Jumat, Desember 4, 2020

Fakta Tak Terbuang, Jasa Non-Muslim atas Kemajuan Peradaban Islam

Jangan Ngeyel, Tetap Ibadah di Rumah Saja

Sejengkal hari lagi kita akan memasuki bulan puasa. Hampir dipastikan kita masih berada dalam situasi pandemi COVID-19. Bulan puasa yang biasanya kita sambut dengan...

Kenapa Kaum Hijrah Senangnya Meresahkan Rakyat?

Baru-baru ini beredar 50 daftar pekerjaan yang diharamkan yang disebarkan di media kita. Sederet jenis pekerjaan itu antara lain pelawak, bintang model, satpam di...

Mungkinkah Titik Temu Sunni dan Syiah dalam Syair Tolak Balak?

Dalam masa wabah seperti ini, banyak “ijazah” doa tolak balak yang kembali dibacakan di lingkungan kita. Salah satunya adalah syi’ir “li khamsatu utfi biha,...” Syi’ir...

Mengapa Indonesia Mengecam Prancis, Bukankah Keduanya Menghadapi Tantangan Radikalisme?

Pernyataan Pejabat Pemerintahan kita yang mengecam Prancis, dalam hal ini kebijakan Emmanuel Macron, seolah melupakan persoalan yang sedang Indonesia hadapi saat ini, yakni menghalau...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Pernahkah kita, umat Islam, mendapatkan sumbang sih dari non-Muslim –terutama oleh kaum Yahudi, Kristen, dan Hindu–dalam sejarah perabadan Islam? Pertanyaan ini perlu saya kemukakan di sini karena masih banyaknya kalangan Muslim yang sering kali memojokkan kaum non-Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Kaum non-Muslim dianggap sebagai musuh dan dipandang sebagai pihak yang sama sekali tidak memiliki jasa apapun pada umat Islam. Di negara kita, kaum non-Muslim sering menjadi sasaran kebencian. Mereka sering dianggap sebagai pihak yang senantiasa ingin mengajak orang Islam untuk masuk ke dalam agama mereka. Bahkan dalam situasi wabah COVID-19, ada yang mengatakan jika virus ini hanya untuk non-Muslim saja.

Pendek kata, citra kaum non-Muslim memang sangat jelek di hadapan orang-orang Islam. Jika mereka berjasa pun, maka jasa itu dianggap keharusan sebagai minoritas, dan parahnya juga jasa itu tidak dianggap sebagai perbuatan baik bagi kaum Muslim karena tidak seakidah. Buat apa menghargai mereka yang tidak seakidah.

Namun bagaimana dengan sejarah kita, sejarah Islam yang telah mencatat mereka? Marilah kita lihat sejarah Islam. Mari kita buka mata mata dan pikiran kita bahwa mereka memiliki jasa penting bagi kaum Muslim.

Di dalam sejarah Islam, ekspansi ke dunia di luar jazirah Arab begitu cepat terjadi, namun kemajuan peradaban Islam terpenting setelah era kenabian adalah kekuasaan Dinasti Abbasiyyah. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini berhasil membawa Islam masuk ke dataran Eropa terutama Kawasan Andalusia, sekarang disebut dengan Spanyol. Dinasti Abbasiyah ini tidak hanya mengalami kemajuan perluasan wilayah, namun juga dalam bidang pengembangan peradaban dan pengetahuan Islam.

Baiklah, selanjutnya, kita buka lembaran sejarah kemajuan peradaban Islam. Ternyata, umat Islam memang pernah mendapat sumbangan dari non-Muslim. Bahkan sumbangan mereka itu bukan sekedar sumbangan biasa, namun sumbangan yang sangat menentukan dalam membangun ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam.

Tahukah wahai generasi kita sekarang, peran non-Muslim dalam transfer ilmu pengetahuan ke dunia Islam merupakan hal tak terbantahkan. Mereka menerjemahkan karya-karya berbahasa Yunani, India dan Persia serta bahasa Siryani ke dalam bahasa Arab, bahasa yang menjadi bahasa utama umat Islam saat itu. Siapakah mereka-mereka ini?

Saya sebutkan beberapa nama. Pertama, keluarga Bakhtishu terutama anak-anak dari Georges Bakhtishu, penganut Kristen Nestorian. Georges Bakhtishu sendiri mengabdi sebagai dokter untuk khalifah Abbasiyah, al-Mansur.

Kedua, keluarga Hunain, terutama Hunain bin Ishaq. Hunain bin Ishaq juga penganut Kristen yang taat. Kita harus memberi tahu kepada generasi Islam sekarang jika karya terjemahan Hunain dari bahasa Yunani dinikmati oleh para ulama dan pemikir Islam termasyhur pada zaman itu, antara lain Ibnu Rusyd.

Ibn Rusyd adalah seorang ulama besar dalam mazhab Maliki yang kitab-kitabnya kita baca secara luas di pesantren-pesantren modern dan perguruan tinggi Islam seantero Indonesia sampai saat ini. Tahukah kita bahwa Ibnu Rusyd mendapatkan manfaat dari karya-karya Hunain ini.

Lalu ada juga sejumlah nama seperti Khis al-A’sam al-Dimasyqi, seorang Kristen juga, Hunain, Qista bin Luqa, seorang Nasrani Syam, Masargeh al-Yahudi al-Siryani, Tsabit al-Harrani, Abu Basyar Mata bin Yunus, Yahya bin Adi, Istafan bin Basili dan Musa bin Khalid. Nama-nama ini yang membantu Dinasti Abbasiyah menterjemahkan sumber-sumber asing yang berasal dari bahasa Yunani dan Siryani ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah.

Ada juga sumbangan dari orang India Hindu yakni Mankah al-Hindi dan Ibn Dahen al-Hindi. Mereka ini menterjemahkan sumber-sumber berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab.

Bidang-bidang keilmuan diterjemahkan adalah bidang-bidang utama yang membawa kemajuan umat Islam seperti kedokteran, astronomi, kimia, pertanian, fisika, filsafat, hukum dlsb.

Hasil akhir dari ini semua adalah kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam pada masa itu. Kemajuan Islam ini pada akhirnya juga menjadi jembatan bagi kemajuan Eropa. Kemajuan Eropa berarti juga kemajuan dunia.

Bagaimana kita, generasi manusia sekarang menyikapi fakta sejarah yang demikian ini? Mungkin seseorang bisa benci dan memusuhi non-Muslim dalam hal urusan keagamaan, politik, ideologi kekinian, namun kita tidak bisa membuang fakta sejarah bahwa mereka pernah menorehkan jasa mereka kepada umat Islam, menyumbang tercapainya puncak peradaban dan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Kata orang bijak, jika kamu tidak tahu sejarah, maka kamu tidak tahu apa-apa, kamu adalah daun yang tidak bahwa kamu adalah bagian dari bagian dari pohon. Memang, manusia yang lupa sejarah pada dasarnya adalah manusia yang dungu karena masa depan itu sebagian ditentukan oleh sejarah.

Syiakh Ibrahim al-Duwais mengatakan dalam sebuah kitabnya:

اقرأ التاريخ لتربط هذه الأحداث اليوم بتاريخنا العريق يوم أن يبين لنا الدروس والعبر

Bacalah sejarah untuk mengaitkan peristiwa-peristiwa hari ini dengan sejarah kita yang lalu pada hari di mana itu akan menjelaskan kepada kita pelajaran dan pelajaran.

Sebagai catatan, marilah dalam mensikapi sumbangan non-Muslim untuk Muslim dalam era COVID-19 ini sebagaimana dulu para ulama dan penguasa Islam zaman puncak peradaban Islam. Dengan sikap yang demikian, kita bisa mencapai kehidupan yang toleran, saling mengasihi dan saling membantu satu sama lain. Selain itu, kehidupan kita menjadi rahmat bagi sesama.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.