Minggu, Maret 7, 2021

Fatwa-Fatwa Ulama Dunia Tentang Social Distancing

Menjadi Bagian Mayoritas yang Membela Minoritas

Kasus-kasus yang menyebabkan guncangan hubungan mayoritas-minoritas umat beragama nampaknya akan selalu ada di negeri kita. Beberapa minggu lalu kasus terjemahan Injil ke dalam bahasa...

Desember Bulan Gus Dur

Desember itu identik dengan bulan Gus Dur. Sejak kemangkatannya pada 2009, bulan di mana beliau meninggal selalu dijadikan sebagai bulan untuk mengenang, merefleksikan dan...

Dinar-Dirham Itu Bukan Mata Uang Asli Islam

Beberapa waktu lalu, publik diramaikan dengan transaksi di Pasar Mu’amalah Depok yang menggunakan dinar dan dirham sebagai satuan alat tukar mereka. Di balik transaksi...

Mubalig-Mubalig Tak Konsisten

Beberapa waktu yang lalu, Ustad Abdus Shomad, populer dengan sebutan UAS mengadakan sayembara jodoh. Jodoh yang dicari adalah cantik, putih, dan hafal al-Qur’an. Model...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Untuk mengatasi penyebaran wabah yang sedang kita hadapi bersama ini, Pemerintah Indonesia dan juga pemerintah-pemerintah di negara lain, mengambil kebijakan social distancing dengan pelbagai konsekuensi yang akan ditimbulkannya.

Soal kebijakan social distancing ini diyakini merupakan metode yang paling cocok untuk situasi masyarakat Indonesia dengan struktur sosial dan ekonomi yang kita miliki. Sebagai negara terbesar yang berpenduduk Muslim, kebijakan social distancing sudah barang tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan terutama dari sisi keagamaan, di mana kebijakan tersebut akan mensyaratkan banyak perubahan di dalam ritual keagamaan.

Misalnya, umat Islam harus rela meninggalkan masjid-masjid dan mushola-mushola mereka untuk sementara demi social distancing ini. Sebetulnya, bukan hanya umat Islam saja, namun juga umat agama lain harus melakukan hal yang sama, mereka harus siap memindahkan ibadah kongregasional mereka ke ruang privat.

Catatan kali ini akan mengulas bagaimana fatwa-fatwa di pelbagai belahan dunia Islam, bagaimana sesungguhnya fatwa-fatwa tentang penjarakan sosial ini pada umumnya?

Pada tanggal 3 Maret 2020, Lembaga Fatwa Uni-Emirat Arab mengeluarkan fatwa bahwa ibadah-ibadah jamaah (kongregasional) ditunda untuk dilaksanakan di masjid-masjid seluruh negara itu.

Lembaga Fatwa yang dipimpin oleh ulama Senior Syaikh Muhammad bin Bayyah mengeluarkan tiga fatwa penting: (1) Hukumnya wajib bagi seluruh masyarakat untuk mematuhi arahan kesehatan dari pihak pemerintah dan wajib mengambil cara-cara untuk menghindarkan penyebaran penyakit; (2) Haram hukumnya bagi mereka yang terkena wabah atau orang yang memiliki resiko tinggi untuk memasuki masjid-masjid atau tempat ibadah umum; (3) Ada rukhsah (religious concession) bagi anak dan orang tua yang memiliki imunitas cukup untuk tidak juga mendatangi masjid-masjid.

Fatwa di atas menjelaskan bahwa semua pihak diminta untuk menerima social distancing. Dar al-Ifta’ (Lembaga Fatwa Mesir) mengeluarkan fatwa tentang dilarangnya kita semua untuk Shalat Jum’at, meskipun tadinya itu hal yang wajib, namun demi melindungi kesehatan masyarakat yang ini merupakan bagian dari tujuan syariah, maka Shalat Jumat boleh tidak dilaksanakan.

Dar al-Ifta’ menyatakan bahwa Islam memiliki aturan-aturan untuk mencegah terjadinya penyakit dan epidemi, melaksanakan prinsip-prinsip-prinsip karantina dan menjalankan cara-cara yang bisa melindungi kita serta melarang kontak dengan orang yang sudah interinfeksi.

Pemerintah Saudi juga melarang ibadah umrah baik bagi orang dari negeri sendiri maupun bagi jamaah dari luar Saudi. Bahkan Saudi kemungkinan besar, menurut pelbagai sumber, akan meniadakan ibadah haji pada tahun ini, jika wabah ini tidak berakhir.

Kini, Saudi hanya memperbolehkan ibadah Shalat Jumat di Mekkah dan Madinah saja dengan ketentuan-ketentuan yang sangat ketat, misalnya khutbah dan Shalat Jum’at tidak melebihi lima belas menit. Ibadah i’tikaf pun juga dilarang di masjid-masjid Saudi.

Bahkan, negeri Kuwait sudah menggantikan lafal “hayya al-salah” (mari kita tunaikan shalat) di dalam adzan dengan “shallu fi buyutikum” (shalatlah kalian semua di rumah kalian masing-masing). Penggantian lafal ini merujuk pada era Nabi Muhammad di mana pada saat hujan deras dan angin kencang kaum beriman diminta untuk tinggal di dalam rumah.

Beberapa minggu yang lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan fatwa yang juga meniadakan Shalat Jum’at dan shalat jamaah lima waktu di masjid-masjid di daerah yang dikategorikan berbahaya. Fatwa MUI juga mengharamkan mereka yang terinfeksi oleh wabah Shalat Jum’at dan shalat jama’ah di masjid. Fatwa MUI ini mendapat dukungan dari NU dan Muhammadiyah.

Tidak hanya negeri Sunni saja yang mengeluarkan fatwa-fatwa dan aturan-aturan pelarangan Shalat Jum’at dan shalat jama’ah di masjid, namun otoritas ulama Syiah juga mengeluarkan fatwa yang senada. Masih banyak fatwa-fatwa dan aturan-aturan kenegaraan lainnya yang memiliki kandungan senada.

Jika kita perhatian fatwa-fatwa dan aturan-aturan di atas, nampak jelas bahwa perkara perlindungan atas nyawa manusia adalah hal yang sangat diutamakan dalam Islam. Bahkan di antara lima tujuan syariah, jika perlindungan agama (hifdz al-din) dan perlindungan diri atau hidup (hifdz al-nafs) dihadap-hadapkan, maka sebagian ulama mendahulukan perlindungan diri manusia karena agama tanpa manusia yang hidup tidak ada yang menjalankannya.

Soal keseragaman fatwa dan aturan di hampir dunia Islam ini, selain soal yang berkaitan dengan wabah ini, saya bisa mengatakan bahwa fatwa-fatwa dan aturan-aturan di atas sudah bisa dikatakan bukan hanya sekedar fatwa, namun bisa ditingkatkan sebagai ijma’ Global atau kesepakatan global dalam pengertian ilmu Ushul Fiqih. Mungkin dalam sejarah modern umat Islam di dunia, baru kali ini ulama dan umara’ seluruh dunia menyatakan kesepakatan untuk masalah tunggal ini.

Sebagai catatan, jika bisa diambil hikmahnya, umat Islam sedunia bisa disatukan lewat wabah ini. Mungkin bukan disatukan secara entitas politik, karena hal ini hampir bisa dikatakan utopia bagi seluruh negara-negara Muslim yang sudah menjadi negara bangsa, namun disatukan dalam perkara-perkara kepentingan bersama.

Bahkan, wabah ini juga tidak hanya mempersatukan antar sesama umat Islam, namun juga seluruh umat beragama di dunia. Kita semua kini disatukan bersama-sama untuk memerangi wabah yang dahsyat ini.

Orang disatukan tanpa memandang latar belakang agama, ras, jender, dan lain sebagainya. Namun, orang disatukan karena semua ingin menjaga dan mempertahankan kehidupan mereka.

Terkait:

Covid 19 dan Matinya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.