Minggu, Januari 24, 2021

Revolusi Mental

Mengapa Saya Berkampanye untuk Golput

Pemilihan Kepala Daerah Jakarta sudah berakhir lama. Gubernur baru sudah dilantik. Tapi, atmosfir pro dan anti Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama (atau Anies Baswedan) masih...

Mari Lenyap di Alam

Christopher McCandless mencampakkan kehidupan modern yang dinilainya hipokrit untuk menemukan kedamaian dalam hidup primitif di alam. Kisahnya diangkat ke dalam film “Into The Wild”...

Al Biruni dan Toleransi

Serangan brutal sekelompok orang, yang mengatasnamakan Islam, terhadap kelompok Syiah di Solo harus dikutuk. Tak hanya itu perbuatan kriminal; tapi juga menodai ajaran Islam...

Jokowi, Amien Rais, dan Tuduhan Komunis Itu

Saya sedih sekaligus ingin ketawa mendengar tuduhan komunis dialamatkan kepada Presiden Jokowi. Sedih karena propaganda murahan dipakai untuk mengkritik presiden secara keblinger. Ketawa karena...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

Ada tanda-tanda Revolusi Mental, salah satu janji kampanye terpenting Jokowi, akan gagal menghadapi ujian krisis yang di depan mata.

Waktu satu tahun mungkin terlalu pendek untuk bisa menilai program dan sasaran Revolusi Mental. Tidak terlalu mudah pula menakar sukses atau gagal suatu program yang cenderung abstrak.

Tapi, kurun satu tahun mungkin cukup untuk melihat apakah ada jejak “perubahan mental bangsa”. Dan secara kasatmata dengan aman kita bisa mengatakan perubahan itu sangat minimal, jika ada.

Tujuan besar pemerintah dalam revolusi mental meliputi memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing, dan mempererat persatuan bangsa.

Dalam sasaran yang lebih nyata: meningkatkan etos kemajuan, etika kerja, motivasi berprestasi, disiplin, taat hukum dan aturan, berpandangan optimistis, produktif, inovatif, adaptif, kerja sama dan gotong royong, serta berorientasi pada kebijakan publik serta kemaslahatan umum.

Secara filosofis, “revolusi mental” bukanlah hal baru. Ketika republik masih berusia muda, 12 tahun, Presiden Soekarno melihat ada tanda-tanda melemahnya semangat kebangsaan yang diilhami Proklamasi Kemerdekaan 1945. Bung Karno meluncurkan gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi “manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”.

Itu juga selaras dengan slogan Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

Revolusi mental pada dasarnya adalah sebuah rekayasa sosial. Dalam konteks bernegara, rekayasa sosial itu dibentuk oleh kebijakan publik pemerintah.

Benarkah, misalnya, kebijakan yang ditempuh pemerintah mengarahkan kita pada kemandirian politik dan ekonomi, bukan ketergantungan pada utang? Mendorong kesadaran tentang kemaslahatan umum dan kebajikan publik, bukan kepentingan privat? Apakah memicu solidaritas, bukan memantik egoisme individual?

Banyak aspek itu akan diuji, terutama saat dihadapkan pada situasi krisis. Meski belum benar-benar buruk, kini kita di tubir krisis keuangan serta ekonomi, yang akan berdampak pula pada krisis sosial.

Pekan lalu lembaga kajian Institute for Development of Economics and Finance mengeluarkan rapor semester pertama pemerintahan Presiden Jokowi.

Rapor merah. Tak hanya pertumbuhan ekonomi merosot serta inflasi tinggi, yang menyeret turun tingkat kesejahteraan masyarakat, tapi juga naiknya angka ketimpangan.

Tren ketimpangan tinggi dalam ekonomi yang sudah terjadi pada pemerintahan sebelumnya, yang terburuk dalam sejarah republik, berlanjut ke tingkat lebih mengkhawatirkan sekarang.

Kebijakan menaikkan harga bahan bakar, serta menyerahkannya ke mekanisme pasar, telah memicu inflasi dan turunnya daya beli terutama orang miskin serta rentan miskin. Tingginya ketergantungan pada impor menggarami luka ketika rupiah melemah. Besarnya porsi ekspor bahan mentah, bukannya produk jadi dan olahan, terpukul oleh merosotnya ekonomi negeri tujuan seperti Tiongkok dan India.

Utang luar negeri sektor swasta juga membengkak di tengah melemahnya nilai rupiah, yang jika tak hati-hati bisa mengulang krisis moneter 1998. Krisis itu memicu rontoknya Orde Baru, persis 17 tahun silam. Obsesi pada pembangunan infrastruktur besar potensial menggusur orang-orang miskin, yang selanjutnya memicu keresahan sosial.

Krisisnya fundamental dan bertubi-tubi. Kecenderungan privatisasi sektor publik dan cara berpikir privat, bahkan di kalangan pemerintahan, makin memperlemah solidaritas sosial, satu modal yang sangat penting untuk bersama-sama menghadapi badai.

Melihat dan mendengar sekilas reaksi pemerintah ataupun publik terhadap bayang-bayang kritis itu, kita bisa membuat kesimpulan sederhana: sangat sedikit optimisme, terlalu tinggi semangat saling menyalahkan (bahkan di kalangan pemerintah sendiri), serta merosotnya solidaritas.

Ada tanda-tanda Revolusi Mental pemerintahan Jokowi gagal menghadapi ujian krisis yang di depan mata. Kata-kata manis sudah tidak cukup bisa menghibur, sementara bulan madu sudah berlalu.

Saya membayangkan, dihadapkan pada krisis itu, Presiden Joko Widodo bersama para pejabat tinggi negara, termasuk parlemen, bisa mengilhami solidaritas untuk menjalani kesulitan secara bersama- sama. Pertama-tama dengan menunjukkan secara tulus adanya sense of crisis, mengubah gaya hidup keseharian. Lalu secara serius mengubah paradigma dan orientasi pembangunan, serta mencerminkannya dalam kebijakan publik yang sesuai.

Di situlah Revolusi Mental, yang jadi slogan kampanye presiden Jokowi, menemukan urgensinya.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

NKK/BKK Zaman Now

Menurut kamus politik, Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang disingkat dengan NKK/BKK, adalah sebuah penataan organisasi kemahasiswaan, dengan cara menghapus organisasi kemahasiswaan yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.