Sabtu, Januari 16, 2021

Pengkhianatan Kaum Intelektual

Cinta Indonesia Gaya Soe Hok Gie

Di puncak Gunung Semeru, dikepung dingin dan kabut yang magis, tubuhnya tergelatak. Tak bernyawa. Soe Hok Gie tewas menghirup gas beracun di ketinggian sunyi...

Taman Nasional: Ada Tuhan di Pepohonan

Burung pekaka emas, dengan bulu biru mengkilat di punggungnya, bertengger di dahan kering pinggir sungai lebar itu. Beberapa monyet ekor panjang bercengkrama di dekat...

Kisah Kuda dan Burung Gereja

  Umat manusia masih membutuhkan pengingat untuk menyemaikan keadilan dan perdamaian. Jika kita memberi kuda makanan cukup banyak, sebagian remah-remah makanan itu akan menghidupi pula burung-burung...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Tempo hari, alumni beberapa perguruan tinggi mendeklarasikan dukungan kepada calon presiden Jokowi. Belakangan mucul pesaing mereka mendeklarasikan dukungan pada Prabowo Subianto.

Fenomena dukung-mendukung dari alumni kampus itu sungguh menyedihkan. Alih-alih menguji para kandidat dengan pertanyaan tajam, lulusan kampus justru merendahkan diri menjadi sekadar pemandu-sorak (cheerleaders) politisi idola.

Orang-orang terpelajar bertanggungjawab atas kualitas kampanye pemilihan. Dengan menguji, mereka mendorong kandidat untuk lebih akuntabel dan transparan: bukan cuma umbar janji, asal ngomong dan bicara slogan abstrak.

Para kandidat juga akan dicegah dan diingatkan untuk tidak memakai sentimen emosional yang membelah serta rawan konflik.

Tapi, sayang sekali, itu tak terjadi. Para alumni kampus justru ikut membakar emosi dalam iklim pemilihan yang makin terpolarisasi.

Dalam dua pemilihan kita hanya punya dua calon untuk dipilih: Jokowi dan Prabowo. Fenomena itu memunculkan cara berpikir biner (binary): kalau tidak ini pastilah itu. Kalau tidak pro-Jokowi pastilah pro-Prabowo. Dan sebaliknya.

Bahkan kritik atau pujian terhadap pemerintah akan dipandang punya motif politik jangka pendek: Anda pro-petahana (yang memerintah) atau oposisi.

Either you are with us, or against us. Kalau kau tidak berdiri di pihakku, kau pasti musuhku, dan harus menjadi musuhku.

Kekeliruan logika (logical fallacy) itu mengemuka dalam beberapa tahun terakhir. Dan makin kuat menuju pemilihan mendatang.

Dalam persaingan yang kian sengit: kedua pihak memanfaatkan slogan yang makin sophisticated. Yang satu memakai dalih mulia agama (calon pilihan ulama), yang lain memakai dalih mulia menyelamatkan demokrasi dari kediktatoran (anti-Orde Baru).

Tapi, jargon palsu itu hanya membuat logical fallacy tadi menjadi makin kuat dan terlembaga. Pemilihan umum, yang tujuannya hanya sesederhana memilih pengelola negara, diglorifikasi sebagai Padang Kurusetra, tempat Pandawa (ksatria) versus Kurawa (durjana) bertarung hidup-mati dalam Perang Baratayuda.

Mudah-mudahan konflik terbuka dan berdarah bisa dihindari. Tapi, kebiasaan berpikir biner jelas sudah mempersempit alam berpikir kita.

Negeri kita menghadapi tantangan besar: ketimpangan, kerusakan alam baik di darat maupun laut, lemahnya produksi pertanian, ketergantungan berlebihan pada impor, bencana demografi (ketika 38% balita menderita stunting), lemahnya modal sosial.

Riuh rendah kampanye sendiri sudah menyita terlalu banyak perhatian sehingga kita kehilangan energi dan perhatian untuk mendiskusikan tantangan yang lebih fundamental tadi.

Bahkan jika mengerahkan seluruh energi kreatif dan imajinasi yang bagus kita masih akan terengah-engah untuk menghadapi berbagai masalah fundamental tadi. Apalagi jika kita mempersempit diri dengan berpikir simpistis, pilih A atau B, hampir di segala kesempatan.

Kita terbiasa berpikir biner bahkan ketika bicara sistem: mengkritik sistem demokrasi disebut anti-demokrasi, seolah demokrasi itu benda mati yang sudah selesai.

Kebiasaan berpikir biner mempersempit pilihan kita dalam berbagai hal, termasuk dalam kebijakan publik, yang mencegah kita mengeksplorasi alternatif-alternatif solusi baru yang mendesak kita temukan.

Kita memerlukan politik. Tapi, politik yang substansial pada dasarnya adalah merumuskan kebijakan publik. Dan dalam kebijakan publik, satu atau dua aktor (Jokowi atau Prabowo) hanya instrumen. Kita membutuhkan sistem yang sehat.

Demokrasi membutuhkan partisipasi. Tapi, partisipasi politik yang hakiki ada dalam kehidupan sehari-hari, bukan datang ke bilik suara lima tahun sekali. Dan bukan deklarasi dukungan pada politisi idola.

Politik adalah instrumen merumuskan dan mewujudkan kebijakan publik yang sehat sesuai ideal kita bersama (konstitusi). Kita memerlukan politik yang sehat untuk membenahi berbagai soal fundamental. Tapi, ketika terlalu terpaku perhatian pada Jokowi-Prabowo membuat kita melupakan rapuhnya sistem politik kita, tidak hanya di pusat tapi juga hingga pelosok desa-desa.

Tugas intelektual lulusan kampus adalah memperluas pilihan dan mengoreksi sistem dengan menelisik akar masalah, bukan terpukau pada daun dan ranting. *

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.