Sabtu, Oktober 24, 2020

Tony Blair Inc

Membangun Desa, Menagih Nawa Cita Jokowi

Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyediakan dana lebih banyak untuk pembangunan daerah dan membangun desa. Ini sesuai dengan janji Nawa Cita yang antara lain “membangun...

Seperti Soesilo Toer, Mari Jadi Pemulung

Di media sosial banyak orang share berita tentang Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer, yang jadi pemulung sampah. Mukim di Blora, Jawa Tengah, Pak...

Jokowi, Amien Rais, dan Tuduhan Komunis Itu

Saya sedih sekaligus ingin ketawa mendengar tuduhan komunis dialamatkan kepada Presiden Jokowi. Sedih karena propaganda murahan dipakai untuk mengkritik presiden secara keblinger. Ketawa karena...

Ancaman Obsesi Pemerintah Jokowi Pada Investasi Asing

Belakangan ini ramai dibicarakan peringatan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) agar Indonesia berhat-hati terhadap investasi dari China/Tiongkok. Salah satu alasan: investor China punya standar rendah...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Menteri Luhut Panjaitan menyebut Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris, akan menjadi dewan pengarah pembangunan infrastruktur ibu kota baru. Blair akan didampingi Pangeran Muhammad bin Zayid al-Nahyan dari Uni Emirat Arab dan Masayoshi Son dari raksasa investasi Jepang Softbank Group.

Pembentukan dewan pengarah itu berkaitan dengan investasi di ibukota baru. Pemerintah Uni Emirat Arab, kata Luhut, telah menyiapkan dana sebesar USD 22,8 miliar (Rp 310 triliun) untuk proyek itu. “Ini kesepakatan investasi dari Timur Tengah terbesar dalam sejarah Indonesia,” kata Luhut.

Menteri Bappenas Soeharso Monoarfa mengatakan, masuknya “tokoh terkenal dunia itu” dalam dewan pengawas akan memikat lebih banyak investor internasional untuk ikut gerbong membangun ibukota baru.

Tapi, bagaimana reputasi Blair dan apa hubungan dengan investasi Emirat Arab?

Bagi mereka yang mengikuti dunia investasi Timur Tengah, nama Tony Blair tidak asing. Inilah mantan politisi top dunia yang belakangan jadi konsultan dan pelobi bisnis kaya raya.

Tony Blair adalah konsultan bisnis Mubadala, pengelola dana abadi (sovereign wealth fund) yang bermarkas di Abu Dhabi, Emirat Arab. Mubadala berinvestasi di berbagai belahan dunia, dari Vietnam, Serbia, Colombia, Asia Tengah hingga Afrika Barat.

Blair mundur dari jabatan Perdana Menteri Inggris pada 2007 setelah membuat pengakuan bahwa perang Irak yang dia dukung didasarkan pada dalih palsu (Saddam Hussein tak punya senjata pemusnah massal seperti dituduhkan Amerika).

Pada 2008, dia membentuk Tony Blair Associate, perusahaan konsultan gado-gado: semi komersial, semi charity/keagamaan dan semi publik. Menyusul sejumlah skandal, perusahaan itu dia bekukan pada 2016, dan di-re-branded dengan nama baru: Tony Blair Institute for Global Change.

Meski menyebut Saddam diktator, Blair tidak sungkan menjadi penasehat rezim militer brutal dan sultan-sultan Arab yang tidak demokratis.

Setelah mundur dari kursi perdana menteri, Blair sempat terpilih menjadi utusan khusus (special envoy) untuk perdamaian Timur Tengah, jabatan yang jelas tak netral mengingat dia adalah anggota Labour Friends of Israel, kelompok pelobi pro-Israel.

Bagaimanapun, jabatan itu dia manfaatkan untuk membangun konsultasi bisnisnya, mengambil keuntungan dari dua sisi, Arab maupun Israel.

Memanfaatkan reputasi sebagai PM Inggris terlama, Blair menjadi konsultan dan penasehat baik negara-negara pemberi investasi (seperti Kuwait, Qatar dan Emirat Arab) maupun penerima investasi (seperti Kazakhtan, Azerbaijan dan Mesir).

Blair tahu benar memanfaatkan reputasinya sebagai PM Inggris terlama untuk menangguk keuntungan dari dua sisi, tanpa mempertimbangkan adanya konflik kepentingan.

Media di Inggris, termasuk the Financial Times, sudah banyak membeberkan sepak terjang Blair. Dan pada 2016, terbit buku yang lebih menyeluruh: “Blair Inc – The Power, The Money, The Scandals” (John Blake Publishing Ltd).

Bagaimana prospek Blair di Indonesia?

Di Mesir seperti di Indonesia, Blair menjadi penasehat Presiden Abdul Fattah al-Sisi dalam menarik investasi Arab Teluk, antara lain untuk membangun ibu kota baru Mesir.

Pada 2015, Emirat Arab berkomitmen menggelontorkan USD 43 miliar untuk proyek ibu kota baru itu. Tapi sampai sekarang, realisasinya belum beranjak jauh akibat tawar-menawar alot antara investor dan pemerintah Mesir.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Nelangsa Mahasiswa Handphone Kentang dan Laptopnya Potato

"Kuliah hari ini saya berikan beberapa pertanyaan tentang mata kuliah kita, kalian jawab dan dikumpulkan 1 jam dari sekarang” “Ting tong” sebuah notifikasi muncul di...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.