Senin, Januari 25, 2021

Dra-Kor dan K-POP itu Islami

MUI Baru: Apakah Akan Ada Fatwa-Fatwa yang Membela Minoritas?

Bulan November tahun ini, MUI memiliki kepengurusan baru masa bakti 2020-2025. Ketika melihat komposisi kepengurusan MUI 2020-2025, banyak orang berharap bahwa kepengurusan baru ini...

Persekusi Syiah di Solo Menjadi Tamparan Bagi Jokowi

Pertanyaan kenapa masih ada saja persekusi terhadap kelompok keagamaan kecil oleh kelompok keagamaan besar langsung mengemuka di benak saya begitu mendengar peristiwa penggerebekan komunitas...

Benarkah Umat Islam yang Paling Menderita?

Umat Islam di Indonesia sering berpikir bahwa merekalah yang sering menjadi sasaran pelecehan dan kebencian di dunia ini. Dalam hal ini mereka merujuk rezim...

Teror dan Terorisme di Sekitar Kita

Pembunuhan satu keluarga non-Muslim di Sigi beberapa waktu lau menyadarkan kita bahwa teroris ternyata masih di sekitar kita. Kejadian Sigi sulit untuk dikatakan tidak...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Produk seni Korea Selatan, terutama dalam bentuk Drakor dan K-POP sudah lama melanda negeri kita. K-POP dan Dra-Kor bahkan kini menjadi kesukaan orang Indonesia. Mereka yang tergila-gila dengan Dra-Kor dan K-Pop tak mengenal umur dan juga tak mengenal agama. Baik orang tua maupun anak muda demam produk seni Korea Selatan ini. Baik Muslim maupun non-Muslim memiliki pilihan tertentu dari Drakor maupun K-POP. Tidak heran jika Wapres Ma’ruf Amin memberikan semacam pujian dan keinginan agar Dra-Kor dan K-POM bisa menginspirasi kreativitas. Para pekerja seni, artis, aktor, anak muda, dan lain sebagainya diharapkan oleh Wapres ini bisa mendapatkan ilham dan inspirasi.

Peryataan Wapres yang kyai ini sudah barang tentu merupakan kabar yang menggembirakan bukan hanya bagi para pekerja seni namun juga bagi kita semua. Mengapa? Karena salah satu hambatan terbesar dari kreasi mereka adalah fatwa keagamaan yang menentang mereka dan kyai Ma’ruf pemimpin lembaga keagamaan MUI yang sering mengeluarkan fatwa kini menyatakan hal tak terduga. Selama ini, para pekerja seni, artis dan aktor sering dijadikan sasaran kalangan agamawan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan yang dilarang oleh agama.

Beberapa waktu lalu bahkan beredar sejumlah daftar pekerjaan yang diharamkan untuk melakukannya dan antara lain adalah menjadi penyanyi, bintang film dan lain sebagainya. Kreasi-kreasi bagus dalam bentuk film juga banyak yang mendapatkan penolakan dari kalangan salafi dan wahabi di negeri kita ini. Mereka dianggap melakukan pekerjaan kaum-kaum Yahudi, Nasrani dlsb. Ujung-ujungnya ya memojokkan pihak non-Muslim, namun memakai tameng yang lain.

Karena itu, pernyataan Kyai Ma’ruf Amin yang terbuka soal perlunya kita kreatif dengan bercermin pada produktivitas Drakor dan K-POP mengejutkan selain sudah tentu menggembirakan bagi masa depan pengembangan dunia seni kita. Ya, yang ada dalam bayangan Kyai Ma’ruf nampaknya adalah kesuksesan K-POK dan Drakor bisa menjadi konsumsi hiburan bagi hampir seluruh masyarakat dunia. Bisa menjadi trend baru yang mengalahkan seni dan budaya Barat.

Anjuran Wapres untuk mengambil inspirasi dari Drakor dan K-POP untuk kemajuan kita ini sekaligus membawa kita dalam kesadaran yang selama ini tertutup bahwa umat Islam zaman dulu pernah mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang seni.

Seni Islam adalah seni yang inkusif. Seni Islam, meskipun itu keluar dari nilai-nilai dan tafsir keIslaman, namun hasil karya seninya adalah untuk umum. Seni Islam itu menurut definisi para ahli adalah seni kreatif yang dilahirkan di tanah di mana umat Islam itu hidup. Karenanya, seni Islam tidak hanya dikembangkan oleh orang-orang Islam namun juga oleh non-Muslim karena biasanya yang hidup di sebuah negara atau wilayah bukan hanya Muslim namun juga non-Muslims. Di abad-abad kejayaaan Islam masa lalu, zaman Abbasiyah, Turki Usmani, kita bisa melihat bagaimana kreavitas seni Islam begitu gamblang terlihat pada bangunan-bangunan arsitektur dlsb. Kita bisa melihat Tajmahal, Masjid Agung Xian, di Cina, Alhamra di Spanyol dan masih banyak lagi. Seni-seni agung di atas begitu luar biasa dan menjadi simbol kemajuan Islam.

Pertanyaannya, kenapa sejarah seni Islam yang begitu mengagumkan tidak begitu terlihat zaman sekarang di dunia-dunia Muslim? Di mana letak masalahnya? Bukankah sumber inspirasinya sama, yakni Islam? Atau masalah lain yang menyebabkan. Mencari jawab atas persoalan ini tidak mudah dan bertahun-tahun para sarjana Muslim berusaha mencari jawaban. Beberapa kalangan menyatakan bahwa secara doktrinal Islam sangat terbuka untuk mengembangkan seni dan hal ini dibuktikan oleh peninggalan seni di era kejayaan Islam yang begitu luar biasa dan kitapun masih bisa menyaksikan kehebatannya sampai sekarang. Salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan seni Islam adalah adanya monopoli penafsiran tentang seni Islam yang paling benar. Monopoli penafsiran ini mengatur bahwa seni peran, musik, dslb yang sesuai dengan Islam itu yang ini dan itu.

Pihak yang giat menyuarakan dominasi penafsiran seni Islami adalah mereka yang memiliki cara pandang skripturalistik dalam menafsir agama. Kaum Wahhabi dan Salafi adalah kelompkok dalam Islam yang paling menonjol menolak adanya pengembangan dunia seni yang komplek dan plural. Menurut mereka seni musik yang benar di dalam Islam ya seni musik yang tidak memakai alat musik, tidak mengundang imajinasi buruk, penyanyinya harus menutup aurat dlsb. Bahkan, pekerjaan menjadi penyanyi saja ditolak apalagi jika ada perempuan menjadi artis, pasti penolakannya bertubi-tubi. Karenanya, tidak mungkin negari-negeri seperti Saudi, selama cara pandang ulama-ulamanya sangat skripturalis Wahhabi dan Salafi, untuk mengambil inspirasi dari keberhasilan Korea Selatan dalam menjadi K-Pop dan Dra-Kor sebagai hal yang benar-benar membanggakan.

Kembali lagi, sebenarnya kita tidak hanya berhenti pada kegembiraan dan apresiasi atas pernyataan Kyai Ma’ruf atas Drakor dan K-Pop. Namun yang paling penting sejauhmana ambisi dan semangat Kyai Ma’ruf dihembuskan dalam tindakan nyata, pemograman pemerintah yang nyata, dukungan dan perlindungan pada kreasi para seniman dan pekerja seni secara keseluruhan. Perlindungan pada mereka, terutama dari ancaman vigilante berbasis keagamaan yang sering mengancam daya kreasi mereka, adalah hal yang paling utama bagi pemerintah.

Sebagai catatan, berkreasi dalam bidang seni, seperti K-Pop dan DraKor, bukan sekedar wacana dan semangat saja. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mendukung kemajuan mereka. K-Pop dan DraKor bisa sukses seperti yang kita lihat sekarang ini adalah akumulasi dari pelbaga aspek terutama dukungan pemerintah dan negara. Pernyataan kyai Ma’ruf itu mengindikasi bahwa meniru kreativitas DraKor dan K-Pop adalah Islami.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.