Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Seperti Soesilo Toer, Mari Jadi Pemulung

Pidato Jokowi di Paris yang Kurang Greget*

Pada pembukaan pidatonya di Paris, Presiden Joko Widodo menyatakan “Pemerintah yang saya pimpin, akan membangun Indonesia dengan memperhatikan lingkungan.” Pernyataan ini sangat normatif dan...

Bom Istanbul: Turki di Tengah Pusaran ISIS

28 Juni 2016, bom bunuh diri mengguncang Bandara Ataturk, Istanbul, Turki. 36 jiwa dinyatakan tewas. Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menyatakan kelompok Negara Islam...

Ekofeminisme: Berharap Pluralisme dari Agama yang Erotis

Waktu kuliah, saya punya senior laki-laki yang mesum sekali. Maksud saya mesum adalah dia menyambungkan topik apa pun pada hal-hal yang berbau seksual. Dari...

Imaji Perempuan dan Media Sosial

Memandang suatu isu sosial berskala besar tanpa mencermatinya melalui satu per satu realitas sederhana yang terjadi di sekitar kita adalah sebuah kealpaan, atau bisa...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Di media sosial banyak orang share berita tentang Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer, yang jadi pemulung sampah. Mukim di Blora, Jawa Tengah, Pak Soesilo bukan sembarang pemulung sampah. Dia lulusan doktor ilmu politik dari Rusia dan penulis tak kurang 20 judul buku.

Mendengar seorang doktor memulung itu mencengangkan. Yang dilakukan Pak Soesilo Toer ini hebat. Memang tidak perlu malu dan merasa hina dengan memulung sampah.

Tapi, lebih bagus lagi jika Pak Soesilo Toer melakukannya di waktu siang secara terbuka sehingga memperluas “gerakan memulung”. Memulung (dan mengolah) sampah itu profesi yang keren.

Sampah adalah sumber ekonomi potensial. Pengolahan sampah tidak hanya merawat lingkungan alam, tapi juga membangkitkan ekonomi.

Belajar dari alam, kita tahu bahwa alam tidak mengenal sampah: hasil sampingan dari sebuah proses produksi akan dipakai oleh proses lainnya. Tinja manusia dan hewan diurai oleh bakteri, menyatu dalam tanah menjadi pupuk bagi tanaman.

Ini bukan dalih untuk menyampah. Bukan dalih mengadopsi gaya hidup boros dan tidak hirau pada dampak sampah bagi lingkungan hidup kita. Tapi, menyadari bahwa alam adalah contoh paling gamblang dari praktek zero waste, gaya hidup tanpa sampah.

Sampah dan limbah kita olah. Tak hanya didaur-ulang (recycle), tapi ditingkatkan nilainya (upcycle). Misalnya: limbah plastik atau kain perca menjadi karya seni yang mahal. Limbah penggilingan beras (mengandung silika) menjadi perhiasan. Dan sebagainya.

Banyak jenis sampah yang bau, jorok, mengundang penyakit dan mencemari lingkungan bisa diolah dengan teknologi sederhana. Lewat proses fisika sederhana memanfaatkan gravitasi. Lewat biokimia sederhana yang digunakan leluhur kita di desa. Atau kalau mau lebih canggih sedikit memanfaatkan mikrobiologi dan nano-technology.

Sekarang diketahui ada jenis mikroba yang bisa mendulang logam (emas khususnya) dari limbah elektronik, komputer, HP, LCD yang makin menggunung.

Memulung (dan mengolah) sampah itu profesi yang keren.

Sering keliling desa-desa, salah satu hobi saya adalah menengok tempat sampah: ini cermin sederhana dari sebuah komunitas dan gaya hidup.

Kita menghadapi problem serius soal sampah hingga ke desa-desa berkat meluasnya pola hidup sekali pakai (throw-away society) dipicu menjamurnya pasar swalayan hingga pelosok.

Tapi, selalu ada peluang dari setiap problem. Tak hanya mengamati tempat sampah, saya juga memulung barang yang bisa didaur-ulang. Pikiran saya selalu sibuk jika melihat limbah pertanian yang dibuang percuma.

Jika orang menolak sampah, saya justru lagi berpikir memasang pengumuman di pekarangan rumah kami: “Silakan Buang Sampah di Sini”.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.