Kamis, November 26, 2020

Revolusi Mental

Teror

Syahdan, kapal bajak laut ditangkap tentara Yunani dan awaknya dihadapkan pada Aleksander Agung. Sang Kaisar bertanya mengapa mereka menjarah harta kekaisaran dan orang lain. Bajak...

Achmad Zaky, Jokowi, dan Riset untuk Publik

CEO Bukalapak, memang ngawur. Pertama, dia memakai data usang. Kedua, dia usil nyentil soal pilpres. Tapi, esensi yang dikatakannya benar: perhatian pemerintah terhadap riset...

Terorisme dan Tindakan Main Hakim Sendiri

Mari kita mulai tulisan ini dengan ucapan turut berduka cita atas kematian anggota polisi di Mako Brimob. Mereka bagaimanapun juga adalah pegawai negara yang...

Museum Sastra Andrea Hirata

Rumah itu sederhana dan beratap seng. Dindingnya dari kayu dengan cat yang kusam dan sebagian dibiarkan mengelupas. Dari penampakannya itu, rumah itu sama seperti...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

Ada tanda-tanda Revolusi Mental, salah satu janji kampanye terpenting Jokowi, akan gagal menghadapi ujian krisis yang di depan mata.

Waktu satu tahun mungkin terlalu pendek untuk bisa menilai program dan sasaran Revolusi Mental. Tidak terlalu mudah pula menakar sukses atau gagal suatu program yang cenderung abstrak.

Tapi, kurun satu tahun mungkin cukup untuk melihat apakah ada jejak “perubahan mental bangsa”. Dan secara kasatmata dengan aman kita bisa mengatakan perubahan itu sangat minimal, jika ada.

Tujuan besar pemerintah dalam revolusi mental meliputi memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing, dan mempererat persatuan bangsa.

Dalam sasaran yang lebih nyata: meningkatkan etos kemajuan, etika kerja, motivasi berprestasi, disiplin, taat hukum dan aturan, berpandangan optimistis, produktif, inovatif, adaptif, kerja sama dan gotong royong, serta berorientasi pada kebijakan publik serta kemaslahatan umum.

Secara filosofis, “revolusi mental” bukanlah hal baru. Ketika republik masih berusia muda, 12 tahun, Presiden Soekarno melihat ada tanda-tanda melemahnya semangat kebangsaan yang diilhami Proklamasi Kemerdekaan 1945. Bung Karno meluncurkan gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi “manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”.

Itu juga selaras dengan slogan Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

Revolusi mental pada dasarnya adalah sebuah rekayasa sosial. Dalam konteks bernegara, rekayasa sosial itu dibentuk oleh kebijakan publik pemerintah.

Benarkah, misalnya, kebijakan yang ditempuh pemerintah mengarahkan kita pada kemandirian politik dan ekonomi, bukan ketergantungan pada utang? Mendorong kesadaran tentang kemaslahatan umum dan kebajikan publik, bukan kepentingan privat? Apakah memicu solidaritas, bukan memantik egoisme individual?

Banyak aspek itu akan diuji, terutama saat dihadapkan pada situasi krisis. Meski belum benar-benar buruk, kini kita di tubir krisis keuangan serta ekonomi, yang akan berdampak pula pada krisis sosial.

Pekan lalu lembaga kajian Institute for Development of Economics and Finance mengeluarkan rapor semester pertama pemerintahan Presiden Jokowi.

Rapor merah. Tak hanya pertumbuhan ekonomi merosot serta inflasi tinggi, yang menyeret turun tingkat kesejahteraan masyarakat, tapi juga naiknya angka ketimpangan.

Tren ketimpangan tinggi dalam ekonomi yang sudah terjadi pada pemerintahan sebelumnya, yang terburuk dalam sejarah republik, berlanjut ke tingkat lebih mengkhawatirkan sekarang.

Kebijakan menaikkan harga bahan bakar, serta menyerahkannya ke mekanisme pasar, telah memicu inflasi dan turunnya daya beli terutama orang miskin serta rentan miskin. Tingginya ketergantungan pada impor menggarami luka ketika rupiah melemah. Besarnya porsi ekspor bahan mentah, bukannya produk jadi dan olahan, terpukul oleh merosotnya ekonomi negeri tujuan seperti Tiongkok dan India.

Utang luar negeri sektor swasta juga membengkak di tengah melemahnya nilai rupiah, yang jika tak hati-hati bisa mengulang krisis moneter 1998. Krisis itu memicu rontoknya Orde Baru, persis 17 tahun silam. Obsesi pada pembangunan infrastruktur besar potensial menggusur orang-orang miskin, yang selanjutnya memicu keresahan sosial.

Krisisnya fundamental dan bertubi-tubi. Kecenderungan privatisasi sektor publik dan cara berpikir privat, bahkan di kalangan pemerintahan, makin memperlemah solidaritas sosial, satu modal yang sangat penting untuk bersama-sama menghadapi badai.

Melihat dan mendengar sekilas reaksi pemerintah ataupun publik terhadap bayang-bayang kritis itu, kita bisa membuat kesimpulan sederhana: sangat sedikit optimisme, terlalu tinggi semangat saling menyalahkan (bahkan di kalangan pemerintah sendiri), serta merosotnya solidaritas.

Ada tanda-tanda Revolusi Mental pemerintahan Jokowi gagal menghadapi ujian krisis yang di depan mata. Kata-kata manis sudah tidak cukup bisa menghibur, sementara bulan madu sudah berlalu.

Saya membayangkan, dihadapkan pada krisis itu, Presiden Joko Widodo bersama para pejabat tinggi negara, termasuk parlemen, bisa mengilhami solidaritas untuk menjalani kesulitan secara bersama- sama. Pertama-tama dengan menunjukkan secara tulus adanya sense of crisis, mengubah gaya hidup keseharian. Lalu secara serius mengubah paradigma dan orientasi pembangunan, serta mencerminkannya dalam kebijakan publik yang sesuai.

Di situlah Revolusi Mental, yang jadi slogan kampanye presiden Jokowi, menemukan urgensinya.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.