembara jodoh. Jodoh yang dicari adalah cantik, putih, dan hafal al-Qur’an. Model...

Relakah MUI dengan Tindakan Tengku Zulkarnain?

Di dunia media sosial, terutama twitter, nama Tengku Zulkarnain mestinya sudah sangat populer. Setiap tweetnya selalu di-share dengan semangat oleh kawan maupun lawan. Kini,...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Kasus-kasus yang menyebabkan guncangan hubungan mayoritas-minoritas umat beragama nampaknya akan selalu ada di negeri kita. Beberapa minggu lalu kasus terjemahan Injil ke dalam bahasa Minang dipersoalkan,

Kini, isu berpindah lagi ke lagu lagu anak-anak yang diduga sebagai upaya sistematis untuk menjauhkan Islam dari Indonesia. Meskipun untuk kasus terakhir ini, Ustadz Zainal sudah meminta maaf atas ketidaktahuannya. Namun, cara berpikir konspiratif yang menyatakan minoritas akan menghabisi mayoritas akan terus muncul.

Logika “perang agama” akan terus dihembuskan terutama dari sebagian kelompok yang merasa tidak yakin akan kekuatan mayoritasnya. Di Indonesia, kelompok Kristen akan selalu menjadi sasaran tembaknya karena kelompok Kristen adalah kelompok agama yang menurut mereka memiliki potensi yang membahayakan. Bukan demikian, Kristen dianggap memiliki dukungan dunia Barat yang liberal dan sekuler yang menyebabkan Kristen menjadi obyek kecurigaan kelompok mayoritas.

Kalau terjadi cara konspiratif dan kecurigaan yang terus menerus seperti ini, siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas hal ini? Menurut saya, tanggung jawab berada di tangan kelompok mayoritas. Namun mayoritas yang saya maksud di sini adalah mayoritas yang sehat. Siapa mayoritas yang sehat ini?

Mayoritas yang mampu bersikap jernih dan adil serta bisa menjelaskan kepada kelompok mayoritas yang lain bahwa cara berpikir konspiratif dan penuh curiga sebenarnya tidak akan membuat baik negara maupun agama mayoritas akan maju. Justru cara berpikir yang demikian ini akan menyebabkan negara dan agama menjadi mundur, set back, karena ketidakmampuannya dalam mendayagunakan diversitas dan pluralitas sebagai kekayaan.

Penjelasan-penjelasan seperti ini harus dilakukan oleh kelompok mayoritas yang sehat ini karena dalam konteks kita penjelasan apa pun dari kelompok minoritas akan dianggap sebagai pembelaan dan kemungkinan tidak akan diterima oleh kelompok mayoritas. Banyak yang menyebabkan hal demikian ini.

Karenanya, di sini lah letak pentingnya mengapa kelompok mayoritas yang sehat ini perlu memberikan penjelasan kepada sesama kelompok mayoritas mereka sendiri yang masih dikuasai oleh cara berpikir sempat, konspiratif dan penuh kecurigaan. Jika kelompok mayoritas yang sehat ini tidak memberikan penjelasan kepada sesama mereka, maka kecurigaan dan persangkaan akan jalan terus berjalan kepada kelompok minoritas.

Alasan lain yang menyebabkan kelompok mayoritas yang sehat ini harus ikut bertanggung jawab untuk mengurangi prasangka buruk dan cara pandang konspritif atas minoritas adalah prasangka dan cara pandang tersebut berasal itu pada umumnya muncul dari kelompok mayoritas, bukan dari kelompok minoritas.

Sebagai mayoritas kita harus memperkenalkan narasi-narasi kedekatan antara Islam dan kelompok minoritas terutama. Ada tiga hal yang mungkin berguna untuk memberikan contoh betapa kedekatan antara Islam dan agama minoritas di Indonesia.

Pertama, melalui jalan sejarah dimana kita menjelaskan bahwa secara historis, antara Islam dan agama minoritas di Indonesia adalah sangat dekat. Kristen misalnya adalah bagian dari tradisi Abrahamik sebagaimana Islam juga. Penuturan sejarah yang baik akan bisa banyak membantu kita semua untuk menjaga hubungan yang baik antara Islam dan agama-agama minoritas yang lain.

Kedua, melalui jalan teologis. Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Islam sesungguhnya banyak mengajarkan umatnya untuk senantiasa untuk memberlakukan umat-umat agama lain sebagai manusia, harus dihargai dan dihormati sebagaimana mestinya.

Demikian juga agama lain memiliki hal yang sama dengan Islam untuk memperlakukan umat agama lain secara baik. Dalam sebuah buku yang berjudul al-turath al-masihy al-Islami, karangan Layla Tukla, seorang profesor berkebangsaan Mesir beragama Kristen Koptik, dikatakan jika banyak tradisi kekristenan yang memiliki kedekatan dan bahkan akar yang sama dengan dengan Islam. Tradisi itu meliputi konsep-konsep ketuhanan, kenabian, kebaikan dan lain sebagainya. Karenanya, buku yang dia tulis diberi judul di atas yang artinya, Tradisi Kekristenan yang Islami.

Ketiga, melalui jalan menghadapi masalah dan membagi pengalaman bersama. Sebagai kelompok mayoritas, kita, umat Islam, mengajak sesama mayoritas lainnya untuk bersama-sama dengan kelompok minoritas dalam menghadapi masalah yang bisa kita hadapi bersama. Misalnya, masalah kemiskinan, pandemik dan banyak hal lagi. Masalah-masalah yang demikian ini sebenarnya bukan masalah kelompok mayoritas saja, namun juga kelompok minoritas. Dari ini lalu kita membagi dan mencarikan jalan keluar bersama-sama atas masalah yang dihadapi di atas.

Lalu apa makna membagi pengalaman bersama? Membagi pengalaman bersama adalah berbagi bercerita antar sesama kelompok mayoritas dan kepada kelompok minoritas atas pengalaman-pengalaman yang mereka hadapi bersama sebagai umat beragama dan umat manusia. Pengalaman-pengalaman yang saling dibagikan antara kelompok umat beragama ini tidak hanya pengalaman baik namun juga pengalaman buruk. Hal ini perlu agar terjadi silang pembicaraan keagamaan yang berdasar pada realitas hidup yang dihadapi bersama.

Sebagai catatan, tiga jalan yang saya usulkan di atas, akan bisa menjadi salah satu strategi untuk mengatasi hal-hal yang terjadi selama ini terjadi, namun kuncinya tetap pada kelompok mayoritas yang sehat untuk mempeloporinya. Akhirnya saya katakan, mari kita menjadi bagian mayoritas yang sehat yang menjaga dan melindungi minoritas kita.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Berita sebelumnyaJawara Pandemi
Berita berikutnyaJokowi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.