Senin, Januari 18, 2021

Jangan Terus Memojokkan Minoritas yang Memang Sudah Terpojok

Dalam Teori Politik Sunni Pemakzulan Tidak Ada

Persoalan pemakzulan presiden kembali ke permukaan. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah alasan fiqh siyasah. Menurut laporan Koran Tempo I Juni 2020, Prof. Din...

Adakah Jejak Yunani dalam Imam Syafi’i?

Melanjutkan tulisan pendek saya beberapa waktu lalu, “Para Filosof Muslim dan Bahasa Yunani,” saya tertarik untuk menelusur lebih lanjut tentang adakah jejak Yunani –filsafat Yunani—dalam...

Jika Sertifikasi Dakwah Berjalan, Para Pendakwah Kebencian Bakal Tersingkir

Jika benar akan dilaksanakan, maka program kementerian agama dalam melakukan sertifikasi pendakwah atau mubaligh merupakan hal yang patut untuk diapresiasi. Program ini sangat penting...

Para Filosof Muslim dan Bahasa Yunani

Kita mengenal bahwa filsafat dan dunia keilmuan lain seperti kedokteran, astronomi dan banyak lagi ada yang bersumber dari dunia di luar Islam—dunia di luar...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Gubernur Sumatera Barat meminta aplikasi terjemahan Injil dalam bahasa Minang dicabut dengan alasan-alasan yang dikemukakannya. Sebagai kitab suci kaum minoritas Kristen, terjemahan Injil di dalam bahasa Minang ini mungkin dianggap berbahaya karena bisa mempengaruhi orang-orang Minang untuk masuk Kristen.

Permintaan Gubernur Sumatera Barat di atas merupakan cerminan bagaimana pihak minoritas akan selalu menjadi sasaran tembak kelompok mayoritas dan menggunakan agama akan menjadi hal yang paling ampuh untuk menembak mereka.

Kenapa terjemahan Injil ditakuti, bukankah Injil juga kitab suci agama yang oleh Konstitusi dijamin keberadaannya? Bahkan tidak hanya di Konstitusi kita, namun di dalam ajaran Islam, sebagai agama mayoritas umat Islam, bahkan keberadaan Injil juga merupakan bagian yang harus diimani oleh seorang Muslim. Seorang Muslim, salah satu iman mereka adalah keharusan percaya pada kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum al-Qur’an.

Sebagian wacana publik menyatakan jika yang menjadi sasaran utama di balik terjemahan Injil dalam bahasa Minang adalah menghalau proses Kristenisasi. Jika Minang yang diklaim sebagai wilayah yang paling Islami sudah tertembus, maka daerah-daerah yang lain akan mudah ditaklukkan. Tapi, hal ini menunjukkan bahwa sebagai mayoritas, mereka nampaknya tidak percaya akan kemampuan terjemahan al-Qur’an dalam menjaga mereka untuk tidak terkena sasaran terjemahan Injil di atas.

Sebagian kalangan menganggap bahwa terjemahan Injil ke dalam bahasa-bahasa lokal adalah bagian dari cara penyebaran Kristen. Argumen ini masuk akal, namun, hal ini juga terjadi pada proyek terjemahan kitab-kitab suci agama yang lain juga. Terjemahan al-Qur’an untuk bahasa-bahasa lokal di Afrika dan negara-negara Amerika Latin sebagai misal juga tidak terlepas dari upaya untuk memperkenalkan Islam kepada kalangan non-Muslim. Dengan membaca terjemahan al-Qur’an, mereka diharapkan mengenal dan akhirnya masuk ke dalam Islam.

Terjemahan al-Qur’an dan maupun terjemahan kitab suci lain dianggap sebagai jalan dakwah, menarik orang luar ke dalam agama-agama kita. Karenanya, saya melihat bahwa persoalan terjemahan Injil ke dalam bahasa Minang ini lebih mencerminkan ketidaksiapan mayoritas Muslim menanggung dampak terjemahan dalam kehidupan sosial, sebagaimana juga ketidaksiapan banyak kalangan di dunia akan terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa mereka.

Secara teologis, sebagai mayoritas, umat Islam di Indonesia sebenarnya tidak usah mempersoalkan terjemahan Injil ke dalam bahasa apapun yang dipakai di negeri ini. Secara teologis, toh, Islam tidak melarang penterjemahan kitab suci ke dalam bahasa apa saja, termasuk ke dalam bahasa Arab. Injil orang-orang Kristen Koptik di Mesir memakai bahasa Injil berbahasa Arab dan tidak ada perintah dari otoritas Islam di Mesir untuk mencabut terjemahan Injil tersebut.

Hal yang menarik lagi dalam catatan sejarah bahwa Bible sudah berbahasa Arab semenjak Islam belum diturunkan. Di negara-negara Arab pra-Islam, kaum Nasrani Arab melafalkan Injil dalam bahasa Arab di dalam liturgi mereka.

Pada masa ini belum ada terjemahan namun Injil dilafalkan secara oral dalam bahasa Arab. Hal ini juga menjadi dimengerti jika polemik dengan kaum Yahudi dan Nasrani dilakukan karena Nabi Muhammad hanya bisa berbahasa Arab. Jadi, hampir dipastikan jika pengetahuan Nabi Muhammad tentang kitab suci agama lain itu, selain bersumber dari wahyu, juga dari penuturan kitab-kitab suci tersebut yang sudah diturutkan dalam bahasa Arab.

Sayang sekali diskursus seperti ini tidak banyak terdengar di ruang publik. Informasi ruang publik kita tentang agama-agama atau kitab suci mereka dipenuhi oleh rasa saling kecurigaan. Jika situasinya seperti ini, maka hampir dipastikan kaum minoritas yang menjadi sasaran korbannhya.

Berpijak dari peristiwa permintaan Gubernur Sumatera Barat untuk mencabut aplikasi Injil dalam bahasa Minang, maka mulai sekarang kita semua sangat penting sekali untuk menyebarkan informasi keagamaan yang adil dan terbuka serta mencari sisi positif dari semua pihak. Misalnya, dalam konteks masalah kita, terjemahan Injil dan juga kitab-kitab suci dalam bahasa apa saja selain itu memang mengandung unsur dakwah, namun terjemahan Injil itu juga untuk melayani umat mereka untuk beribadah.

Sebagai umat Islam, mungkin kita bisa bias karena mengapa ibadah harus memakai bahasa yang bukan asli dari bahasa kitab suci sebagaimana umat Islam harus menggunakan bahasa asli Qur’an. Kaum Kristiani memang dibolehkan memakai bahasa terjemahan injil untuk kebutuhan liturgi. Mengapa harus dalam bahasa suku tertentu yang mana suku tersebut tidak banyak yang beragama Kristen?

Sekali logika kita harus diputar. Berapa pun jumlah kaum Kristen dari suku Minang atau suku yang lainnya, selama mereka Kristen, maka mereka berhak mendapatkan buku terjemahan kitab suci mereka terutama untuk keperluan liturgi atau keperluan pengetahuan yang lain.

Persoalan terjemahan Injil dalam bahasa Minang ini harus kita tanggapi bersama dan kita cari jalan keluarnya bersama agar hal ini tidak merembet ke mana-mana. Sebagai bangsa yang besar dan terhormat, saya kira kita harus mengakhiri sikap dan tindakan untuk terus memojokkan kaum minoritas. Mereka juga warga negara dan memiliki hak yang setara dengan warga negara yang lainnya.

Sebagai catatan, masalah terjemahan Injil ke dalam bahasa Minang itu lebih menunjukkan inferiority complex, kelompok mayoritas yang terus merasa terancam dengan kelompok minoritas. Marilah sebagai kelompok mayoritas kita menebarkan sikap dan tindakan yang melindungi kelompok minoritas.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.