Senin, Oktober 26, 2020

Dakwah Asbun yang Berjibun

Dakwah Para Mualaf yang Mencoreng Wajah Islam

Sebagai seorang Muslim, mendengar kabar seseorang telah menyatakan diri masuk Islam itu hal yang menggembirakan. Orang yang baru masuk Islam di dalam Al Quran...

Tuduhan Bid’ah dan Klaim Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah

Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita mendengar jargon kembalilah kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jargon yang dalam bahasa Arabnya diungkapkan dengan istilah al-ruju’ ila...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Para Filosof Muslim dan Bahasa Yunani

Kita mengenal bahwa filsafat dan dunia keilmuan lain seperti kedokteran, astronomi dan banyak lagi ada yang bersumber dari dunia di luar Islam—dunia di luar...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Setelah fenomena ustadz Evie Effendi yang viral karena bacaan al-Qur’annya yang jauh dari benar dan fasih, padahal dia mengaku berguru pada Rasulullah, kini muncul lagi sebuah video dari seorang ustadz yang mengaku bernama asli Johannes Ignatious. Dia memunculkan dirinya dalam videonya yang juga viral sebagai seorang muallaf.

Tidak tanggung-tanggung lulusan Injil Vatican School Roma Italia dan anak seorang kardinal, di mana semua informasi yang dia kemukakan secara gampang sangat mudah dideteksi kebohongannya. Saya melihat bahwa dakwah model begini, yang meskipun mengandung banyak informasi yang tidak benar dan distortif mungkin tidak akan berkurang, bahkan mungkin akan semakin banyak ke depannya. Pendek kata, dakwah seperti Evie Effendi dan Johannes Ignatious ini berjibun namun asbun (asal bunyi).

Saya amati bahwa ada dua hal pokok yang biasanya menjadi bahan dakwah mereka; pertama, soal ketakutan akan ancaman agama, keyakinan dan ideologi dari luar; kedua, soal bagaimana menjalankan agama yang menurut mereka benar, sesuai dengan sunnah; ketiga, kebencian atas Jokowi.

Untuk yang pertama, sasaran mereka adalah Kristen, China dan PKI. Kristen tetap diaggap sebagai ancaman yang serius. Namun sebagai ancaman yang serius, bahan amunisi yang mereka gunakan untuk menyerang Kristen ya itu-itu saja issuenya, sekitaran bahwa Kristen menyebarkan agamanya dengan memakai uang, banyak doktrin Kristen sudah didistorsikan, soal Yesus, Trinitas dan lain sebagainya.

Sebetulnya, berpikir selalu terancam oleh pihak lain menunjukkan mereka inferior. Dakwah inferior inilah yang membuat mereka memiliki ciri khas asbun –asal bunyi—di atas.

Serangan pada China juga tidak mengalami perubahan yang serius. Dari dulu kisaran persoalannya ya di sekitar penguasaan ekonomi para pengusaha China di Indonesia yang dikaitkan sebagai kepanjangan negara China.

Padahal, orang China di Indonesia itu beda dengan bangsa China. Apabila dulu Amerika dan Barat menjadi musuh utama karena sekarang yang sedang digdaya itu China, maka kini China yang dijadikan sebagai bahan serangan dakwah.

Isu PKI juga terus akan menjadi bahan dakwah mereka ini. Mereka terus menyebar dan ancaman bahaya PKI yang masih ada sampai sekarang. Lalu tidak puas di situ, mereka melebarkan serangan dengan tuduhan bahwa kelompok Muslim lain yang beda dengan cara pandang keislamannya dengan mereka dianggap telah terinfiltrasi oleh PKI. Biasanya NU dan organisasi underbouw-nya yang sering dijadikan sebagai sasaran tuduhan semacam ini.

Kedua, bahan pokok serangan adalah soal keislaman orang Indonesia yang menurut mereka banyak yang sudah keluar dari Sunnah. Setelah doa lalu membaca amin sebagai contoh itu tidak ada tuntunanya, puasa bulan sya’aban, mengadzani bayi lahir juga demikian adanya, dan masih banyak lagi.

Dakwah Asbun mereka memang sengaja mengambil materi dakwah yang secara teologis bisa menyulut keramaian. Rupanya keramaian itu yang dikehendaki, namun ketika pihak yang dituduh memberikan reaksi, maka pelaku dakwah asbun ini menuduh balik bahwa reaksi pihak tertuduh dianggap melanggar hak asasi mereka untuk menyampaikan informasi keagamaan.

Padahal, seringkali pihak merekalah memulai dan memancing kekeruhan. Sasaran dakwah Asbun ini memang diarahkan kepada kaum tertentu, katakanlah NU. Serangan pada tradisi amaliyah-ubudiyah NU dilakukan karena NU adalah organisasi dengan pengikut terbesar di tanah air. Agar dakwah Asbun bisa mendapatkan pengikut maka yang mereka serang adalah NU.

Namun sayang, isu mereka ini tidak mengalami kemajuan, selalu berhenti di situ-situ saja, bid’ah, khurafat, tidak sunnah dan lain sebagainya.  Cara demikian bukan menimbulkan simpati namun reaksi yang tidak kalah sengit dari kalangan NU.

Ketiga, dakwah Asbun ini menjadikan Jokowi sebagai pihak yang dianggap merugikan Islam di Indonesia. Ya sejak, Jokowi jadi presiden, anggapan ini terus digaungkan oleh dakwah Asbun terutama bagi mereka yang kepentingannya terhalangi seperti HTI.

Dakwah yang bertendensi menyerang pihak lain ini memang sangat mungkin terjadi, terutama di dalam era media sosial dan kebebasan yang kita alami di zaman sekarang ini. Namun dakwah menyerang tidak sesuai dengan esensi dakwah itu sendiri yang artinya bukan menyerang tapi mengajak.

Agar ajakannya bisa diterima oleh pihak yang kita ajak, maka dakwah itu harus disampaikan secara persuasif, bukan dengan memusuhi dan menyerang. Itu misalnya strategi dakwah. Belum lagi soal isi dakwah yang harus argumentatif, masuk akal, memiliki landasan ilmiah dlsb, agar pihak yang kita dakwahi bisa teryakinkan. Bagaimana bisa meyakinkan orang jika dakwah isinya mengumpat dan marah-marah serta memusuhi pihak yang mau kita ajak.

Karena perkembangan dakwah yang terus makin pesat, agar mutu dakwah tidak asal berjibun dan asbun, beberapa hal perlu dilakukan.

Pertama, lembaga-lembaga keagamaan yang memang sudah terbukti memiliki sumber daya manusia pendakwah yang berkapasitas harus mengerahkan muballigh mereka untuk membuat konten-konten dakwah yang peaceful, berdasar argumentasi agama yang rasional, dan mencari titik temu.

Kedua, kita tahu bahwa dakwah lewat medsos itu hanya bisa dilawan lewat medsos juga, karenanya membanjiri medsos dengan konten-konten dakwah yang positif dan berorientasi pada titik temu adalah hal yang perlu kita tingkatkan.

Sebagai catatan, nampaknya dunia dakwah kita akan dipenuhi terus oleh suguhan-suguhan seperti ini sebagai konsekwensi dari prevalensi penggunaan media sosial. Masyarakat sendiri yang memiliki kemampuan untuk menyaring segala hal yang muncul di akun medsos mereka, jika kita ingin berperan maka sediakan konten-konten dakwah yang mengcounter dakwah Asbun di atas.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.