OUR NETWORK

Fakta Tak Terbuang, Jasa Non-Muslim atas Kemajuan Peradaban Islam

Pernahkah kita, umat Islam, mendapatkan sumbang sih dari non-Muslim –terutama oleh kaum Yahudi, Kristen, dan Hindu–dalam sejarah perabadan Islam?

Pernahkah kita, umat Islam, mendapatkan sumbang sih dari non-Muslim –terutama oleh kaum Yahudi, Kristen, dan Hindu–dalam sejarah perabadan Islam? Pertanyaan ini perlu saya kemukakan di sini karena masih banyaknya kalangan Muslim yang sering kali memojokkan kaum non-Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Kaum non-Muslim dianggap sebagai musuh dan dipandang sebagai pihak yang sama sekali tidak memiliki jasa apapun pada umat Islam. Di negara kita, kaum non-Muslim sering menjadi sasaran kebencian. Mereka sering dianggap sebagai pihak yang senantiasa ingin mengajak orang Islam untuk masuk ke dalam agama mereka. Bahkan dalam situasi wabah COVID-19, ada yang mengatakan jika virus ini hanya untuk non-Muslim saja.

Pendek kata, citra kaum non-Muslim memang sangat jelek di hadapan orang-orang Islam. Jika mereka berjasa pun, maka jasa itu dianggap keharusan sebagai minoritas, dan parahnya juga jasa itu tidak dianggap sebagai perbuatan baik bagi kaum Muslim karena tidak seakidah. Buat apa menghargai mereka yang tidak seakidah.

Namun bagaimana dengan sejarah kita, sejarah Islam yang telah mencatat mereka? Marilah kita lihat sejarah Islam. Mari kita buka mata mata dan pikiran kita bahwa mereka memiliki jasa penting bagi kaum Muslim.

Di dalam sejarah Islam, ekspansi ke dunia di luar jazirah Arab begitu cepat terjadi, namun kemajuan peradaban Islam terpenting setelah era kenabian adalah kekuasaan Dinasti Abbasiyyah. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini berhasil membawa Islam masuk ke dataran Eropa terutama Kawasan Andalusia, sekarang disebut dengan Spanyol. Dinasti Abbasiyah ini tidak hanya mengalami kemajuan perluasan wilayah, namun juga dalam bidang pengembangan peradaban dan pengetahuan Islam.

Baiklah, selanjutnya, kita buka lembaran sejarah kemajuan peradaban Islam. Ternyata, umat Islam memang pernah mendapat sumbangan dari non-Muslim. Bahkan sumbangan mereka itu bukan sekedar sumbangan biasa, namun sumbangan yang sangat menentukan dalam membangun ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam.

Tahukah wahai generasi kita sekarang, peran non-Muslim dalam transfer ilmu pengetahuan ke dunia Islam merupakan hal tak terbantahkan. Mereka menerjemahkan karya-karya berbahasa Yunani, India dan Persia serta bahasa Siryani ke dalam bahasa Arab, bahasa yang menjadi bahasa utama umat Islam saat itu. Siapakah mereka-mereka ini?

Saya sebutkan beberapa nama. Pertama, keluarga Bakhtishu terutama anak-anak dari Georges Bakhtishu, penganut Kristen Nestorian. Georges Bakhtishu sendiri mengabdi sebagai dokter untuk khalifah Abbasiyah, al-Mansur.

Kedua, keluarga Hunain, terutama Hunain bin Ishaq. Hunain bin Ishaq juga penganut Kristen yang taat. Kita harus memberi tahu kepada generasi Islam sekarang jika karya terjemahan Hunain dari bahasa Yunani dinikmati oleh para ulama dan pemikir Islam termasyhur pada zaman itu, antara lain Ibnu Rusyd.

Ibn Rusyd adalah seorang ulama besar dalam mazhab Maliki yang kitab-kitabnya kita baca secara luas di pesantren-pesantren modern dan perguruan tinggi Islam seantero Indonesia sampai saat ini. Tahukah kita bahwa Ibnu Rusyd mendapatkan manfaat dari karya-karya Hunain ini.

Lalu ada juga sejumlah nama seperti Khis al-A’sam al-Dimasyqi, seorang Kristen juga, Hunain, Qista bin Luqa, seorang Nasrani Syam, Masargeh al-Yahudi al-Siryani, Tsabit al-Harrani, Abu Basyar Mata bin Yunus, Yahya bin Adi, Istafan bin Basili dan Musa bin Khalid. Nama-nama ini yang membantu Dinasti Abbasiyah menterjemahkan sumber-sumber asing yang berasal dari bahasa Yunani dan Siryani ke dalam bahasa Arab pada masa Dinasti Abbasiyah.

Ada juga sumbangan dari orang India Hindu yakni Mankah al-Hindi dan Ibn Dahen al-Hindi. Mereka ini menterjemahkan sumber-sumber berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab.

Bidang-bidang keilmuan diterjemahkan adalah bidang-bidang utama yang membawa kemajuan umat Islam seperti kedokteran, astronomi, kimia, pertanian, fisika, filsafat, hukum dlsb.

Hasil akhir dari ini semua adalah kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam pada masa itu. Kemajuan Islam ini pada akhirnya juga menjadi jembatan bagi kemajuan Eropa. Kemajuan Eropa berarti juga kemajuan dunia.

Bagaimana kita, generasi manusia sekarang menyikapi fakta sejarah yang demikian ini? Mungkin seseorang bisa benci dan memusuhi non-Muslim dalam hal urusan keagamaan, politik, ideologi kekinian, namun kita tidak bisa membuang fakta sejarah bahwa mereka pernah menorehkan jasa mereka kepada umat Islam, menyumbang tercapainya puncak peradaban dan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Kata orang bijak, jika kamu tidak tahu sejarah, maka kamu tidak tahu apa-apa, kamu adalah daun yang tidak bahwa kamu adalah bagian dari bagian dari pohon. Memang, manusia yang lupa sejarah pada dasarnya adalah manusia yang dungu karena masa depan itu sebagian ditentukan oleh sejarah.

Syiakh Ibrahim al-Duwais mengatakan dalam sebuah kitabnya:

اقرأ التاريخ لتربط هذه الأحداث اليوم بتاريخنا العريق يوم أن يبين لنا الدروس والعبر

Bacalah sejarah untuk mengaitkan peristiwa-peristiwa hari ini dengan sejarah kita yang lalu pada hari di mana itu akan menjelaskan kepada kita pelajaran dan pelajaran.

Sebagai catatan, marilah dalam mensikapi sumbangan non-Muslim untuk Muslim dalam era COVID-19 ini sebagaimana dulu para ulama dan penguasa Islam zaman puncak peradaban Islam. Dengan sikap yang demikian, kita bisa mencapai kehidupan yang toleran, saling mengasihi dan saling membantu satu sama lain. Selain itu, kehidupan kita menjadi rahmat bagi sesama.

Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.