OUR NETWORK

Seperti Soesilo Toer, Mari Jadi Pemulung

Memulung (dan mengolah) sampah itu profesi yang keren.

Di media sosial banyak orang share berita tentang Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer, yang jadi pemulung sampah. Mukim di Blora, Jawa Tengah, Pak Soesilo bukan sembarang pemulung sampah. Dia lulusan doktor ilmu politik dari Rusia dan penulis tak kurang 20 judul buku.

Mendengar seorang doktor memulung itu mencengangkan. Yang dilakukan Pak Soesilo Toer ini hebat. Memang tidak perlu malu dan merasa hina dengan memulung sampah.

Tapi, lebih bagus lagi jika Pak Soesilo Toer melakukannya di waktu siang secara terbuka sehingga memperluas “gerakan memulung”. Memulung (dan mengolah) sampah itu profesi yang keren.

Sampah adalah sumber ekonomi potensial. Pengolahan sampah tidak hanya merawat lingkungan alam, tapi juga membangkitkan ekonomi.

Belajar dari alam, kita tahu bahwa alam tidak mengenal sampah: hasil sampingan dari sebuah proses produksi akan dipakai oleh proses lainnya. Tinja manusia dan hewan diurai oleh bakteri, menyatu dalam tanah menjadi pupuk bagi tanaman.

Ini bukan dalih untuk menyampah. Bukan dalih mengadopsi gaya hidup boros dan tidak hirau pada dampak sampah bagi lingkungan hidup kita. Tapi, menyadari bahwa alam adalah contoh paling gamblang dari praktek zero waste, gaya hidup tanpa sampah.

Sampah dan limbah kita olah. Tak hanya didaur-ulang (recycle), tapi ditingkatkan nilainya (upcycle). Misalnya: limbah plastik atau kain perca menjadi karya seni yang mahal. Limbah penggilingan beras (mengandung silika) menjadi perhiasan. Dan sebagainya.

Banyak jenis sampah yang bau, jorok, mengundang penyakit dan mencemari lingkungan bisa diolah dengan teknologi sederhana. Lewat proses fisika sederhana memanfaatkan gravitasi. Lewat biokimia sederhana yang digunakan leluhur kita di desa. Atau kalau mau lebih canggih sedikit memanfaatkan mikrobiologi dan nano-technology.

Sekarang diketahui ada jenis mikroba yang bisa mendulang logam (emas khususnya) dari limbah elektronik, komputer, HP, LCD yang makin menggunung.

Memulung (dan mengolah) sampah itu profesi yang keren.

Sering keliling desa-desa, salah satu hobi saya adalah menengok tempat sampah: ini cermin sederhana dari sebuah komunitas dan gaya hidup.

Kita menghadapi problem serius soal sampah hingga ke desa-desa berkat meluasnya pola hidup sekali pakai (throw-away society) dipicu menjamurnya pasar swalayan hingga pelosok.

Tapi, selalu ada peluang dari setiap problem. Tak hanya mengamati tempat sampah, saya juga memulung barang yang bisa didaur-ulang. Pikiran saya selalu sibuk jika melihat limbah pertanian yang dibuang percuma.

Jika orang menolak sampah, saya justru lagi berpikir memasang pengumuman di pekarangan rumah kami: “Silakan Buang Sampah di Sini”.

Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…