Kamis, Oktober 29, 2020

Dra-Kor dan K-POP itu Islami

Kenapa Kaum Hijrah Senangnya Meresahkan Rakyat?

Baru-baru ini beredar 50 daftar pekerjaan yang diharamkan yang disebarkan di media kita. Sederet jenis pekerjaan itu antara lain pelawak, bintang model, satpam di...

Tuduhan Bid’ah dan Klaim Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah

Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita mendengar jargon kembalilah kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jargon yang dalam bahasa Arabnya diungkapkan dengan istilah al-ruju’ ila...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Jangan Terus Memojokkan Minoritas yang Memang Sudah Terpojok

Gubernur Sumatera Barat meminta aplikasi terjemahan Injil dalam bahasa Minang dicabut dengan alasan-alasan yang dikemukakannya. Sebagai kitab suci kaum minoritas Kristen, terjemahan Injil di...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Produk seni Korea Selatan, terutama dalam bentuk Drakor dan K-POP sudah lama melanda negeri kita. K-POP dan Dra-Kor bahkan kini menjadi kesukaan orang Indonesia. Mereka yang tergila-gila dengan Dra-Kor dan K-Pop tak mengenal umur dan juga tak mengenal agama. Baik orang tua maupun anak muda demam produk seni Korea Selatan ini. Baik Muslim maupun non-Muslim memiliki pilihan tertentu dari Drakor maupun K-POP. Tidak heran jika Wapres Ma’ruf Amin memberikan semacam pujian dan keinginan agar Dra-Kor dan K-POM bisa menginspirasi kreativitas. Para pekerja seni, artis, aktor, anak muda, dan lain sebagainya diharapkan oleh Wapres ini bisa mendapatkan ilham dan inspirasi.

Peryataan Wapres yang kyai ini sudah barang tentu merupakan kabar yang menggembirakan bukan hanya bagi para pekerja seni namun juga bagi kita semua. Mengapa? Karena salah satu hambatan terbesar dari kreasi mereka adalah fatwa keagamaan yang menentang mereka dan kyai Ma’ruf pemimpin lembaga keagamaan MUI yang sering mengeluarkan fatwa kini menyatakan hal tak terduga. Selama ini, para pekerja seni, artis dan aktor sering dijadikan sasaran kalangan agamawan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan yang dilarang oleh agama.

Beberapa waktu lalu bahkan beredar sejumlah daftar pekerjaan yang diharamkan untuk melakukannya dan antara lain adalah menjadi penyanyi, bintang film dan lain sebagainya. Kreasi-kreasi bagus dalam bentuk film juga banyak yang mendapatkan penolakan dari kalangan salafi dan wahabi di negeri kita ini. Mereka dianggap melakukan pekerjaan kaum-kaum Yahudi, Nasrani dlsb. Ujung-ujungnya ya memojokkan pihak non-Muslim, namun memakai tameng yang lain.

Karena itu, pernyataan Kyai Ma’ruf Amin yang terbuka soal perlunya kita kreatif dengan bercermin pada produktivitas Drakor dan K-POP mengejutkan selain sudah tentu menggembirakan bagi masa depan pengembangan dunia seni kita. Ya, yang ada dalam bayangan Kyai Ma’ruf nampaknya adalah kesuksesan K-POK dan Drakor bisa menjadi konsumsi hiburan bagi hampir seluruh masyarakat dunia. Bisa menjadi trend baru yang mengalahkan seni dan budaya Barat.

Anjuran Wapres untuk mengambil inspirasi dari Drakor dan K-POP untuk kemajuan kita ini sekaligus membawa kita dalam kesadaran yang selama ini tertutup bahwa umat Islam zaman dulu pernah mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang seni.

Seni Islam adalah seni yang inkusif. Seni Islam, meskipun itu keluar dari nilai-nilai dan tafsir keIslaman, namun hasil karya seninya adalah untuk umum. Seni Islam itu menurut definisi para ahli adalah seni kreatif yang dilahirkan di tanah di mana umat Islam itu hidup. Karenanya, seni Islam tidak hanya dikembangkan oleh orang-orang Islam namun juga oleh non-Muslim karena biasanya yang hidup di sebuah negara atau wilayah bukan hanya Muslim namun juga non-Muslims. Di abad-abad kejayaaan Islam masa lalu, zaman Abbasiyah, Turki Usmani, kita bisa melihat bagaimana kreavitas seni Islam begitu gamblang terlihat pada bangunan-bangunan arsitektur dlsb. Kita bisa melihat Tajmahal, Masjid Agung Xian, di Cina, Alhamra di Spanyol dan masih banyak lagi. Seni-seni agung di atas begitu luar biasa dan menjadi simbol kemajuan Islam.

Pertanyaannya, kenapa sejarah seni Islam yang begitu mengagumkan tidak begitu terlihat zaman sekarang di dunia-dunia Muslim? Di mana letak masalahnya? Bukankah sumber inspirasinya sama, yakni Islam? Atau masalah lain yang menyebabkan. Mencari jawab atas persoalan ini tidak mudah dan bertahun-tahun para sarjana Muslim berusaha mencari jawaban. Beberapa kalangan menyatakan bahwa secara doktrinal Islam sangat terbuka untuk mengembangkan seni dan hal ini dibuktikan oleh peninggalan seni di era kejayaan Islam yang begitu luar biasa dan kitapun masih bisa menyaksikan kehebatannya sampai sekarang. Salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan seni Islam adalah adanya monopoli penafsiran tentang seni Islam yang paling benar. Monopoli penafsiran ini mengatur bahwa seni peran, musik, dslb yang sesuai dengan Islam itu yang ini dan itu.

Pihak yang giat menyuarakan dominasi penafsiran seni Islami adalah mereka yang memiliki cara pandang skripturalistik dalam menafsir agama. Kaum Wahhabi dan Salafi adalah kelompkok dalam Islam yang paling menonjol menolak adanya pengembangan dunia seni yang komplek dan plural. Menurut mereka seni musik yang benar di dalam Islam ya seni musik yang tidak memakai alat musik, tidak mengundang imajinasi buruk, penyanyinya harus menutup aurat dlsb. Bahkan, pekerjaan menjadi penyanyi saja ditolak apalagi jika ada perempuan menjadi artis, pasti penolakannya bertubi-tubi. Karenanya, tidak mungkin negari-negeri seperti Saudi, selama cara pandang ulama-ulamanya sangat skripturalis Wahhabi dan Salafi, untuk mengambil inspirasi dari keberhasilan Korea Selatan dalam menjadi K-Pop dan Dra-Kor sebagai hal yang benar-benar membanggakan.

Kembali lagi, sebenarnya kita tidak hanya berhenti pada kegembiraan dan apresiasi atas pernyataan Kyai Ma’ruf atas Drakor dan K-Pop. Namun yang paling penting sejauhmana ambisi dan semangat Kyai Ma’ruf dihembuskan dalam tindakan nyata, pemograman pemerintah yang nyata, dukungan dan perlindungan pada kreasi para seniman dan pekerja seni secara keseluruhan. Perlindungan pada mereka, terutama dari ancaman vigilante berbasis keagamaan yang sering mengancam daya kreasi mereka, adalah hal yang paling utama bagi pemerintah.

Sebagai catatan, berkreasi dalam bidang seni, seperti K-Pop dan DraKor, bukan sekedar wacana dan semangat saja. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mendukung kemajuan mereka. K-Pop dan DraKor bisa sukses seperti yang kita lihat sekarang ini adalah akumulasi dari pelbaga aspek terutama dukungan pemerintah dan negara. Pernyataan kyai Ma’ruf itu mengindikasi bahwa meniru kreativitas DraKor dan K-Pop adalah Islami.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.