in

Sendang Bunder, Kapitalisme dan Pemiskinan


Airnya sangat jernih. Merembes dari sela-sela pasir dan kerikil. Mata air itu menghidupi telaga kecil desa kami. Batu-batu alam tertata melingkarinya. Itu mengapa kami menyebutnya Sendang Bunder, atau telaga bundar.

Sendang Bunder tempat paling menyenangkan bagi anak-anak desa kami, Desa Klesman, di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Kami biasa mandi di situ setelah lelah bermain lumpur di sawah atau memancing ikan di kali. Di situ pula kami belajar berenang pertama kali.

Jika senja tiba, sendang lebih ramai. Lelaki dan perempuan dewasa ikut mandi, di pancuran air yang terpisah oleh dinding-dinding batu alam. Ada pula yang mencuci piring atau baju. Telaga kecil itu menjadi tempat bersama, ruang publik, yang akrab dan riuh. Alam, air bersih, dan ruang yang bisa dinikmati bersama-sama, secara cuma-cuma.

Tapi, itu dulu. Tiga puluh tahun kemudian, sekarang Sendang Bunder telah tiada. Kering. Wajar saja. Ketika pepohonan kian jarang, air tak lagi penuh kesabaran merembes ke dalam tanah, tapi bergegas berlomba menuju sungai berlumpur.

Raibnya sendang mencerminkan merosotnya mutu lingkungan alam pedesaan kita. Tapi, lebih dari itu, melukiskan hilangnya konsep tentang milik bersama, atau the commons. Tak hanya konsep air bersama, tapi juga tanah bersama.

Kapitalisme Menghapus Milik Bersama

Ahli sejarah ekonomi Karl Polanyi menyebut hilangnya konsep the commons di pedesaan Eropa pada abad 17 – 18 sebagai “transformasi besar” yang melahirkan kapitalisme. Privatisasi adalah pilar kapitalisme.


Banyak yang percaya bahwa pergeseran hidup dari publik ke privat merupakan hal yang semestinya terjadi, tak bisa ditolak, bahkan alamiah. Privatisasi dipandang penting, meski diketahui belakangan memicu kemiskinan dan ketimpangan. Tapi, pengalaman Eropa menunjukkan kemiskinan bukanlah fenomena alami, melainkan ciptaan manusia sendiri.

Kehidupan petani desa di masa lalu mungkin tidak cukup keren. Tapi, mereka punya hal terpenting dalam hidup: akses pada tanah tempat mereka menanam padi, ubi, kacang, sayur, dan buah. Tak hanya akses pada tanah sendiri yang sempit. Mereka juga punya akses pada lahan bersama. Orang desa tidak mengenal kata “kelaparan”.

Dulu, hutan desa dikelola secara kolektif untuk kebutuhan beragam: padang menggembala ternak, kayu besar untuk bahan bangunan, dan ranting kering untuk bahan bakar menanak nasi atau sekadar menghangatkan badan. Petani, meski tidak kaya-kaya amat, menikmati hak hidup paling fundamental yang dilindungi adat dan sistem sosial setempat.

Kapitalisme dan Urbanisasi

Kini, selain kian sempit, tanah dan lahan makin menonjol sebagai milik pribadi (privat). Mereka yang kurang beruntung makin terdesak, bahkan kehilangan lahan sama sekali. Terancam kelaparan, orang-orang desa lari ke kota, menyediakan diri sebagai buruh murah dengan nasib yang tidak selalu lebih baik.

Di Inggris berabad lalu, jutaan warga desa lari ke kota dan menciptakan krisis kemanusiaan luar biasa. Untuk pertama kali dalam sejarah Inggris, kata poverty lazim dipakai untuk melukiskan orang-orang yang secara harfiah tak punya peluang bertahan hidup. Oliver Twist, novel muram karya Charles Dickens, mewakili situasi kumuh era itu.

Tapi, bukankah Inggris sebagai sebuah negeri tak hanya bertahan, melainkan menjadi salah satu negeri terkaya di dunia sekarang?

Kapitalisme dan Kolonialisme

Tak bisa dibantah, warga kebanyakan di Inggris, dan Eropa umumnya, tumbuh menjadi kaya dalam beberapa abad terakhir. Kualitas hidup mereka meningkat dramatis. Tapi, krisis kemanusiaan tidak menguap. Krisis itu cuma diekspor ke tempat lain. Melalui kolonialisme.

VOC, yang dikirim Kerajaan Belanda ke sini, adalah maskapai dagang. Sama seperti Imperium Inggris mengirim East India Company untuk menguasai India dan negeri Asia lain. Mereka memonopoli bisnis, menjarah lahan, dan menerapkan kebijakan tanam paksa, dengan kekerasan jika perlu.

Membaca pidato pembelaan pada 1928 di jantung kolonialisme, Bung Hatta mengecam kekejaman kapitalisme yang menindas itu dan menuntut Indonesia merdeka. Banyak negeri Afrika, tempat kemiskinan begitu kronis, kurang beruntung, baru merdeka setelah Indonesia puluhan tahun menikmatinya.

Tapi, apa artinya merdeka jika kita tersesat? Bung Hatta mungkin akan masygul jika melihat kondisi saat ini: tanah bukan lagi faktor produksi, tapi lebih cenderung menjadi objek perniagaan. Tak hanya lahan kian terprivatisasi, semangat kebersamaan juga kian luntur. Bahkan di desa-desa. ***


Written by Farid Gaban

Farid Gaban

Editor in Chief The Geo TIMES.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR