in , , , , ,

Risma dan Surabaya: Mencari Kota yang Ramah


Surabaya mungkin bukan kota yang sempurna. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pelancong yang datang memuji wajah tata kota ini yang makin ramah, lebih hijau dan teratur.

Wali Kota Tri Rismaharini layak bangga. Layak bangga juga bahwa tata kota ini dirancang oleh para arsitek lokal Surabaya sendiri tanpa melibatkan orang asing. “Kota yang baik adalah kota yang nyaman dan mampu mendesain sendiri,” kata Risma dalam sebuah seminar bertajuk “eco-city” tahun lalu.

Tata Kota yang Ramah Lingkungan

Istilah “eco-city” diperkenalkan oleh Richard Register dalam bukunya, “Ecocity Berkeley: Building Cities for a Healthy Future”, yang terbit 1987. Eco-city juga sering dipadankan dengan istilah “sustainable city”, yakni kota yang dirancang ramah lingkungan: hemat energi, air dan pangan, serta rendah pencemaran udara, polusi panas dan air.

Surabaya belum sepenuhnya seperti itu. Tapi, ancaman bencana banjir sudah jauh berkurang. Dan lebih sejuk. Padahal ini kota pantai yang sama rawannya seperti Jakarta, Makassar dan Semarang.

Surabaya tidak sekadar lebih bersih, tapi juga lebih hemat pemakaian air. Limbah pembuangan air mandi dipakai untuk menyiram tumbuhan di taman-taman kota yang makin banyak.

Bukan cuma taman, dalam tata kotanya Surabaya mengembangkan hutan kota yang ditumbuhi buah-buahan seperti jambu, mangga, nangka dan sayuran. Surabaya kini sedang menyiapkan taman baru seluas 65 hektare untuk ditanami bunga dan sayur.


Tata Kota yang Hemat Energi

Di samping efisien dalam penggunaan air, pertanian kota merupakan ciri penting “eco-city”. Pertanian ini mengurangi ketergantungan warga akan pasokan pangan dari luar kota. Transportasi pangan antar daerah, atau antar negara, tak hanya membuat pangan menjadi mahal, tapi menghamburkan energi dan memicu polusi.

Surabaya memang bukan Jakarta yang lebih besar dan kompleks masalahnya. Tapi, dia kota terbesar kedua di Indonesia, dan bukan perkara mudah menata kota pesisir dengan penduduk hampir tiga juta jiwa.

Kota ramah lingkungan model Surabaya sukses pertama-tama bukan karena konsepnya, tapi karena pendekatannya.

Tata Kota yang Ramah Sosial

Risma, misalnya, tak membuat taman sekadar taman. Tapi, menjadikannya ruang publik tempat rekreasi dan interaksi sosial sesuai kebutuhan warga. Memenuhi selera remaja, taman berisi tempat yang bolah dicorat-coret grafiti, menyediakan arena rock-climbing, futsal, skateboard dan basket, arena bermain drama dan musik. Dilengkapi pula fasilitas koneksi internet nir-kabel gratis.

Seratus lebih sekolah dasar dirombak bangunannya menjadi bertingkat sehingga memberi ruang terbuka untuk olahraga dan taman. Ini membuat Surabaya menjadi kota yang lebih ramah terhadap anak-anak.

Kota itu Ruang Hidup, bukan Mesin Uang

Risma membuat Surabaya menjadi kota yang melayani. “Kota bukanlah mesin uang,” katanya. “Kalau warga merasa terlayani, mereka akan peduli dan berpartisipasi, peduli kebersihan dan ikut mengatasi masalah banjir.”

Surabaya belum bisa menyelesaikan semua masalah. Tapi, dengan partisipasi aktif warganya, kota ini potensial tak hanya kota yang ramah lingkungan. Warga yang bahagia akan mampu mengerahkan energi kreatif dan imajinasi untuk memecahkan soal terberat pun.

Kota yang Menumbuhkan Partisipasi Warga

Partisipasi warga yang ditopang oleh rasa memiliki adalah kuncinya. Jakarta mungkin sudah terlambat untuk meniru model Surabaya. Tapi, kota-kota setara seperti Semarang, Bandung, Makassar, Medan atau Denpasar bisa mengambil inspirasi darinya.

Problem perkotaan di Indonesia makin rumit di masa-masa mendatang mengingat laju urbanisasi pesat. Lebih dari separo penduduk kini tinggal di perkotaan, dan utamanya di kota-kota pesisir seperti Surabaya.

Kemacetan hanya salah satu tantangan. Banjir, pemborosan energi, kelangkaan air bersih, buruknya sanitasi dan menyempitnya ruang terbuka menjadi masalah lazim. Bahkan kota-kota kecil tingkat kabupaten mulai menghadapi soal yang sama.

Pendekatan yang semata ekonomi, bahwa kota hanya merupakan wadah kegiatan ekonomi, telah membuat kota-kota menjadi tidak manusiawi. Ruang interaksi sosial menyempit demikian pula solidaritas. Kesetiakawanan dan kepedulian bersama digantikan oleh prasangka yang rawan memicu kekerasan.

Johan Silas, arsitek ternama yang juga warga Surabaya, menilai Risma berhasil mengajarkan pada warga bahwa “kitalah yang membentuk kota”, bukan “kota yang membentuk kita.”

Kota adalah ruang hidup. Bukan sekadar mesin uang. Dan Risma benar adanya. ***


Written by Farid Gaban

Farid Gaban

Editor in Chief The Geo TIMES.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR