Rabu, Oktober 21, 2020

Sekolah dan Pendidikan Intoleransi di Indonesia

Membangun dari Pinggiran

  Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyediakan dana lebih banyak untuk pembangunan daerah dan desa. Ini sesuai dengan janji Nawa Cita yang antara lain “membangun Indonesia...

Jokowi dan Ilusi Jalan Tol

Ada yang absurd dari negeri ini, dan terus berulang dari tahun ke tahun: pemerintah berjanji memperbaiki infrastruktur transportasi menjelang Idul Fitri dan berharap para...

Teror

Syahdan, kapal bajak laut ditangkap tentara Yunani dan awaknya dihadapkan pada Aleksander Agung. Sang Kaisar bertanya mengapa mereka menjarah harta kekaisaran dan orang lain. Bajak...

Amnesia Teluk Jakarta

Baik pendukung Basuki Tjahaya Purnama maupun Anies Baswedan lupa, atau mungkin tidak paham, bahwa Reklamasi Teluk Jakarta adalah proyek nasional pemerintah pusat. Dalam konteks...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Belakangan banyak muncul sekolah swasta berbasis agama. Tak cuma Islam. Muridnya datang dari satu agama, bahkan satu mazhab. Mereka hampir tak mengenal agama atau kelompok lain.

Banyak pula lembaga pendidikan swasta eksklusif, bukan berbasis agama, tapi kekayaan orangtuanya. Muridnya datang dari kelompok sosial tertentu. Mereka hampir tak mengenal kelompok lain. Itu salah satu faktor kenapa intoleransi muncul: privatisasi pendidikan.

Privatisasi mendorong naiknya peran sekolah swasta, dan surutnya peran lembaga pendidikan publik (sekolah negeri). Sekolah negeri juga dianggap inferior, kalah mutunya, dari yang swasta.

Privatisasi sekolah sejalan dengan privatisasi di sektor-sektor publik lain termasuk kesehatan. Itu merupakan bagian dari program unggulan kapitalisme: mengurangi peran negara, meningkatkan peran swasta. Negara lepas tangan. Di Indonesia, lepas tangannya cenderung ekstrim.

Anggaran publik untuk pendidikan dan kesehatan (public social spending) kita salah satu yang paling rendah di Asia (in term of % GDP).Kita lebih kapitalistik bahkan dari negeri-negeri Amerika dan Eropa.Jika sekolah-sekolah swasta berbasis agama menjamur, dan itu dinilai sebagai faktor pemicu intoleransi, salahkan pertama-tama pada format ekonomi kita.

Juga pada pandangan-pandangan umum di kalangan orangtua yang menilai rendah sekolah publik (negeri).

Saya menyekolahkan anak di SD dan SMP berbasis Islam (Nurul Fikri yang dimotori teman-teman PKS) di pinggiran Jakarta. Saudara dan teman saya menyebut bahwa lembaga pendidikan swasta tak bisa dipercaya mutunya. “Anak kok dijadikan eksperimen,” kata mereka. “Memangnya sekolah formal yang pake kurikulum resmi bukan eksperimen?” jawab saya.

Tapi, saya minta mereka masuk SMA negeri, di kota kecil (Cirebon dan Wonosobo) Banyak teman, saudara dan kerabat yang kembali mengkritik saya. Menurut mereka, sekolah di kampung itu rendah mutunya, apalagi yang negeri. Selalu ada yang memprotes dan menyebut bahwa yang satu lebih baik dan yang lain lebih buruk.

Saya tak peduli. Buat saya, penting bagi anak-anak untuk mengenal komunitas yang lebih beragam (agama maupun kelompok ekonomi). Juga mengenal alam-lingkungan yang beragam (hutan dan sungai, tak cuma mall ala Jakarta).

Tak harus masuk kurikulum secara formal, kearifan lokal dan tradisional sudah dengan sendirinya tersedia untuk dikenali. Lembaga pendidikan negeri di desa potensial mengajarkan toleransi dalam makna sebenarnya.

Biayanya juga sangat murah. Dan karena murah, saya bisa menabung untuk membiayai mereka kuliah di Jerman dan Universitas Indonesia. Jika ingin memperkuat kembali toleransi, salah satunya adalah mengembalikan marwah institusi-institusi publik: termasuk lembaga pendidikan negeri yang dikelola pemerintah.

Dulu saya pernah menulis, di Indonesia, baik di sekolah maupun di masyarakat, kita didorong untuk makin ketat berkompetisi (bukan bekerjasama/kolaborasi). Kita berebut paling pintar, paling kuat, paling berkuasa, paling kaya.

Sosial Darwinism adalah hal yang dianjurkan. Kompetisi “idol” tak hanya ada dalam musik tapi hampir semua aspek, termasuk pemilu. Sedemikian luas dan lazim sehingga kita lupa bahwa menjadi pecundang sebenarnya bukanlah aib.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.